
Kakinya baru beberapa langkah menapaki koridor sekolah yang akan membawanya menuju kelasnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat kerumunan gadis yang membuatnya was-was. Ia takut Sinta akan membully Alma lagi seperti kejadian beberapa minggu lalu.
Kirei mempercepat langkah kakinya, namun semakin dekat ia dengan kerumunan itu, dahinya semakin berkerut dengan langkah kaki memelan.
"Aaaa..ganteng banget sumpah". Terdengar beberapa siswi memekik kegirangan.
"Kalo gini sih gue juga betah disekolah". Sahut yang lain.
"Gue juga bakal rajin ke sekolah". Timpal siswi lain.
Kirei yang penasaran mencoba melihat apa yang sedang mereka bicarakan, namun karena siswi yang berkumpul terlalu banyak, Kirei tidak bisa melihat apapun kecuali kepala para gadis yang sejak tadi terus memekik kegirangan.
Namun tiba-tiba justru dirinya yang memekik lantaran terkejut ketika sebuah lengan kekar mengangkat tubuhnya agar lebih tinggi dari siswi lain yang berdiri didepannya.
"Yaaaak!!". Pekik Kirei membuat para siswi menoleh kearahnya. Kirei menoleh dan mendapati Arka sebagai pelaku yang membuat jantungnya hampir terlepas dari tempatnya.
"Ini gue bantuin Ki. Kok pala gue malah lo tempeleng sih". Sungut Arka menurunkan adik sepupunya.
"Dasar kutu kupret, kadal buntung. Sepupu sableng kaga ada akhlak emang lo bang". Ara terus memukuli Arka yang berusaha menangkis serangan adiknya. Jangan tanyakan Dirga, pemuda itu hanya akan menjadi penonton paling bahagia jika melihat kedua kakak sepupunya bertengkar.
"Sakit Ki..gila sih lo. Lo perempuan beneran apa jadi-jadian sih. Tenaganya ama gue gedean elo!". Kini Arka sudah menangkap tangan Kirei yang sejak tadi memukulinya.
"Bilang-bilang somplak kalo mau ngangkat gue!! Masih untung kaga mati bediri gue". Jawab Kirei tak kalah sengit.
"Ya dari pada lo kaya tadi, loncat juga kaga keliatan. Makanya tumbuh tu ke atas, jangan nyerong". Jawaban Arka membuat Kirei kesal dan akhirnya menginjak kaki Arka hingga membuat Arka mengerang kesakitan.
"Adek durjana lo emang Ki. Belom pernah gue kutuk jadi batualam lo ye". Sungut Arka berapi-api. Kirei hanya mengangkat kedua bahunya acuh melihat kakak sepupunya meringis kesakitan.
Tubuh Kirei membeku ditempatnya ketika menyadari seluruh pasang mata memperhatikan perdebatannya dengan Arka. Malu..kini dirinya sangat malu menjadi tontonan semua siswa.
Kirei menutup wajahnya dengan sebelah tangan dan berlalu begitu saja meninggalkan kerumunan, serta meninggalkan Arka dan Dirga yang bengong melihat Kirei meninggalkan mereka.
"Haiissh..malu banget gue. Dasar bang Arka laknut". Umpat Kirei semakin mempercepat langkah kakinya. Ia ingin segera sampai dikelas dan menghilang dari tatapan aneh seluruh siswa.
"Kamu kenapa Ki?". Suara lembut Alma menyapa pendengarannya. Kirei menoleh dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Kalo gapapa kok ngomel-ngomel?". Tanya Alma lagi sambil mendudukkan dirinya disamping Kirei. Hubungan keduanya kini semakin dekat, bahkan sangat dekat. Mereka saling membagi kebahagiaan bahkan cerita sedih keduanya, lebih tepatnya Alma yang selalu menceritakan kisah pilunya hidup berdua dengan sang ibu yang sudah sakit-sakitan.
"Gapapa gue. Udah dari tadi lo?". Tanya Kirei balik, kini Kirei sudah lebih bersikap manusiawi. Sapaan dan senyuman dari siswa lain kini sudah ia balas. Semua itu karena ia bergaul dengan Alma yang memang ramah dan mudah bergaul.
"Hm..tugas pak Budi udah dikerjain?" Tanya Alma mengingatkan yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Kirei.
"Tadi didepan masih rame engga Ki?". Alma kembali mengajukan pertanyaan membuat Kirei mengangguk dengan dahi berkerut.
"Emang ada apaan sih pada kumpul-kumpul?". Tanya Kirei penasaran, sementara Alma hanya mengangkat bahunya.
"Aku nggak tau Ki, dari aku dateng udah pada ngumpul gitu. Katanya sih ada murid baru". Alma menjelaskan apa yang ia ketahui.
__ADS_1
"Apa hubungannya anak baru ama pada ngumpul coba? Nggak jelas".
"Ya aku mana tahu.." Sahut Alma. Kedua gadis itu memang lebih senang menghabiskan waktu didalam kelas dibandingkan berkumpul dengan gadis-gadis yang senang bergosip.
