Cinta Kinara

Cinta Kinara
bangkit


__ADS_3

Sudah 2hari Ara dirawat, Tak sedetikpun Dev meninggalkan istrinya. Sejak 2hari itu pula Ara lebih banyak diam dan melamun. Bahkan terkadang ia menangis tiba-tiba tanpa sepengetahuan Dev jika mengingat didalam perutnya pernah bersemayam janin calon anaknya.


"Sayang.." Panggilan lembut dari sang suami menyadarkan Ara dari lamunannya, Ara tersenyum lembut menatap netra tajam suaminya. Ia tahu bahwa sang suami pun sama menderitanya seperti dirinya, namun lihatlah..didepan istrinya dia selalu berusaha menjadi lelaki tangguh, menjadikan dirinya sandaran untuk istrinya.


"Makan dulu ya, biar cepet pulih". Ucap Dev lembut sambil menyodorkan sesendok bubur. Ara mengangguk dan tersenyum tipis melihat perhatian suami yang ia cintai.


"Makasih bang.."


Dev menaikkan sebelah alisnya mendengar sang istri berterima kasih padanya, seolah bertanya "untuk??".


"Makasih karna abang selalu dampingin Ara. Makasih udah mau nerima Ara dengan segala kekurangan Ara. Bahkan karena kecerobohan Ara, kita harus kehilangan calon anak kita. Maafin Ara". Ara menunduk, air matanya kembali menetes tanpa bisa ia cegah.


Dev meletakkan mangkuk bubur yang ia pegang, menarik sang istri kedalam pelukannya. Ia tahu bagaimana hancurnya sang istri kehilangan calon anak mereka, dirinya pun sama. Merasa tak berguna karena tak bisa melindungi istri dan calon anaknya.


"Tidak ada yang bersalah disini sayang. Allah sedang merencanakan kebahagiaan yang lebih besar untuk kita ke depannya. Anak kita sudah bahagia disurga. Jadi ikhlaskan dia". Dev memeluk erat tubuh istrinya yang masih terlihat lemah.


"Kapan Ara bisa pulang bang?" Ra bertanya setelah tangisnya reda.


"Setelah kamu benar-benar sembuh sayang". Dev menoel hidung mancung istrinya, membuat Ara tersenyum.


"Selamat pagi nona, bagaimana kabar anda?". Dokter masuk kedalam ruang perawatan Ara dengan senyum merekah.


"Sudah lebih baik dok. Bisakah saya pulang hari ini?" Tanya Ara penuh harap. Dev hanya menggeleng melihat istrinya yang sudah tidak betah diam diatas ranjang rumah sakit.


"Kita periksa dulu ya, kalau kondisinya sudah stabil, hari ini anda boleh pulang". Jelas dokter kemudian memulai memeriksa tubuh Ara.


"Semuanya baik, kondisi anda sudah hampir pulih sepenuhnya. Anda benar-benar wanita kuat nona Ara. Siang ini anda sudah boleh pulang". Jelas dokter membuat senyum Ara dan Dev mengembang sempurna.


"Kalau begitu, saya permisi dulu nona. Jangan bekerja terlalu berat dulu nona, anda harus istirahat penuh sekalipun sudah saya ijinkan pulang. Jangan terlalu memaksakan kondisi anda, paling tidak dalam satu minggu ini anda harus benar-benar istirahat jika ingin cepat pulih sepenuhnya". Jelas dokter sebelum meninggalkan ruang perawatan Ara.


"Baik. Terima kasih banyak dokter atas bantuan dan pertolongan anda". Jawab Ara ramah sambil sedikit menundukkan kepala.


"Sudah kewajiban saya. Mari tuan, nona". Dokter keluar dari kamar Ara, kini tinggal sepasang suami istri yang tiba-tiba saling membisu. Entah apa yang mereka pikirkan.

__ADS_1


Ara memilih membersihkan diri, sementara Dev membereskan barang-barang mereka. Memasukkan beberapa bajunya dan sang istri kedalam tas.


Ara sudah segar dan sudah berganti pakaian santai, sementara Dev sudah duduk menunggunya di sofa kamar rawatnya. Dev menepuk sisi kosong disebelah ia duduk. Ara mendekat dan mendaratkan p*nt*tnya tepat disebelah sang suami.


