
Sore itu, Dev benar-benar membawa Ara pindah ke rumah sakit yang berada di kota setelah dokter mengatakan bahwa kondisi Ara sudah stabil.
Dengan didampingi seorang dokter dan perawat yang berada dalam ambulan, Dev membawa pujaan hatinya kembali ke kota dimana dirinya dan Ara selama ini tinggal.
Dev dan bapak berada disamping Ara, mereka selalu mendampingi Ara.
"Masih sakit neng?" Tanya bapak sambil mengelus kepala putri bungsunya.
Ara menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan bapak.
Hampir 2jam perjalanan mereka tempuh, akhirnya Ara sampai dirumah sakit teman papa Aryo.
Disana sudah menunggu papa Aryo dan mama Anika serta ketiga sahabat Ara.
Sesampainya Ara dikamar rawatnya, ia langsung diberondong berbagai macam pertanyaan dari mama Anika dan ketiga sahabatnya.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi sayang? Wajahmu sampai seperti ini nak" Mama Anika mengelus pipi Ara dengan penuh kasih sayang.
Ara sedikit meringis saat tangan mama Anika tidak sengaja menyentuh luka memarnya.
"Maaf sayang, mama tidak sengaja"
"Tidak apa-apa nyonya. Saya sudah baik-baik saja". Jawab Ara sopan
"Apanya yang baik-baik saja. Bahkan wajahmu sampai seperti ini sayang. Anak tuan Sanjaya itu benar-benar sudah keterlaluan. Jangan sampai papa melepaskannya!" Ucap mama kesal.
Papa hanya mengangguk menyanggupi. Papa juga tidak menyangka jika anak dari keluarga Sanjaya yang terpandang itu bisa senekat ini hanya karena cintanya tidak pernah ditanggapi oleh Dev putranya.
"Clara benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana bisa dia menyewa preman seperti itu untuk melukai Ara! Apa dia sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya?!" Marah Dira
"Bukankah dia memang tidak waras" Sahut Putri tak kalah kesal
"Apakah kak Clara mengenal Ara? Tapi kenapa dia sampai menculik dan melukai Ara sampai seperti ini?" Tanya Salsa penasaran.
Semua menoleh pada Salsa yang kini semakin bingung dengan reaksi semua orang atas pertanyaannya.
Dari ketiga sahabat Ara, memang hanya Salsa yang belum terlalu mengetahui bagaimana hubungan Clara dan Ara yang seperti air dan minyak itu.
Ara tersenyum tipis mendengar berbagai macam pertanyaan dari sang nyonya dan para sahabatnya.
Sementara para pria hanya menggeleng, gemas dengan kelakuan para wanita itu.
"Kalau mama terus memberondong Ara dengan berbagai pertanyaan seperti ini, kapan dia akan istirahat..hmm??" Tanya papa lembut sambil menepuk pelan pundak istrinya.
"Ahh..mama sampai lupa jika kamu butuh banyak istirahat sayang. Mama terlalu kesal dengan gadis yang bernama Clara itu" Ucap mama penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa nyonya. Saya sudah terlalu lama beristirahat sejak tadi" Jawab Ara dengan senyum manis.
Dev yang sedari tadi terus memperhatikan Ara yang masih berbaring diatas ranjang. Dev merasa lega melihat Ara kini sudah baik-baik saja dan ada dalam jangkauannya.
"Bapak tinggal dulu ya neng. Bapak akan ke kantor polisi dulu untuk memberi keterangan. Mungkin besok akan ada petugas kepolisian yang datang untuk menanyaimu tentang penculikan dan penganiayaan ini" Pamit bapak sambil mengelus pucuk kepala Ara.
"Iya pak. Bapak hati-hati" Jawab Ara
Setelahnya, bapak dan papa Aryo pergi ke kantor polisi dimana Clara ditahan saat ini untuk memberi keterangan sebagai saksi.
****
Mentari sudah berganti menjadi bulan, mama Anika dan ketiga sahabat Ara pamit untuk pulang. Esok mereka harus kembali ke kampus untuk melanjutkan kegiatan mereka.
