Cinta Kinara

Cinta Kinara
pilu


__ADS_3

"Kamu disini dulu. Aku akan menyiapkan segalanya, kita akan tinggal diluar negeri agar tidak ada yang bisa menganggu hidup kita". Nic membukakan pintu sebuah kamar dan mempersilahkan Ara masuk.


"Cih, apa anda tidak sadar bahwa anda lah manusia yang sudah mengganggu hidup saya?!" Jawab Ara tenang namun matanya menghunuskan tatapan tajam.


Nic tidak lagi menjawab segala ucapan Ara, ia menutup pintu dan menguncinya.


"Harusnya bentar lagi abang nyampe". Lirih Ara sambil memijit pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut dan merasa sakit diseluruh tubuhnya akibat pertarungannya tadi, bahkan kini perutnya terasa diremat kuat.


"Tu orang sableng kaga ngasih gue makan apa. Sakit banget ini perut gue". Ara meremas perutnya, terasa begitu sakit. Ia berpikir mungkin perutnya sakit karena dirinya belum makan. Tadi pagi ia hanya makan selembar roti karena merasa tidak ***** makan.


ceklek


Pintu kembali terbuka, Nic masuk dengan membawa nampan berisi jus dan makan siang untuk Ara. Mata Ara berbinar menatap nampan yang dibawa Nic.


"Makanlah..aku tahu kamu belum makan siang". Ucap Nic lembut sambil meletakkan nampan diatas nakas samping ranjang.


"Gue kaga makan juga gara-gara manusia sableng kaya elu! Dasar edan!!". Ara benar-benar membenci situasi ini, ia tidak suka berada dalam satu ruangan dengan pria gila ini.


Nic tersenyum hangat, hatinya menghangat, perasaannya bahagia melihat Ara sedekat ini. Berbeda dengan Ara yang mati-matian menahan amarahnya berada dekat dengan pria yang memisahkannya dengan sang suami.


Saat sedang asyik memandangi wajah Ara, suara keributan dilantai bawah rumah itu membuatnya bangkit, menatap Ara yang masih tenang menikmati makanannya.


"Ada apa dibawah sana. Kenapa ribut sekali". Gumam Nic, namun masih terdengar oleh Ara. Ara tersenyum miring melihat Nic keheranan.


"Gue udah bilang kan, laki gue bakal nemuin gue. Ndablek sih lu jadi orang! Kalo dari tadi lu lepasin gue mah kaga bakal laki gue nyampe sini". Kata Ara santai sambil terus memasukkan makanan kedalam mulutnya. Namun sesaat kemudian ia menghentikan kegiatannya menyuapkan makanan kedalam mulutnya kala merasa perutnya semakin terasa nyeri.


Rahang Nic mengeras mendengar ucapan Ara, bagaimana mungkin suami Ara bisa dengan cepat menemukan keberadaannya. Padahal Nic sudah meninggalkan benda-benda yang mungkin bisa memudahkan Dev menemukan Ara. Bahkan saat ini Ara hanya membawa badan saja.


"Bagaimana mungkin. Kenapa bisa secepat ini mereka menemukan tempat ini?! Sial!!". Nic terus mengumpat membuat sudut bibir Ara tertarik keatas.


Suara keributan itu semakin lama semakin terdengar jelas. Sudah pasti Dev berhasil merangsek masuk dan menghabisi semua anak buah Nic bersama Pram dan Josh.


"Tuan, ada tiga pria mengobrak abrik rumah ini". Tiba-tiba salah satu anak buah Nic masuk dan melaporkan kondisi di bawah.


"Br*ng**k!!!" Umpat Nic, kemudian lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri.


Nic langsung menyeret Ara keluar, tak ada cara lain. Dirinya tak ingin menyakiti Ara, namun ia juga tak mau jika harus kehilangan Ara lagi. Tak lupa Nic mengikat kedua tangan Ara, ia tahu betul seperti apa kekuatan gadis ini.


"Kau takut tuan?". Tanya Ara meremehkan saat Nic mengikat tangannya.


"Aku hanya tidak ingin menyakitimu, dan juga tak mau kehilanganmu lagi". Nic mendorong tubuh Ara agar keluar dari kamar tersebut.


