Cinta Kinara

Cinta Kinara
Baby Kirei


__ADS_3

"Ini sampai kapan istri saya harus kesakitan kaya gini?!" Tanya Dev ngegas saat melihat istrinya yang semakin kesakitan.


"Semua ibu yang melahirkan normal akan merasakan apa yang istri anda rasakan, ini hal yang lumrah dalam persalinan normal". Jelas dokter yang masih terlihat begitu tenang.


"Abaaang.." Lirih Ara dengan otot wajah yang terlihat semakin tegang. Bahkan ada beberapa otot yang timbul diwajah cantiknya karena Ara menahan sakit.


"Sabar ya sayang..dede pasti bangga punya bunda hebat kaya kamu". Deb mengelus dengan penuh sayang kepala sang istri, berusaha memberikan kekuatan untuk istrinya.


"Sakit ma". Rintih Ara sambil menggenggam tangan ibu mertuanya yang sejak tadi setia mendampinginya bersama Dev.


"Aku nggak kuat ma..sakit banget". Air mata Ara kembali luruh, membayangkan bagaimana perjuangan ibunya dulu ketika melahirkan dirinya kedunia ini.


"Ssttt..nggak boleh dong. Kan mau ketemu sama dede, jadi bunda nya dede harus kuat ya". Mama mengelus punggung tangan menantunya yang masih menggenggam erat tangannya.


"Tapi..AAAAAKKH". Belum selesai Ara berbicara, sakit itu kembali datang. Dan yang ini terasa begitu sakit, membuat Ara seolah ingin menyerah dengan sakit ini.


Dokter kembali memeriksa jalan lahir, pembukaannya sudah sempurna. Semua bersiap pada tugas masing-masing. Jangan tanyakan lagi seperti apa tegangnya wajah calon ayah yang setia mendampingi istrinya yang sedang bertaruh nyawa melahirkan anak mereka. Bahkan hingga kini mereka tidak mengetahui jenis kelamin anak yang akan segera melihat indahnya dunia ini. Karena memang selama memeriksakan kandungan, baik Dev maupun Ara sengaja tidak ingin tahu apa jenis kelamin anak mereka.


"Dengarkan aba-aba dari saya ya..tarik nafas". Perintah dokter berusaha Ara lakukan dengan sebaik-baiknya. Beberapa kali ia menarik nafas, namun keinginan mengejan tiba-tiba datang.


"Bagus..doroong"


"Waah..dede nya kayanya udah nggak sabar ini ketemu bundanya". Hibur dokter yang menangani Ara.


"Tarik nafas lagi nyonya...dan dorong". Entah karena terlalu fokus dengan instruksi dokter atau bagaimana, Dev yang mendampingi Ara selalu melakukan hal yang sama seperti yang dokter perintahkan.


Bahkan saat mengejan pun justru suara Dev yang lebih nyaring terdengar. Jika tidak mengingat menantunya sedang bertaruh nyawa melahirkan cucunya, ingin sekali mama memukul kepala putra sulungnya yang membuatnya kehilangan fokus karena suara Dev...


"Sekali lagi, lakukan seperti tadi..tarik nafas dalam.."


"Ayo sayang kamu bisa". Dev memberi semangat pada sang istri yang bercucuran keringat.


"Dorong nyonya.." Ara mengejan sekuat tenaga, bersamaan dengan itu, terdengar suara tangis bayi yang membuat lutut Dev bergetar hebat. Ini adalah pengalaman pertamanya menemani seseorang melahirkan, ia tak pernah tahu bahwa melahirkan begitu menyakitkan, bahkan nyawa taruhannya.


"Waaah..selamat tuan, nyonya. Bayi kalian perempuan..cantik sekali seperti bundanya". Ucap dokter dengan senyum ramah.


Bayi itu kemudian diberikan pada perawat untuk dibersihkan, sementara dokter kembali sibuk membersihkan dan menjahit luka sobek pada jalan lahir Ara.


Dev memeluk tubuh lemas sang istri, menghadiahi wajah berpeluh Ara dengan ciuman bertubi-tubi.


"Terimakasih sayang, terimakasih untuk hadiah terindah yang kamu kasih buat abang". Dev terus menciumi wajah Ara. Sementara Ara hanya bisa mengangguk lemah dengan senyum yang tak luntur dari wajah cantiknya.


Setelah selesai dibersihkan, bayi mungil itu ditidurkan diatas dada sang ibu. Mata Ara kembali berembun, air mata terus menetes ketika ia bisa melihat dari dekat rupa malaikat yang 9bulan menghuni rahimnya.


