
Hari ini mood Dev benar-benar kacau. Sejak pagi datang, muka Dev sudah terlihat masam. Kedua sahabatnya dibuat bingung oleh sikap Dev pagi ini. Tidak biasanya Dev seperti ini, walaupun sikapnya dingin tapi tidak sedingin hari ini.
"Napa lu bro, muka ditekuk ae dari tadi. Gantengnya ilang lu ntar".
Sam mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Dev mengobrol
Dev hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelasnya pagi ini.
Sam dan Kevin saling lihat kemudian kompak mengangkat bahu pertanda mereka sama-sama tidak mengetahui apa yang terjadi dengan sahabatnya.
Saat ketiganya berjalan tiba-tiba ada yang datang menghampiri Dev dan kedua temannya.
"Hai Dev.." Sapa gadis yang ada dihadapan Dev
Dev hanya berdehem membalas ucapan gadis itu.
"Lo ada kelas pagi ya Dev, sama dong..gue juga". Sang gadis kembali bertanya.
"Mata lu masih melek kan ye..ya kalo si Dev ada di mari pagi-pagi ya doi ada kelas pagi. B*go amat lu jadi cewe. Basi tau cara lu". Bukan Dev yang menjawab namun Sam yang menyela pembicaraan gadis yang cukup dibenci oleh Sam.
"Diem lo. Gue gak ngomong sama lo!!" Sengit sang gadis yang tak lain adalah Clara.
Dev dan Kevin berlalu meninggalkan Sam dan Clara yang sedang berdebat sengit.
...******...
Ara turun dari motor yang dikendarai oleh Bian sang kakak, sejak tadi senyumnya tidak sedikitpun luntur dari wajah ayunya.
"Ara sekolah dulu ya kak, jangan lupa nanti harus jemput Ara. Sebulan ini kakak gak boleh ada kegiatan apapun tanpa Ara". Sang adik memberi ultimatum.
Bian mengacak rambut Ara, dirinya benar-benar gemas dengan kelakuan adiknya itu.
"Kalo kakak suruh ngasuh lo mulu, kapan kakak lo ini punya pacar neng??" Bian bertanya
"Yaaaa..punya pacarnya ntar aja, kalo gue udah punya pacar juga" Jawab Ara enteng.
"Kapan lo mau punya pacar kalo lo galak setengah mati gini ama laki. Mana jadi perempuan kaga peka lagi kalo ada cowo demen ama lo. Yang ada kakak lo ini jadi bujang lapuk". Bian berkata dengan kesal
"Emang sapa gitu yang suka sama gue?? Perasaan kaga ada kak". Pertanyaan Ara mendapat hadiah toyoran dari sang kakak.
"Udah ah sono lo masuk, bentar lagi bel". Bian mengelus pucuk kepala Ara.
"Okee..daaaaaa kakakku yang paling ganteng. Jangan lupa ntar jemput gue. Kita nonton, ga pake nolak". Ara berjalan sambil sedikit berteriak agar sang kakak mendengar. Untung suasana didepan gerbang sudah mulai sepi.
Bian hanya menggeleng melihat kelakuan adik kesayangannya itu. Dirinya kemudian mulai melajukan motornya meninggalkan sekolah sang adik. Hari ini kegiatannya hanya akan dirumah sambil menunggu sang adik pulang dari sekolah.
___
Saat ini Ara sedang berada dikantin bersama dua sahabat baiknya. Ketiganya sedang asyik mengobrol dan makan.
"Bening bener dah muka sohib gue..ada apa sih, kaya abis ditembak cowo ganteng aja lo Ra". Putri membuka suara setelah melihat wajah Ara yang sejak pagi dihiasi senyuman.
"Beeuuuuhh, ini anak kaya abis menang lotre Put. Malah lebih-lebih". Dira menimpali ucapan Putri
Wajah Putri terlihat penasaran dengan apa yang menjadi penyebab wajah sahabatnya terlihat begitu bahagia.
"Kenapa sih?? Cerita napa lo berdua. Penasaran nih gue". Ucap Putri penasaran.
"Kakak gue pulang, makanya gue seneng banget. Sebulan ini kakak gue dirumah sambil nunggu waktu dia berangkat ke luar negeri buat lanjutin studinya" Jelas Ara menjawab rasa penasaran sahabatnya.
__ADS_1
"Waaaah..pantesan aja tu muka keliatan seneng bener. Ternyata superhero keduanya lagi pulang". Jawab Putri tak kalah bersemangat, pasalnya dirinya begitu mengidolakan kakak sang sahabat sejak pertama kali bertemu. Bisa dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Membayangkan wajah Fabian yang tampan saja mampu membuat degub jantung Putri menjadi tidak teratur.
Ara memang sudah menceritakan banyak hal pada kedua sahabat baiknya itu, termasuk tentang bapak dan Fabian sang kakak. Jadi tidak heran jika kedua temannya begitu tau bagaimana dekatnya Ara dengan ayah dan kakaknya.
