
"Bagaimana Pram? Kamu menemukan istri saya?" Tanya papa pada Pram yang tengah berdiri dihadapannya.
Sudah sejak 1jam tadi papa panik, setelah mendapat telpon dari mama Dini yang memberitahu bahwa istrinya belum juga sampai dan tidak bisak bisa dihubungi
"Saya hanya menemukan pak Tono tuan. Nyonya sudah tidak ada disana saat saya sampai tuan". Jelas Pram
"Berdasarkan keterangan pak Tono, mobil nyonya dicegat oleh 4 orang pria asing tuan. Kami sedang melacaknya saat ini". Imbuh Josh.
"Dira dan Ara juga menghilang dari kampus pa". Nafas Dev terengah-engah memasuki ruangan sang ayah.
Papa menyugar rambutnya kebelakang, permasalahannya terlalu pelik.
"Bagaimana bisa mereka menghilang bersamaan seperti ini?!" Tanya papa frustasi.
"Dev yakin ini suatu yang disengaja pa". Beberapa saat Dev terdiam sebelum teringat sesuatu. Ia segera mengeluarkan ponselnya, mencari keberadaan sang istri lewat gps yang ia pasang dimobil istrinya.
Dev memperlihatkan dimana titik istrinya saat ini pada sang ayah. Dev meyakini bahwa Dira dan mama Anika juga sedang berada ditempat yang sama dengan sang istri.
****
"Gue harus ngulur waktu sampe abang sama papa bisa nemuin lokasi ini". Batin Ara sambil memikirkan cara mengulur waktu. Ia yakin saat ini suami dan ayah mertuanya sudah tau tentang hilangnya mama Anika.
"Baiklah..sekarang kita pergi". Nic bangkit dari duduknya, mendekati Ara yang langsung mundur beberapa langkah.
"Apa anda pikir saya bodoh, darimana saya tahu bahwa anda akan membiarkan ibu dan adik saya terjamin keselamatannya?". Ara mencoba mengulur waktu.
"Apa kamu pikir aku akan berbohong? Aku tidak berniat menyakiti keluarga suamimu itu. Yang aku inginkan hanya kamu". Jelas Nic membuat Ara jengah.
"Saya tidak akan pergi sebelum anda membiarkan adik dan ibu saya keluar dari tempat l*kna* ini dengan selamat". Wajah Ara terlihat begitu tenang, meski sebenarnya dadanya begitu bergemuruh ingin segera menuntaskan kepelikan ini.
"hahahaha. Aku tidak bodoh Nara, aku tau apa yang ada didalam otakmu, dan aku tau betapa cerdiknya dirimu". Nic tertawa mendengar keinginan Ara.
"Kalau begitu, kita akan tetap disini sampai anda melepaskan mereka berdua". Ara mendudukkan dirinya diatas sofa. Sejujurnya saat ini ia merasa sangat pusing dan sedikit lemas. Ditambah ia sudah menguras energinya untuk menghajar Nic beserta anak buahnya.
"Jangan memaksaku menyakiti kedua wanita itu Nara. Kau belum tahu betapa kejamnya aku". Desis Nic menahan amarah karena Ara begitu keras kepala.
"Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang akan lebih dulu kehilangan nyawa tuan Abraham". Sengit Ara menghunuskan tatapan setajam pedang pada Nic.
"Jangan pernah berpikir mengancamku tuan Nicolas Abraham, apalagi mengancam keselamatan orang yang saya sayangi. Aku tidak ingin menjadi pembunuh!" Imbuh Ara santai.
Nic menggeram, bagaimanapun ia faham bagaimana watak Ara. Gadis keras kepala yang memiliki kemampuan yang mumpuni. Dirinya pun tak ingin melukai Ara, melihat wajah Ara yang kebiruan akibat anak buahnya saja ia sudah tidak kuasa. Apalagi harus menyakitinya lebih.
"Jangan membuatku hilang kesabaran Nara. Kau tahu pasti bahwa sudah banyak yang kehilangan nyawa ditanganku. Apa kau ingin kedua orang itu meregang nyawa didepanmu?". Ancam Nic.
Sejujurnya Ara begitu takut, bukan takut jika ia mati. Namun takut jika ia gagal melindungi ibu dan adik iparnya. Sekuat tenaga ia berusaha menyembunyikan raut wajah khawatirnya.
"Siapa anda sebenarnya tuan Nicolas. Bahkan saya tidak pernah merasa mengenal anda. Lalu kenapa anda mengganggu hidup saya dan keluarga saya?". Tanya Ara, ia begitu penasaran tentang mengapa Nic menganggunya. Padahal tidak sekalipun Ara mengenal pria itu.
"Apa kamu benar-benar tidak mengingatku? Mungkin kamu ingat dengan anak didalam foto ini?". Nic mengambil sebuah foto yang terdapat dalam laci dan menunjukkannya pada Ara.