Dev merengkuh pundak Ara, menyandarkan kepala sang istri di dada bidangnya. Mencium pucuk kepala istrinya, menghirup wangi rambut istrinya dalam-dalam.


"Abang tahu ini berat, tapi abang mohon..jangan terus seperti ini sayang. Kamu masih punya abang, kita akan lewatin ini bersama". Ucapan Dev membuat mata Ara kembali berembun, ia melingkarkan kedua tangannya diperut rata sang suami, semakin membenamkan wajahnya didada Dev, mencari kekuatan dari pelukan hangat suaminya. Ara menganggukkan kepalanya pelan, membuat Dev tersenyum tipis.


####


Keduanya sudah memasuki gerbang komplek perumahan, Dev menyetir mobilnya sendiri tanpa seorang sopir. Keduanya menempuh perjalanan kurang lebih selama 2jam, Ara sudah terlelap dikursi penumpang, beberapa kali Dev melirik istrinya yang terlihat damai dalam tidurnya, meski dirinya tahu bahwa batinnya tengah tersiksa.


Dev menghentikan laju mobilnya ketika sudah sampai dihalaman rumah milik kedua orang tuanya. Ia melirik istrinya yang masih terlelap tanpa merasa terganggu sedikitpun.


Perlahan Dev mengangkat tubuh istrinya, membawanya masuk kedalam rumah yang ternyata didalam sudah ada Bian bersama istrinya dan tentunya kedua orang tuanya.


Dev memberi kode agar semua diam, karena Ara masih terlelap. Sepertinya bukan hanya jiwanya saja yang lelah namun raganya juga sepertinya benar-benar butuh istirahat. Semua mengangguk dan membiarkan Dev membawa tubuh istrinya yang terlelap kedalam kamar.


"Bagaimana kondisi Ara??" Tanya mama setelah Dev mendaratkan pantatnya disebelah sang ibu.


"Dia akan segera pulih Dev, percayalah". Ucap Bian menenangkan.


"Mama bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Ara. Dia sudah menunggu itu lama, dan kini..saat janin itu ada didalam rahimnya, Allah memberikan ujian lagi dengan mengambilnya. Bahkan saat dirinya belum mengetahuinya". Mama kembali terisak mengingat bagaimana takdir seperti mempermainkan menantu tersayangnya.


***


Ara POV


Aku mengerjapkan mataku, menyesuaikan cahaya yang menembus kedalam kornea mataku. Mataku memindai seluruh ruangan, ini sudah ada didalam kamarku yang ada dirumah mertuaku. Bagaimana bisa aku sampai disini? Pikirku. Seingatku, aku sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.


Rumah sakit?


Ah aku, kembali mengingat sesuatu yang membuat hatiku terasa pedih. Aku kehilangan buah hati yang bahkan aku sendiri belum tahu sejak kapan ia bersembunyi didalam rahimku. Jantungku seakan berhenti berdetak kala dokter mengatakan aku keguguran waktu itu. Aku berharap itu hanya sebuah ilusi, namun ternyata semua itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


Kulihat wajah suamiku, terpancar jelas kesedihan. Sorot mata yang biasanya begitu tajam, hari itu sama sekali tak nampak. Hanya ada sorot mata kehancuran dari pancaran matanya.


Aku bangkit, berjalan pelan menuju pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Sejujurnya ini masih sangat nyeri, tapi aku ingin menghirup udara segar.


Ingatanku kembali pada saat manusia tak tahu malu bersama Nicolas menculik ibu mertua dan adik iparku. Memaksaku melakukan pertarungan hingga mengakibatkan tubuhku kelelahan, bahkan karena lelaki itu pula, aku harus merelakan Allah mengambil janin yang ada dirahimku.


Aku memeluk tubuhku sendiri, memejamkan mataku menikmati semilir angin sore yang menerpa wajahku. Entah seperti apa wajahku saat ini, mungkin pucat? Atau mungkin semakin tirus? Entahlah.


Aku berjingkat kala merasakan sebuah tangan melingkar diperutku, menghangatkan tubuhku yang diterpa angin sore, aku dapat mencium wangi parfum maskulin dari suamiku.


