Cinta Kinara

Cinta Kinara
penasaran


__ADS_3

"Bapaaaaaaak". Ara berteriak memanggil bapak saat memasuki paviliun belakang.


"Jangan teriak-teriak kenapa sih dek". Ucap pria yang sejak tadi lengannya masih digelayuti oleh Ara.


"Bapak suka pura-pura ga denger kalo aku gak teriak kak". Jawab Ara sambil nyengir.


Pria yang tidak lain adalah Fabian sang kakak hanya menggeleng sambil mengacak gemas rambut adik tersayangnya.


"Kakak ngumpet dulu ya..kita kasih kejutan buat bapak". Ucap Ara sambil mendorong tubuh tinggi sang kakak untuk bersembunyi dibalik tembok.


Tak lama terdengar suara bapak yang sudah mengomel dari dalam rumah yang ditempatinya bersama Ara.


"Astagfirullah..punya anak perempuan satu kok kaya tarzan gini sih. Kamu bisa pelanin dikit enggak sih suara kamu neng??!". Bapak sudah berdiri didepan Ara dengan berkacak pinggang.


"hehehe..maapin atuh bapak aku yang paling ganteng". Rayu Ara dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"gak ngaruh neng..gak ngaruh, mau kamu kedip-kedip terus seharian juga gak akan ngaruh lagi sama bapak" Bapak melengos melihat Ara yang tampak menggemaskan.


"Jangan terlalu sering ngomel pak. Inget itu encok" Terdengar suara yang begitu bapak rindukan.


Bapak menolehkan kepalanya ke sumber suara. Mata bapak berbinar melihat putra sulungnya ada didepannya.


"Sejak kapan kamu datang nak?". Bapak bertanya sambil memeluk Fabian.


"Baru saja pak". Jawab Bian membalas pelukan sang ayah.


"Bersihkan dulu tubuhmu, lalu istirahatlah dulu. Nanti kita makan malam bersama" Ucap bapak sambil melepas pelukannya.


Fabian hanya mengangguk, kemudian ketiganya masuk kedalam rumah yang ditempati bapak selama dirumah majikannya itu.


Sejak tadi Dev dan Digo masih terus mengawasi Ara dan lelaki asing yang tadi sempat dipeluk Ara.


Bahkan keduanya melupakan persaingan mereka. Kini keduanya sedang sibuk memperhatikan lelaki asing yang begitu akrab dengan bapak.


"Siapa tu cowo?? Lo kenal kaga??" Digo bertanya pada Dev yang berdiri disebelahnya. Keduanya seperti seorang detektif yang mengintai buronan..bersembunyi dibalik tembok agar tidak terlihat oleh Ara.


"Kalo gue kenal ngapain gue ikutan ngintip mereka dari sini". Ketus Dev.


Digo mencebik mendengar jawaban rivalnya itu.


"Dah ah, gue mau pulang. Calon makmum gue lagi sibuk kayanya". Digo berjalan meninggalkan Dev begitu saja.


"Siapa sebenernya laki-laki itu Ra. Kamu deket banget sama dia kayanya" Gumam Dev sambil mengikuti langkah Digo menjauh dari tempat persembunyiannya.


***


Malam ini Ara merasa bahagia, kakak yang dinantinya beberapa bulan ini akhirnya pulang juga.


Setelah makan malam bersama, kini ketiganya sedang duduk santai sambil mengobrol.


"Kakak udah selesai kan studinya?? Berarti kita bisa kan kak balik kerumah kita yang dulu??" Ara bertanya penuh harap.


Bapak dan Bian menoleh secara bersamaan.


"Kakak dapet beasiswa buat nerusin S2 kakak ke luar dek. Tapi kalo kamu pengen tinggal dirumah yang dulu bareng kakak, kakak bisa tolak beasiswanya. S1 udah cukup lah buat cari kerja dirumah sakit kota ini". Bian menjelaskan disertai senyum hangat pada sang adik.


Ara langsung menggeleng kuat, menyandarkan kepalanya dibahu lebar sang kakak.


"Ara gapapa kak, kakak harus nerusin pendidikan kakak. Ara pasti selalu dukung kakak apapun keputusan kakak". Ucap Ara sambil tersenyum.


"Lagian kan Ara disini sama aki Rahmat". Lanjut Ara sambil merlirik bapak.


Ara tertawa terbahak-bahak melihat bapaknya melotot mendengar Ara memanggilnya aki. Benar-benar anak lucknut. Bian tak bisa menyembunyikan tawanya melihat sang ayah melototi adik perempuannya yang memang terkenal jahil.


Saat kakak beradik itu tengah tertawa, terdengar suara ketukan pintu. Bapak berjalan menuju pintu meninggalkan kedua anaknya yang masih terus tertawa setelah meledek dirinya.


