Cinta Kinara

Cinta Kinara
tamu tak diundang


__ADS_3

Sore hari Sam dan Kevin sudah berada dirumah Dev.


Disusul Putri dan kedua orang tuanya.


"Sore om..tante". Sapa Kevin


"Sore vin". Jawab mama Anika dan papa Aryo.


"Sore tante cantikku.." Goda Sam sambil mengedipkan sebelah matanya.


Kevin hanya memutar bola matanya malas mendengar gombalan sahabat tak berakhlak itu.


"Sore juga Sam". Jawab mama sambil tersenyum.


Sementara papa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabat putranya itu.


"Tante...dimana Ara dan Dira??" Tanya Putri.


"Mereka ada ditaman belakang sayang, kesanalah..mereka sudah menunggumu sejak tadi" Jawab mama Anika ramah.


****


Malam ini suasana rumah besar milik keluarga Natakusuma terlihat ramai dengan kehadiran sahabat putra putrinya.


Saat ini seluruh anggota keluarga beserta para pengawal dan pembantu sedang berkumpul ditaman belakang.


Dev dan kedua sahabatnya sedang sibuk membakar daging, sedangkan Ara dan yang lain sedang menyiapkan meja yang akan digunakan oleh semua orang untuk makan bersama.


"Neng Ara, ada yang nyari didepan". Mang Supri satpam rumah itu memberi tahu.


"Siapa mang??". Jawab Ara


"Aduh..mamang kurang tau neng, laki-laki masih muda ganteng lagi neng. Kayanya seumuran lah sama neng Ara". Mang Supri kembali menjelaskan.


Ara mengernyit bingung, merasa tidak memiliki teman laki-laki dan tidak juga merasa mengundang orang lain untuk acara malam ini.


Ara beranjak meninggalkan meja yang sedang dirapikan. Penasaran dengan siapa laki-laki yang mencarinya.


Sementara Dira dan Putri mengendikkan bahunya acuh dan melanjutkan kegiatan mereka menata meja.


"Lu????!!!" Ara kaget melihat siapa yang datang mencarinya.


"Hai galak..nggak disuruh masuk nih gue?? Pegel gue dari tadi bediri mulu". Ucap sang pria. Ya..siapa lagi jika bukan Digo, lelaki yang dua hari ini membuat Ara kesal setengah mati.


"Lu mau ngapain kesini koplak??!!". Ara kembali bertanya.


"Ya mau nemuin calon makmum lah". Ucap Digo santai yang langsung dibalas pelototan tajam dari Ara.


"Siapa sayang??". Terdengar suara lembut dari arah belakang yang membuat keduanya memusatkan pandangan pada wanita paruh baya yang terlihat masih cantik.


"Malam tante". Sapa Digo ramah.


"Malam juga". Jawab mama Anika tak kalah ramah.


"Kenapa temennya gak disuruh masuk sayang??" Mama mengelus punggung Ara.


"hah? eh..i..iya nyonya". Ara menjawab gugup.


"Mama tinggal masuk dulu ya, nanti ajakin masuk" Pamit mama pada Ara.


"silahkan nyonya".


"Tante tinggal kedalem ya..ngobrolnya dilanjut didalem aja". Kini mama Anika beralih menatap Digo.


"Makasih tante". Digo menundukkan kepalanya sedikit.


Sepeninggal mama Anika, Ara langsung melotot kesal pada Digo.


"Balik sono lu!" Usir Ara

__ADS_1


"Orang gue disuruh masuk ama tante cantik tadi". Tanpa merasa berdosa Digo berjalan memasuki rumah besar milik musuh bebuyutannya.


"bener-bener sinting ini cowo. Gedek banget gue pengen nempeleng pala tu bocah". Ara menggerutu sambil melangkah dibelakang Digo yang sedang tersenyum mendengar gerutuan gadis pujaannya itu.


Sampai diruang tamu terlihat papa Aryo dan papa Bram yang sedang membicarakan suatu hal dengan bapak dan Pram serta Josh.


"Selamat malam om.." Sapa Digo pada para lelaki yang masih terlihat gagah diusianya yang sudah cukup tua.


"Malam.." Jawab ketiganya kompak.


"Maaf tuan, ada tamu tidak diundang yang tidak mau pulang". Ara menyindir Digo, yang disindir malah tersenyum lebar.


"Digo??" Papa Aryo nampak terkejut melihat putra teman bisnisnya ada dirumahnya.


"Iya om..maaf mengganggu om". Ucap Digo diiringi senyuman.


