
Hari ini adalah hari pertama bagi Ara dan kedua sahabatnya menjadi mahasiswi di universitas yang sudah ketiganya pilih.
Ara tidak tahu bahwa Dev dan kedua sahabat Dev juga berada di kampus yang sama dengannya.
Sejak pertama memasuki kampus, Ara sudah banyak mencuri perhatian, terutama para mahasiswa. Bukan hanya karena wajahnya yang terlihat cantik alami walau tanpa polesan make up, namun juga sikap cuek Ara yang justru semakin menarik di mata para kaum adam.
Ara berjalan dengan tenang menuju aula, tempat dimana diadakan pengenalan lingkungan oleh para senior mahasiswa.
Disana sudah berkumpul banyak mahasiswa dan mahasiswi.
Dira dan Putri melambaikan tangannya saat melihat Ara berjalan memasuki aula.
Ara hanya menundukkan sedikit kepalanya pada kedua sahabatnya itu.
Sejak kejadian Dev memaki dirinya malam itu di club, Ara benar-benar menjaga jarak dari kedua sahabatnya dan juga Dev. Bahkan ketika Dev sudah mengajaknya berbicara pun tidak berpengaruh pada sikap Ara pada mereka.
Dira dan Putri menghela nafas panjang melihat sikap Ara yang masih tetap menjaga jarak dari keduanya.
***
Semua mahasiswa keluar dari aula setelah kegiatan pagi itu selesai. Ara berjalan tenang keluar dari aula, namun langkah Ara terhenti kala mendengar suara yang begitu ia kenali. Suara lelaki yang selalu membuatnya kesal namun juga bisa membuatnya tersenyum saat terpuruk.
"CALON MAKMUM!!" Teriakan itu menggema diseluruh koridor yang dilewati Ara membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya berhenti sambil melihatnya. Ara menunduk sambil terus melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
"Calon makmum..woiii calon makmum. Ini calon imam lo manggil. Main tinggalin aja lo, kaga berkah nanti idup lo". Lelaki yang tak lain adalah Digo terus berteriak sambil berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan gadis cantik yang semakin menundukkan wajahnya karena kini mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian banyak mahasiswa yang sedang berada disekitar sana.
"Iihh emang jodoh mah ga kemana ya calon makmum, dimana aja kapan aja kita mah ketemu terus. Susah kalo jodoh mah". Mulut Digo terus berbicara hal yang semakin membuat Ara kesal dan malu.
"Tu mulut bisa diem kaga sih, dasar kadal!!! Gue sumpel juga nih pake sepatu!" Ucap Ara galak.
"iish..iish, ama calon laki kaga boleh galak-galak begitu. Kaga berkah kalo kata pak ustadz mah" Goda Digo sok serius.
"sejak kapan ada kadal ikut pengajian?!" Tanya Ara pedas.
"Yang gini nih..ama calon laki suka kelewat pedes kalo ngomong. Sakit perut tau rasa lo ngomong pedes-pedes mulu". Jawab Digo enteng
Ara memutar bola matanya malas. Rasanya lelah menghadapi pria menyebalkan yang satu ini. Ara memilih meneruskan langkahnya untuk mencari kantin. Ara merasa lapar karena pagi ini dirinya tidak sempat sarapan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa wajah Digo memiliki pesona yang kuat. Melihat Ara yang seorang mahasiswi baru bisa dengan mudah akrab dengan salah seorang pria pujaan para gadis dikampus besar itu, banyak gadis yang merasa iri dengan keberuntungan Ara.
Saat sedang melihat sekeliling, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Digo. Ara menghela nafas panjang, kenapa semua orang suka sekali menarik dirinya seperti ini.
"muka gue kaya kebo kalinya, semua yang ketemu gue hobinya narik-narik" Batin Ara
"Gue tau Ra, lo pasti lagi ngedumel dihati ngatain gue banyak-banyak". Ucap Digo membuat sebelah alis Ara terangkat.
Digo membawa Ara ke kantin. Gadis cantik itu tersenyum tipis saat mengetahui pria tampan dengan julukan kadal yang baru saja ia sematkan itu membawanya ketempat yang dirinya inginkan.
"Lo mah keterlaluan Ra..Ra" Ucap Digo menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Ara menautkan kedua alisnya, bingung dengan ucapan Digo yang menurutnya tidak jelas.
"Bilang gitu makasih ya calon imam, tau aja kalo calon makmum laper" Suara Digo dibuat seperti seorang perempuan.
Ara tertawa melihat kekonyolan Digo, bagaimana mungkin lelaki menyebalkan dan konyol seperti ini bisa memiliki penggemar yang begitu banyak.
Memasuki kantin, banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. Bahkan Ara tidak sadar jika kini tangannya masih digenggam erat oleh Digo.
Membuat seseorang yang sedang duduk dimeja paling ujung seperti kebakaran.
Digo membawa Ara duduk dikursi yang masih kosong.
__ADS_1
"Ini apaan sih digandeng mulu kaya bocah". Ara melepaskan genggaman tangan Digo.
"Ini tu namanya latihan, biar nanti kalo udah halal kaga kaget". Jawab Digo disertai senyum menggoda.
"Awas lu ah, gue laper! Kaga kenyang gue denger gombalan kadal modelan elu" Ucap Ara sambil berdiri.
Namun pundaknya kembali ditekan kebawah oleh Digo, membuat Ara kembali duduk dikursinya.
"Gue mah calon imam yang tanggung jawab Ra ama calon makmumnya. Lo tunggu sini aja, ntar tau-tau ada makanan ama minuman". Ucap Digo sambil berlalu dari hadapan Ara.