Mata Nic membola melihat sudah banyak anak buahnya dilumpuhkan oleh Dev dan dua orang lainnya. Dirinya dan Ara berdiri diujung tangga memperhatikan Dev yang menghajar anak buahnya dengan membabi buta.


"Hentikan!". Teriak Nic, membuat Dev dan kedua pengawalnya itu berhenti menghajar anak buah Nic.


"Ara..." Lirih Dev ketika netranya bertubrukan dengan mata indah milik istrinya. Wajah istrinya terlihat pucat, Ara tersenyum manis demi menenangkan sang suami yang terlihat begitu khawatir.


"Lepaskan istri saya tuan Abraham!!" Geram Dev menghunuskan tatapan setajam pedang pada Nic yang justru tersenyum miring.


"Dia calon istriku. Kenapa harus aku serahkan padamu tuan Natakusuma?!". Nic memperlihatkan seringai licik diwajahnya.


Dev mengepalkan tangannya kuat, amarahnya sudah ada diubun-ubun mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Nic. Dev melangkahkan kakinya, namun segera berhenti ketika mendengar ancaman Nic.


"Berhenti disana tuan, atau aku akan membawa Ara pergi ke surga bersamaku". Ancaman Nic sukses membuat Dev mematung.


"Heuh..ternyata anda begitu mengkhawatirkannya tuan Natakusuma".

__ADS_1


"Dia istri saya. Bagaimana mungkin saya tidak khawatir, apalagi sekarang dia berada ditangan br****ek macam anda". Tatapan tajam Dev benar-benar mengerikan.


Dalam diamnya, Ara terus mencoba melepaskan ikatan yang membelit tangannya, hingga akhirnya ikatan itu semakin melonggar. Walaupun ia harus merelakan tangannya terluka karena terus ia gerakkan.


"Kalau begitu. Akan lebih baik jika anda mati saja". Nic mengeluarkan sepucuk senjata yang diarahkan tepat dikepala Dev.


"Jatuhkan senjata anda tuan Nicolas!". Sebuah suara tegas membuat semua mengalihkan perhatiannya. Disana ada Bian dan beberapa polisi dengan senjata lengkap.


Ara yang melihat ada kesempatan langsung merebut senjata Nicolas setelah berhasil melepas ikatan ditangannya, namun ternyata Nic memegangnya erat. Hingga akhirnya keduanya memperebutkan senjata itu. Senjata itu terlempar bersamaan dengan tubuh Ara yang tergelincir hingga jatuh dari ujung tangga karena mereka berdiri tepat diujung tangga.


"Araaa!!!!!" Teriak Dev dan Bian bersamaan. Jantung Dev seperti dilepaskan paksa dari tempatnya melihat istrinya jatuh dari atas tangga.


Tubuh Ara jatuh dari atas tangga hingga dasar, tubuhnya tergeletak dilantai dengan kepala mengeluarkan darah. Sementara Nic segera diringkus oleh pihak kepolisian. Ia menatap sendu tubuh Ara yang tergeletak lemas diatas lantai.


Dev memangku kepala istrinya yang masih setengah sadar, ia benar-benar menyesali apa yang menimpa istri tercintanya.


"Sayang..Plis jangan tutup mata kamu". Dev mengelus pipi Ara. Air matanya sudah tumpah membasahi pipinya.


"Sakit bang..perut Ara sakit banget". Lirih Ara sambil sebelah tangannya meremas perutnya.


"Kak..sakit". Ara beralih menatap kakak lelakinya yang tak kalah khawatir melihat kondisinya.


Mereka segera membawa Ara kerumah sakit terdekat, mereka tidak mungkin membawa Ara kerumah sakit tempat Bian bekerja. Butuh waktu paling tidak 2jam untuk kesana.


###


"Bertahan sayang..." Ucap Dev sambil berlari mendorong brangkar yang diatasnya sudah terbaring tubuh Ara.


"Sakiit...". Rintih Ara yang semakin menurun kesadarannya.


"Mohon tunggu diluar tuan, dokter akan memeriksa pasien dulu". Seorang perawat mencegah Dev dan Bian yang hendak ikut masuk kedalam ruang pemeriksaan.


Dev dan Bian terus berjalan mondar mandir didepan ruang IGD. Hingga suara sang mama mengalihkan perhatian Dev. Mama memeluk erat putranya yang terlihat rapuh saat ini.


