Cinta Kinara

Cinta Kinara
penjelasan


__ADS_3

Maaf ya part ini authornya lagi ga fokus, jadi bikin ceritanya awut-awutan. Semoga masih cukup menghibur para readers semua๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Wajah Ara yang terlihat lebam dibeberapa titik sedang diobati bapak yang terus mengomeli anak gadisnya yang dinilai ceroboh itu.


"Makanya kamu teh kalo lagi ada musuh lagi berantem beneran kaya tadi tuh jangan becanda mulu neng. Jadi nggak fokus kan kamu, akhirnya kena tonjok". Omel bapak


"tau lo dek, masa ngadepin yang begituan doang lo nyampe kena tonjok berapa kali" Bian ikut menimpali


Ara melotot kesal pada sang kakak. Bukan membelanya malah ikut mengomelinya.


"ya kalo kakak kaga ngasih sepatu model begituan juga gue ga bakal kena tonjok lah. Udah segini bonyok masih aja pada diomelin. Kakak lagian bukannya ngelindungin adeknya pas tadi ada yang nyerang Ara malah sibuk ngajak debat mulu". Ara bersungut-sungut menanggapi omelan sang kakak.


Bapak menekan sedikit keras luka diujung bibir Ara mendengar anak gadisnya mengomel tanpa jeda.


"aw..aw..aw..Astagfirullah ini aki-aki sengaja banget. Udah tau luka malah diteken kenceng. Pelan dikit napa sih bapak" Ara balik mengomeli bapak.


"Kamu kalo ngomong itu di spasi neng, nerocos gak pake berhenti napas. Gak takut keabisan napas kamu??" Tanya bapak tengil.


Ara melengos mendengar ucapan menyebalkan yang keluar dari mulut cinta pertamanya didunia ini.


____


flashback on


Ara yang malam itu tidak bisa tidur memutuskan duduk ditaman belakang sendiri, saat sedang menikmati semilir angin malan itu, matanya tidak sengaja melihat Dewi yang berjalan mengendap-endap keluar dari kamar para pembantu.


Ara menyipitkan matanya untuk memastikan apa yang ia lihat, takut salah mengenali orang. Setelah memastikan bahwa itu memang orang yang ia kenali, Ara mulai menajamkan pandangannya. Mengawasi setiap gerak-gerik Dewi. Melihat gelagat mencurigakan dari Dewi, Ara memutuskan mengikutinya diam-diam.


Kembali Ara dengar Dewi sedang menelpon seseorang..ia bisa mendengar suara Dewi yang terdengar cukup jelas karena Ara bersembunyi lumayan dekat dengan tempat Dewi berdiri. Ia bisa menangkap maksud percakapan Dewi dengan sang penelpon misterius itu.


"Beberapa hari lagi adalah adalah hari ulang tahun putri Tuan Aryo, tuan".


".............."


"Saya akan membuat satpam dan para pengawal yang berjaga tertidur sesuai perintah anda tuan"


"..............."


"Saya berjanji tidak akan gagal. Anda akan bisa membawa nona muda saat ulang tahunnya nanti"


".............."


"Saya mohon jangan tuan"


"............."


"Saya mengerti tuan"


Ara segera bersembunyi dibalik tembok saat Dewi mengakhiri telponnya. Ara yakin bahwa Dewi adalah mata-mata yang dikirim oleh seseorang yang berniat jahat pada keluarga sang majikan.


"Siapa sebenernya mbak Dewi?". Gumam Ara


Keesokan paginya, Ara meminta tolong pada bi Inah yang merupakan kepala pelayan dirumah itu untuk menyuruh Dewi pergi berbelanja.


Awalnya bibi menanyakan alasan Ara memintanya melakukan hal itu. Namun Ara hanya bilang bahwa akan menjelaskannya nanti.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Ara segera masuk kedalam kamar yang ditempati Dewi saat melihat sang pemilik kamar sudah keluar dari rumah dengan diantar supir.

__ADS_1


Bingo..ternyata Hp Dewi tidak dibawa olehnya, mungkin karena dirinya pergi bersama supir sehingga tidak membawa Hpnya, atau mungkin dirinya lupa dengan ponselnya. Ara tidak perduli, yang pasti dirinya bisa mencari tahu siapa sebenarnya Dewi.


