
"Aa..!!!" Pekik Putri ketika melihat lelaki yang ia cintai duduk tepat disebelahnya.
"Liat pak, Putri aja nyampe kaget liat muka kakak. Muka anak bapak ngeselin sih..jadi aja yang dilamar kaget". Bisik Ara pada sang ayah dan berhasil mendapat capitan keras ditangannya.
"Aw..sakit bapak ih". Desis Ara.
Putri beralih menatap kedua orang tuanya yang hanya tersenyum geli melihat reaksi anak gadisnya itu.
"Kamu nggak mau nikah sama aa??" Tanya Bian dengan nada kecewa.
Putri menggelengkan kepalanya serta mengibaskan kedua tangannya dengan cepat.
"Bu..bukan gitu a. Papa sama mama nggak bilang kalo Aa yang lamar aku". Jawab Putri cepat.
"Papa sama mama kenapa enggak bilang sih kalo a Bian yang lamar aku?!" Omel Putri pada kedua orang tuanya.
"Aa katanya pak. Nggak ada pantes-pantesnya si kakak dipanggil Aa ya pak". Ucap Ara pelan namun masih terdengar oleh sang kakak yang langsung melotot pada sang adik.
"Diem nggak lo". Bian menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara pada sang adik. Membuat Ara sedikit menjulurkan lidahnya meledek balik sang kakak yang seharian ini terus meledek dan menggodanya hingga kesal.
Bapak yang melihatnya hanya menepuk dahinya pelan kemudian turun dan mengusap dada melihat kelakuan kedua anaknya yang tidak mengenal tempat jika sudah saling ledek.
"Makanya kalo apa-apa itu diliat dulu. Belum diliat udah ditolak". Sindir papa.
"Yaaah..mau bagaimana lagi nak Bian, Putrinya menolak lamaran kamu". Ucap mama mendramatisir keadaan.
"Kaga apa kok Put kalo emang mau nolak. Nggak usah nggak enak ama gue. Iya kan ya pak?". Imbuh Ara ikut mengompori.
"Si..siapa bilang nggak mau?". Tanya Putri pura-pura lupa.
"Kamu!!". Jawab papa dan mama serta Bian kompak.
"Ya kan papa sama mama enggak bilang kalo Aa yang lamar aku!". Putri memandang kesal kedua orang tuanya yang masih tersenyum.
"Jadi kakak ditolak nih ceritanya?". Ledek Ara membuat sang kakak semakin kesal.
"Ya enggak lah". Bukan Bian, namun Putri yang menyambar pertanyaan Ara.
"Kan tadi elu yang nolak". Goda Ara pada sang sahabat.
"Udah neng. Kamu seneng banget godain kakak kamu". Ucap bapak melirik anaknya gadisnya.
"Jadi bagaimana nak Putri? Apa kamu bersedia menerima pinangan anak saya?". Tanya bapak formal membuat suasana menjadi tegang menunggu jawaban Putri.
"Sa..saya mau paman". Jawab Putri gugup, namun berhasil membuat senyuman lega diwajah Bian dan bapak serta kedua orang tua Putri dan juga Ara.
"Alhamdulillah.." Ucap semua serempak.
Ara mengeluarkan kotak kecil yang berisi dua buah cincin yang sangat cantik.
Bian mengambil salah satu cincin yang ukurannya lebih kecil kemudian menyematkannya pada jari manis Putri. Begitupun sebaliknya, Putri juga menyematkan cincin dijari manis Bian.
"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian?". Tanya papa Bram tiba-tiba membuat Putri melotot.
"3 Bulan lagi om". Jawab Bian mantap membuat Putri tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban Bian.
"Tapi Putri belum lulus kuliah A.." Ucap Putri
"Memang ada larangan orang yang sudah menikah tidak bisa melanjutkan kuliah?". Tanya Bian pada sang kekasih.
"Ya enggak ada sih a..tapi kan Ara yang udah tunangan duluan aja belum menikah". Ucap Putri lagi.
"Ara kan harus nunggu aa nikahin kamu dulu. Lagian Dev juga mikir-mikir lagi nikahin anak singa yang galaknya nggak ketulungan itu". Ucap Bian melirik sang adik yang sudah memberi tatapan tajam padanya.
"Kamu ragu sama aa??" Tanya Bian lagi dengan mata memicing.
Putri langsung menggeleng dan mengibaskan kedua tangannya.
"Enggak. Aku percaya sama aa..yaudah, aku ikut gimana bagusnya menurut aa aja". Akhirnya Putri mengikuti keinginan Bian untuk menikah 3 bulan dari sekarang.
Kedua orang tua Putri dan bapak hanya tersenyum mendengar perdebatan anak-anak mereka.
__ADS_1
Selesai bertukar cincin dan membicarakan acara pernikahan yang rencananya akan dilaksanakan 3 bulan lagi itu, mama Dini mengajak bapak dan kedua anaknya untuk makan bersama.