Tidak lama, bel tanda masuk sudah berbunyi. Beberapa siswa melangkah masuk kedalam kelas, sementara Kirei dan Alma sudah duduk manis dibangku mereka masing-masing. Keduanya memang tidak duduk sebangku. Mereka duduk terpisah depan dan belakang. Keduanya memang memutuskan duduk terpisah, lagipula keduanya memang lebih senang duduk sendiri seperti ini. Sementara siswa lain duduk berdua setiap bangkunya.
Seorang guru yang terkenal galak masuk dengan membawa setumpuk kertas, sepertinya kertas-kertas itu adalah hasil ulangan para siswa minggu kemarin. Semua sudah menahan nafas karena pasti akan kena semprot guru itu jika nilainya tidak bagus.
Sang guru membenarkan letak kacamatanya, membagi tatapan tajam pada seluruh siswa yang sudah bersiap dengan amarah guru yang bernama Joko itu.
"Selamat pagi". Suara berat dari pak Joko membuat seluruh siswa kembali pada kesadarannya.
"Selamat pagi pak.." Jawab semua serempak.
"Pagi ini kita kedatangan murid baru. Dia akan menjadi teman baru kalian". Beberapa murid mulai berbisik tentang si murid baru yang akan masuk kedalam kelas mereka.
"Silahkan masuk". Perintah pak Joko tegas pada sang murid baru.
Kirei hanya fokus pada buku yang ada diatas mejanya. Tak sedikitpun berniat melihat siapa yang membuat seluruh gadis dikelasnya memekik kegirangan. Hingga suara pak Joko yang meminta seluruh siswa tenang membuat mereka diam.
Kirei mengangkat kepalanya, menatap seluruh teman sekelasnya yang tampak menatap kagum kedepan kelas. Alisnya mengernyit heran, apakah sekarang pak Joko berubah tampan? Mungkin itu pikiran Kirei.
Karena penasaran, Kirei mengalihkan pandangannya kedepan, disana berdiri dua pria berbeda umur. Tanpa sengaja, matanya bersirobok dengan mata teduh milik pemuda yang berhasil membuat semua gadis dikelasnya seperti hilang akal. Kirei segera mengalihkan pandangannya pada Alma yang ternyata sama seperti dirinya yang tidak peduli dengan murid baru itu.
Saat Kirei menoleh pada Alma yang duduk dibelakangnya, ia mengangkat alisnya seolah bertanya "siapa?" namun Alma hanya mengendikkan bahunya, membuat Kirei kembali fokus pada buku didepannya.
"Selamat pagi, perkenalkan nama gue Daniel Kafi Adhitama. Kalian bisa panggil gue Daniel..semoga bisa menjadi teman". Daniel menundukkan kepalanya sedikit dihadapan teman-teman barunya.
"Haii Daniel..seneng ketemu kamu". Jawab para gadis serempak membuat siswa laki-laki mencebik kesal.
"Baik Daniel, perkenalannya cukup. Kamu bisa duduk disamping Kirei". Ucap pak Joko setelah melihat kursi yang kosong hanya sebelah Kirei dan Alma.
Merasa namanya dipanggil, Kirei mendongakkan kepalanya. Matanya kembali bertubrukan dengan mata hazel milik Daniel.
"Dan Kirei..kesini. Ambil kertas-kertas ini dan bagikan. Bagi yang merasa nilainya dibawah 80, kalian akan ujian lagi sekarang!". Perintah pak Joko tegas membuat beberapa siswa kesulitan menelan ludahnya.
Kirei berdiri dari tempatnya duduk, namun sebelum melangkah dirinya memberanikan diri bertanya pada pak Joko.
"Maaf pak, saya akan pindah disebelah Alma saja jika diizinkan". Ucap Kirei pelan. Statusnya sebagai cucu pemilik sekolah tidak memberikannya hak istimewa dimata para guru. Itu keinginannya dan kedua orang tuanya, Kirei ingin diperlakukan seperti anak-anak lain.
"Duduk disana, atau tidak usah ikut pelajaran saya selama 4x pertemuan". Jawab pak Joko tegas membuat Kirei mendesah pasrah.
"Baik pak". Kirei berjalan gontai, mengambil tumpukan kertas dan membagikannya pada temannya satu persatu.
Dari yang ia lihat, hari ini akan ada banyak temannya yang mengikuti ujian ulang karena nilainya dibawah 80. Sementara miliknya dan Alma, mendapat nilai hampir sempurna.
"Hai.. kenalin, nama gue Daniel". Daniel menyodorkan tangannya pada Kirei dengan senyum sejuta pesona. Mungkin jika gadis lain akan terpesona, namun Kirei? Baginya tidak ada yang lebih tampan dari ayah dan kakak serta adik sepupunya. Karena hingga umurnya 17tahun, Kirei tidak pernah mengenal cinta. Fokusnya hanya belajar dan keluarga. Sama seperti Ara muda.
__ADS_1
"Udah tau". Tanpa menerima uluran tangan Daniel, Kirei menjatuhkan kepalanya diatas meja beralaskan lengannya.