Kini ketiganya terdiam seolah sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sampai suara Dira membuat Ara dan Putri sedikit berjingkat karena kaget.
"ya ampun!! Gue lupa mau ngasih tau elo berdua". Pekik Dira
"Paan sih lo Dir, ngomongnya pelan dikit napa. Copot ini jantung gue". Putri mengelus dadanya sambil mengomel.
"Ya sorry..abis mumpung gue inget ini."
"Minggu depan kan ulang tahun gue, tapi gue cuma mau rayain ama orang-orang terdeket gue aja. Dan lo berdua wajib dateng gak pake alesan apapun buat bilang gak bisa" Lanjut Dira mengingatkan.
"Alamak..lupa gue kalo elo ultah Dir. Minggu depan ya??". Putri menepuk dahinya sendiri, bagaimana mungkin dirinya melupakan hari ulang tahun sahabat baiknya itu.
"Udah tua dong lo Dir". Ledek Ara
Dira langsung melotot kesal pada Ara yang ia tau sedang meledeknya.
"Yaaaak, mana ada tua. Kita cuma beda berapa bulan. Tuaan Putri ama gue!!" Dira langsung tidak terima mendengar ledekan temannya.
"heeeeeeh..gue juga cuma beda 2bulan ama elo. Enak aja lo bilang gue juga tua". Putri langsung mencak-mencak mendengar kata tua.
"hahahahaha..becanda aja kali. Lu berdua sensi amat sih". Ucap Ara menoel pipi Dira dan Putri bergantian.
Memang diantara mereka bertiga, umur Ara lah yang paling muda walau hanya berbeda beberapa bulan saja. Namun dari segi pemikiran, justru Ara lah yang paling dewasa.
Begitulah ketiga gadis itu, mereka selalu berdebat tentang hal kecil, saling meledek namun ketiganya selalu saling menghibur saat yang lain mengalami kesulitan.
Sesuai janjinya pada sang adik, saat ini Bian dan Ara sudah ada disebuah mall yang cukup besar di kota itu.
Keduanya tengah berbagi tugas, Ara membeli tiket sementara sang kakak membeli popcorn dan minuman untuk sang adik.
Keduanya memilih menonton film action, karena memang keduanya begitu menyukai film action.
Tak ada raut ketegangan diwajah keduanya, mereka benar-benar menikmati film yang membuat sebagian penonton menjerit saat melihat adegan perkelahian. Namun keduanya justru seperti sangat terhibur melihat adegab demi adegan perkelahian.
Keduanya memutuskan untuk segera pulang setelah menonton sebelum ada yang menelpon mereka dan mengomeli keduanya.
Saat sampai dirumah, Ara mengerutkan dahinya melihat pembantu yang baru 2bulan bekerja dirumah ini terlihat sedang menelpon seseorang secara diam-diam didekat gudang belakang.
Sudah 1bulan ini Ara selalu memperhatikan pembantu baru yang menurutnya sangat mencurigakan. Namun Ara hanya memendam perasaan curiganya, ia masih harus mencari bukti untuk bisa menuduh pembantu yang ia kenal bernama mbak Dewi itu.
Sudah beberapa kali Ara memergoki mbak Dewi sedang menelpon seseorang secara sembunyi-sembunyi seperti ini.
Ara hanya pernah mendengar mbak Dewi memberitahu pada penelpon bahwa situasi aman. Sejak saat itu kecurigaan Ara semakin besar. Namun dirinya masih belum berani berkata apapun pada bapak. Ara hanya akan mencoba selalu melindungi keluarga dari sahabat baiknya itu.
Ara terlonjak kaget saat ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Segera Ara membalik tubuhnya untuk melihat siapa yang mengejutkannya.
Sebuah senyum manis terlihat jelas didepan mata Ara, membuat Ara terpesona sesaat dengan senyuman dibibir tipisnya. Ara bengong sesaat, sampai suara orang didepannya menyadarkan dirinya dari keterpesonaan.
"Aku emang ganteng kok Ra". Ucap pria yang ada didepan Ara yang ternyata adalah Dev.
"eh..hah?? Apaan sih lu bang ngagetin gue". Ara mencoba bersikap biasa walaupun kini kedua pipinya memerah seperti tomat.
"Kamu ngapain ngumpet disini Ra?? Kamu lagi liatin apa?". Dev menundukkan sedikit kepalanya untuk ikut melihat apa yang sejak tadi gasid itu perhatikan, namun yang dilakukan Dev justru membuat Ara semakin salah tingkah.
__ADS_1
"eh..itu, apa sih ah lupa kan gue jadinya. Lu munduran dikit napa sih bang!". Ucap Ara mendorong sedikit bahu Dev.
"Kenapa emang kalo kaya gini Ra?? Kamu deg-degan ya??". Dev justru semakin menggoda saat melihat Ara salah tingkah.
