
Mata Ara masih melotot melihat dua orang yang ada ditengah tangga. Dirinya benar-benar tidak menyangka akan melihat dua orang itu.
"ELUU??!". Ara berucap setelah mengembalikan kesadarannya dari keterkejutan ini.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menggeplak kepala Ara.
Ara langsung menoleh kesamping dimana saat ini bapak sedang melotot horor kearah Ara.
"yang sopan kamu neng, mereka anak majikan bapak. Bapak tidak pernah mengajari kamu untuk tidak sopan seperti ini". Bapak berucap tegas.
"maaf pak". Hanya itu balasan Ara.
Ara masih berpikir keras, sedekat apa hubungan kedua orang itu sampai-sampai turun bersama dengan tangan yang saling menggenggam.
"ARAAA?? Itu beneran elo??" Sebuah suara menyadarkan Ara dari lamunannya.
Dira berlari menuruni tangga kemudian menghampiri Ara dan memeluknya erat.
Ya, dua orang yang membuat Ara terkejut itu adalah Dira dan Dev. Ara benar-benar tidak terfikir jika kedua orang itu adalah kakak beradik.
Sementara bapak, beliau hanya bengong melihat anak majikannya memeluk anak gadisnya dengan erat.
"ja..jadi, ini keluarga majikan bapak??" Ara bertanya kepada bapak dengan sedikit terbata karena sangat terkejut dengan keadaan saat ini.
"ya, ini majikan yang sering bapak bicarakan". Bapak berkata dengan senyum hangat kepada putrinya.
"Jadi dia putrimu mat?? Benar-benar mengejutkan. Ternyata dunia ini begitu sempit". Nyonya Anika membuka suara sambil berdiri dan berjalan mendekat ke arah Ara dan Dira.
Ara mundur satu langkah kemudian membungkukkan badannya sebagai tanda hormatnya kepada majikan bapak. Ara kini sadar posisinya..dia hanya anak dari pengawal setia keluarga ini, Ara tidak ingin lancang dan menyulitkan bapak.
"Anda mengenal putri saya nyonya??". Bapak bertanya karena penasaran dengan reaksi seluruh anggota kelurga majikannya.
"Tentu saja..bahkan aku sangat mengenalnya mat. Apakah kamu ingat saat aku menceritakan ada seorang gadis yang menyelamatkan aku dan putriku dari orang-orang jahat itu??" Nyonya Anika masih memandang gadis didepannya yang terus menundukkan kepalanya dalam.
"Inilah gadis itu mat, putrimu lah yang telah menyelamatkan kami, bahkan ia harus terluka saat menyelamatkan kami". Nyonya Anika mengelus rambut Ara dengan sayang.
Ara memejamkan matanya rapat sambil bergumam
"mati aku!!".
Ara benar-benar takut bapak akan marah karena tidak bercerita apapun pada bapak.
Bapak langsung menoleh kearah Ara saat mendengar gumaman anaknya itu.
"benar begitu neng??. Kenapa bapak tidak tau kalau kamu terluka??". Ucap bapak dengan penekanan disetiap katanya.
Ara semakin merapatkan kedua matanya dengan posisi kepala menunduk dalam mendengar nada bicara bapak. Ara yakin bapak sedang kesal padanya karena tidak bercerita apapun padanya.
"maafkan Ara pak. Ara hanya tidak ingin mengganggu bapak bekerja". Ara menjawab dengan penuh penyesalan.
"jangan marahi Ara mat. Dia gadis yang pemberani. Harusnya kamu bangga mempunyai anak hebat seperti dirinya". Tuan Aryo menyela perbincangan Rahmat dan Ara karena melihat Ara takut akan kemarahan ayahnya.
__ADS_1
Sementara Dev, sejak tadi ia masih mematung ditengah tangga melihat siapa yang kini ada dihadapannya.
Gadis yang berhasil membuatnya kalang kabut karena terus terbayang wajah ayu itu kini ada didepannya. Dia adalah putri dari pengawal setia keluarganya. Dunia benar-benar sedang berpihak padanya.
Saat sedang dalam suasana tegang, terdengar suara cempreng yang juga Ara kenali.