Dari sana Ara tahu bahwa Dewi hanya seorang yang dikirim oleh musuh tuan Aryo untuk mengawasi situasi agar dirinya bisa menculik putri tuan Aryo yang tak lain adalah sahabatnya sendiri, Dira.


Ara tahu bahwa nyawa anak serta suami Dewi menjadi jaminan jika sampai Dewi menolak semua perintah yang diberikan orang misterius itu.


Ara membaca kembali semua pesan yang dikirimkan ke Hp Dewi, berharap mendapat sedikit petunjuk. Satu pesan yang membuat senyum Ara terbit seketika.


"saya selalu mengawasi kamu. Ingat!!!"


Pesan yang syarat akan ancaman membuat Ara berpikir cepat. Pasti ada orang yang selalu mengawasi rumah papa Aryo. Kini tugasnya hanya menemukan orang yang sedang mengawasi Dewi tersebut.


"Gue gak bisa kerja sendiri, terlalu lama. Bisa-bisa keburu rencana mereka berhasil gini mah" Ara bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menimang Hp milik Dewi yang masih ada dalam genggamannya.


Senyumnya mengembang saat mengingat seseorang yang akan membantunya agar cepat mengungkap misteri ini.


Ara segera bangkit dan keluar meninggalkan kamar Dewi.


"Ngapain sih neng ke kamar Dewi??". Bi Inah bertanya penuh kecurigaan.


Ara meletakkan telunjuknya didepan bibir. Mengisyaratkan bi Inah untuk diam.


"Nanti Ara ceritain ke bibi..Ara janji. Tapi jangan bilang-bilang kalo Ara abis dari kamar mbak Dewi ya". Pinta Ara


"Kamu gak aneh-aneh kan tapi neng??" Bibi kembali bertanya


"Astagfirullah..engga atuh bi. Bibi percaya aja ama Ara ya. Nanti pasti Ara kasih tau semua". Jelas Ara


Akhirnya bi Inah hanya mengangguk mengiyakan permintaan Ara, bi Inah yakin apa yang dilakukan Ara pasti untuk kebaikan, oleh karena itu bi Inah hanya mengikuti kemauan gadis cantik itu.


****


Kemarin setelah tau bahwa rumah majikannya sedang diintai, Ara justru balik mengintai orang yang sedang mengawasi rumah papa Aryo.


Ara mengikuti pria asing yang tadi ia intai sampai pada sebuah gudang yang cukup jauh dari kota. Ara coba mendekat pada bangunan tua itu.


Saat Ara mengintip jendela, dirinya melihat seorang pria yang berusia sekitar 30-40an tahun bersama seorang balita. Ara yakin itu adalah suami dan anak mbak Dewi yang menjadi jaminan.


Setelah mendapatkan titik pasti dimana suami dan anak Dewi disekap, Ara segera meninggalkan gudang tua yang menjadi tempat penyekapan itu.


Keesokan paginya, Ara membawa Bian untuk menyelamatkan suami dan anak Dewi. Tidak banyak perlawanan karena tidak banyak orang yang berjaga. Ara dan Bian dapat dengan mudah mengalahkan beberapa orang yang berjaga disana.


Ara dengan mudah bisa membawa suami dan anak Dewi. Memindahkan mereka ketempat yang lebih aman dan nyaman.


Ara dan Bian pulang, kemudian menceritakan pada bapak dan juga Josh serta Pram apa yang sudah mereka ketahui.


Awalnya bapak marah karena anak-anaknya membahayakan nyawa mereka tanpa memberitahu apapun pada bapak. Namun Josh dan Pram menenangkan bapak, sehingga bapak sedikit tenang.


Kini mereka merencanakan untuk menjebak balik orang-orang yang berniat jahat pada keluarga majikan mereka.


"Jadi apa rencana kamu neng?" Tanya bapak


"Kita biarin mereka jalanin rencana mereka pak. Anak buah bapak yang jaga biar pura-pura minum itu obat tidur yang udah pasti bakal dicampur ama mbak Dewi diminuman. Kita pura-pura gak tau apa-apa aja. Biarin aja mereka masuk semua pak. Jadi nanti gak akan ada yang bisa laporan sama orang yang nyuruh mereka kalo rencana mereka udah gagal". Ara menjelaskan panjang lebar.