Perlahan kubuka mataku, melirik sedikit dimana suamiku meletakkan dagunya dipundakku. Ia memberikan kecupan singkat dipipi kananku. Aku tersenyum dan mengelus wajah tampannya.


"Kamu mikirin apa hm??" Tanya nya masih dengan posisi yang sama.


"Nggak ada bang, cuma mau nyari udara seger aja. Sumpek 2hari dirumah sakit". Aku menampilkan senyum terbaikku. Aku tahu dia sedang mengkhawatirkan diriku.


"Jangan terus kaya gini sayang, masih ada aku yang butuh kamu". Dev membalikkan badanku agar menghadap kearahnya. Matanya menyiratkan kekhawatiran dan kesedihan.


Aku tersenyum lemah kemudian masuk kedalam pelukannya. Memeluknya erat, menyalurkan segala rasa ngilu didalam dadaku kala mengingat calon anak kami yang sudah tiada.


"Menangislah jika itu membuatmu lega Ra. Jangan pernah kamu pendam dan kamu tahan. Abang tahu ini sulit, abang pun sakit..tapi abang semakin sakit melihatmu seperti ini". Terasa elusan tangannya yang lembut dipunggungku. Air mata tak dapat lagi kubendung, selama dirawat, aku selalu mencoba menahan air mata walaupun aku sangat ingin menangis, sekalipun aku menangis, aku akan menangis diam-diam tanpa seorangpun tahu. Aku tidak ingin membuat semua orang sedih karenaku. Tapi kini, didalam pelukan suamiku..aku menumpahkan kembali segala sesak yang menghimpit dadaku.


"Kenapa bang..kenapa harus Ara. Apakah Ara tidak cukup baik untuk menjadi orang tua?? Sampai Allah mengambil sesuatu yang selama ini kita tunggu". Dev terus mengelus punggungku, mendengarkan segala keluh yang aku utarakan.


"Kita harus percaya dengan semua rencana Allah sayang. Apa kamu meragukan kuasa Nya??" Abang melonggarkan pelukannya, menghapus air mata yang masih terus menetes tanpa bisa aku hentikan. Aku menggeleng, bukan..bukan aku tidak percaya dengan kuasa Allah, aku hanya merasa takdir begitu kejam padaku. Ingin rasanya aku mengeluarkan kata itu, namun semua seakan tersangkut ditenggorokanku.


"Percayalah sayang..apapun yang kita lewati saat ini, sakit dan pedih yang kita rasakan saat ini..suatu saat akan digantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Anak kita sudah bahagia disurga sayang".


"Kamu masih punya abang, mama dan papa pun begitu mengkhawatirkan dirimu. Bahkan Dira sulit makan karena selalu memikirkan dirimu. Tidakkah kamu memikirkan mereka??" Pertanyaan itu membuatku kembali pada kesadaranku, apakah aku terlalu larut dalam kesedihan ini? Bahkan aku melupakan mereka yang selalu ada disaat tersulitku. Ampuni aku ya Allah, aku seperti manusia yang tak tahu tentang rasa syukur.


"Kakak ada dibawah, sama Putri. Yang lain juga kumpul dibawah, kamu nggak mau nemuin mereka?". Aku mendongakkan kepalaku, menatap netra tajam yang meneduhkan. Abang tersenyum sambil mengangguk, membuatku ikut tersenyum.


Aku pergi kekamar mandi, aku ingin membersihkan tubuhku sebelum bertemu dengan orang-orang yang menyayangiku. Aku tidak ingin lagi membuat mereka mengkhawatirkan diriku. Selesai membersihkan diri, aku menggandeng tangan abang, kami menuruni tangga dengan jemari tangan saling bertaut. Aku bahagia memilikinya. Bahagia memiliki keluarga ini, mertuaku, adik iparku, kakak dan kakak iparku serta semua sahabatku yang selalu mendukungku. Tak pernah meninggalkan diriku bahkan disaat diriku terjatuh dan terpuruk.

__ADS_1


Aku harus bangkit, setidaknya aku harus kuat untuk orang-orang yang selalu ada untuk diriku. Aku akan menganggap bahwa ini adalah ujian dari Allah untukku, dan percaya bahwa Allah sedang merencanakan kebahagiaan yang sesungguhnya untukku.


__ADS_2