Cinta Kinara

Cinta Kinara
cemburu


__ADS_3

Pria yang memegang pisau berjalan cepat hendak menusukkan pisaunya ketubuh Ara.


Dengan cepat Ara memberikan tendangan maut tepat di ulu hati musuhnya hingga tersungkur dan pisau yang dipegang terlempar entah kemana.


Untung ada suara bapak yang mengingatkannya, sehingga Ara tidak sampai terluka lagi oleh orang yang sama.


"ya kali om mau 3 kali bikin gue luka, sekali-kali om yang gue bikin babak belur sukur-sukur nyampe pingsan kaya gue waktu itu". Dalam keadaan seperti itupun masih sempat-sempatnya Ara mengingat dendamnya.


"ternyata kamu lagi bocah tengik, sudah 2 kali kamu membuat pekerjaan saya gagal. Kali ini saya akan buat kamu tidak sanggup bangun lagi". Geram pria yang menjadi lawan Ara.


Bukannya takut atau mundur, Ara justru semakin maju mendekat kearah musuhnya yang masih mencoba bangun setelah mendapat hadiah tendangan kuat dari Ara.


"dihh..beginian dikata kerjaan, ini mah kejahatan om. Lu kaga pernah sekolah ya om kaga bisa bedain kerjaan ama kejahatan. Makanya kalo sekolah tu belajar yang bener om, jangan bolos mulu. Jadi we kan ga pinter-pinter". Oh ayolah Ara, kenapa penjahatnya malah diajak ngobrol🤦🤦


Sementara Digo yang mendengar ucapan Ara semakin ingin tertawa keras. Tidak habis pikir dengan cara berpikir gadis itu, masih sempat-sempatnya mengajak musuhnya mengobrol.


Pertarungan kemudian berlanjut, Ara semakin meningkatkan kecepatan serangannya ingin segera mengakhiri pertempuran melelahkan ini.


Sementara Digo? Pemuda itu memilih menjadi penonton dari pertarungan gadis yang sudah menjadi incarannya sejak pertama bertemu.


Bapak dan paman Pram sudah berhasil melumpuhkan beberapa lawan yang lain, tinggal tersisa Ara yang masih berjibaku melawan 2 orang pria yang salah satunya batu saja tersungkur dalam keadaan pingsan setelah dihadiahi pukulan tepat pada tulang hidungnya. Mungkin hidungnya patah.


Kini Ara berhadapan satu lawan satu dengan pria yang sudah 2 kali melukainya. Ara tidak ingin kalah lagi kali ini.


Bapak yang sudah kesal melihat anaknya justru bermain-main dengan penjahat berteriak.


"gak sekalian kamu ajak main gundu aja itu orang neng. Ngadepin satu lagi aja malah diajak main". Sontak perkataan bapak mengundang tawa dari beberapa orang anak buah bapak dan juga tuan Aryo serta tuan Bram yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Mungkin jika mereka yang ada diposisi bapak saat ini, mereka sudah mati berdiri melihat putrinya berhadapan dengan penjahat.


"bapak mah berantem teh gatau seni ya, ini namanya seni pak. Seni gelut". Ara masih spat menjawab omelan bapak sebelum kemudian dengan entengnya memelintir tangan lawannya hingga lawannya sudah tak berdaya.


"bapak mah ih..kalo anaknya lagi gelut teh jangan digangguin wae atuh. Bikin konsentrasi aku pecah tau". Saat sudah berada dekat dengan bapak, Ara mengomeli bapak. Sementara yang ada disekitar mereka hanya tertawa pelan melihat kelakuan anak dan bapaknya itu.


"ya kamu, ngadepin satu aja lama pisan..kalakah diajakin ngobrol sagala. Heran bapak mah neng ama kamu". Bapak yang tak terima diomeli anaknya langsung balik menyemprot Ara.


Ara hanya mendengus kesal karena bapak tidak pernah mau mengalah padanya.


Dalam setiap pertarungan pasti akan ada luka yang berbekas, begitupun pertarungan kali ini. Wajah Ara yang baru sembuh dari luka kini harus ia relakan untuk terluka lagi. Selain luka karena pecahan lampu tadi, Ara juga beberapa kali mendapat pukulan dari lawannya.


Sementara bapak dan para anak buahnya mengurus semua penjahat tadi, Ara duduk tenang disalah satu kursi diruangan tersebut.


"nih minum dulu, gue yakin lu udah haus banget setelah berantem tadi". Saat Ara sedang melemaskan ototnya, tiba-tiba ada yang menyodorkan segelas air putih kepadanya.


Ara mendongak untuk melihat siapa yang memberinya air minum.

__ADS_1


"thanks". Hanya itu yang Ara ucapkan, dan dengan cepat dia menghabiskan air yang ada digelas tersebut.


"ga takut gue racun lu main minum-minum aja??". Pemuda itu bertanya dengan nada menggoda.


"nyari mati lu ya??". Ara langsung melotot ke arah Digo yang kini sedang tertawa puas setelah bisa mengganggu Ara.


"dasar sinting". Ara berkata sambil bangkit dari duduknya. Namun belum sempat ia berdiri, tangannya sudah dicekal oleh Digo.