"eh..kok tau sih ni orang. Aduh suara jantung gue kedengeran gitu ampe luar??" Batin Ara sambil reflek memegang dada sebelah kirinya.
Dev tidak mampu menyembunyikan senyumannya melihat Ara yang terlihat begitu menggemaskan saat ia goda.
"udah ah..awas lu bang minggir. Itu gue udah dipanggil bapak". Ara langsung berlari meninggalkan Dev yang masih setia menatap punggung Ara.
Fabian yang tidak sengaja melihatnya hanya tersenyum saat tahu bahwa tuan muda keluarga Natakusuma menyukai adik satu-satunya yang ia miliki.
Kini dirinya semakin tenang saat nanti harus meninggalkan sang adik lagi untuk melanjutkan pendidikannya. Fabian yakin, bahwa Dev juga akan manjaga adiknya itu dengan sepenuh hati. Melihat bagaimana sikap lembut Dev pada adiknya.
...*******...
Hari yang dinanti oleh Dira telah tiba. Hari ini Dira genap berusia 18tahun.
Gadis cantik itu mendapat curahan kasih sayang dari semua orang terdekatnya, terutama dari kedua orang tua serta kakaknya, dan jangan lupakan kedua sahabat yang begitu menyayanginya.
Acara ulang tahun Dira kali ini seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya dirayakan dengan orang-orang terdekat saja.
Dira selalu menolak saat kedua orang tuanya menawari dirinya untuk merayakan pesta ulang tahunnya. Bagi Dira, kehadiran orang-orang yang menyayanginya sudah lebih dari cukup untuknya.
Kini semua orang tengah menikmati hidangan yang disediakan oleh para pembantu. Disana ada juga Fabian dan kedua sahabat Dev.
Hingga hari ini, Dev masih belum mengetahui siapa Fabian. Bahkan Dev dibuat kelimpungan saat mengetahui Bian ikut tinggal dirumah yang ditempati Ara dan juga bapak.
Kini dirinya tengah duduk dibangku taman memperhatikan Ara yang masih saja terlihat lengket dengan Fabian. Malam ini Ara tampil cantik dengan sebuah dress sederhana berwarna peach. Gaun itu adalah pemberian Fabian, Ara sempat menolak namun karena tidak ingin mengecewakan kakaknya, akhirnya terpaksa Ara pakai malam ini.
"Sapa tu Dev?? Baru liat gue..pacarnya si bocah itu??" Sam bertanya sambil ikut memperhatikan kedekatan Ara dengan Bian.
"Namanya Fabian, gue juga gak terlalu kenal". Dev menjawab acuh, namun matanya tak pernah lepas dari Ara.
"Saingan lo banyak bro, si Digo aja masih ngebet ama tu bocah..lah ini nambah atu lagi. Mana keliatannya dewasa banget lagi. Kayanya tu bocah suka ama yang dewasa ama yang gercep. Kaga maju mundur kaga jelas". Sam seperti sengaja menuang bensin diatas api yang sedang membara.
Dev melirik Sam tajam. Namun yang dilirik hanya mengendikkan bahu acuh kemudian melanjutkan acara makannya.
Sejak acara dimulai, Ara dan Fabian selalu memperhatikan sekelilingnya tanpa menimbulkan kecurigaan pada anggota keluarga Dira.
Namun beberapa kali Bian seperti kehilangan fokus setiap kali matanya bersirobok dengan mata indah milik Putri. Selama 1minggu ini, keduanya sering saling curi pandang saat tanpa sengaja bertemu.
Jelas terlihat dimata keduanya bahwa mereka memiliki ketertarikan satu sama lain.
Bian tersenyum manis saat Putri melihat kearahnya. Namun sikutan yang cukup keras mengenai perutnya membuat ia memberengut kesal pada pelaku yang sudah menyikutnya.
"Fokus dulu napa sih lu kak. Kalo demen ama si Putri tu deketin, jangan cuma curi-curi pandang kaya ABG labil kaga jelas" Bisik Ara pada sang kakak.
Bian mencebik mendengar bisikan sang adik yang lebih mirip sebuah sindiran menyebalkan ditelinganya.
Keduanya kembali fokus pada keadaan pesta, seolah sedang menikmati pesta, namun mata Ara begitu waspada memperhatikan pergerakan semua orang.
Senyum sinis terbit diwajah Ara melihat pergerakan orang yang sudah ia awasi sejak 2bulan ini.
Tak salah kecurigaannya selama ini kepada perempuan bernama Dewi yang menjadi pembantu kurang lebih 2bulan itu. Ternyata memang dirinya memiliki niat tertentu pada keluarga papa Aryo.
Ara memberi kode pada sang kakak juga pada sang ayah yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini dengan menganggukkan kepalanya.
"permainan dimulai" Desis Ara.
__ADS_1