Cinta Kinara

Cinta Kinara
tertangkap


__ADS_3

Semua orang masih sibuk dengan makanan yang dihidangkan, hingga tidak menyadari ada beberapa orang asing yang menyelinap masuk kedalam rumah besar itu.


Diantara semua orang yang ada, hanya Ara, Bian serta bapak dan kedua orang kepercayaannya saja yang menyadari kehadiran orang-orang asing itu.


Ara yang berdiri bersebelahan dengan Fabian masih diam memperhatikan pergerakan orang yang sedari tadi terus mereka awasi.


Bian dan Ara bergerak cepat mendekat pada Dira dan Putri saat melihat dua pria yang memakai seragam catering yang memang mama Anika pesan untuk acara ini mendekat kearah kedua gadis itu.


Dengan cepat Ara menarik Dira dan langsung menendang pria yang hendak membungkam mulut Dira dengan sebuah kain yang Ara yakini sudah diberi obat bius. Begitupun dengan Fabian, pria itu bergerak cepat menarik Putri kedalam pelukannya sebelum pria misterius yang tiba-tiba datang hendak membiusnya.


Dira dan Putri sama-sama terkejut dengan apa yang dilakukan kedua kakak beradik itu. Acara yang semula riuh oleh canda tawa tiba-tiba hening. Semua orang berdiri dari posisi duduknya.


Bapak langsung memberi kode pada Josh untuk mengunci semua pintu keluar agar tidak ada satupun yang bisa keluar dari rumah majikannya itu.


"kenapa Ra? Ada apa??" Dira bertanya masih dengan posisi berdiri dibelakang Ara.


"Lo ikut om Pram ama mama lo, sekalian nyonya Dini ama Putri. Kalian ikut kemana om Pram bawa kalian. Jangan keluar ampe bener-bener aman". Ara berkata sambil matanya terus menatap tajam wajah pria yang hendak mencelakai sahabatnya.


"Tapi kenapa??" Dira kembali bertanya


"Amanin semua om". Ara melirik pada Pram yang sudah siap siaga mengamankan para majikan perempuan.


"Mari nona, nyonya..kita pergi dari sini". Pram menjulurkan tangannya kepada para majikannya.


Ara berdiri tegak tanpa sedikitpun rasa takut berhadapan dengan penjahat yang ada didepannya.


"Keluar lu semua!!" Teriakan Ara terdengar begitu menggema.


Dev dan kedua sahabatnya terlihat saling pandang bingung mendengar teriakan Ara ditujukan pada siapa. Begitu juga papa Aryo dan papa Bram yang sama-sama mengerutkan dahinya bingung.


Hanya Bian dan Bapak serta Josh yang terlihat santai mendengar teriakan Ara.


Tidak lama beberapa pria masuk kedalam ruang keluarga, ada sekitar 20 orang pria berbadan kekar yang terlihat.


Ara tersenyum sinis melihat orang-orang itu mulai menampakkan diri. Seluruh anggota keluarga tampak semakin terkejut melihat kedatangan orang-orang yang sama sekali tidak mereka kenali itu.


Dev berjalan mendekat dimana Ara kini tengah berdiri tegak ditengah ruangan seolah menantang semua musuhnya tanpa rasa takut.


"Siapa mereka Ra?? Dan bagaimana kamu bisa tahu?" Dev bertanya saat sudah berdiri tepat disamping Ara.


"Mereka cuma tamu gak diundang yang sengaja diumpanin ama tuan bod*h mereka bang". Ucap Ara disertai senyum smirk yang belum pernah Dev lihat sebelumnya.


Bahkan Kevin dan Samuel yang berdiri tidak jauh dari Ara sampai bergidik melihat senyum mengerikan yang diperlihatkan Ara untuk pertama kalinya dihadapan mereka.


"Tapi gimana caranya mereka masuk? Penjagaan diluar udah ketat Ra?" Dev kembali mengajukan pertanyaan.


"Nanya-nanya nya dipending dulu napa sih bang. Noh yang didepan udah ga sabar pengen gelut" Jawab Ara sambil melirik pria-pria yang berdiri didepan mereka.


"Clear" Terdengar suara Pram dari earphone yang sejak tadi terpasang ditelinga Ara.


Ara melirik bapak dan Fabian secara bergantian kemudian mengangguk.


