Cinta Kinara

Cinta Kinara
Lunas


__ADS_3

Siang itu Ara sedang duduk menunggu angkutan umum disebuah halte bus.


Ara menoleh saat merasa ada yang duduk disampingnya. Saat sudah melihat siapa yang ada disampingnya, Ara kembali membuang pandangannya ke depan.


"kaga bawa motor lu? tumben amat naik angkutan umum". Pria disamping Ara beesuara.


Ara mengangkat sebelah alisnya memandang sekilas pada pria disampingnya yang tidak lain adalah Digo. Masih ingat dengan Digo?? Lelaki yang pernah dikalahkan Ara dalam sebuah pertandingan basket.


"bukan urusan elu". Jawab Ara cuek.


"Lo jadi cewek galak-galak amat sih. Lo gak terpesona gitu ama ketampanan gue??". Goda Digo sambil menaik turunkan alisnya.


Ara memutar bola matanya, malas mendengar hal yang menurutnya tidak penting untuk dijawab. Ara menolehkan kepalanya kekanan, angkutan yang ditunggunya sedari tadi belum juga lewat.


"Udah mau ujan, mending lo bareng gue aja. Gue anter nyampe rumah". Digo kembali mengajak Ara berbicara.


"Kita gak sedeket itu buat saling ngobrol". Jawab Ara ketus.


"Lo makin cantik kalo marah-marah gitu tau gak". Digo terus memperhatikan wajah gadis yang mampu membuatnya tak ingin menggoda gadis lain lagi selain gadis yang kini ada disampingnya.


"GILA". Hanya itu kata yang keluar dari mulut Ara.


"Iya..gue emang gila. Gila gara-gara elo". Digo berkata dengan senyum lebar.


Ara melotot kesal pada lelaki yang kini terus memandangnya.


Ara berdiri hendak meninggalkan Digo saat merasa rintikan hujan mengenai kulit mulusnya.


Baru saja Ara ingin melangkahkan kakinya meninggalkan lelaki yang sejak tadi mengganggunya, tangan Ara dicekal oleh Digo kemudian tanpa menunggu Ara mengucapkan sepatah katapun dirinya menarik Ara kemudian memaksa Ara untuk masuk kedalam mobil miliknya.


"Sinting lo ya!!". Ara langsung meneriaki Digo saat dirinya baru saja duduk dikursi kemudinya.


"Sensi bgt sih lo ama gue". Digo tetap tersenyum meskipun gadis yang ada disampingnya terlihat kesal dan marah.


Digo tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Ara, reflek Ara mundur memepetkan tubuhnya kepintu mobil. Ara sudah bersiap jika Digo melakukan hal kurangajar padanya.


Digo menarik seatbelt dikursi Ara, kemudian memasangkannya.


"Mikir apa lo??". Ucap Digo tersenyum sambil mendorong kening Ara melihat reaksi Ara yang tegang.


Ara mendengus kemudian membuang pandangannya keluar kaca mobil, wajah Ara memerah antara kesal dan malu dengan yang dipikirkan otaknya


Digo tertawa melihat wajah Ara yang memerah, dalam diamnya Digo semakin dibuat terpesona oleh gadis yang kini duduk disampingnya itu.


Setelah beberapa saat saling diam dengan pikiran masing-masing. Digo membuka suara memecah keheningan.


"rumah lo mana???". Digo bertanya sambil melirik sekilas pada Ara.


Sedang yang ditanya masih bungkam.


"Lo mau gue bawa pulang kerumah gue??" Digo kembali bersuara melihat kebungkaman Ara.


Ara langsung melotot horor pada lelaki yang sedang tersenyum bahagia melihat reaksi kesal gadis cantik itu.


"Mau mati lo!" Kesal Ara.


"Hahahahahha..sumpah lo cantik banget kalo lagi mode galak gini". Digo tidak bisa menahan tawanya mendengar ancaman Ara.


"Jadi mau dianter kemana?? Mau dibawa kerumah gue apa gue bawa ke KUA aja sekalian??". Digo bertanya saat sudah berhasil meredakan tawanya.


"bener-bener cari mati lo". Ara benar-benar dibuat kesal oleh lelaki tampan itu.


