Cinta Kinara

Cinta Kinara
Akhir bahagia Ara


__ADS_3

"Haish..perih juga bekas tamparan itu tante-tante soak". Kirei memperhatikan pipinya yang sedikit membiru karena kerasnya tamparan yang ia terima dari Clara.


Gadis itu sedang membersihkan dirinya dikamar mandi yang ada dikamarnya. Sementara kedua sepupunya tengah menghadapi sidang dadakan yang diadakan oleh para orang tua yang sudah kelewat penasaran tentang mengapa kedua pria itu bisa lebih dulu menyelamatkan Kirei.


Selepas membawa Clara ke kantor polisi dan dimintai keterangan, Dev segera membawa anak-anaknya itu kembali kerumah untuk sekedar mengetahui cerita dibalik penculikan Kirei.


"Jadi bagaimana kalian bisa sampai disana dulu?". Belum sempat Dev dan Ara bertanya, Putri sudah lebih dulu menanyai putranya.


"Ya..dan kenapa kalian pergi tanpa berpamitan?". Kini giliran Dira yang menyahut cepat.


"Mi, mah..kita tu nyelamatin Kirei loh. Serasa kita penjahatnya ini". Gerutu Arka membuat kepalanya mendapat hadiah sentilan dari sang mami.


"Ya makanya cerita". Ucap Putri dan Dira bersamaan.


"Ya gimana mau cerita kalo belom apa-apa udah disembur sana sini". Sungut Arka membuat Putri melotot sempurna.


"Iya mami..ini abang mau cerita". Arka segera menyela sebelum ibu negaranya kembali mengamuk.


"Tadi pas ayah sama papah nyari lokasi Kirei, kita udah perhatiin dimana lokasinya. Tadinya kita mau minta ijin buat ikut, tapi buna sama ayah malah berebut siapa yang mau pergi siapa yang mau dirumah. Yaudah kita pergi duluan aja, daripada sepupu perempuan kita satu-satunya pulang-pulang tinggal nama".


"Hush!! Amit-amit kamu ngomongnya bang!". Putri menggeplak tangan anaknya karena berbicara ngawur.


"Ish mami mah, sukanya kdrt ama anak". Arka mengelus tangannya yang terasa panas akibat ulah ibunda tercintanya.


"Dirga..kamu aja yang cerita. Kalo abangmu yang cerita, bisa-bisa engga kelar 1hari". Pinta Ara karena yakin jika Arka yang bercerita, maka hanya akan ada perdebatan panjang antara Arka dan maminya.


Dirga menceritakan tentang dirinya dan Arka yang bisa masuk dengan mudah kedalam rumah Clara.


"Kayanya si tante yang namanya Clara itu nggak pro deh bun, masa iya kita berdua aja bisa gampang masuk".


"Lalu??". Ara dan Dev semakin tidak sabar ingin mendengar cerita kelanjutannya.


"Sabar bun, yah..si Dirga juga butuh napas". Memang dasar mulut Arka selalu asal jeplak, dalam kondisi serius seperti inipun dia masih bisa bersikap santai.


"Ya kita cari aja setiap kamar, pas diatas kita denger suara perempuan ketawa. Kaya kuntilanak tau yah. Makanya kita sempet mikir, jangan-jangan yang nyulik Kirei bukan orang. Tapi s*tan". Dirga mengingat kembali suara tawa Clara yang benar-benar lebih mirip dengan s*tan.


"To the point Dirga. Mamah udah gemes ini dari tadi nunggu klimaksnya, tapi kamu ceritanya malah mampir kemana-mana". Dira yang sejak tadi diam jadi gemas sendiri mendengar cerita anaknya.


"Sabar mamah tuh..biar awet muda". Celetuk Dirga membuat mamahnya mencebik kesal.


"Pas kita naik, ternyata kan didepan kamar itu ada yang jaga. Cuma satu orang tapi yang jaga. Ya pasti kita menang dong..udah deh gitu aja. Kita kalahin yang didepan, terus kita masuk cuma ada tiga orang laki ama itu tante tante".