Ternyata Josh dan Pram yang datang, keduanya melihat Bian saat datang tadi. Namun belum sempat menyapa. Kini kedua pria dewasa itu sengaja datang untuk sekedar menanyakan kabar anak sulung dari seniornya itu.

__ADS_1


"Napa tu kang anak lu ketawa nyampe ngakak gitu??" Pram mengerutkan dahi melihat Ara dan Bian yang sedang tertawa.


"Hooh kang, si eneng kaya yang bahagia banget ketawa nyampe nangis gitu". Josh ikut bertanya.


"Apalagi kalo bukan ngeledek bapaknya. Heran saya, punya anak dua terus aja ngeledek bapaknya". Bapak mengadu pada kedua orang kepercayaannya itu.


"Napa lu neng..ketawa nyampe ngakak gitu". Pram bertanya setelah mendudukkan dirinya di kursi yang bersebrangan dengan kedua kakak beradik yang masih asyik dengan tawanya.


"Udah lama lu Bi??" Josh bertanya pada Bian.


"Sore tadi om..sehat kan om?" Bian menjawab setelah meredakan tawanya.


"Alhamdulillah, kita sehat-sehat. Udah kelar lu kuliahnya??" Josh kembali bertanya.


Bian hanya mengangguk sebagai jawaban. Memang Josh dan Pram sudah mengenal cukup lama Bian sebagai putra sulung seniornya itu.


"Udah neng ketawanya, seneng banget godain bapak lu. Dikutuk jadi batu lu ntar". Pram mengingatkan Ara yang masih terkikik sejak tadi.


"Tau ni anak satu..seneng banget kalo ngeledekin bapaknya". Bapak mode galak on.


"iya pak iya..ampun". Ara berkata setelah merasa kram pada wajahnya karena terus tertawa.


"Tumben-tumbenan lu Bi nyusulin kemari?" Tanya Pram.


"Iya om, mumpung ada waktu sebelum lanjut S2 ntar". Jawab Bian santai.


"Lanjut S2 lu?? Dimana??" Josh ikut penasaran.


"Iya om lanjut..mumpung dapet beasiswa om. Sayang ga diambil kata si eneng mah". Bian melirik sang adik yang masih menyandarkan kepalanya dipundak miliknya.


Fabian tau, sang adik sedang bersedih mengetahui dirinya akan kembali meninggalkan sang adik untuk pendidikannya. Bahkan kali ini dirinya harus benar-benar jauh dari sang adik karena melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.


Dielusnya kepala sang adik dengan lembut.


"Tenang..kakak masih ada sebulan kok buat nemenin elo berantem". Hibur Bian pada sang adik.


"Beneran?? Bener sebulan?? Kakak disini kan?? Gak akan kemana-mana sebulan ini??". Ara langsung memberondong kakaknya dengan pertanyaan.


Bian mencubit hidung mancung sang adik..gemas karena sang adik mengajukan banyak pertanyaan.


"Iya..kakak sebulan penuh disini. Nemenin lo sama nganterin tuan putri kakak kemanapun lo mau pergi". Jawab Bian


Ara semakin melebarkan senyumnya mendengar jawaban Bian.


"Yesss..besok kita nonton ya". pinta Ara


Fabian mengangguk menyanggupi permintaan sang adik.


Bapak, Josh dan Pram hanya menggeleng melihat bagaimana manjanya Ara pada sang kakak.


Bapak dan Bian memang sangat menyayangi Ara, selain dirinya lah anak bungsu..juga karena Ara adalah wanita satu-satunya dalam keluarga mereka.


Malam semakin larut, Josh dan Pram pamit kembali ke kamar mereka untuk beristirahat. Begitu juga Ara dan Bian serta Bapak.


Berbeda dengan Dev yang terus berguling kesana kemari diatas ranjangnya. Setelah makan malam dengan kedua orang tua dan adiknya, Dev langsung masuk kedalam kamarnya.


Dev masih berpikir tentang siapa lelaki yang terlihat sangat dekat dengan Ara dan bahkan bapak sangat mengenal pria itu.


Dev berpikir jika lelaki itu adalah kekasih Ara..saking pusingnya memikirkan tentang siapa lelaki itu, akhirnya Dev terlelap dengan segala rasa penasarannya.


______


Langit pagi ini terlihat sangat cerah, secerah wajah Ara yang semakin terlihat cantik dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajahnya.


Bapak dan Bian ikut tersenyum melihat gadis kesayangan mereka terlihat sangat bahagia pagi ini.


"Seneng banget sih adek kakak pagi ini". Bian mengacak pelan rambut Ara.

__ADS_1


"Seneng dong, soalnya kakak ada dirumah". Jawab Ara dengan senyum cerianya.


"Kakak anterin aku ke sekolah kan??". Tanya Ara kemudian.