"Lo tuh cantik tau, apalagi kalo kaga marah-marah gitu". Digo tersenyum menggoda.


"jalan xxx". Ara hanya menjawab alamat rumah yang kini ia tempati.


"Lo tetangga nya Dev??" tanya Digo penasaran.


"Lo jadi cowo berisik banget sih, kaga bisa diem banget. Heran gue modelan elu dipuja-puja ama banyak cewe. Matanya pada merem apa gimana sih!" Tanpa sadar Ara berbicara panjang karena terlalu kesal Digo banyak bicara.


Digo tersenyum lebar mendengar ucapan Ara.


Tidak ingin membuat Ara semakin kesal, Digo memilih diam dan menjalankan mobilnya menuju alamat yang Ara berikan.


Saat Ara sedang asyik memperhatikan jalanan yang sedang dilewati, secara tiba-tiba Digo menginjak rem membuat Ara hampir membentur dashbord mobil.


"gila lu ya. Mau bunuh gue lu??". Ara memandang lelaki yang kini juga tengah menatap lurus kedepan.

__ADS_1


Karena tidak asa respon dari Digo, Ara mengikuti arah pandangan Digo. Ara mengernyit melihat ada beberapa motor yang menghadang jalan mereka.


"Lo tunggu sini Ra. Jangan turun!". Setelah mengatakannya, Digo langsung turun dari mobilnya.


Ara dapat melihat dari dalam mobil saat ini Digo dan beberapa pria didepannya seperti sedang berdebat. Beberapa saat kemudian para pria yang tadi menghadang mereka mulai menyerang Digo.


Pertarungan yang Ara saksikan tidak seimbang, Digo yang seorang diri melawan sekitar 8 orang pria yang sepertinya juga masih seumuran dengan mereka.


Saat ini Ara sedang menikmati pertarungan yang menurutnya cukup menarik. Sampai sebuah pukulan dari belakang membuat tubuh Digo terjatuh.


"Haaaiiishh..udah main bawa kabur, sekarang gue harus ngeluarin tenaga bantuin itu kamp*et!". Meskipun menggerutu Ara tetap turun dari mobil.


"Heh koplak, lu laki apa banci sih main keroyokan!!". Teriakan Ara membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka.


Digo yang masih tersungkur dijalan melihat Ara dan menggelengkan kepalanya pelan memberi isyarat agar Ara tidak ikut campur.


Ara tersenyum sinis sambil matanya membagi tatapan mata tajamnya pada semua orang yang mengeroyok Digo.


"Pacar baru si brengs*k cantik juga, lumayan buat temen kita seneng-seneng malem ini" Salah satu pria itu berkata dengan seringai mesum melihat kecantikan Ara.


"Bener lo bro, gak kalah cantik lah ama mantan elo yang diembat ama itu baj*ngan!!". Yang lain ikut menimpali.


Ara mengangkat jempolnya, kemudian secara perlahan membalik posisinya kebawah sambil berkata.


"PE-CUN-DANG!!!". Ara mengeja setiap katanya dengan penekanan dalam setiap pengucapannya.


Jelas saja apa yang dilakukan Ara memancing emosi semua pria itu.


"Lo terlalu berani cewek cantik, jangan salahin kita kalo kita main kasar". Tiga dari delapan lelaki itu langsung maju menyerang Ara.


Tetapi mata semua orang membulat saat melihat ketiga orang yang maju menyerang terhuyung kebelakang memegangi dada mereka yang terkena tendangan memutar dari seorang gadis yang mereka remehkan.


"Maju lu semua, gue pengen cepet balik. Kelamaan maju satu-satu!!". Ara benar-benar membuat semua orang terbakar amarah.


Digo yang sudah mampu berdiri berjalan mendekati Ara.


"gue udah bilang jangan turun. Dasar keras kepala emang lo jadi cewe". Digo berkata pelan sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Nunggu lu jadi almarhum gitu maksudnya?". Ara tersenyum mengejek melihat kondisi Digo yang babak belur.


