Cinta Kinara

Cinta Kinara
sakit tak berdarah


__ADS_3

Dev memandang Ara dengan tatapan tajam. Mata yang biasanya penuh dengan kelembutan dan kehangatan itu berubah menjadi sangat dingin dan tajam.


"LO NGGAK BISA JAGAIN ADEK GUE HAH!!!" Teriak Dev marah.


Ara memejamkan matanya sejenak mendengar teriakan Dev. Bahkan Dev yang biasanya sangat lembut, kini terdengar sangat kasar.


Namun Ara memaklumi sikap Dev kali ini, karena dirinya pun merasa bersalah tidak mampu menjaga sahabatnya dengan baik.


"Sorry bang..gue salah. Gue kurang hati-hati ngawasin Dira". Jawab Ara lirih.


"ALESAN!! Kalo lo udah gak bisa jagain adek gue dengan bener, BILANG!!!!" Ucap Dev masih dengan nada tinggi dan penekanan disetiap katanya.


Ara terdiam, air matanya hampir jatuh mendengar suara tinggi Dev yang seolah terus menyalahkan dirinya atas insiden ini..Hatinya berdenyut sakit mendengar Dev terus memakinya.


Kedua sahabat Dev yang ikut dengannya hanya diam saat melihat kemarahan Dev pada gadis yang 1tahun ini mengisi hatinya.


"Kak..ini bukan salah Ara. Gue yang salah kurang hati-hati". Dira mencoba menenangkan sang kakak yang sepertinya sedang dikuasai oleh amarah hingga tidak membiarkan Ara menjelaskan kejadian yang terjadi.


Kini dirinya berdiri disamping Dev yang masih memandang Ara dengan tatapan tajam.


"Emang dia aja NGGAK PECUS jagain lo". Sinis Dev sambil melirik Ara tajam.


Digo yang sedari tadi mendengarkan Dev terus memaki dan meneriaki Ara sudah mengepalkan tangan siap untuk dilayangkan pada wajah tampan Dev.


"B*jingan lo!!!!" Teriak Digo sambil memukul rahang Dev dengan keras.


Dev tersungkur ke lantai dengan sudut bibir berdarah.


Dira berteriak melihat sang kakak tersungkur dihadapannya. Begitupun Ara yang terkesiap melihat Digo melayangkan Bogeman nya pada Dev.


"Kalo kaga ada si Ara, adek lo udah abis diperk*sa ama ni b*jingan semua anj*ng!!!!" Teriak Digo.


Dev bangun dan hendak membalas pukulan Digo. Namun tangannya terhenti diudara saat Ara memasang badan untuk melindungi Digo dari pukulannya.


"Gue yang salah bang. Gue minta maaf kalo gue nggak bisa ngelindungin adek lu. Tapi gue udah usaha semampu gue supaya sahabat gue baek-baek aja" Ucap Ara disertai senyum getir.


Dev baru menyadari bagaimana kondisi wajah dan tubuh Ara yang penuh dengan lebam. Bahkan sudut bibir dan pelipisnya berdarah cukup banyak.


Ara membalikkan badan dan keluar dari ruangan itu dengan hati yang teramat sakit, sakit yang tak berdarah. Sangat sakit rasanya dimaki oleh orang yang sudah mengisi sebagian ruang dalam hati kita.


Digo keluar mengikuti Ara yang sudah terlebih dahulu keluar. Sebelum keluar Digo menatap sinis Dev yang terlihat menyesal telah memaki dan meneriaki gadis yang sudah sepenuhnya mengisi relung hatinya itu.


"Br*ngs*k lo!!" Ucap Digo mengacungkan jari tengahnya pada Dev.


Digo melihat Ara berjalan keluar Club, dirinya mengambil mobil kemudian melajukannya mengikuti Ara yang berjalan dengan pandangan kosong.


Digo turun, kemudian menyampirkan jaketnya yang ada dimobilnya ketubuh Ara.


Ara terkejut melihat Digo yang tiba-tiba ada disampingnya.


"Udara malem kaga baik buat badan lo Ra". Ucap Digo lembut.


"Gue anter pulang ya. Nggak ada penolakan" Digo segera menarik Ara masuk dalam mobilnya.