"Cape Dirga ngomong ini. Nggak ada yang mau kasih minum ke kita gitu ini?". Tanya Dirga dengan wajah memelas.


Alma yang sejak tadi menyimak semua cerita Dirga dan Arka segera bangkit hendak mengambilkan air untuk semua orang.


"Biar Alma yang ambil aja". Gadis itu bergegas ke dapur mengambilkan minum untuk semua orang.


"Terus gimana ceritanya malah jadi tante Clara yang kalian iket?". Tanya Ara tak sabar.


"Ya soalnya anak buahnya udah tepar semua bun. Tadi sempet ngancem, naruh pisau dileher Kirei. Alhamdulillah itu anak diem-diem udah buka tali iketan ditangan dia bun". Kini gantian Arka yang melanjutkan ceritanya.


Ara dan Dev menghela nafas lega, untunglah ada Arka dan Dirga yang lebih dulu menyelamatkan Kirei. Jika tidak mungkin gadis itu akan mengalami luka yang cukup serius mengingat bagaimana gilanya Clara.


"Diminum dulu semua". Alma meletakkan nampan yang membawa gelas berisi jus jeruk dimeja.


"Makasih sayang". Ucap Ara dengan senyum lembut seperti biasa.


Suara langkah kaki membuat semua kompak menoleh pada Kirei yang sedang berjalan menuruni anak tangga. Dia duduk disebelah Arka dan tanpa rasa bersalah langsung meminum jus jeruk yang sedang dipegang oleh Arka.


"Astagfirullah..emang kaga ada akhlaknya lo jadi adek gue Ki. Kaga ada sopan-sopannya". Para orang tua memutar bola matanya malas, sebentar lagi pasti kedua anak itu akan berdebat.


"Minuman doang aelah bang. Dikit juga". Ucap Kirei membela diri.


"Dikit udelmu itu. Tinggal seperempat lo bilang dikit, kaga sekalian lo abisin". Sungut Arka.


Dan dengan senang hati, Kirei menghabiskan jus yang ada didalam gelas yang ada ditangan Arka.


"Dah. Sesuai request abang, udah gue abisin". Kirei mengelap bibirnya dengan punggung tangannya kemudian menampilkan senyum semanis mungkin, yang dimata Arka itu adalah senyum penuh ejekan yang ditujukan Kirei untuknya.

__ADS_1


"KIREIIIIII!!!". Teriak Arka kesal, namun sebelum dia berhasil memberi pelajaran pada Kirei, gadis itu sudah lebih dulu melarikan diri dengan tawanya.


"Makasih abangku sayaaang". Teriak Kirei yang ternyata sudah sampai didepan pintu kamarnya. Secepat kilat, gadis itu menutup pintu dan menguncinya.


"Awas lo ya Ki..tunggu pembalasan gue". Ancaman Arka masih terdengar.


Senyuman palsu yang sejak tadi mengembang sempurna perlahan memudar, ternyata kegalauan ditinggal cinta pertamanya tidak bisa dengan mudah ia hempaskan.


"Gue harap lo bahagia Dan". Lirih Kirei dengan mata memanas menahan air mata.


*****


"Nggak nyangka ya, bentar lagi kita lulus Ki. Kayanya baru kemaren masuk SMA". Ucap Alma antusias.


Sementara Kirei hanya berdehem menjawab ucapan Alma. Gadis itu sedang fokus dengan buku didepannya.


Saat ini keduanya tengah berada didalam kamar Alma. Belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian yang hanya tinggal menghitung hari saja.


"Kamu ngga deg-deg an Ki??". Tanya Alma lagi.


"Deg-deg an lah. Kalo kaga deg-deg an mati dong gue namanya". Jawab Kirei sekenanya. Namun Alma justru tertawa terpingkal mendengar jawaban Kirei.


"Oh iya ya..kalo nggak deg-deg an berarti innalillahi ya". Alma terkikik karena ucapannya sendiri. Kirei hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat sikap Alma yang semakin ceria kesininya.