Mereka makan diselingi canda tawa, terlihat jelas wajah bahagia dari Putri dan Bian yang sesekali saling mencuri pandang.
"Aww.." Teriak Bian tiba-tiba.
"Kenapa nak?" Tanya mama Dini khawatir
"Eh..eng..enggak ada apa-apa tante. Digigit semut tadi kakinya". Jawab Bian sambil tangannya masih mengelus perutnya yang terasa panas akibat cubitan sang adik.
Mama Dini mengangguk kemudian melanjutkan makannya yang tertunda.
Bian melirik tajam sang adik yang nampak santai tidak merasa bersalah.
"Kutu kupret lo ya..ngapain lo cubit perut kakak. Sakit!". Bisik Bian pada sang adik.
"geleuh liat kakak curi-curi pandang kaya abg labil. Mau liat mah tinggal diliat..geli sendiri Ara liat kakak gitu". Jawab Ara berbisik
"Lo mah sirik mulu ama kakak. Heran gue.." Bian kemudian melanjutkan makannya.
Selesai dengan acara makan malamnya. Bapak berpamitan pada calon besannya.
"Hati-hati paman". Ucap Putri saat menyalami tangan calon mertuanya.
"Hm..panggil bapak saja mulai sekarang nak". Ucap bapak sambil mengelus kepala Putri dengan lembut
Putri tersenyum kemudian mengangguk senang.
Ketiganya meninggalkan kediaman keluarga Putri dengan perasaan lega karena acara lamaran yang sempat ada sedikit drama penolakan.
Sampai dirumah papa Aryo, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Namun suasana dalam rumah sepertinya masih terlihat ramai.
Sudah beberapa bulan ini Ara tinggal didalam rumah utama, menempati salah satu kamar tamu yang ada dilantai satu. Berbeda lantai dengan Dev dan Dira.
"Assalamualaikum.." Ucap Ara saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam.." Jawab semua orang serempak.
"Gimana sayang acaranya? Lancar kan sayang?" Tanya mama Anika lembut.
"Kendala apaan Ra?? Kaga ditolak kan??" Tanya Dira penasaran.
Ara menceritakan semua yang terjadi dirumah papa Bram, membuat Dira tertawa mendengarnya. Begitupun mama dan papa yang tersenyum mendengarkan cerita Ara.
Setelahnya, Ara berpamitan ke kamarnya untuk beristirahat.
*****
Hanya kurang 1 hari lagi acara pernikahan Bian dan Putri akan dilaksanakan. Semua sudah siap, dimulai dari gedung hingga catering serta gaun yang akan digunakan Putri saat resepsi nanti.
Ara tak kalah sibuk membantu sang kakak menyiapkan semua persiapan pernikahannya. Walaupun kadang mulutnya terus mengomel, namun dalam hatinya ia begitu bahagia melihat sang kakak akan melepas masa lajangnya. Apalagi yang akan menjadi kakak iparnya adalah sahabatnya sendiri.
Bian sendiri sudah bekerja disalah satu rumah sakit besar dikota itu. Ia pun sudah membeli rumah minimalis untuknya dan Putri tinggal setelah menikah nanti.
"Serasa gue yang mau nikah ya ini. Perasaan semua-semua gue yang ngurus". Gerutu Ara sambil terus mengarahkan para pekerja yang sedang menata pelaminan.
"Kamu ngomel terus..yang ikhlas sayang". Ucap Dev mengelus kepala Ara dengan sayang.
"Ya kan kakak yang mau nikah bang. Masa iya gue yang kudu nyiapin semua". Ara terus menggerutu membuat Dev gemas dan akhirnya mencubit hidung sang kekasih.
"Ikhlas sayang.." Ucap Dev kemudian meninggalkan Ara yang kembali memberi instruksi kepada para pekerja.
___
Hari ini adalah hari bahagia sekaligus menegangkan bagi Putri dan Bian. Hari ini mereka akan menikah. Mengikat hubungan mereka menjadi hubungan yang halal.
Bian sudah tampan dengan setelan jas berwarna putih. Menambah ketampanan lelaki dewasa yang sebentar lagi akan menjadi suami dari sahabat adiknya itu.
Wajahnya yang tampan terlihat sedikit gelisah dan tegang.
"Yaelah..tenang aja kali kak. Biasanya juga modusin cewe dimana mana bisa. Santai kak santaiii..." Ucap Ara mencoba menenangkan sang kakak yang terlihat tegang.
__ADS_1
"Pala lo santai. Ini sekali seumur hidup. Gue karungin juga lo lama-lama". Kesal Bian membuat Ara yang sudah cantik dalam balutan kebaya berwarna hijau tosca yang terlihat pas dibadannya yang idealnya tertawa melihat ketegangan diwajah tampan sang kakak.
"Lo ngetawain gue lagi beneran gue karungin ya neng". Bian pasti sudah mengejar sang adik jika saja bapak tidak masuk kedalam kamar tempat Bian dan Ara berada saat ini.