Tidak ada penolakan apapun dari Ara. Karena sejujurnya kini tubuhnya sudah mulai terasa sakit, begitu pula dengan hatinya.


Masih terngiang dengan jelas teriakan dan makian yang Dev ucapkan padanya tadi.


"Sadar Ra..sadar. Lu bukan siapa-siapa. Wajar bang Dev tadi marah ama lu. Lu yang b*go nggak bisa jagain Dira" Batin Ara menguatkan hatinya yang masih terasa sakit.


Digo menepikan mobilnya didepan ind*april. Pria itu turun tanpa mengatakan apapun pada gadis yang masih setia dengan lamunannya.


Hingga Digo kembali, Ara belum sadar dari lamunannya.


"Kemaren ayam tetangga gue ngelamun, eh paginya berubah jadi elang". Ucapan Digo membuat Ara menoleh dan menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Nggak usah dipikirin omongan itu laki gila. Ada gue buat lo". Ucap Digo sambil membersihkan luka diwajah Ara dengan alkohol.


Ara meringis merasakan perih pada luka diwajahnya.


Digo menempelkan plester pada luka dipelipis Ara.


"Oke..kelar". Ucap Digo semangat.


"Thanks ya". Ara berkata tulus menampilkan senyum manisnya.


"Aduuuuhhh". Tiba-tiba Digo memegang dadanya membuat Ara khawatir.


"Ke..kenapa lu?? Mana yang sakit??" Tanya Ara khawatir.

__ADS_1


"Adduuuhh, kaga kuat gue liat senyum lo. Manis banget. Bisa-bisa gue diabetes ini Ra". Jawab Digo enteng.


Ara melotot tidak percaya mendengar gombalan Digo. Ara memukul pelan bahu Digo sambil tersenyum tipis melihat kelakuan lelaki tampan yang sedikit gesrek ini.


"Gila lu". Ucap Ara pelan.


Digo tersenyum lega melihat Ara bisa tersenyum lagi setelah kejadian beberapa saat lalu.


Digo kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ara membuka jendela mobil Digo, menikmati semilir angin malam. Berharap angin bisa menerbangkan rasa sakit dihatinya yang masih begitu terasa.


"Kenapa gue musti sakit hati dibentak. Gue bukan siapa-siapa. Gue cuma anak pengawal keluarga mereka. Lu harus selalu inget posisi lu Ra. Inget itu Ra!! Nggak sepantesnya gue ngerasa sakit kaya gini" Bathin Ara terus berusaha menguatkan dirinya agar tidak menangis.


Digo kembali menghentikan mobilnya. Kini ia berhenti didepan gerobak tukang nasi goreng.


Ara mengernyit bingung sambil memandang kearah Digo.


"Kita makan dulu ya calon makmum. Calon imammu ini lapar" Ucap Digo nyengir


Ara hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan aneh Digo.


Saat Ara membuka seatbelt dan hendak meraih pintu mobil, Digo menahan tangan Ara membuat Ara menoleh padanya.


"Lo disini aja. Kita makan dimobil..Lo mau diliatin orang yang lagi pada makan muka lo bonyok-bonyok gitu. Ntar yang ada dikira gue ngelakuin Kdrt lagi sama bini gue" Jelas Digo panjang lebar.


Ara hanya mengangguk sambil tersenyum kecil melihat Digo dan segala tingkah lakunya.


Tak berapa lama, Digo datang dengan membawa dua piring nasi goreng.


Ara menerima nasi goreng yang disodorkan oleh Digo, kemudian segera memakannya dengan lahap. Sedari tadi, dirinya belum sempat mengisi perutnya dengan makanan.


"Pelan-pelan..gue kaga bakal minta Ra". Kekeh Digo.


Ara menoleh sebentar lalu melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Digo yang terus menatapnya dalam.


_____


Sementara di kediaman Natakusuma, semua orang sedang panik menunggu Ara yang belum juga sampai dirumah.


Tadi Dev membawa sang adik pulang disambut tangisan sang mama serta mama Dini dan Putri. Keduanya bersyukur Dira baik-baik saja.