"mau kemana lo?? Ga ada makasih-makasihnya tadi udah gue tolongin biar ga nyungsep". Digo mengingatkan tentang pertolongannya tadi terhadap Ara.


"lu mau nolong aja itungan, dasar gelo". Ara menghempas tangan Digo dan segera berlalu.


"cewe gila". Gumam Digo


"apa gue yang gila tertarik ama cewe modelan gitu?" Digo kembali bermonolog dengan dirinya sendiri.


Sementara disudut ruangan, Dev sedang mengepalkan tangannya kuat hingga jari-jarinya memutih, rahangnya mengeras melihat interaksi antara Ara dan Digo barusan.


Dev tidak mengerti kenapa dirinya harus sekesal itu melihat tangan Ara dipegang oleh Digo.


"apa mungkin gue cemburu?". Dev bergumam yang hanya bisa didengar olehnya dan gadis disampingnya.


"makanya kakak harus gercep. Kalo engga, aku yakin Ara bakal dibawa kabur cowo lain, secara kan Ara cantiiik banget. Menarik lagi". Tiba-tiba Dira sudah ada disamping Dev, entah sejak kapan gadis ini kembali dari tempat persembunyiannya.


Dev mendengus kesal kepada adiknya kemudian berjalan mendekat kearah Ara.


"Ara??". Dev memanggil Ara yang membelakanginya.


Ara berbalik, namun sesaat kemudian matanya membulat sempurna saat melihat bayangan senjata yang diarahkan pada pemuda yang kini sedang berjalan ke arahnya itu.


Reflek Ara berlari menghampiri Dev yang sedang bingung melihat reaksi Ara saat ia memanggilnya.


"Tuaaan". Ara memeluk tubuh Dev dan membalikkan posisinya dan


"DOOORRR".


Suara tembakan itu diiringi dengan tubuh Ara yang tiba-tiba merosot kebawah.


Dengan sigap Dev menahan tubuh Ara yang masih memeluknya. Matanya hampir keluar saat melihat telapak tangannya penuh dengan darah.


Ara tertembak untuk melindungi dirinya. Dev benar-benar merasa setengah nyawanya melayang melihat kondisi Ara.


"anda tidak apa-apa tuan??". Ara bertanya dengan sedikit tersengal.


Saat ini Ara berada dalam pelukan Dev.

__ADS_1


Dev tidak sedikitpu melepas pelukannya pada gadis itu.


Suasana yang tadi sudah terkendali tiba-tiba berubah menyeramkan setelah bunyi tembakan yang memekakkan telinga itu.


"SIALL". Sang penembak mengumpat kemudian berlari menjauh dari tempatnya saat ini.


Paman Josh dan anak buahnya yang lain berpencar mencari pelaku penembakan.


Sementara bapak. Ia berlari kearah anaknya, diraihnya tubuh Ara yang sudah melemah.


"kamu harus bertahan nak, kamu gak boleh tinggalin bapak". Bapak berkata dengan air mata yang sudah mengalir dikedua pipinya.


"Ara baik-baik aja pak. Ara anak bapak, Ara kuat..bapak jangan nangis". Dengan tangan gemetar menahan sakit, Ara menghapus air mata bapak.


Melihat kondisi Pak Rahmat, Dev berinisiatif menggendong tubuh Ara yang semakin melemah menuju mobil.


Bapak mengikuti dari belakang sambil mulutnya terus memanjatkan doa untuk keselamatan putrinya.


__________


Dev melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak perduli dengan makian pengendara lain. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah cepat sampai rumah sakit dan menyelamatkan gadis yang semakin melemah dalam pangkuan pak Rahmat.


Sesampainya didepan IGD, Dev membuka pintu mobil dan kembali membopong tubuh Ara yang hampir kehilangan kesadarannya.


"bertahanlah Ara, semua akan baik-baik saja". Dev berkata sambil terus berlari sementara pak Rahmat berteriak meminta pertolongan petugas medis yang berjaga.


"selamatkan putri saya, dia terkena luka tembak dipunggungnya". Pak Rahmat menjelaskan kepada petugas medis.


Ara dibaringkan di brangkar kemudian didorong masuk kedalam ruang operasi.


Pak Rahmat dibantu Tuan Aryo dan tuan Bram menyelesaikan administrasi dan menandatangani berkas persetujuan tindakan operasi.


______


Saat ini semua orang sedang berada didepan ruang operasi, Bapak terlihat sangat terpukul. Berkali-kali bapak menghantamkan tinjunya ketembok.


Dirinya merasa gagal melindungi putri satu-satunya hingga harus mengalami luka tembak seperti ini.


Tepukan dibahunya membuat pak Rahmat menoleh, terlihat tuan Aryo sedang tersenyum


"anakmu akan baik-baik saja mat. Aku yakin Ara gadis yang kuat. Dia akan kembali pada kita, percayalah". Ucapan tuan Aryo sedikit membuat bapak tenang.


Sementara nyonya Anika dan nyonya Dini serta Putri dan Dira tidak henti-hentinya menangis. Mereka benar-benar mengkgawatirkan keadaan Ara saat ini.


Setelah hampir 2 jam menunggu, lampu kamar operasi padam, disusul dengan keluarnya dokter yang tadi menangani Ara.

__ADS_1


"bagaimana kondisi putri saya dok??


__ADS_2