Fabian mengangguk, sementara bapak merasa bahagia melihat putra putrinya selalu akur walau sering berdebat.


"Iya lah..tugas kakak 1bulan ini pokoknya jadi ojek buat lo dek". Jawab Fabian


Semua sudah siap dengan kegiatan masing-masing. Ara yang sudah siap dengan seragam sekolahnya, begitu juga dengan Dira. Serta Dev yang sudah siap untuk pergi ke kampusnya.


Saat sedang keluar, Dira dan Dev berpapasan dengan Ara yang masih setia menggandeng tangan sang kakak.


Dev merasa panas dihatinya melihat Ara begitu menempel pada lelaki asing yang sejak semalam terus terpikir olehnya.


"Kak Bian?? Sejak kapan kakak ada disini??" Dira bertanya saat berhadapan dengan Ara dan Bian.


"Sudah sejak kemarin Dir, lu kelewat sibuk nyampe gak tahu kalo ada gue". Jawab Bian santai.


Dev semakin menekuk dalam kedua alisnya. Siapa sebenarnya pria ini. Kenapa sang adikpun mengenalnya dengan baik.


"ehhmmm..pantesan aja muka Ara cerah banget. Kedatengan tamu istimewa sih". Goda Dira


"Iya dong..superhero gue nih dateng satu lagi". Jawab Ara semakin memeluk erat lengan sang kakak.


Bian mencubit gemas hidung sang adik yang sangat manja kepadanya.


Tidak lama papa Aryo keluar dari rumah diikuti sang istri. Melihat putra sulung dari orang kepercayaannya membuat senyum diwajah papa Aryo dan mama Anika terbit. Keduanya menghampiri Bian.


"Fabian? Sejak kapan datang nak? Kenapa tidak menemui kami". Mama Anika langsung bertanya saat sudah berdiri didepan Bian.


"Maaf nyonya..saya takut mengganggu anda dan tuan karena saya datang sudah sore kemarin". Fabian menyalami dan mencium tangan kedua majikan sang ayah.


"Omong kosong..mengganggu apanya. Kami akan bahagia jika tau kamu ada disini". Kini papa Aryo maju dan memeluk lelaki yang sudah membuat putranya kalang kabut.


"anda berdua memang sangat baik tuan, nyonya". Jawab Fabian sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Pantas saja gadis cantik ini wajahnya cerah sejak pagi, rupanya ada tamu istimewa yang membuatnya begitu bahagia". Ucap mama sambil menoel hidung mancung Ara.


Semakin bingung saja Dev. Apakah hanya dirinya yang tidak mengenal pria ini?? Lalu siapa pria ini?? Kenapa semua orang begitu akrab pada pria ini???


"oh iya Bian, kenalkan..ini putra sulung kami. Kakaknya Dira, namanya Dev". Dev tersadar dari lamunannya saat sang mama memperkenalkannya dengan lelaki yang membuatnya begitu penasaran.


"Senang bertemu dengan anda tuan muda. Kenalkan nama saya Fabian". Bian mengulurkan tangannya.


"Dev". Jawab Dev sambil menerima uluran tangan Bian.


Papa dan Mama saling memandang saat melihat reaksi Dev yang seperti tidak tertarik untuk mengenal Bian.


Kemudian sebuah senyum misterius terbit dibibir kedua orang tua itu.


"Hari ini lo kaga bareng gue dong Ra". Tanya Dira


"Engga ah..gue mau ama kak Bian aja". Jawab Ara masih setia bergelayut dilengan sang kakak.


Dev melengos melihat kedekatan Ara dan Bian, perubahan mimik wajah Dev tidak lepas dari pandangan kedua orang tuanya yang justru semakin mengembangkan senyumnya.


Keduanya yakin bahwa kini putranya tengah waspada jika gadis yang sudah ia incar hampir 1tahun itu direbut lelaki lain. Tanpa tahu kenyataan bahwa lelaki yang tengah ia cemburui itu adalah kakak kandung seorang Kinara.


"Dev pamit dulu pa, ma". Dev memilih meninggalkan semua orang yang sedang sibuk menyapa pria asing yang membuat dadanya bergemuruh hebat menahan gejolak perasaan cemburu.


"Dira bareng ya kak". Ucap Dira tiba-tiba.


"Gue buru-buru. Lo dianter supir aja. Duluan semua, assalamualaikum" Setelah mengucap salam Dev langsung melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Meninggalkan Dira yang tengah kesal karena tidak diijinkan menumpang mobil sang kakak.


Dev memukul stir mobilnya dengan keras melampiaskan kekesalan yang ada didalam hatinya melihat gadis pujaannya begitu dekat dengan lelaki lain.


"Siapa sebenernya cowo itu Ra"

__ADS_1


__ADS_2