
dokter tersenyum ramah kemudian menepuk bahu bapak seolah memberi kekuatan.
"putri anda gadis yang kuat dan juga hebat tuan, dia sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya perlu menunggu dia sadar". Dokter berkata dengan senyum diwajahnya.
Semua orang menarik nafas lega mendengar penuturan dokter. Tak terkecuali Dev yang sejak tadi diam dan terus menundukkan kepalanya.
Dirinya benar-benar merasa bersalah saat ini. Dalam diamnya, Dev terus memanjatkan doa untuk keselamatan gadis penolongnya itu.
15menit kemudian, beberapa perawat terlihat mendorong brangkar Ara keluar dari ruangan operasi.
"kami akan memindahkan pasien keruang perawatan". Perawat berkata memberi penjelasan kepada semua orang.
Ara ditempatkan dikelas VIP, bapak sudah menolaknya karena nanti saat sudah sadar Ara pasti akan mengomeli bapak. Namun tuan Aryo kekeh memindahkan Ara keruang rawat VIP. Alasannya agar Ara nyaman dan cepat pulih.
Akhirnya bapak hanya bisa pasrah dengan keputusan tuannya itu.
"kenapa dia belum sadar dok?? Katanya tadi sudah baik-baik saja. Lalu kenapa belum sadar??". Dira sudah tidak sabar dan memberondong pertanyaan kepada dokter yang baru saja masuk hendak memeriksa kondisi Ara.
"sebentar lagi pasien akan sadar, harap bersabar sedikit ya nona. Efek biusnya belum hilang sepenuhnya". Dokter menjelaskan dengan sabar disertai senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"paaak". Suara Ara yang bahkan hampir seperti bisikan mampu mengalihkan pandangan semua orang yang ada diruang rawat itu.
"bapak disini neng..kamu udah baik-baik aja. Semua baik-baik aja neng, kamu istirahat lagi ya". Bapak langsung mendekat kemudian menggenggam tangan Ara dan mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Rasa bersalahnya kembali muncul melihat kondisi Ara yang sangat lemah.
"bapak jelek tau kalo mewek kaya gitu, jadi keliatan banget tuanya, ntar gak bisa ngecengin tukang jamu lagi pak". Ara terkekeh pelan setelah mengatakan itu.
Bapak melotot tidak percaya dengan kelakuan putrinya itu, momen haru yang baru saja terjadi ambyar sudah dengan perkataan yang terlontar dari mulut gadis yang membuat semua orang khawatir itu.
"waaah..nona Ara sudah bisa menggoda bapaknya ya. Ini sih bakal cepet sembuh. Saya periksa sebentar ya". Dokter muda bername tag Yoga itu kemudian memeriksa denyut jantung dan kondisi Ara yang lain.
"semuanya bagus ya, nona Ara benar-benar gadis yang hebat. Hanya perlu istirahat yang banyak, kondisinya akan cepat pulih". Dokter Yoga kembali berkata membuat semua orang bernafas lega.
Dokter Yoga kemudian berpamitan kepada semua orang setelah memastikan kondisi Ara dalam keadaan baik-baik saja.
"apa yang kamu rasakan ra??"
"apakah masih sakit??"
"yang mana yang sakit??"
"aku harus bagaimana sekarang ra??".
Dira dan Putri bersahut-sahutan menanyakan kondisi Ara, membuat gadis yang masih terbaring lemah itu terkekeh pelan melihat kekhawatiran kedua temannya itu. Sesaat kemudian ia sudah memejamkan matanya lagi.
"kenapa kalian bertanya sebanyak itu?? sudah jangan berisik, biarkan Ara istirahat". Nyonya Anika berkata tegas kepada dua gadis yang sedang menkhawatirkan kondisi Ara.
"sebaiknya anda dan keluarga pulang tuan, nyonya. Saya akan menjaga Ara disini". Pak Rahmat meminta majikannya pulang untuk istirahat, ia merasa tidak enak merepotkan keluarga majikannya itu.
"baiklah, jika kamu dan Ara butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku". Tuan Aryo menepuk bahu bapak kemudian hendak berjalan keluar kamar perawatan Ara.