Setelah mengantar Dira beristirahat dikamarnya ditemani Putri, kedua mama muda itu keluar menemui suami mereka dan Dev.


"Ara kemana kak?? Kenapa belum sampai juga dirumah?" Entah sudah berapa kali mama Anika dan mama Dini bergantian bertanya pada Dev.


Perasaan Dev makin diliputi rasa bersalah tentang sikapnya yang sangat keterlaluan pada Ara. Dev benar-benar menyesal telah menyakiti perasaan Ara dengan ucapannya yang tak pantas.


Tak berbeda jauh dengan para majikannya, saat ini bapak beserta Josh dan Pram juga sedang risau menunggu Ara yang tak kunjung pulang.


Berkali-kali bapak menghela nafas, mencoba mengurangi perasaan khawatirnya pada anak gadisnya itu.


Saat ini semua orang berkumpul diteras rumah besar milik papa Aryo menunggu Ara pulang.


"Gue turun sini aja. Lu balik sono udah malem. Makasih banyak ya" Ucap Ara tulus pada Digo


Digo mengangguk. Namun sebelum Digo melajukan mobilnya, suara Ara membuatnya berhenti.


"Ini jaket lu..makasih banyak udah nganter gue". Ucap Ara hendak melepas jaket milik Digo.


"Pake aja dulu Ra. Badan lo banyak memarnya..kasian bapak lo kalo liat badan lo luka. Cukup liat muka jelek lo aja yang babak belur". Goda Digo


Ara tersenyum kecil sambil mengangguk. Setelah melihat mobil Digo menghilang, Ara berjalan mendekati gerbang rumah besar itu.


Gerbang dibuka oleh mang Supri yang sedari tadi sudah melihat Ara.


"Malem mang Supri..Maaf ya, Ara jadi ngerepotin mamang malem-malem begini" Sapa Ara ramah


"Malem juga neng Ara, mamang nggak merasa repot. Mangga masuk neng". Jawab mang Supri.


Ara melangkahkan kakinya pelan, dirinya tersenyum kecil melihat sebelah kakinya telanjang tanpa alas.


Semua orang yang ada diteras berdiri melihat Ara berjalan sedikit pincang hanya dengan sebelah sepatu yang masih ada dikakinya.


Ara sama sekali tidak menyadari adanya orang diteras rumah besar itu. Dirinya berjalan sambil menunduk. Terlihat beberapa kali Ara meringis saat menyentuh wajah dan tubuhnya.


"Neng.."


Ara mendongakkan kepalanya.saat mendengar suara bapak yang terdengar khawatir.


Gadis itu segera merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum agar sang ayah tidak mengkhawatirkan keadaannya.

__ADS_1


Hati Dev serasa teriris melihat Ara yang sepeti ini. Bahkan gadis itu berusaha terlihat baik-baik saja walaupun kenyataannya sedang menderita.


"Bapak belum tidur?? Udah malem ini pak..awas nanti rematiknya kumat" Canda Ara.


"Kamu nggak apa-apa neng??" Tanya bapak tanpa menanggapi guyonan sang anak. Perasaan khawatirnya lebih besar setelah melihat luka diwajah sang anak.


"Ara baik-baik aja pak. Kenapa? Bapak mau ngajakin Ara duel??". Ucap Ara dengan kekehan.


"Sayaaaang..ya ampun sayang muka kamu nak". Mama Anika mendekat diikuti semua orang yang ada disana.


"Saya tidak apa-apa nyonya. Besok sudah sembuh". Jawab Ara sopan.


"Mama obati dulu ya nak". Ucap mama Anika.


"Iya sayang, lukamu harus diobati agar tidak infeksi" Sambung mama Dini.


"Dev telpon dokter Wija. Suruh dia datang kemari untuk mengobati Ara" Perintah mama Anika.


Dev merogoh ponselnya untuk menghubungi dokter keluarganya, belum sempat dirinya menekan nomor telpon sang dokter. Suara dingin Ara membuat tangan bahkan tubuh Dev kaku seketika.