Tanpa menunggu aba-aba dari siapapun, Ara maju menyerang 3 orang pria yang ada dihadapannya. Begitupun dengan Fabian serta Josh dan anak buah bapak yang lain.

__ADS_1


Sementara bapak bertugas melindungi papa Aryo dan papa Bram yang masih berdiri didekat kursi ruang keluarga.


"Lo nyerangnya yang bener dikit napa sih dek. Salah-salah lo bisa nendang gue lama-lama". Dalam pertarungan terdengar suara Bian yang menginteruksi adiknya yang sejak tadi seperti kurang fokus.


"Lu sih ngasih gue sepatu beginian, susah gue mau geraknya. Beliin sepatu tuh yang manfaat napa sih". Ara pun tak kalah sewot.


"ya kali lu make dress cantik gitu terus sepatunya make sepatu sports, kaga cocok dek. Gemes banget gue ama lo, pengen jitak". Kembali Bian mengomeli sang adik.


Sementara Josh yang sejak tadi mendengar kedua kakak beradik itu masih sempat berdebat dalam situasi genting seperti ini benar-benar merasa pusing.


"Gak sama bapaknya, gak sama abangnya pokoknya ribut terooosss". Teriak Josh yang sudah sangat kesal dengan kelakuan kakak beradik itu.


Padahal saat ini ketiganya tengah bertarung sengit dengan para pria tak diundang itu.


Bapak menepuk dahinya berkali-kali, antara kesal, heran dan juga merasa lucu melihat anak-anaknya yang masih sempat memperdebatkan masalah sepatu yang dipakai Ara.


Karena kurang fokus akibat heels yang ia pakai,Ara terkena pukulan di ulu hatinya dab tendangan kuat diperutnya.


Tubuh Ara terhuyung kebelakang dengan bibir mengeluarkan darah segar. Ara segera memanfaatkan kesempatan dirinya jauh dari musuh untuk melepas sepatu yang membuat dirinya tak bebas bergerak.


Dilemparkannya sepatu itu kesembarang arah, sampai terdengar suara teriakan mengaduh.


"Aduuuhh, eneng kamu mau bikin kepala bapak benjol. Main lempar-lempar aja ini sepatu" Ternyata sepatu yang Ara lempar melayang tepat mengenai kepala bapak.


Sedangkan papa Aryo dan papa Bram serta Dev dan kedua sahabatnya hanya bisa melongo melihat bagaimana santainya pasangan bapak dan anak ini melawan para penyusup yang masuk kedalam rumah besar itu.


"Hahaha..maapin atuh bapak, Ara gak sengaja da. Beneran deh ga sengaja". Ara meminta maaf sambil tertawa geli melihat sekilas bapak yang mengusap-usap kepala bagian samping.


"Bian!! Kamu itu lebih tua dari adik kamu, bukannya diingetin adiknya malah ikut-ikutan selengean terus!!" Kini Bian yang kena semprot bapak.


Sementara Dev membulatkan matanya mendengar bapak mengatakan bahwa Ara adalah adik dari Bian. Ada rasa bahagia dalam hatinya mengetahui lelaki yang begitu dekat dengan Ara adalah kakak kandung gadis itu.


"Lo sih dek..kan jadi gue yang kena sembur ama aki Rahmat". Bisik Bian pada sang adik.


"Bapaaaak..kakak manggil bapak aki barusan". Teriak Ara pada sang ayah yang sedang melotot horor pada kedua anaknya yang tetap saja bergurau.


"Iya..iya pak. Enggak lagi-lagi becanda..kita serius ini sekarang. Beneran deh". Ara dan Bian langsung memasang kuda-kuda untuk kembali melanjutkan pertarungan yang sesungguhnya


Dari 20 orang, kini tinggal setengahnya yang masih kuat berdiri. Ara melarang semua orang untuk membantu dirinya dan sang kakak. Sudah lama dirinya tidak seperti ini dengan sang kakak. Menghadapi musuh dengan saling melindungi satu sama lain.


Tak butuh waktu lama, 10 orang yang kini berhadapan dengan Ara dan Bian sudah tumbang semua.


Ara dan Bian bertos ria sambil saling berpelukan.


Semua penyusup dikumpulkan dan diikat kaki dan tangannya. Ara sedang mencari wanita yang sudah ia curigai sejak pertama kali melihatnya itu.


Wajah pembantu yang sedang Ara cari itu kini tengah pucat, keringat dingin mengalir deras dipelipisnya.