__ADS_1
"Dev akan disini ikut menenami paman Rahmat menunggui Ara ma, pa". Ucapan Dev membuat tuan Aryo menghentikan langkahnya. Dipandangnya wajah putranya itu, ia tahu saat ini Dev sedang merasa bersalah dengan kondisi Ara.
"tidak perlu tuan muda, anda perlu beristirahat. Anda juga harus bersekolah besok". Pak Rahmat mengusir dengan cara halus anak majikannya itu.
"Besok hari minggu paman. Aku tidak pergi ke sekolah". Dev menjawab dengan tenang namun tatapan matanya tak pernah lepas dari Ara yang sejak setelah diperiksa dokter tadi kembali tertidur karena efek obatnya.
"tapi tuan muda..". Belum sempat bapak menyelesaikan ucapannya, tuan Aryo sudah menyelanya.
"biarkan dia disini menenamimu menjaga Ara mat, kamu tidak mungkin meninggalkan Ara sendiri dikamar ini jika kamu mau beribadah bukan??". Ucapan tuan Aryo membuat bapak akhirnya menyetujui keinginan Dev.
__________
Setelah kepergian tuan Aryo dan tuan Bram sekeluarga, bapak terus menyuruh Dev untuk beristirahat di sofa yang ada dalam kamar tersebut. Namun Dev tetap tidak bergeming dari posisinya disamping Ara.
"tuan muda, anda bisa beristirahat disofa. Jangan memaksakan diri anda. Saya takut anda sakit tuan". Bapak terus membujuk Dev, namun Dev tidak mau berpindah posisi.
"aku baik-baik saja paman. Sebaiknya paman tidur dulu disana. Nanti jika Ara mencari paman, aku akan membangunkan paman". Dev berkata sambil melihat sejenak kearah bapak.
Bapak menghela nafas kemudian beranjak menuju sofa dan membaringkan tubuh lelahnya. Mungkin benar kata Ara, bapak sudah tua..jadi berkelahi sebentar saja bapak sudah kecapekan.
...***...
Dev terus memandang wajah cantik Ara yang mulai kebiru-biruan dibeberapa bagian yang terkena hantaman saat perkelahian tadi.
Tangan Dev menggenggam erat tangan Ara seolah takut gadis cantik ini akan menghilang dari kehidupannya.
Tangan Dev terulur menyingkirkan surai rambut yang menutupi wajah cantik Ara, dibelainya wajah ayu yang sedang terlelap seolah tidak terganggu dengan aktivitas Dev yang sedang membelai wajah Ara.
Dev yang juga kelelahan akhirnya terlelap disamping Ara dengan posisi duduk. Wajah tampan Dev berada didepan wajah Ara.
Suara adzan berkumandang membangunkan umat manusia untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
Bapak terbangun lebih dulu dan melihat tuan mudanya tertidur dengan posisi duduk, dan tangannya masih setia menggenggam erat tangan Ara.
Bapak tidak tega membangunkan Dev yang sepertinya sangat nyenyak. Akhirnya bapak memutuskan keluar untuk mencari mushola atau masjid terdekat.
Tak berselang lama setelah kepergian bapak, Ara sedikit menggerakkan badannya kemudian hendak menggerakkan jari-jarinya. Namun Ara merasa aneh karena jemarinya seperti sedang digenggam dengan erat.
Perlahan Ara membuka matanya, beberapa saat kemudian matanya terbuka sempurna melihat wajah siapa yang ada dihadapannya kini.
"tu..tuan muda??" Ara berkata sedikit terbata karena terlalu terkejut.
Merasakan pergerakan pada tangan yang ia genggam, Dev mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.
Setelah sepenuhnya sadar, Dev memandang Ara kemudian tersenyum. Senyum yang hampir tidak pernah Dev perlihatkan pada wanita manapun kecuali ibu dan adik bawelnya. Membuat Ara semakin salah tingkah, apalgi posisinya saat ini cukup dekat dengan Dev.
"kamu sudah bangun?? Apakah masih terasa sakit??". Suara serak khas orang bangun tidur benar-benar memanjakan telinga Ara.
Mimpi apa dia semalam, tidurnya ditunggui oleh pria tampan pujaan gadis-gadis disekolahnya itu.
__ADS_1
" sa..saya baik-baik saja tuan muda. Ke..kenapa tuan muda disini?? kemana bapak??" Ara bertanya setelah mengumpulkan segala kewarasannya. Dia akan benar-benar bisa gila jika terus bersama dengan pemuda ini.