Saling memukul dan menendang, semua orang yang mendapat pukulan dari Ara tidak menyangka bahwa tangan lentik itu mempunyai tenaga kuat yang mampu membuat mereka meringis kesakitan.


"Kita bakal ketemu lagi cantik. Cabut semua". Para pria yang tadi menghadang mereka memilih kabur daripada lebih babak belur lagi.


"Apes banget dah gue, bukannya cepet nyampe rumah malah diajak olahraga siang-siang gini". Ara berjalan hendak meninggalkan Digo, namun segera menghentikan langkahnya melihat Digo hampir terjatuh.


"Elu mah nyusahin gue banget dah. Ngegodain cewe aja lu bisa, kena tonjok beginian aja udah oleng lu mah". Meskipun mulutnya tak henti mengomel, namun Ara tetap memapah Digo menuju mobilnya.


Ara memasukkan Digo kedalam kursi penumpang, dan setelah itu Ara memutar menuju kursi kemudi dan duduk disana.


Digo menoleh kesamping


"Lo bisa bawa mobil??". Digo bertanya dengan alis terangkat.


"Kaga!! Jadi ntar kalo nabrak kita mati berdua!!". Ara menjawab dengan kesal.


"Gapapa deh mati juga, apalagi matinya berdua ama elo". Dalam keadaan lemas Digo masih menggoda Ara.


"Tau gitu tadi gue tambah pukul pale lu sekali lagi biar pingsan. Pusing gue dengerin elu ngoceh mulu!" Ara benar-benar dibuat kesal karena Digo terus menggodanya.


Ara melajukan mobilnya ke klinik terdekat untuk mengobati luka Digo. Bukan karena peduli, tapi hanya sebatas rasa kemanusiaan saja.


Sampai disebuah klinik, Ara menghentikan mobilnya dan kemudian keluar. Gadis itu membuka kursi penumpang dan membantu Digo turun, Ara kembali memapah Digo berjalan memasuki klinik itu.


Ara menunggu Digo diobati.


Beberapa saat kemudian Digo terlihat berjalan keluar dari ruang pemeriksaan dan menghampiri Ara.


"thanks ya Ra". Digo berkata sambil berjalan berdampingan dengan Ara menuju mobilnya.


"hmm..utang gue lunas!". jawab Ara.


Digo mengernyit bingung mendwngar jawaban Ara.


"maksud lo utang apa Ra??".


"Lo pernah bilang gue utang budi ama lo pas nolongin gue biar ga nyungsep". Ara kembali menjawab santai.

__ADS_1


Digo hanya beroh ria mendengar jawaban Ara. Tersungging senyum tipis dibibir Digo melihat gadis disampingnya ini.


"kaga usah mesem mesem kaya gitu. Buruan sono masuk, gue mau balik. Capek gue!". Ara berucap keras saat dirinya sudah duduk dikursi penumpang sementara Digo masih berdiri disamping mobilnya.


Digo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dirinya masih betah berlama-lama berdua dalam satu mobil dengan Ara.


"Kaga sekalian aja ni mobil lu dorong. Cepetin dikit napa sih. Mobil aja bagus, ama becak aja cepetan becak jalannya". Ara mendumel kesal karena Digo sengaja memperlambat laju mobilnya.


"buruan ih..malah cengar-cengir kaya orang cacingan lu!!". Ara kembali mengomel saat melihat Digo hanya tersenyum lucu sambil melirik kesamping. Hari ini Ara sangat lelah menghadapi tingkah menyebalkan Digo.


Setelah mengemudikan mobilnya selama hampir 1jam, akhirnya mobil yang ditumpangi Digo dan Ara sampai disebuah rumah mewah yang juga ada disebuah komplek mewah.


Digo sedikit terkejut melihat rumah yang diketahuinya adalah milik keluarga rival basketnya.


"Rumah lo disini??" Setelah menyadarkan diri dari keterkejutan, Digo menanyakan rumah yang Ara tempati.


Tidak berniat menjawab pertanyaan Digo, Ara membuka seatbeltnya dan membuka pintu mobil.


"makasih udah nganter gue". Setelah mengucapkan terima kasih, Ara turun dari mobil dan berjalan memasuki gerbang tinggi itu.