Ara mendekat dimana Dewi berdiri..semakin pucat saja wajahnya melihat Ara semakin mendekat. Ara segera menyeret Dewi kehadapan majikannya. Kemudian menghempaskan tubuh Dewi ke lantai.


Semua orang terkejut melihat Ara yang tiba-tiba menyeret dan menghempaskan tubuh pembantu baru itu kelantai.


"Siapa yang nyuruh lu?!!!". Tanya Ara dingin.

__ADS_1


"Ap..apa maksud neng Ara. Mbak ga ngerti neng". Jawab Dewi gugup.


Ara tersenyum sini melihat wanita itu berkelit.


"Apa gue harus gangguin anak-anak lu buat bikin lu ngaku??" Ara memiringkan sedikit kepalanya masih dengan sebuah senyum misterius.


Dewi langsung mendongakkan kepalanya dan menggeleng kuat.


"Jangan!! Jangan ganggu keluarga saya. Saya mohon". Dewi langsung memegang kaki Ara yang berdiri didepannya.


Ara berjongkok didepan Dewi.


"Anak ama suami lu aman ama gue. Sekarang jawab siapa yang nyuruh elu mbak??" Ucap Ara sambil memegang kedua bahu wanita berumur 30tahunan itu.


"Bagaimana mungkin?? Suami dan anak saya ada padamu??" Dewi kembali bertanya.


"Mbak Dewi gak perlu tau, yang pasti mereka aman sama Ara. Gak akan ada yang bisa nyakitin mereka. Sekarang jawab pertanyaan Ara, jawab jujur biar orang yang udah manfaatin mbak Dewi ditangkap sama pihak berwajib". Jelas Ara.


"Ada apa sebenarnya ini Ara?? Apa Dewi termasuk dari orang-orang ini??". Papa Aryo bertanya setelah sejak tadi hanya menyimak.


"Mbak Dewi hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak menyukai kesuksesan keluarga anda tuan". Jelas Ara


"Jawab mbak..Ara janji bakal lindungin mbak Dewi sama keluarga. Pegang janji Ara". Ucap Ara


Dewi melihat mata Ara, terlihat kesungguhan dari sorot mata Ara. Dewi tersenyum kemudian dengan tegas menjawab.


"Riki Atmaja" Dewi berkata tanpa keraguan sedikitpun.


Mata papa Aryo dan papa Bram membulat sempurna mendengar nama salah satu rekan bisnisnya ternyata adalah dalang dari penyerangan malam ini.


"Jangan bercanda Dewi". Ucap papa Aryo


"Saya berani bersumpah tuan. Tuan Riki sendiri yang menemui saya kemudian menawan suami dan anak saya. Maafkan saya tuan, tolong ampuni saya..saya terpaksa melakukan ini demi nyawa suami dan anak saya tuan. Tolong maafkan saya". Dewi menangis sesenggukan saat meminta ampunan pada papa Aryo.


Papa Aryo malihat Ara meminta penjelasan.


"Mbak Dewi harus mau bersaksi nanti saat pihak kepolisian membutuhkan". Ara kembali berkata pada Dewi yang masih menundukkan kepalanya.


Dewi mengangguk, menyanggupi permintaan Ara.


Tidak lama pihak kepolisian datang setelah tadi Pram menelepon kantor polisi terdekat.


"Saya akan menjelaskannya tuan. Maaf karena saya tidak bilang pada anda saat saya sudah mengetahuinya". Ara menunduk merasa bersalah karena membuat acara ulang tahun Dira kacau karena rencananya menangkap para penyusup itu.


Tuan Aryo mengangguk paham.


Ara dan sang kakak ikut serta ke kantor polisi untuk memberi keterangan atas kasus penyerangan dirumah tuan Aryo.


Malam itu juga, tuan Riki Atmaja digelandang ke kantor polisi dengan tuduhan rencana penculikan dan pembunuhan terhadap anggota keluarga tuan Aryo.


Ara bernafas lega bisa mencegah hal yang lebih buruk lagi terjadi pada keluarga majikannya. Kini dirinya hanya perlu menyiapkan diri menjelaskan segala hal yang terjadi sebenarnya.


Malam ini semua orang bisa tidur dengan nyenyak setelah semua permasalahan dapat diselesaikan dengan baik tanpa ada yang terluka parah.

__ADS_1


__ADS_2