"Ah tidak..bergabunglah dengan yang lain. Dev ada ditaman belakang". Lanjut papa Aryo.


Ara semakin kesal dengan kelakuan Digo, rasanya ia benar-benar ingin menghajar pria menyebalkan itu.


"maaf tuan. Saya tidak mengundangnya..tapi dia datang dan tidak mau saya minta pulang". Ara merasa tidak enak karena kehadiran Digo.


"Tidak apa, semakin banyak yang ikut akan semakin seru bukan?". Papa Aryo berkata tenang.


Mata bapak memicing melihat kearah putri kesayangannya. Ara yang merasa diperhatikan bapak hanya mengendikkan bahu.


"Ajak temen kamu gabung sama yang lain Ra, kasian berdiri terus sejak tadi". Kini suara papa Bram yang memberi perintah.


Ara tidak bisa menolak, dan akhirnya hanya bisa pasrah menuruti perintah tuan-tuannya.


"Ayo!! Awas lu nyampe bikin ribut gue tempeleng beneran pala lu!!" Ancam Ara sambil terus berjalan menuju taman belakang.


"Mau dong ditempeleng ama eneng cantik.." Bukannya takut, Digo malah seperti memancing keributan dengan Ara.


Tidak ingin memperpanjang perdebatan dengan lelaki sengklek itu, Ara memilih diam.


Sesampainya ditaman belakang, semua mata tertuju pada Ara yang datang dengan diikuti Digo dibelakangnya. Digo menyunggingkan senyum miring seolah mengejek Dev.


Acara makan malam besar berlangsung dengan banyak canda tawa.


Posisi duduk Ara saat ini diapit oleh dua pria tampan yang sejak tadi selalu saling melempar tatapan tajam seolah sedang melihat lawannya dimedan perang.


"Ini sih judulnya "senangnya dalam hati bila bersuami dua" Mulut laknat Sam memang tak melihat situasi.


Ara yang sedang makan langsung tersedak mendengar celetukan Sam.


Kedua lelaki yang duduk disampingnya berebut memberi air minum pada Ara.


Ara mengambil air yang disodorkan oleh Digo karena posisi duduk Digo berada disebelah kanan Ara.


Dev menurunkan tangannya pelan meletakkan gelas yang tadi ia sodorkan untuk Ara. Ada kekecewaan dalam hatinya karena Ara lebih memilih minuman yang diberikan musuh basketnya itu.


Papa Aryo dan mama Anika saling pandang lalu tersenyum geli melihat putranya terbakar cemburu. Selama ini Dev tidak pernah terlihat dekat dengan seorang gadis. Hanya dulu saat dirinya duduk di kelas X SMA, Dev pernah dekat dengan seorang gadis. Tapi gadis itu meninggalkan Dev tanpa alasan hingga membuat Dev yang memang dingin menjadi lebih dingin.


Namun kini kedua orang tuanya melihat putranya kembali tertarik dengan seorang gadis setelah hampir 2tahun tak pernah dekat dengan gadis manapun.


"Calon makmum ati-ati dong makannya, gak akan akang minta neng". Digo kembali menggoda Ara didepan semua orang termasuk bapak yang hanya menyunggingkan senyum tipisnya melihat mata anaknya seperti akan keluar dari tempat.


"Gue calon makmum..lu calon almarhum!!!" Jawab Ara ngegas.


Semua yang disana tertawa mendengar jawaban Ara, kecuali Dev yang terus memasang wajah datar dan dingin sejak kedatangan Digo.


Digo terus mengikuti Ara kemanapun kaki gadis itu melangkah.


"Lu duduk napa sih. Ngintilin gue mulu dari tadi". Ara yang sudah gemas karena sedari tadi diikuti akhirnya membuka suara.


"Gue kan ngikutin calon makmum gue, gak salah dong". Digo menaik turunkan alisnya kembali menggoda Ara.


"Lu lama-lama gue cekek beneran. Dasar sengklek!!". Ara yang sudah kesal akhirnya membiarkan Digo mengikutinya dan duduk disampingnya.

__ADS_1


Selesai makan malam yang penuh dengan canda tawa, kini semua orang sedang duduk santai ditaman belakang setelah semua bekas makan dibereskan.


"Kita nyalain kembang api yokk..gue udah beli banyak nih. Ya itung-itung pesta kelulusan buat kita-kita lah". Sam berucap dengan semangat membara.


"Waaaaaah..banyak banget kak kembang apinya. Kuy lah kita nyalain..aku udah gak sabar pengen liat". Dira tak kalah semangat melihat banyaknya kembang api yang dibawa Sam.