Semua yang mendengar hanya mengangguk menyetujui ide yang diberikan Ara.


Sampai akhirnya semua rencana yang dibuat Ara berjalan mulus walau akhirnya wajah cantik Ara tak semulus rencananya karena harus rela terkena pukulan beberapa kali.

__ADS_1


flashback off


Ara mengakhiri penjelasannya pada papa Aryo dan seluruh anggota keluarga yang sedang duduk dengan tenang mendengar semua penjelasan dari Ara.


Papa Aryo dan papa Bram hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan Ara, "benar-benar gadis cerdik" Batin keduanya.


Sementara mama Anika dan mama Dini serta anak-anaknya hanya bisa melongo mendengar penuturan Ara tentang kejadian yang mereka lalui semalam.


Mereka benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Ara memiliki pemikiran secerdas itu dan keberanian sebesar itu menantang bahaya demi keselamatan seluruh anggota keluarga.


"Anakmu benar-benar hebat Mat". Ucap papa Aryo bangga.


"Terima kasih tuan, anda terlalu berlebihan".


"Apakah wajahmu masih sakit sayang?" Tanya mama Anika menyela percakapan para ayah.


"Tidak nyonya, sama sekali tidak sakit". Jawab Ara sopan.


"Kemaren aja lo diobatin bapak teriak-teriak, ngomel-ngomel. Giliran ditanya sok-sokan kaga sakit, kaga sakit" Gumam Bian.


Ara yang berdiri disebelah Bian jelas mendengar gumaman sang kakak. Ara menginjak kaki Bian dengan keras sampai sang kakak mengaduh kesakitan sambil mengelus kaki yang diinjak Ara.


"Kamu kenapa Bian?". Tanya papa Bram khawatir


"Eh ini..itu tuan. Tadi diinjek semut tapi sakit sekali". Jawab Bian sambil nyengir


Ara mencebik mendengar jawaban sang kakak yang sangat tidak masuk akal.


"Mana ada diinjek semut sakit" Cibir Ara


"Ada lah, orang semutnya segede gentong" Jawab Bian kemudian langsung lari sebelum mendapat hadiah bogem mentah dari sang adik.


Ara langsung mendelik kemudian mengejar Bian yang sudah lebih dulu melarikan diri.


"saya permisi nyonya, tuan". Ucap Ara sambil menundukkan kepala sedikit kemudian berlari cepat mengejar sang kakak.


Bapak hanya menunduk malu sambil berkali-kali menepuk dahinya melihat pertengkaran kedua anaknya yang tidak mengenal tempat dan waktu.


Semua yang menyaksikan hanya bisa tertawa melihat bagaimana Ara dan Bian yang saat ini sudah seperti tom and jerry versi manusia.


"Seru ya punya kakak kaya kak Bian gitu, supel orangnya. Gak kaku kaya kulkas". Sindir Dira pada sang kakak.


Dev hanya melirik sekilas sambil menjulurkan lidahnya pada Dira yang langsung melotot kesal.


"dasar kulkas nyebelin!!" Umpat Dira


Putri tidak fokus pada perdebatan antara Dev dan Dira, ia hanya diam sambil terus memperhatikan Bian yang saat ini masih dikejar Ara sampai halaman belakang.


Wajahnya selalu dihiasi senyum saat melihat pria tampan yang sudah berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Sepertinya, Putri benar-benar jatuh cinta pada Bian.


"ganteng banget sih..ya Allah" Batin Putri sambil terus tersenyum.


"Woooiiii..lo kenapa dari tadi cengar-cengir, mesam-mesem kaya kakak aja" Suara Dira menyadarkan Putri dari lamunannya.


"Apaan si lo..orang engga. Heran aja gue liat lo ama kak Dev ribut mulu" Elak Putri


"Gue tau lo boong Put. Lo gak bisa boongin gue". Bisik Dira sambil tersenyum miring.

__ADS_1


"Lo sok tau" Putri membalasnya berbisik.


__ADS_2