"Diraaaaa...apakah kamu sudah siap??". Suara keras itu mengalihkan pandangan semua orang. Putri datang dengan kehebohannya tanpa menyadari ada orang yang sangat ia kenali sedang melotot tak percaya dengan keadaan saat ini.
Apa ini? Kenapa semua ada disini.
Ara benar-benar dibuat bingung dengan keadaan saat ini.
Saat Putri mengedarkan pandangannya kepada seluruh penghuni rumah itu, matanya membulat sempurna melihat gadis yang menjadi sahabat barunya juga ada disana.
"ARAA!!". Putri memekik memecah lamunan semua orang.
"Lo disini ra???". Putri mendekat dan memegang bahu sahabatnya yang masih bengong.
"kamu kenal sama nona Putri neng??". Bapak berkata karena melihat kebingungan diwajah anaknya.
"Ah iya..dia teman sekelas Ara pak. Begitu juga dengan nona muda. Mereka berdua teman sekelas Ara". Ara menjawab dengan kikuk, merasa tidak nyaman dengan kondisi saat ini.
"tunggu. Pak?? Jadi paman Rahmat adalah bapakmu???". Putri memekik terkejut mendengar kenyataan ini.
"Dia putrimu mat??". Tuan Bram yang penasaran dengan keadaan ini mengajukan pertanyaannya yang dijawab anggukan kepala oleh bapak.
"ya Allah nak, sekarang tante tau. Pantas saja kamu mempunyai keberanian dan kemampuan sehebat itu. Semua itu kamu dapat dari bapakmu ternyata". Nyonya Dini ikut menimpali obrolan orang-orang.
Setelah beberapa saat hening, bapak memecah keheningan itu.
"Saya dan anak saya akan menjaga keluarga anda berdua malam ini tuan, nyonya".
"Tunggu. Maksudmu Ara akan ikut denganmu???. Itu berbahaya mat, tidak adakah orang lain??". Nyonya Anika mengajukan keberatan. Dirinya khawatir Ara akan terluka lagi.
"Ara sudah terlatih nyonya, dia sudah biasa menghadapi hal-hal diluar prediksi kita. Kita bisa mengandalkannya dalam hal seperti ini". Bapak berkata mantap membanggakan kemampuan anaknya.
"Aku tau kemampuannya tidak perlu diragukan lagi paman, tapi bagaimana jika Ara sampai terluka??". Kali ini Dira yang berusaha mencegah Ara ikut bapaknya melindunginya dan keluarganya.
"Saya tidak apa-apa nona muda. Saya sudah biasa dengan kondisi seperti ini". Ara berkata formal dengan menundukkan kepala sedikit. Ia benar-benar menempatkan dirinya sebagai anak dari pengawal majikannya.
"berhenti memanggilku nona muda Ara!! Kamu adalah sahabat kami kalau kamu lupa!". Dira benar-benar dibuat marah dengan kelakuan Ara saat ini.
"Maaf nona muda. Saya tidak bisa lancang. Anda adalah majikan saya". Ara masih tetap dengan pendiriannya.
Dira mendengus kesal mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Sementara Dev, perlahan ia menuruni anak tangga mendekat kearah sang papa yang duduk santai disofa ruang tamu.
"Ara tidak mungkin bisa menjaga kami dari dekat dengan pakaiannya saat ini mat. Kamu tahu pasti soal itu". Suara bariton tuan Aryo mengalihkan pandangan bapak.
"Ara akan berjaga diluar bersama Pram dan juga Josh tuan". Bapak menjawab sambil menundukkan kepalanya kearah tuan Aryo.
Tuan Aryo menghela nafas kemudian kembali berkata
__ADS_1
"Kenapa tidak ikut kedalam saja mat. Jangan terlalu membebaninya dengan tugas berat mat, dia masih terlalu muda".
"ah, begini saja. Biarkan Ara ikut kami masuk, dia akan menjaga kami dari dekat mat. Sekarang kalian berdua, bantulah Ara mengganti bajunya dengan gaun. Ia akan ikut masuk kedalam ruang pelelangan". Nyonya Anika berkata tegas memberi solusi.
"tidak perlu nyonya. Saya akan berjaga diluar dengan paman Josh dan paman Pram". Ara menolak halus perintah sang nyonya.