__ADS_1
"Kita pulang dulu ya Ra. Lo cepet sehat ya biar kita bisa ke kampus bareng-bareng lagi" Pamit Dira
Ara mengangguk mengiyakan.
"Istirahat ya sayang..cepat sehat dan cepat pulang. Mama selalu menunggumu dirumah". Ucap mama sambil mencium kening Ara.
Ara memejamkan matanya menikmati kehangatan kasih sayang dari seorang ibu.
"Terima kasih banyak nyonya"
"Belajarlah memanggilku mama, Ara. Mama akan sangat bahagia jika kamu mau melakukannya. Mama akan kesini lagi besok, sekarang istirahatlah" Sebelum meninggalkan Ara, mama mengelus kepala Ara.
Ara mengangguk sebagai jawaban dari ucapan mama Anika.
"Jaga Ara baik-baik Dev. Jangan sampai lengah menjaganya" Peringat mama tegas.
Dev mengangguk mantap.
"Pasti ma".
"Kita pulang dulu ya Ra" Ucap ketiga sahabatnya bersamaan sambil melambaikan tangan keluar dari ruang perawatannya.
Kini hanya tinggal Dev dan Ara dalam ruangan yang cukup luas itu. Keduanya sama-sama canggung, karena sudah hampir 2bulan ini hubungan keduanya sedikit menjauh.
"Mau minum Ra?" Tanya Dev memecah keheningan diantara keduanya.
Ara menggeleng pelan tanpa mengeluarkan suara.
"Maaf Ra"
Ara mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Semua terjadi karena aku Ra. Semua yang terjadi padamu karena obsesi Clara terhadapku". Dev menjelaskan melihat raut wajah bingung Ara.
Dev mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Mendengar Ara berbicara santai dan memanggil dirinya "bang" kembali membawa angin segar untuknya.
Dev tersenyum, senyum yang sudah lama tidak Ara lihat. Tanpa sadar, bibir Ara ikut melengkung keatas melihat senyuman Dev. Detak jantung keduanya sudah tidak beraturan hanya dengan saling melempar senyuman seperti ini.
Sementara diluar, tepatnya didepan pintu kamar rawat Ara, mama Anika dan ketiga sahabat Ara yang ternyata masih mengintip bagaimana keduanya berinteraksi hanya tersenyum bahagia. Akhirnya keduanya sudah berdamai dan kembali seperti sedia kala.
Melihat keduanya yang masih asyik saling menatap dengan bibir yang masih tersenyum, mama dan yang lain memutuskan untuk pulang. Mereka yakin, Ara akan baik-baik saja bersama Dev.
____
Malam itu dihabiskan Ara dan Dev dengan mengobrol dan bercerita hingga larut.
"Kamu tidur ya, ini udah malem banget" Ucap Dev sambil membetulkan posisi selimut Ara.
"Abang juga istirahat. Gue tau semaleman kemaren lu kaga tidur nyari gue bang" Ara merasa tidak enak membuat Dev kehilangan waktu istirahatnya.
"Yang penting kamu baik-baik aja Ra. Itu udah lebih dari cukup buat aku". Tangan Dev mengelus kepala Ara.
Apa yang dilakukan Dev membuat jantung Ara seperti akan melompat keluar, jantungnya berdetak lebih cepat, wajahnya terasa panas. Entah sudah semerah apa kini wajahnya.
"ni jantung kaga bisa apa ya biasa aja. Kaga usah kaya lagi demo gini. Kedengeran kaga ya ampe luar" batin Ara
Tiba-tiba Dev meraih tangan Ara kemudian meletakkannya di dada sebelah kirinya.
Ara terkejut dengan apa yang Dev lakukan, semakin terdengar kencang saja deguban jantungnya.
__ADS_1
"ya Allah, ni laki mau bikin gue mati muda"
"Kamu bisa rasain kan Ra. Jantung aku kaya mau lompat kalo deket sama kamu" Ucap Dev sambil terkekeh.