"Ada hubungan apa elo ama Dev sebenernya Ra?". Digo berkata sambil matanya terus memperhatikan Ara yang sedang berjalan memasuki gerbang tinggi rumah megah yang ada dihadapannya.


Sesampainya didalam kamar, Ara merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur empuknya. Dirinya sengaja menghindar dari Dev agar tidak pulang bersama, bahkan Ara sengaja kabur dari kedua sahabatnya agar tidak pulang bersama, siapa sangka dirinya malah bertemu dengan playboy menyebalkan seperti Digo.


Besok disekolah akan diadakan Pensi untuk perpisahan kelas XII yang sudah selesai melaksanakan ujian akhirnya.


Dirinya ditunjuk sebagai perwakilan kelasnya untuk menampilkan bakatnya bermain gitar dan bernyanyi.


Karena terlalu lelah, tanpa sadar Ara tertidur.


***


Keesokan paginya


Ara sudah siap dengan seragam lengkapnya untuk berangkat sekolah.


Kini gadis itu sedang mencari keberadaan sang ayah yang hilang entah kemana.


"om...liat bapak gak??". Ara bertanya pada Pram yang sedang bersiap juga untuk mengawal majikannya.


"Ada didepan bapak lu". Pram menjawab sambil merapikan kemejanya.


"Bapak oh bapak Ara mau pamit.." Ara mencari bapak sambil bernyanyi seperti pemeran kartun botak yang disukainya.


"Kamu kaya dihutan aja sih neng, udah kaya tarzan. Mau ngapain nyari bapak? Minta uang??". Bapak langsung memarahi anaknya yang tadi bernyanyi dengan suara keras.


"mana ada tarzan cantiknya kelewatan kaya Ara gini. Ya Allah, aki-aki satu sukanya teh su'udzooooon terus ke anak. Pantes makin cepet tua". Jawaban Ara mendapat hadiah sentilan tepat dikeningnya.


"aaaww..bapak iiih, hobi banget nyentil jidat aku!" Ara mengomeli bapak.


"Kamu mau ngapain nyari bapak neng??". Melihat anaknya kesal, bapak langsung bertanya dengan suara lembut pada anaknya.


"Cuma mau pamit. Ara mau kesekolah..makanya jangan suka suudzon mulu ama anak". Ara langsung mengambil tangan bapak kemudian mencium punggung tangan bapak.


"Ara pergi..assalamualaikum". Ara berlalu dari hadapan bapak.


_________


Sekolah pagi ini terlihat sudah sangat ramai, berbeda sekali dengan hari-hari biasa.


Ditengah halaman luas sekolah juga sudah ada panggung kecil yang akan digunakan untuk memampilkan bakat bakat para siswa siswi sekolah itu.


Ara berjalan tenang menuju kelas. Saat ditengah jalan dirinya dicegat oleh Clara dan para gerandong.


Ara menghela nafas, lelah rasanya selalu diganggu oleh makhluk-makhluk menyebalkan ini.


"Jauhin Dev!! Lo itu cuma b*bu. Ga pantes sama sekali bersanding sama anak majikan bapak lo!! Jadi lo harus sadar diri!!". Clara langsung memaki Ara dengan banyak hinaan.


"Kenapa gue musti jauhin Dev?? Dia lebih milih deket gue daripada ama lu". Ara menjawabnya tenang disertai senyum ejekan. Daripada melawan dengan amarah, Ara lebih memilih melawan dengan otaknya. Dia akan membuat Clara marah karena ucapannya.


"Lo..!!!!". Clara seperti kehabisan kata untuk mengintimidasi seorang Ara.


Ara tersenyum miring melihat Clara menunjuk wajahnya dengan ekspresi muka yang sangat lucu menurut Ara.


"Bukan gue yang ga pantes, tapi lu yang kaga menarik sama sekali!!". Setelah berhasil membuat Clara kebakaran jenggot, Ara melewati Clara dan menyenggol bahunya sambil berbisik.


"Lo bukan lawan gue!". Kemudian Ara segera berlalu meninggalkan Clara yang mengepalkan tangannya kuat.

__ADS_1


__ADS_2