"Assalamualaikum malaikat cantiknya bunda". Ara mengelus pipi selembut kapas milik putri cantiknya itu.


"Dia cantik sekali, seperti kamu sayang". Dev ikut memperhatikan buah hatinya yang sedang sibuk mencari p**ing ibunya.

__ADS_1


"Hidungnya mirip abang". Kekeh Ara menoel lembut hidung mancung putrinya.


Setelahnya, seorang perawat mengambil tubuh mungil bayi itu untuk dipakaikan baju.


"Tuan bisa ikut dengan perawat untuk mengadzani putrinya dulu. Kami akan membersihkan nyonya Ara terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke kamar rawatnya". Dev mengangguk mengikuti perintah dokter, sebelum meninggalkan Ara, Dev kembali mencium lama kening istrinya.


"Abang tinggal dulu sebentar ya". Ara mengangguk sebagai jawaban, kemudian Dev beralih pada sang ibu yang pandangannya tak pernah lepas dari cucu pertamanya, sudut bibir Dev semakin tertarik keatas melihat bagaimana antusiasnya sang ibu melihat cucunya.


"Dev titip Ara dulu ya ma". Mama menoleh dan kemudian mengangguk seraya tersenyum.


Sepeninggal Dev, mama segera memeluk menantunya. Mengelus kepala Ara penuh kasih sayang. Dan berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Ara.


"Terimakasih sayang, kamu sudah memberikan keluarga kita kebahagiaan". Mama terus berterimakasih, membuat Ara merasa benar-benar beruntung memiliki mertua berhati malaikat seperti mama Anika.


"Harusnya Ara yang berterimakasih pada mama dan papa, karena mama dan papa selalu menerima Ara dengan segala kekurangan Ara. Terimakasih untuk kesabaran dan kasih sayang yang mama berikan padaku. Aku benar-benar beruntung menjadi menantu seorang malaikat seperti mama dan papa". Sahut Ara membuat mata mama kembali terasa panas, siap menumpahkan air matanya. Keduanya larut dalam suka cita kebahagiaan atas lahirnya malaikat cantik yang membuat kebahagiaan mereka semakin terasa sempurna.


"Aaaa..keponakan onty cantik banget siiiih kaya onty nya. Gemes pengen nyubit". Dira menghadang perawat yang membawa box bayi milik Ara. Dirinya sudah begitu penasaran dengan rupa keponakannya.


"Tuh kan kata papa juga, cucu papa pasti perempuan". Sahut papa tak mau kalah, ia juga ikut mengerubungi box bayi yang terlihat masih terlelap tidak merasa terganggu oleh kebisingan dan dibuat oleh tante dan opanya.


"Permisi dulu ya tuan, nona. Bayinya mau di adzanin dulu. Nanti akan kita bawa kekamar rawat ibunya". jelas perawat membuat papa dan Dira menyingkir.


"Tampilan Dev lebih parah dari kamu Bi. Dia kaya abis keluar dari kandang macan". Bisik papa pada Bian yang masih setia menatap punggung Dev yang mengikuti perawat yang membawa bayinya.


"Iya om..kasian anak om. Abis dijajah ama istrinya". Bian terkikik geli melihat lengan adik iparnya penuh dengan luka cakar.


"Nih om..bang. Kaya saya yang suaminya kan". Sam menunjukkan bekas kuku yang ada dilengan dan bahunya. Sementara Bian dan papa tidak bisa menahan tawa ketika melihat bahwa Sam tidak jauh berbeda dari Dev.


"Yang sabar Sam, mungkin anak Dev sama Kinar sayang banget ke kamu". Ucapan Raisya membuat tawa kedua lelaki beda usia itu semakin kencang.


"Iya, tu bocah kayanya kelewat sayang ama gue Sya. Dari ngidam nyampe mau brojol ngerjain gue mulu". Ketus Sam dengan muka ditekuk.


______


"Lalu..siapa nama cucu oma yang cantik ini??" Tanya mama Anika yang kini tengah menggendong cucunya.


Dev dan Ara saling pandang, keduanya sudah menyiapkan nama untuk bayi laki-laki dan perempuan.


"Kirei Gayatri Natakusuma". Dev mengucapkannya dengan bangga.


"Kirei??" Beo papa


"Apa artinya Dev?" Sahut mama cepat.