Ara terdiam, merasakan deguban jantung Dev yang tidak berbeda jauh dengannya. Detakan jantung mereka seolah seirama. Sama-sama kencang.
"Jantung aku selalu kaya gini kalo deket sama kamu Ra"
"Yaudah sekarang kamu istirahat ya. Aku pengen kamu cepet pulih" Ucap Dev kemudian bangkit setelah melepaskan genggaman tangannya.
Ara pikir Dev akan pergi ke sofa diruangan itu, namun tubuhnya benar-benar dibuat kaku oleh lelaki tampan yang sejak tadi sudah membuat jantungnya berdetak tak normal.
Dev mencium kening Ara lama, bahkan sangat lama menurut Ara. Mata Ara melebar sempurna merasakan benda kenyal itu menempel lembut dikeningnya, tubuhnya terasa kaku tak mampu bergerak.
Ini adalah pengalaman pertamanya mendapat sebuah ciuman didahi selain dari kakak dan ayahnya.
"mati gue...ya Allah ini kenapa kaga bisa napas" Batin Ara menjerit
Setelah mencium Ara, Dev membalikkan tubuhnya sambil tersenyum bahagia. Ia berjalan menjauh dari ranjang Ara kemudian merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu.
Sementara Ara, gadis itu masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Ara masih terdiam, matanya mengerjap beberapa kali, dengan pelan tangan kanannya meraba dada kiri miliknya. Memastikan jantungnya baik-baik saja setelah apa yang terjadi sesaat lalu.
"jantung gue masih ada kan yak? Kaga ilang, kaga copot kan ini" Ara meraba dada kirinya, merasakan detakan jantungnya yang seperti habis bermarathon.
Sementara Dev yang sedari tadi memperhatikan Ara dari sofa hanya tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan oleh Ara.
Sebenarnya ia pun tak jauh berbeda dengan Ara. Jantungnya seperti ingin melompat keluar saat bibirnya menyentuh kening gadis cantik itu. Namun sebisa mungkin ia mengontrol ekspresi wajahnya.
"gue bakal jagain elo Ra. Nggak akan gue biarin lagi siapapun nyentuh apalagi nyakitin lo" Batin Dev sambil memejamkan matanya perlahan.
Ara menolehkan kepalanya kearah sofa. Disana telihat lelaki tampan yang tidur dengan sangat damai dan tenang.
Ara mencebik, bagaimana lelaki itu bisa tidur dengan begitu nyenyaknya setelah membuat dirinya tak bisa memejamkan matanya sama sekali.
"enak bener tu orang ya, bikin gue kaga bisa tidur gini terus sekarang dia tidur nyenyak banget gitu kaya orang pingsan ck" Cebik Ara
Ara membolak-balikkan badannya beberapa kali. Mencoba memejamkan matanya namun selalu gagal. Bayangan Dev mencium keningnya selalu menari-nari didalam ingatannya.
"kampret bener deh ah..gue jadi kaga bisa tidur kan jadinya. Ish..tersangkanya mah enak ngorok gitu" Kesal Ara.
Lewat dari jam 2 dini hari, Ara baru bisa memejamkan matanya.
--------
Pagi hari saat Ara terbangun, Ara tidak melihat Dev diruangan itu. Ara mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, menampakkan pemandangan yang membuat mata Ara terbuka sempurna.
Dev keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut yang masih basah dengan handuk kecil. Benar-benar tampan batin Ara.
Ara yang masih terpana dengan pemandangan dihadapannya itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
"Astagfirullah" Ucap Ara spontan sambil memalingkan wajahnya
Dev melihat asal suara, terlihat Ara yang sudah bangun dan kini sedang memalingkan wajahnya memandang keluar jendela kamar.
"Kamu udah bangun Ra?"
"Ya udahlah, kalo belom bangun terus ini apaan namanya? Ngigo?! Nanya kok kaga jelas" Gerutu Ara pelan
"Udah bang. Kan ini udah melek" jawab Ara dengan senyum aneh
__ADS_1
"Kamu mau mandi? Biar aku bantu."
"Hah?!!"