"Gue pengen kaya elo Al. Tapi kenapa gue g*blok banget masih inget ama cowo br*ngs*k itu". Batin Kirei.


______


Menempuh ujian yang cukup menguras otak mereka, dengan hasil yang memuaskan, Kirei dan teman-teman seangkatannya berhasil lulus dengan nilai yang terbilang bagus.


Kirei memang tidak se cerdas Ara, namun gadis itu masih termasuk dalam jajaran siswi kesayangan para guru karena prestasi akademiknya.


"Acara perpisahan besok kamu pake apa Ki?". Tanya Alma yang saat ini sedang berbaring disamping Kirei yang tengah menatap langit-langit kamarnya.


"Pake baju Al. Ya kali gue pake ijuk".


"Ish..yang bener dong Kirei. Aku nanya beneran ini". Kini Alma sudah merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Kirei.


"Iya..kayanya nggak penting juga ya kan?". Alma balik bertanya. Inilah mengapa kedua gadis itu bisa mengerti satu sama lain, karena memang banyak hal yang sama tetang keduanya.


"Kamu mau daftar kuliah dimana Ki?". Tanya Alma serius.


"Jogja".


"HAH?!!". Pekik Alma kencang membuat Kirei mengelus telinganya yang terasa berdenging.


"Buset bocah..kuping gue Al". Kirei masih terus mengelus kupingnya yang terasa berdengung.


"Kamu serius?? Kenapa sih harus jauh-jauh kesana. Disini juga kan banyak universitas bagus Ki".


"Pengen cari pengalaman aja Al". Jawab Kirei sekenanya.


"Tapi oma sama buna pasti nggak akan ijinin kamu jauh". Sahut Alma penuh keyakinan.


"Makanya lo ada disini, lo harus bantuin gue bujuk itu dua kanjeng ratu biar ijinin gue kuliah di jogja. Toh gue udah daftar kok".


"Apa??!". Kirei dan Alma langsung bangkit mendengar suara Ara.


"Buna". Seru kedua gadis itu bersamaan.


"Kamu mau kuliah dijogja? dan Nggak bilang sama ayah dan buna?". Tanya Ara dengan wajah garang


"Kirei kemaren iseng-iseng daftar bun. Eh lolos bun. Hehe". Kirei nyengir menampakkan deretan giginya.


"Kenapa harus kesana? Disini banyak kampus yang bagus". Tanya Ara.


"Ki mau jadi kaya papi aja, nggak mau jadi pengusaha".


"Ya tapi disini fakultas kedokteran yang bagus pun masih banyak sayang". Alma yang ada diantara kedua wanita itu hanya bisa menjadi pendengar.

__ADS_1


"Kirei cuma pengen belajar mandiri bun..pliiiiis. Ya..ya..ya". Ucap Kirei memohon


Ara menghela nafas panjang dan menatap dalam mata putrinya itu. Ara yakin ada sesuatu yang mendorong gadis itu ingin pergi menjauh dari ibukota.


"Apa karena Daniel?". Tanya Ara tiba-tiba. Pegangan tangan Kirei sedikit demi sedikit terlepas ketika mendengar ucapan Ara.


Kirei menggeleng tegas, walau sebenarnya apa yang diucapkan ibunya itu tepat sasaran. Di kota itu terlalu banyak kenangannya bersama Daniel. Akan terlalu sulit jika dirinya harus tetap disana.


"Kirei pengen cari pengalaman baru. Buna bantuin Kirei ya..Kirei janji bakal sering pulang kalo pas libur". Pinta Kirei kembali bergelayut manja dilengan ibunya.


"Buna nggak janji". Ara berlalu meninggalkan Kirei yang terlihat kegirangan. Kirei tahu jika bunda nya akan membantunya mendapat ijin dari semua orang.


"Dengan satu syarat". Kirei langsung mendongak, menatap wajah ibunya yang berdiri didepan pintu.