"Kalian nggak usah aneh-aneh ya. Lama-lama kalian yang bapak karungin terus bapak lempar ke kali". Ancam bapak yang sudah kesal dengan kelakuan kedua anaknya.
"Kakak yang mulai dulu". Adu Ara pada sang ayah.
"Mana ada kakak. Lo duluan yang mulai". Bantah Bian
"Kalian sama aja. Dua-duanya seneng nyari perkara. Kamu lagian kak, kamu itu udah mau kawin juga masih kaya bocah!". Ucap bapak semakin kesal.
"Nikah pak..nikah. Main kawin-kawin aja". Ara membenarkan ucapan bapak.
"Iya itu lah pokoknya. Penghulu sebentar lagi datang. Ayo keluar..masa iya penghulu yang nunggu kamu". Ucap bapak berjalan keluar kamar diikuti kakak beradik yang masih saling senggol untuk keluar kamar.
Sampai ditempat akad nikah, tangan Fabian semakin terasa dingin. Kegugupan benar-benar nampak jelas diwajah tampannya.
"Tenang kak..tarik nafas". Ucap bapak mencoba menenangkan.
Tidak lama setelahnya, penghulu datang dan duduk dihadapan Bian. Papa Bram duduk disebelah penghulu. Papa Bram akan menikahkan anaknya sendiri tanpa diwalikan.
Sementara dikamar Putri, gadis itu juga tak kalah tegang dari calon suaminya. Tangannya sudah berkeringat dingin.
Ditemani Salsa dan Dira serta sang mama yang masih terus menenangkan Putri yang panik.
"Tenang sayang..Bian pasti akan mengucapkan qabulnya dengan lancar". Sang mama mengelus tangan Putri yang terasa dingin.
"Sudah siap mas Bian?" Tanya penghulu yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Bian.
Papa Bram menyalami tangan Bian yang terasa dingin, membuat papa Bram tersenyum tipis menyadari kegugupan calon menantunya.
Bian bisa mengucapkan ijab qabul dengan sangat lantang dan lancar.
"Bagaimana saksi?? Sah?" Tanya penghulu setelah ijab qabul selesai diucapkan.
"Saaahh!!".
Terdengar seruan semua saksi dan tamu undangan yang menggema ditempat diadakan acara ijab qabul.
"Alhamdulillah...." Penghulu membaca doa setelahnya.
"Alhamdulillah..kamu udah jadi seorang istri sayang". Ucap mama Dini terharu.
Pintu kamar terbuka, dan nampaklah Ara yang terlihat berdiri didepan pintu kamar. Ara berjalan masuk, mendekati sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Kita turun sekarang ya..Lu udah ditungguin". Ucap Ara menggandeng tangan Putri yang tengah tersenyum malu.
Putri mengangguk, ia dituntun oleh Ara dan juga sang mama yang diikuti Dira dan Salsa dibelakangnya.
Ara mendudukkan Putri disebelah kakaknya kemudian kembali duduk disebelah Dev.
"Sekarang sudah sah menjadi suami istri..mbak Putri silahkan cium tangan suaminya. Nanti mas Bian boleh mencium kening istrinya" Ucap penghulu.
"Tapi cium kening dulu saja yaa..cium yang lain nanti aja kalo berdua. Kasian yang masih jomblo dan belum menikah". Kelakar penghulu yang disambut suara riuh para tamu undangan.
Putri mengambil tangan sang suami kemudian menciumnya, kemudian Bian menangkup wajah sang istri dan mendaratkan ciuman lembut dikening sang istri yang memejamkan matanya menikmati kehangatan yang menjalar diseluruh wajahnya.
"Udah dulu bang..jangan lama-lama ciumnya. Kasian kita yang jomblo gini". Teriakan Sam membuat Bian tersadar dan menjauhkan tubuhnya dari sang istri.
Tamu undangan sudah mulai berdatangan, karena memang setelah acara ijab akan langsung dilanjutkan dengan acara resepsi.
Banyak tamu yang hadir, dari teman sesama dokter ataupun rekanan bisnis papa Bram. Pun dengan teman-teman kuliah Putri.
Ara menyilangkan kedua tangannya, melihat sang kakak dari jauh dengan tatapan penuh kebahagiaan.
Hingga ada sebuah tangan yang merangkul pundaknya membuat ia menoleh kesamping.
"Kakak udah..kita kapan sayang?" Tanya orang yang tak lain adalah Dev.
"Abang.." Lirih Ara dengan wajah sedikit memerah.
__ADS_1
Memang sudah cukup lama mereka bertunangan. Namun karena Ara memang menunggu sang kakak menikah terlebih dulu, membuatnya selalu menunda jika Dev menanyakan tentang pernikahan.
"Abang akan nunggu sampai kamu siap sayang.." Ucap Dev melabuhkan sebuah ciuman dipucuk kepala Ara.