"Ara ma...Ara. Apa yang harus Dev lakukan. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya". Tangis Dev pecah didalam pelukan ibunya.


Lama Dev menangis dipelukan sang ibu, hingga suara pintu terbuka membuatnya langsung bangkit.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? Apa dia baik-baik saja?". Dev memberondong dokter dengan pertanyaan.


Dokter tampak menghela nafas membuat semua orang justru menahan nafas menunggu apa yang akan dokter ucapkan.


"Syukurlah nona Ara bisa melewati masa sulitnya, kita hanya perlu menunggu nona sadar". Jelas dokter membuat semua menghela nafas lega.


"Tapi.." Ternyata ucapan dokter belum selesai, membuat wajah semua orang kembali tegang.


"Tapi?? Tapi apa dok? Ada apa dengan istri saya??" Tanya Dev tidak sabar. Mama mengelus pundak putranya agar sedikit tenang dan sabar menunggu penjelasan dokter selanjutnya.


"Maafkan saya, namun tim kami tidak bisa menyelamatkan janin yang berada dalam rahim nona Kinara".


Bagaikan disambar petir disiang bolong, semua orang mematung. Mulut mereka terkatup rapat. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara, mereka berharap apa yang baru mereka dengar tidaklah benar.


"Ja..janin??". Beo Dev membuat dokter mengangguk lemah.


"Benar tuan, nona Ara sedang mengandung. Usia janinnya baru 4minggu. Benturan yang dialami nona terlalu keras, dan sepertinya nona sudah terlalu banyak menguras energinya hingga kelelahan, hingga membuat janinnya tidak bisa bertahan. Maafkan kami tuan". Ucap dokter penuh penyesalan.


"Anda sudah boleh masuk tuan, sebentar lagi nona Kinara akan kami pindahkan ke kamar rawat. Saya permisi dulu". Lanjutnya kemudian berlalu dari kumpulan orang yang sedang terpaku dengan pemikirannya masing-masing.

__ADS_1


Tubuh Dev merosot ke lantai setelah kepergian dokter yang menangani istrinya, kenapa harus seperti ini. Ia dan istrinya sudah lama menantikan janin itu, dan kini ia kembali diambil bahkan sebelum mereka mengetahui keberadaan calon anaknya itu.


Tubuh Dev yang bersandar ketembok terlihat bergetar hebat, kini apa yang harus ia katakan pada istrinya. Bagaimana perasaan istrinya jika tahu mereka kehilangan janin yang begitu mereka tunggu selama ini. Jika dirinya saja begitu hancur, lalu bagaimana dengan istrinya nanti saat mengetahuinya? Hatinya benar-benar hancur membayangkan bagaimana Ara akan menghadapi kenyataan pahit ini.


"Dev..." Suara sang ibu membuatnya mengangkat kepala yang sejak tadi ia sembunyikan dilututnya.


"Ara ma..anak kami ma". Suara Dev terdengar begitu pilu, membuat siapa saja yang mendengarnya tak akan kuasa menahan air matanya.


"Sabar sayang, Allah sedang menguji kalian saat ini nak". Mama memeluk putra sulungnya, memberi kekuatan pada anaknya yang tengah hancur.


"Bagaimana ini ma..bagaimana Dev akan menjelaskan padanya". Lirih Dev dengan berurai air mata, membuat mama semakin tak kuasa menahan air matanya.


"Kita akan menjelaskannya pelan-pelan Dev. Kamu harus tenang, kamu harus kuat. Kalau kamu lemah begini, bagaimana dengan menantu mama". Mama terus mengelus punggung Dev yang semakin bergetar.


Sebuah tepukan cukup keras dibahunya membuat Dev mendongak, menatap kakak iparnya yang wajahnya tak kalah menyedihkan darinya. Bagaimanapun, Ara adalah harta berharga untuk Bian. Apapun yang Ara rasakan, Bian pun ikut merasakan. Ia pun merasa hancur mendengar apa yang sudah lama dinantikan oleh adik tercintanya harus diambil oleh yang maha kuasa, bahkan sebelum adiknya tahu bahwa ada nyawa yang bersemayam didalam rahimnya.


"Lo harus kuat Dev. Seenggaknya kita harus kuat buat Ara".