"Kamu harus datang ke acara wisuda disekolah kamu sama Alma". Lanjut Ara yang langsung mendapat anggukan kepala dari Kirei.


####


Seperti biasa, Kirei akan selalu mendapat apa yang ia inginkan. Begitupun dengan keinginannya kali ini untuk meneruskan pendidikannya ke luar kota.


Meskipun awalnya sulit meyakinkan semua orang, pada akhirnya Kirei selalu berhasil membuat semua orang percaya pada dirinya.


Namun Kirei harus menerima syarat baru dari sang ayah, Dev sudah menyiapkan apartemen beserta kendaraan yang akan Kirei gunakan selama kuliah disana. Kirei hanya bisa pasrah, tidak bisa menolak karena jika ia tolak, maka ijin juga akan dicabut oleh kedua orang tuanya.


Seperti janjinya pada sang ibu, Kirei dan Alma datang ke acara wisuda yang diadakan oleh pihak sekolah. Kedua gadis itu terlihat cantik dengan kebaya modern.


Demi sebuah ijin, Kirei mengijinkan wajahnya dipermak oleh ketiga ibunya sesuka hati.


"Sabar Ki..sabar. Demi bisa kuliah di Jogja". Kirei terus memberi semangat pada dirinya yang saat ini sedang jadi kelinci mainan oleh ketiga ibunya.


"Perfect". Seru ketiga wanita itu serempak. Kini nampaklah Kirei yang cantik dan anggun. Membuat siapapun pangling saat melihatnya.


####


Aula sekolah sudah dipenuhi dengan lautan manusia. Siswa dan para orang tua yang akan mendampingi anak-anaknya diwisuda disekolah tingkat akhir ini.


"Ayo sayang. Kamu jangan ingkar janji sama buna". Ara sedikit menyeret lengan Kirei karena gadis itu berjalan dengan sangat lambat.


"Liat tuh Alma, dia udah jauh didepan".


"Sabar napa sih bun. Daripada aku jumpalitan nanti. Ini kenapa buna pakein aku sepatu kaya enggrang sih". Gerutu Kirei.


"Sudah gausah banyak protes. Atau ijin ke Jogja buna cabut lagi". Kirei mendengus mendengar ancaman Ara yang selalu seperti itu.


_____


"Kirei Gayatri Natakusuma". Ketika namanya dipanggil, gadis itu dengan enggan berjalan ke podium.


"Selamat Kirei..semoga sukses selalu". Kepala sekolah yang memberikan surat kelulusan padanya mendoakan dengan tulus.


"Terimakasih banyak pak". Kirei menundukkan kepalanya sebagai tanda hormatnya.


Dari kursinya, Ara memandang gadis cantik yang ia lahirkan. Waktu seakan terlalu cepat bergulir, bahkan dirinya tidak menyangka bahwa bayi mungil yang dulu ia lahirkan sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan tangguh.


Matanya berkaca-kaca melihat anak gadisnya yang tumbuh dengan baik. Kadang dirinya menyesali keputusannya untuk membiarkan gadis itu melanjutkan pendidikannya juauh darinya dan sang suami.


"Percaya padanya sayang". Rengkuhan pada bahunya membuat dirinya mendongak, menatap wajah tampan yang sudah menemaninya hampir 20tahun.


Ara mengangguk dan menyandarkan kepalanya dibahu kokoh sang suami. Matanya menatap anak gadisnya yang tengah berdiri anggun diatas podium.


"Terimakasih ya Allah..engkau memberikan diriku teman hidup yang begitu mencintai diriku, dan terimakasih untuk anugerahmu. Buna sangat mencintaimu dan ayahmu, Kirei".


END


_____


Hallo readers..Cinta Kinara kita udah end ya...semoga menjadi hiburan untuk semua pembaca.


Maafin othornya yang masih terlalu amatiran ini. Kisah Kirei bakal kita bikin dengan judul baru ya..

__ADS_1


Tunggu karya othor selanjutnya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2