"Menarik". Batin Daniel sambil matanya terus mengawasi Kirei yang nampak santai merebahkan kepalanya.
"Seperti biasa. Untuk siswa yang tidak mengikuti remedial, kalian akan tetap didalam kelas. Baca dan pelajari materi berikutnya. Saya tetap mengawasi kalian!". Suara tegas itu membuat Kirei menegakkan tubuhnya dengan malas. Kenapa harus disampingnya murid baru itu duduk. Itu benar-benar membuatnya tak nyaman.
"Dan untuk kamu anak baru, hari ini kamu akan mengikuti ujian pertama dari pelajaran saya. Siapkan dirimu". Kembali pak Joko memberi instruksi.
"Baik pak". Jawab Daniel tenang.
"Jangan pernah mencoba berbuat curang dalam pelajaran saya. Saya tidak pernah mengampuni kecurangan. Kalian mengerti?!". Tegas pak Joko membuat semua mengangguk.
"Mengerti pak". Jawab mereka serempak.
Sepanjang pelajaran, Kirei hanya diam dengan wajah ditekuk. Merasa aneh saat disampingnya ada orang lain yang duduk. Sementara Daniel sedang fokus pada ujian pertamanya menjadi murid baru.
Setelah 45menit, pak Joko bangkit dan seperti biasa. Kirei akan bertugas mengumpulkan lembar ujian milik seluruh temannya.
"Kirei..Kumpulkan kertas ujian teman-temanmu". Perintah pak Joko, meskipun malas, Kirei tetap mengerjakan perintah guru killernya itu.
Selesai mengumpulkan seluruh lembar ujian milik teman-temannya, Kirei memberikannya pada sang guru yang tersenyum ramah. Inilah pak Joko, jika sedang mengajar..maka habislah seluruh siswa pemalas, namun jika sudah selesai jam belajar..pak Joko adalah guru yang cukup ramah.
"Terimakasih Ki". Ucapnya tulus.
"Sama-sama pak". Kirei kembali ke kursinya, duduk dengan lesu. Hari ini semangatnya menguap begitu saja sejak ada orang asing duduk disampingnya.
"Pelajaran kita akhiri sampai disini saja. Jika ujian kedua kalian nilainya masih tidak bagus juga. Jangan salahkan saya kalau kalian akan tinggal kelas". Ancam pak Joko sebelum benar-benar meninggalkan kelas.
Kirei menjatuhkan kembali kepalanya, bel istirahat sudah berbunyi. Beberapa siswi mengerubungi mejanya seperti semut yang mendapat gula. Kirei semakin tidak nyaman dengan keributan yang diciptakan teman-teman sekelasnya.
"Kita ke kantin yuk..hari ini aku nggak bawa bekel". Alma menepuk pundak Kirei, membuat gadis itu mendongak.
"Kita ke atas aja ya, gue dibawain bekel ama buna. Kita makan berdua". Senyum mengembang diwajah cantiknya. Membuat Daniel yang sedang menatapnya mematung kagum. Ternyata gadis galak yang ia ajak berkenalan sangat cantik jika sedang tersenyum.
"Kireiiiii..sayaaaaaang. Abang dataaaang". Sebuah teriakan menyebalkan membuat Kirei menutup matanya sejenak. Kenapa dirinya begitu beruntung memiliki sepupu yang imannya benar-benar minim.
Pasti sang ibu sudah menelpon putra-putra tersayangnya itu jika menitipkan bekal mereka pada Kirei.
"Hayuuu..kita makan sayangnya abang". Arka sudah memeluk bahu Kirei dengan kencang sambil sebelah tangannya mencubit hidung mancung Kirei dengan gemas. Membuat Alma menggeleng dengan senyum terpatri dibibirnya. Selalu seperti ini, jika Kirei membawa bekal..maka kedua sepupunya akan datang membawanya keatap gedung sekolah yang sepi.
"Lepas kaga. Jijik gue bang". Desis Kirei mencoba melepaskan pelukan Arka.
"Yaaaaaak!!!! Abaaaang!!!". Teriak Kirei kesal ketika Arka mengangkatnya seperti karung beras. Tidak lupa Dirga dengan sigap menutupi paha Kirei yang terekspos dengan jaket Kirei yang ia sambar dari kursinya.
"Nunggu lo jalan sendiri lama. Abang keburu laper tau". Sahut Arka santai sambil berjalan diikuti Alma dan Dirga.
"Siapa tu cowo? Apa mungkin pacarnya? Pantes aja ke gue cuek..ternyata udah punya pacar". Batin Daniel kecewa. Dirinya cukup tertarik dengan gadis yang ia ketahui bernama Kirei itu. Selain cantik, ternyata gadis itu juga pintar. Dan yang lebih menarik, dia terlihat galak dan cuek. Sesuatu yang belum pernah ia temukan pada gadis lain yang sudah bertemu dengannya selama ini.
__ADS_1
Daniel menghembuskan nafas panjang sebelum berlalu meninggalkan kerumunan gadis yang sejak tadi berisik mengajaknya makan bersama dikantin.