"Bian benar Dev, kita harus menjadi kekuatan untuk Ara". Papa ikut menimpali.


Tidak lama pintu ruangan kembali terbuka, brangkar Ara didorong oleh dua orang perawat yang hendak memindahkan Ara kekamar rawatnya.


Dev segera bangkit dan berjalan mengikuti perawat yang membawa tubuh istrinya yang masih belum membuka matanya.


"Bangun sayang..jangan siksa abang kaya gini". Dev menggenggam erat tangan Ara yang masih nyaman dengan tidurnya.


Semua orang masih ada dikamar rawat Ara, menunggu gadis itu membuka matanya. Dev tak sedetikpun beranjak dari sisi istrinya.


"Dev.." Panggilan dari papa membuat Dev menoleh. Papa Aryo mengkode Dev agar mendekat padanya. Dengan berat hati, ia melepaskan genggaman tangannya pada sang istri dan berjalan mendekati sang ayah dan ibunya.


Dira mendekati kakak iparnya yang masih terbaring dengan wajah pucatnya. Ia menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah pucat kakak iparnya. Setetes cairan bening kembali menetes tanpa bisa ia cegah.


Belum sempat papa dan mama berbicara pada Dev, dokter kembali masuk kedalam ruangan Ara untuk memeriksa kondisi Ara yang masih belum sadar.


"Apa sudah ada perkembangan dokter?" Tanya mama khawatir.


"Nona Kinara sudah baik-baik saja nyonya. Namun karena benturan keras dan keguguran yang dia alami, tubuhnya menjadi lebih lemah. Maka dari itu nona Kinara belum sadar hingga saat ini. Tapi sebentar lagi pasti akan sadar". Jelas dokter panjang lebar.


"Ke..keguguran??". Lirih Ara membuat semua menoleh. Apakah Ara mendengar semua yang dokter katakan?


"Sayang..." Dev segera mendekat dan membantu memasang beberapa bantal untuk menyangga punggung Ara ketika melihat Ara berusaha duduk. Lega rasanya melihat istrinya membuka mata.


Ara menatap Dev, kemudian menatap semua orang yang ada didalam ruangan itu bergantian seolah meminta penjelasan tentang apa yang ia dengar dari dokter.


"Jangan terlalu banyak bergerak dulu nona. Anda harus lebih berhati-hati". Peringat dokter membuat Ara semakin takut jika apa yang ia dengar adalah sebuah kenyataan.


"Anda akan segera pulih nona. Perbanyak istirahat dan makan yang cukup. Saya permisi dulu". Dokter pamit undur diri, ia paham akan kondisi saat ini, sudah pasti pasiennya butuh waktu pribadi.


"Abang..." Ara menatap Dev yang sudah mulai berkaca-kaca, tanpa berani menatap balik mata istrinya.


"Ma..kak?? Dira?? Kenapa semua diem?". Ucap Ara pelan, ia membagi tatapannya pada semua orang yang menunduk tanpa berani menatapnya.


"Maafin abang Ra. Abang nggak bisa jaga kamu sama calon anak kita". Dev memeluk tubuh Ara yang tiba-tiba membeku. Lidahnya tiba-tiba kelu, pandangannya kosong. Namun dari matanya sudah mengalir deras air mata. Apakah semua benar? Dirinya kehilangan janin yang bahkan ia sendiri tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung?


Semua orang hanya bisa diam membisu melihat Ara yang juga tak bersuara, hanya air matanya saja yang menggambarkan betapa dirinya hancur saat ini. Sementara mama dan Dira sudah menangis sejak tadi, tak kuasa melihat Ara yang begitu hancur. Semua orang keluar, meninggalkan sepasang suami istri yang sama-sama hancur karena kehilangan calon anak mereka.


"Kakak tahu kamu sedih, tapi kakak percaya kamu gadis terkuat yang pernah kakak temui dek". Bian mengelus kepala Ara sebelum keluar dari dalam kamar Ara.

__ADS_1


Setelah semua orang keluar, Ara menumpahkan segala kesedihan dan air matanya didalam pelukan sang suami. Semua yang mendengar tangisan Ara dari luar kamar itu akan ikut merasa bagaimana pedihnya hatinya saat ini.


__ADS_2