"Tidak ada bantahan Ara. Jika kamu tidak mau menurutiku, lebih baik kamu diam dirumah saja". Nyonya Anika berkata tegas tak ingin dibantah.
Ara menoleh kearah bapak seolah meminta persetujuan bapak.
Bapak mengangguk sebagai tanda setujunya.
Tanpa banyak berkata, Dira dan Putri menyeret Ara masuk ke dalam kamar Dira. Kemudian keduanya sibuk memilih gaun yang cocok untuk Ara. Sementara Ara masih diam menunggu dua temannya sibuk sendiri.
Sejujurnya Ara sedikit merasa tidak nyaman dengan kondisinya saat ini. Ia merasa kurang pantas bersahabat dengan anak-anak majikan bapaknya.
"gue rasa gaun ini yang cocok buat Ara Put". Dira berkata sambil memperlihatkan gaun berwarna merah tanpa lengan yang sangat cantik.
"Ini akan lebih terlihat cantik Dir". Putri juga memperlihatkan gaun dengan potongan sabrina berwarna pink.
Ara hanya menghela nafas melihat kedua temannya berdebat mempersoalkan gaun yang akan ia kenakan.
"bagaimana menurutmu ra?? Bukankah gaun pilihanku lebih cantik?". Putri bertanya sambil memperlihatkan gaun pilihannya dan pilihan Dira.
"tidak adakah yang lebih panjang dari itu?? Itu akan menyulitkan aku untuk bergerak bebas". Ara menggerutu melihat bentuk dan potongan kedua gaun yang diperlihatkan kedua sahabatnya, menurutnya gaun-gaun itu terlalu terbuka dan terlalu pendek.
Saat ketiganya tengah berdebat, nyonya Anika dan nyonya Dini masuk kedalam kamar itu dengan membawa sebuah gaun cantik berwarna navy berlengan pendek dengan panjang selutut, setidaknya ini lebih panjang dari dua gaun yang diperlihatkan kedua temannya, kedua ibu tersebut juga membawa sebuah heels cantik yang akan mereka berikan pada Ara.
"Ara akan memakai gaun ini saja. Aku rasa ini yang paling pas untuk Ara". Nyonya Dini membuka suara.
"Ayo cepat kita siapkan Ara, waktu kita tidak lama lagi". Nyonya Anika menuntun Ara memasuki kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian Ara keluar dari kamar mandi lengkap dengan gaun yang melekat sempurna ditubuhnya. Ara benar-benar terlihat berbeda dengan Ara yang sering mereka lihat mengenakan celana jeans robeknya serta kaos oblong kesukaannya.
Kecantikan alami Ara membuat kedua sahabat dan ibu mereka sempat bengong sesaat. Namun mereka segera menggelengkan kepalanya dan kemudian menarik Ara untuk duduk dimeja rias.
30menit kemudian, Nyonya Dini dan nyonya Anika menuruni anak tangga, diikuti 3 gadis yang terlihat anggun dengan gaun yang mereka pakai.
Dev menatap gadis cantik dengan gaun berwarna navy yang melekat sempurna ditubuh indahnya. Bahkan Dev tersedak minuman yang sedang ada ditenggorokannya.
Tuan Aryo tersenyum mengejek melihat putranya terpesona oleh gadis cantik yang beberapa saat lalu sempat membuat seluruh keluarganya terkejut.
Ara menarik ujung gaunnya merasa tidak nyaman karena memang dia tidak pernah memakai gaun sebelumnya.
Saat sudah sampai dibawah, Ara berjalan mendekati bapak kemudian berbisik.
Setelah Ara berbisik, bapak pamit undur diri sebentar dengan membawa Ara.
Beberapa saat kemudian keduanya kembali lagi keruang tamu.
Ara sedikit kesulitan berjalan dengan memakai heels saat ini. Namun sebisa mungkin Ara menyeimbangkan tubuhnya. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya dan juga majikannya jika nanti sampai terjatuh saat datang ke acara itu.
__ADS_1
Dev benar-benar seperti orang bodoh yang tidak pernah melihat gadis cantik. Dirinya benar-benar terpesona oleh kecantikan alami gadis tomboy itu. Dev tersenyum tipis saat melihat Ara terus menarik ujung gaunnya. "Benar-benar gadis polos yang menggemaskan". Batin Dev sambil terus tersenyum.