"Gadis cantik tangguh yang memiliki banyak kekuatan. Ara ingin dia tidak hanya cantik ma, Ara juga ingin dia kuat dan tangguh untuk menjaga dirinya sendiri dan keluarganya". Jawab Ara dengan tatapan tak pernah lepas dari tubuh mungil putrinya.


"Baby Ki..sini sini, gendong sama onty cantik". Dira yang hendak mengambil Kiera dari dekapan mama langsung dihadang oleh Dev.

__ADS_1


"Kaga boleh. Ntar anak gue lo jatohin".


"Ya kaga lah. Ya kali gue jatohin ponakan secantik itu. Kakak awas sih ah". Dira mencoba menggeser tubuh Dev, namun sepertinya kekuatannya tak berarti apapun bagi Dev.


Saat keduanya tengah berdebat, Sam mendekat dan meminta mama memindahkan tubuh Kiera kedalam gendongannya.


"Cantik ya Sya". Tanya Sam pada Raisya yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Raisya, kini keduanya tengah asyik memandang wajah menenangkan bayi mungil itu.


"Hey, kamu yang dari dalem perut bunda kamu udah bikin uncle susah, sekarang udah keluar jangan ngeyel sama uncle ya". Ucap Sam lembut, tak ada Sam yang pecicilan seperti biasanya. Terlihat bapakable banget kalo kata anak sekarang mah.


"Iyah uncle, maaf ya. Uncle jadi kaya baju loreng gara-gara bunda aku". Ara menirukan suara anak kecil untuk menjawab ucapan Sam.


Sam mendongak, menatap Ara yang tengah tersenyum penuh penyesalan padanya.


"Maaf ya Sam..nggak kerasa tadi kalo kuku gue nancep ditangan elu". Ara nyengir menampakkan deretan gigi putihnya.


Sam hanya mengangguk, kemudian ia kembali.fokus pada bayi mungil dalam dekapannya.


"Yaaaaa..kok kak Sam yang gendong sih!! Kan gue yang pengen". Rengek Dira


"Gara-gara kakak sih!". Dira menatap kesal kakaknya yang nampak cuek saja.


"Eh..eh..dia melek loh". Heboh Sam membuat semua antusias melihat bayi mungil itu membuka mata.


"Matanya mirip kamu Kinar. Cantik banget". Puji Raisya mengelus pipi gembul bayi yang baru berusia beberapa jam itu.


"Banyak mirip ke emaknya ya daripada bapaknya". Komentar Sam dan langsung disetujui oleh semua.


"Ya iyalah, Ara yang hamil Ara yang susah ngelahirinnya, ya kali kudu mirip ama kak Dev". Dira langsung ikut berkomentar.


"Kata siapa? Nih liat Arka, aku yang hamil ama ngelahirin, tapi semua-semua mirip papinya.." Keluh Putri membuat semua menoleh.


"Ala..Ala" Suara cadel Arka membuat sudut bibir Ara terangkat sempurna. Bocah gembul yang sudah bisa berjalan itu kini berjalan sedikit sempoyongan menuju ranjang. Bocah itu memang baru bisa memanggil Ara dengan nama saja, itupun masih cadel.


"Awas.." Pekik Ara saat melihat Arka sedikit oleng. Selama ini memang Ara sangat menyayangi keponakannya itu, begitupun Arka. Bocah itu begitu meyayangi sang tante. Bahkan terlihat lebih dekat dengan Ara dibanding papi dan maminya.


Arka menunjukkan beberapa giginya yang baru tumbuh, seolah mengatakan dirinya hebat karena bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Arka nya aunty emang paling the best. Arka nggak mau liat dede Ki?" Tanya Ara pada Arka yang sudah berdiri disamping ranjangnya bersama mama Anika.


"Ini namanya dede Ki. Arka mau cium?". Entah sejak kapan baby Ki sudah beralih pada gendongan Dev, ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Arka.


Alis Arka menukik sempurna, sepertinya bocah itu sedang berpikir tentang apa dan siapa bayi dalam gendongan unclenya itu. Karena biasanya hanya dirinya lah yang selalu dalam dekapan Dev dan Ara.


"Ini adeknya Arka, nanti Arka jagain dede Ki ya". Ucap Ara lembut sambil mengelus kepala bocah tampan itu.


"Ti.." Celotehnya membuat Ara tersenyum.

__ADS_1


"Iyah..dede Ki" Ara kembali mengelus pucuk kepala Arka. Tidak lama Arka tersenyum dan mencium pipi lembut Kirei.


__ADS_2