Dev mengarahkan pandangannya kesofa tempat bapak tidur semalam, namun yang dicari tidak ada.
"mungkin paman rahmat sedang shalat subuh. Mau minum?". Dev berkata sambil mengelus punggung tangan Ara yang ia genggam.
Ara hanya mengangguk sebagai jawaban, lidahnya tiba-tiba kelu saat berhadapan dengan pria ini.
Dev melepaskan genggaman tangannya kemudian mengambil air putih yang ada disamping tempat tidur Ara.
Dev membantu Ara untuk duduk, jarak keduanya saat ini benar-benar dekat. Ara bisa merasakan hembusan nafas Dev dipucuk kepalanya.
Ara memejamkan matanya sesaat untuk mengontrol perasaannya.
"tenang Ara..tenang. Ingat, pria ini adalah kekasih sahabatmu. Jangan sampai kau lancang, apalagi dia adalah anak majikan bapakmu" Ara terus memeperingati dirinya agar tidak terlena akan pesona seorang Dev.
Entah bod*h atau bagaimana, Ara benar-benar tidak sedikitpun terpikir jika Dev dan Dira adalah kakak beradik.
" apakah sakit??". Sebuah pertanyaan dari Dev membuat Ara sadar dari lamunannya. Dengan cepat Ara menggeleng kemudian mengambil gelas yang disodorkan Dev dan langsung meminumnya hingga habis.
"pelan-pelan, aku tidak akan memintanya". dev berkata sambil mengelus pelan kepala Ara.
Ara benar-benar dibuat mati kutu oleh Dev, ingin rasanya Ara berteriak, tapi kenapa?? Ara jadi bingung sendiri. Jantungnya benar-benar tidak bisa dikontrol, debaran jantungnya seolah menandakan bahwa Ara tidak baik-baik saja.
Tanpa sadar Ara meletakkan tangannya didadanya untuk mengecek kondisi jantungnya yang sejak tadi sudah bermarathon.
Dev yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Ara mengerutkan alisnya melihat Ara memegang dadanya. Tiba-tiba Dev khawatir kalau Ara merasa sakit pada bagian dadanya.
"apakah dadamu terasa sakit ra?? Apa perlu aku panggilkan dokter??". Pertanyaan Dev membuat Ara sadar akan kelakuannya.
Ara menggeleng cepat sambil mengibaskan tangannya pertanda ia baik-baik saja
"ti..tidak tuan muda. Saya baik-baik saja". Ara berkata kikuk.
"sudah kubilang jangan memanggilku tuan muda ra..berbicaralah seperti biasa. Kupingku gatal mendengarmu memanggilku tuan". Dev kembali memperingati Ara tentang panggilannya.
"maaf tuan, saya tidak bisa. Itu terlalu lancang". Ara memang keras kepala, ia tetap tidak mau mengubah panggilannya kepada Dev.
Saat sedang berdebat, pintu ruang rawat Ara terbuka. Nampaklah wajah Pram yang sedang menenteng paper bag yang berisi pakaian ganti untuk tuan mudanya.
"ini pakaian ganti untuk anda tuan muda". Pram berkata sambil menyerahkan paper bag tersebut pada Dev.
"Terima kasih om. Tolong jaga Ara sebentar, aku mau mandi dan shalat subuh dulu". Dev bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar mandi dikamar itu.
"masih sakit lu neng??" Pram bertanya santai kepada Ara.
"Sakit lah paman, namanya juga kena tembak. Kalo ditembak cowo mah enak, jadi seneng. Lah ini ditembak beneran pake pistol. Untung kaga lewat paman". Sebuah sentilan mendarat mulus didahi Ara, pelakunya bukan Pram melainkan Rahmat sang bapak.
"ini anak perempuan satu ya,kalo ngomong suka enggak disaring dulu. Heran bapak, dulu ibu ngidam apa sih hamil kamu tuh neng. Ampun bapak neng". Baru saja masuk dan sudah mendengar ucapan anaknya yang tanpa fikter membuat bapak langsung menyentil kening putrinya itu.
__ADS_1
Sementara Pram hanya tertawa melihat Ara yang sudah siap melayangkan protes pada Rahmat.
"bapak tuh yaa....".