Wajah Ara sudah pucat melihat banyaknya kembang api yang akan dinyalakan, dirinya tak ingin satu orangpun tau dengan phobia yang dimilikinya.


Perubahan wajah Ara tak luput dari pandangan dua lelaki yang sejak tadi tidak beralih dari wajah cantik Ara.


"Lu sakit?" Digo bertanya karena melihat buliran keringat mengalir dipelipis gadis cantik itu.


"hah?? Eng..enggak, gue gak papa". Jawab aara dengan suara tercekat karena takut.


"Lo yakin?? Gak mau ikut nyalain kembang api??". Digo kembali bertanya


"Kaga..lu aja sono". Ara berusaha menutupi ketakutannya dengan bersikap seperti biasa.


Digo berdiri dan mengambil kembang api yang sudah siap dinyalakan.


Wajah Ara semakin pucat. Bapak yang melihatnya khawatir putrinya akan kesulitan bernafas karena suara dan kilatan kembang api seperti biasanya.


Ara melihat kearah bapak yang juga sedang memandangnya, melihat bapak yang cemas..Ara memaksakan senyum terbaiknya sambil menganggukkan kepalanya seolah mengatakan "Ara baik-baik aja".


Kembang api mulai dinyalakan oleh Sam. Ara meremas kuat kursi yang ia duduki. Nafasnya mulai terasa sesak mendengar suara kembang api yang menggelegar.


Sejak melihat Sam mengeluarkan kembang apinya, Dev pergi kekamarnya untuk mengambil sesuatu.


Setelah cukup lama berada dikamar, Dev berlari menuruni tanggadengan membawa sebuah headphone ditangannya.


Dev sudah cemas melihat Ara seperti kesulitan mengatur nafasnya.


Dengan cepat Dev memasangkan headphone yang dibawanya ditelinga Ara, kemudian memutar musik apapun dengan volume yang cukup kencang agar Ara tidak mendengar suara kembang api lagi.


Ara membuka matanya yang sejak tadi terpejam rapat. Air mata sudah mengalir membasahi pipi mulusnya. Ketakutan nya terhadap kembang api benar-benar seperti membuatnya tidak bisa bernafas.


Dev mengusap lembut air mata yang mengalir dipipi gadis yang dicintainya. Dev tersenyum lembut sambil berkata


"semua baik-baik aja Ra. Ada aku..tutup mata kamu, kamu cuma perlu percayain semua ke aku". Dev menggenggam tangan Ara erat seolah memberi kekuatan.


Ara mengangguk lemah sebagai jawaban. Dirinya kembali menutup matanya lagi menikmati musik yang sedang diputar.


Dev menatap bapak yang sedang tersenyum hangat padanya seolah mengucapkan terima kasih. Dev hanya balas tersenyum dan mengangguk.


Dev masih terus menggenggam erat tangan gadis yang duduk disampingnya. Senyumnya terbit melihat wajah damai Ara..sangat berbeda dengan beberapa saat lalu.


"pacaran bae lu bedua..udah ayok ikut gue!" Sam menarik tangan Dev agar ikut bermain kembang api.


"gue disini aja". Jawab Dev pendek.


"Heh bocah..malah dengerin musik lu. Sini ikutan kita, gue udah bawa banyak ini kembang apinya!". Ucap Sam sambil melepas headphone ditelinga Ara.


Tepat saat headphone terlepas dari telinganya sebuah kembang api besar meledak keras diudara.


Ara menutup telinga dan matanya rapat-rapat sambil berteriak kencang.


"AAAARRRRRGGHHHH!".


Sesaat kemudian tubuh Ara terhuyung. Dev menangkap tubuh Ara yang hampir jatuh ketanah.


"Eneeeng!!!" Bapak berteriak melihat tubuh anaknya terjatuh dalam pelukan Dev.


Jiwanya seolah tercabut melihat putri kesayangannya tersiksa akibat phobianya.


Semua berlari mengerumuni tubuh lemas Ara yang kini ada dalam dekapan Dev.


"Ara kenapa Dev?? Kenapa bisa seperti ini??" Mama Anika dan mama Dini berteriak panik.


"Kita bawa kerumah sakit sekarang". Digo berlari keluar menyiapkan mobilnya untuk mengantar gadis pujaannya kerumah sakit.

__ADS_1


Dirinya tak kalah khawatir dengan Dev melihat kondisi Ara yang tiba-tiba jatuh pingsan.


__ADS_2