Tangan Ara terulur menerima foto yang disodorkan oleh Nic, matanya menyipit melihat foto itu. Wajah seorang anak dengan badan gembul, sepertinya Ara pernah melihatnya. Tapi dimana??
__ADS_1
"Kamu mengingatnya?". Tanya Nic antusias.
Ara mengangkat wajahnya "Tidak. Siapa dia?" Ara balik bertanya membuat Nic kecewa.
"Tidakkah kamu ingat anak gendut yang sering dibully yang kamu tolong 10 tahun lalu?". Tanya Nic penuh harap. Ara mencoba mengingat, namun sepertinya ingatannya sedikit kurang berfungsi baik saat ini.
"Ahh..sudahlah itu tidak penting. Kita harus segera pergi. Kamu sudah mengulur waktuku sangat lama". Jelas Nic kemudian bangkit.
"Aku bersumpah akan menjamin keselamatan mereka jika kamu ikut denganku". Nic mengulurkan tangannya pada Ara. Namun Ara masih diam.
"Saya akan mengikuti anda". Ara bangkit dan menatap kedua wanita yang sejak tadi terus terisak.
"Bisakah anda lepaskan penyumpal mulut itu. Setidaknya biarkan saya berbicara dengan mereka dulu". Pinta Ara yang langsung diangguki oleh Nic. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk membuka penyumpal mulut Dira dan mama.
Ara mendekati keduanya, memeluk keduanya bergantian. Seraya membisikkan kata untuk menenangkan keduanya.
"Jangan sayang, mama mohon. Mama tidak akan mampu menghadapi Dev jika sampai kamu terluka nak". Ucap mama disela isakannya.
"Semuanya akan baik-baik saja ma. Ara janji akan pulang dengan selamat". Bisik Ara pada ibu mertuanya, dan mengelus punggung ibunya yang terus bergetar karena tangisannya.
"Jangan Ra, gue mohon. Ini sama aja lo bunuh diri. Plis jangan..kakak bakal marah banget sama keputusan elo. Kita tunggu kakak ya". Pinta Dira.
"Gue yakin dia nggak bakal ngelukain gue Dir. Jaga mama Dir, tunggu sampe abang dateng. Dan jangan lakuin hal konyol yang bakal bahayain kalian". Kini Ara beralih pada adik iparnya yang terus terisak dan menggelengkan kepalanya. Tidak setuju dengan keputusan Ara.
"Kasih itu buat abang, abang bakal nemuin gue dengan alat itu". Ara menyelipkan sebuah earphone dengan ukuran kecil kedalam saku celana Dira tanpa sepengetahuan Nic dan anak buahnya.
"Cukup sudah Nara, kamu harus segera pergi denganku". Suara Nic menginterupsi Ara yang masih memeluk adik iparnya. Ara melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum hangat pada mama dan Dira sebelum melangkahkan kakinya mengikuti Nic keluar dari ruangan itu.
###
Pintu dibuka paksa dari luar oleh Dev dan Kevin. Sebelum datang kerumah itu, Dev menghubungi Kevin dan Sam untuk membantunya mencari ibu, adik serta istrinya.
"Kenapa sepi sekali?". Ucap papa menatap keseluruh isi rumah.
"Kita harus tetap waspada pa. Jangan-jangan ini hanya jebakan". Dev memperingatkan sang ayah.
"Kita berpencar, kalian.." Belum sempat Dev menyelesaikan ucapannya, terdengar suara teriakan memanggil namanya dari kamar di lantai dua.
Mereka segera berlari menuju sumber suara, membuka pintu yang ternyata tidak dikunci dan mendapati dua wanita yang terikat dengan kursi.
Kevin segera membuka ikatan Dira, sementara papa membuka ikatan mama dan segera memeluk istrinya yang terlihat begitu shock.
"Dimana Ara?" Tanya Dev setelah mencari diseluruh ruangan, namun tidak menemukan istrinya.
"Mereka membawa Ara kak". Suara Dira terdengar parau, terlalu lama menangis membuat suaranya seakan sulit keluar.
"Mereka?? Mereka siapa? Siapa yang sebenarnya melakukan ini?". Tanya Dev beruntun.
"Tu..tuan Nicolas kak. Dia pelakunya, dia yang melakukannya". Dira kembali terisak, Kevin membawanya kedalam pelukannya sekedar menenangkan Dira.
Dev mengepalkan tangannya, dia bersumpah dalam hatinya, ia akan menghabisi Nic jika istrinya sampai terluka.
__ADS_1
Dira melepaskan pelukan Kevin setelah merasa lebih tenang, merogoh saku celananya dan mengambil benda yang Ara selipkan disaku celananya.
"Mereka pergi setengah jam yang lalu kak. Ara bilang kakak akan menemukan dia dengan ini". Dira mengulurkan tangannya, memberikan benda titipan Ara pada Dev.
"Earphone?" Gumam Dev, kemudian sesungging senyum tipis tercetak diwajahnya. Istrinya memang benar-benar cerdik.