"Tidak perlu tuan muda. Saya baik-baik saja. Anda tidak perlu merepotkan diri untuk mengkhawatirkan saya. Luka saya sudah diobati oleh teman saya". Ucap Ara datar


"Saya permisi ke kamar saya dulu nyonya, tuan"


"Permisi semua. Selamat malam". Pamit Ara berlalu dari hadapan orang-orang yang masih terkejut mendengar suara yang biasanya ramah itu tiba-tiba terdengar sangat dingin.


Bapak dan Josh serta Pram ikut pamit untuk melihat keadaan Ara.


Sementara mama Anika dan papa Aryo memandang putra sulungnya dengan tatapan curiga. Mereka semua tau bagaimana kedekatan Ara dan Dev, bahkan Ara tidak segan memanggil Dev dengan sebutan "Bang" dihadapan mama dan papanya.


Namun yang baru saja mereka dengar membuat mereka meyakini bahwa terjadi sesuatu hal pada Ara dan putra sulungnya itu.


Dev menghela nafas panjang kemudian berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih diliputi perasaan aneh tentang perubahan sikap gadis cantik itu.


***


Dev mengacak rambutnya kasar. Dev benar-benar merasa frustasi dengan keadaannya dengan Ara saat ini.


Sudah beberapa hari sejak kejadian itu, dan Ara masih terus menghindarinya. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa sekalipun tidak.


Setiap tidak sengaja berpapasan dengannya, Ara akan berpura-pura tidak melihat dan akan menghindarinya. Bahkan saat Dev memanggilnya, gadis itu seolah sengaja menulikan pendengarannya.


Dira sudah pulih dari rasa traumanya. Namun setelah kejadian itu, Ara seolah memberi jarak pada pertemanan mereka.


Bukan hanya Dira, namun Putri juga merasa demikian. Ara lebih sering menghindar saat ditugaskan bapak untuk menjaga anak-anak majikannya. Dia selalu beralasan menjaga rumah. Sementara keselamatan majikan dan anaknya ia serahkan pada Josh dan Pram.


Dev semakin merasa bersalah melihat pertemanan adiknya ikut merenggang karenanya.


"B*go..b*go..b*go lo Dev. Sekarang gimana caranya lo minta maaf ama Ara". Dev bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menjambak rambutnya.


_____


Pagi itu sebelum matahari menampakkan sinarnya, Dev yang sedang menikmati udara pagi dibalkon kamarnya melihat Ara berjalan santai hendak keluar rumah dengan mengenakan baju olahraganya.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Dev segera berganti pakaian dan berlari menuruni anak tangga.


Mama Anika yang sedang memasak dibantu bi Inah didapur memandang bingung kearah putranya itu. Tidak biasanya Dev berolahraga sepagi ini.


Saat Dev keluar dari rumah, matanya melihat Ara yang baru akan melangkahkan kakinya keluar gerbang rumahnya. Dev segera berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan gadis yang sudah beberapa hari ini mendiamkannya.


Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya, membuatnya seolah kesuliatannhanya sekedar untuk bernafas.


Terlihat Ara yang sedang tersenyum pada Digo yang juga sudah mengenakan pakaian olahraga. Sepertinya keduanya memang sudah merencanakan untuk berolahraga bersama.


"Jadi kamu janjian sama dia Ra". Gumam Dev pelan dan hanya bisa didengar olehnya.


Dev mengurungkan niatnya untuk mengikuti Ara yang sudah dibonceng motor Digo. Dia melangkahkan kakinya dengan lesu kembali kedalam rumah.


"Nggak jadi olahraganya sayang?" Pertanyaan sang mama membuat Dev menghentikan langkah kakinya.


"Enggak ma..udah nggak mood olahraga" Jawab Dev lesu sambil melanjutkan langkahnya menuju lantai atas dimana kamarnya berada.


"Aneh..tadi semangat lari-lari keluar kamar. Sekarang balik-balik kaya orang kekurangan darah lemes banget". Gumam mama Anika sambil menggelengkan kepalanya.


Sesampainya dikamar, Dev menghempaskan tubuhnya diatas kasur besarnya, sebelah tangannya memegang dada sebelah kirinya.


"Kenapa sakit banget Ra liat kamu ketawa sama laki-laki lain. Gue emang b*go banget!!".Ucap Dev pada dirinya sendiri.


"Kak.."

__ADS_1


__ADS_2