Dev segera memasangkan benda kecil itu ditelinganya, dan memencet tombol on. Setelahnya, ia sudah bisa mendengar percakapan Ara dan Nic.
"Setelah ini kita akan bahagia berdua Nara". Suara Nic terdengar dari seberang sana.
"Cih, jangan harap tuan Abraham. Bahkan sebelum anda berhasil membawa saya keluar dari kota inipun, suami saya akan menemukan keberadaan anda!" Ara mendecih menatap sinis lelaki yang duduk disebelahnya. Ara yang sadar bahwa earphone Dev sudah menyala segera melihat sekeliling untuk memberi petunjuk pada suaminya.
"Apa anda pikir dengan membawa saya ke kota B suami saya tidak akan menemukan saya tuan?!". Sinis Ara.
"Kita pergi sekarang, dari sini Dev akan pergi dengan om Pram dan om Josh. Gue titip orang tua sama adek gue bro. Jaga mereka, pastiin selamat nyampe rumah". Dev menepuk bahu Kevin dan Sam yang hanya mengangguk menyanggupi permintaan Dev.
Dev segera melesat pergi dengan Pram dan Josh yang mendampinginya. Dev melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang untungnya tidak terlalu macet. Beberapa kali Dev mendengar klakson dari pengendara lain serta umpatan-umpatan kasar yang ditujukan untuknya.
"B*go banget! Gue kan masih pake kalung. Abang bisa lacak lokasi gue pake ni kalung. Oneng banget sih lu Ra". Ara merutuki kebodohannya yang melupakan bahwa ia masih memakai kalung yang jelas ada alat pelacaknya. Sekarang dirinya bingung, bagaimana caranya mengingatkan sang suami. Karena dirinya yakin jika sang suami pun lupa dengan hal itu.
Jika ia langsung menyebutkan kalung, sudah dipastikan Nic akan curiga. Bagaimana ini, dirinya benar-benar bingung harus melakukan apa.
"Toilet" Batin Ara tersenyum senang.
"Saya ingin pergi ke air tuan Nicolas. Apa bisa kita menepi sebentar?!". Pinta Ara halus, ia tak mungkin memintanya dengan paksa. Ia pun harus berakting seperti menahan p*pis agar bisa meyakinkan Nic.
Mata Nic memicing, memastikan bahwa Ara benar-benar hanya perlu ke toilet dan tidak akan kabur.
"Apa lagi yang kamu rencanakan Nara?". Tanya Nic curiga.
"Apa saya harus mengeluarkannya disini?!". Sengit Ara, Nic membuang nafas kasar dan akhirnya mengalah. Mungkin bisa saja Ara kabur saat penjaga membiarkan dirinya masuk kedalam toilet sendiri, tapi saat ini tubuhnya benar-benar tak memiliki cukup tenaga untuk menghajar semua anak buah Nic.
"Jangan coba-coba melarikan diri Nara. Keselamatan ibu dan adikmu ada ditanganku". Ancam Nic membuat Ara tersenyum sinis. Ara yakin kedua wanita itu sudah aman, apalagi Dev jelas sudah mengaktifkan earphone nya.
Tanpa menjawab, Ara segera masuk kedalam bilik toilet. Dan memberitahu Dev tentang kalungnya, ia tak bisa terus memberitahu arah jalan, karena semakin lama Nic akan mencurigainya.
"Abang..kalung Ara. Alat pelacak dikalung Ara, maaf Ara nggak bisa kabur. Ara nggak punya cukup tenaga". Jelas Ara cepat, karena anak buah Nic sudah menggedor pintu kamar mandi sejak tadi.
"Iya sayang..kamu baik-baik ya. Abang akan segera nemuin kamu". Suara Dev terdengar khawatir diseberang sana. Namun mendengar suara sang suami membuat sesungging senyum manis nampak diwajahnya.
"Ara percaya sama abang. Ara harus kembali sebelum mereka curiga". Ara membuka pintu kamar mandi dan langsung memelototi anak buah Nic yang berjaga.
"Untung nggak gue kasih bogem lu. Kampret banget dari tadi gedor-gedor!!". Sengit Ara kemudian berlalu dan kembali masuk kedalam mobil Nic.
Dev semakin menambah laju kecepatan mobilnya, bahkan Josh dan Pram sudah memegang arat sabuk pengaman yang melilit tubuh mereka.
"Ya Allah semoga selamat sampai tujuan". Batin keduanya.
"Aku akan mematahkan lehermu jika sampai kau melukai istriku tuan Abraham". Geram Dev semakin dalam menginjak pedal gas nya.
Ingin rasanya Josh dan Pram berteriak, namun mereka cukup gengsi melakukan hal memalukan itu dihadapan tuan mudanya. Mau ditaruh dimana muka mereka jika sampai berteriak hanya karena seperti dibawa terbang dengan mobil tuan mudanya itu.
__ADS_1