Ara hanya mengendikkan bahunya acuh lalu merogoh ponselnya yang berada disaku celananya. Ia asyik memainkan ponselnya sambil menunggu sang kadal membelikan makanan untuk dirinya.
Saat sedang asyik bermain ponsel, tak jauh darinya terdengar keributan dari beberapa mahasiswa yang berada dikantin.
Ara mencoba acuh dan tak ingin ikut campur, apalagi dirinya adalah mahasiswi baru, malas rasanya jika harus memiliki urusan dengan mahasiswa lain.
Namun mendengar teriakan perempuan yang terdengar kesakitan membuat Ara akhirnya berjalan mendekat kearah kerumunan orang.
Matanya melebar melihat lampir beserta para gerandongnya lah yang membuat keributan.
"Salah kampus gue". Gumam Ara pelan sambil menepuk dahinya dengan keras.
Ara seperti de javu melihat bagaimana arogantnya seorang Clara dan dayangnya saat menyakiti orang lain.
Ara kembali mengingat saat dirinya menolong Dira dan Putri yang saat itu juga sedang diganggu oleh Clara.
Gadis yang kini sedang berada didepan Clara hanya menunduk dan menangis saat rambut panjangnya dijambak oleh Bella.
"Lo nggak tau siapa gue hah??!!" Terdengar teriakan Clara yang membuat kuping Ara terasa sakit.
"Lo nggak punya mata?!! Jalan tu pake mata!!!" Clara tidak membiarkan gadis dihadapannya membela diri sedikitpun.
"Lo sengaja mau nyari masalah ama gue hah!! Dasar miskin!!" Maki Clara
Ara berjalan cepat menghampiri Clara dan gadis malang itu. Sampai disamping Clara, Ara mencekal kuat pergelangan tangan Clara sebelum Clara sempat mendaratkan tangannya dipipi mulus gadis yang sedari tadi hanya diam dan menangis.
Semua mata melotot melihat keberanian Ara melawan tiga gadis yang memang sudah terkenal suka menindas dikampus itu.
"Gue jalan mah pake kaki mbak, jalan pake mata gimana caranya?? Lu g*blok apa b*go??" Tanya Ara santai sambil menghempaskan tangan Clara.
Beberapa orang terkikik geli mendengar pertanyaan mengejek dari mulut Ara. Bagaimana mungkin gadis cantik ini berani membuat masalah dengan gadis-gadis yang terkenal sadis dalam menindas orang yang tidak disukainya, mungkin seperti itulah pemikiran orang-orang yang kini sedang menatap Ara.
Kini Ara beralih pada Bella yang masih menjambak rambut gadis malang itu. Tanpa pikir panjang, Ara balas menjambak rambut Bella dengan kuat hingga membuat sang empunya rambut meringis kesakitan kemudian melepaskan jambakannya pada gadis itu.
"Gila ya lu bertiga, rendahan banget. Kaga disini kaga dimana-mana, bisanya cuma nindas orang pake nama orang tua kalian. Cupu tau nggak!!" Ucap Ara kemudian menggandeng gadis yang masih belum ia ketahui namanya dari kerumunan semua orang.
"Dasar cewe kere lo. Kampungan!!!! Lo bakal nyesel berurusan ama gue lagi!!!" Teriak Clara marah.
Ara menghentikan langkahnya, kemudian tanpa menoleh dirinya menjawab dengan tenang setiap makian Clara.
"Gue rasa disini yang paling kampungan elu. Udah segitu gede masih kaya bocah yang ngumpet diketek emak bapak lu cuma buat nindas orang lain?". Setelah mengatakan kalimat menohok itu, Ara kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Clara yang sedang berteriak sambil terus mengumpat dan memaki Ara. Kali ini ia berjalan menuju taman.
Sementara diantara kerumunan mahasiswa itu, Digo tersenyum lebar melihat bagaimana beraninya seorang Ara yang sudah berhasil meluluh lantahkan pertahanan hatinya yang selama ini selalu kokoh. Dirinya benar-benar terpesona dengan segala hal yang ada pada diri seorang Kinara.
___
"Lo udah aman. Lain kali jauh-jauh deh lu dari kawanan lampir kaya gitu. Kaga bakal bener lu berurusan ama mereka". Ucap Ara
"Makasih banyak". Lirih gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
Ara menerima uluran tangan gadis itu.
__ADS_1
"Nama aku Salsa. Aku boleh tau nama kamu?" Tanya gadis yang ternyata bernama Salsa dengan lembut.
"Ara". Jawab Ara pendek kemudian melepaskan jabatan tangannya.
"Makasih banyak ya Ara, kamu udah nolongin aku tadi". Ucap Salsa tulus.
Ara hanya mengangguk sebagai jawaban. Rasa lapar yang tadi hilang kini sudah kembali datang.
Tak jauh dari tempat kedua gadis itu berdiri, Dev terus mengamati Ara. Dev sudah mengawasi Ara sejak masuk kedalam kantin bersama dengan Digo tadi. Semua yang terjadi dikantin tak luput dari pandangannya. Dirinya semakin kagum dengan pribadi Ara yang selalu menolong siapapun tanpa pamrih.
Saat hendak mendekati Ara, langkah kaki Dev terhenti saat melihat Digo berjalan mendekati Ara dengan membawa roti dan sekotak susu yang kini disodorkan pada Ara.
Hati Dev terasa sakit, nafasnya tercekat melihat Ara yang semakin hari terlihat semakin dekat dengan Digo. Bahkan tanpa pikir panjang, Ara menerima pemberian Digo dan langsung melahapnya.
"Laper banget kayanya ini calon makmum gue. Untung ya Ra, calon laki lo ini pengertiannya kebangetan". Ucap Digo yang langsung mendapat pelototan dari Ara.
"Pelan-pelan napa sih Ra. Gue juga kaga bakalan minta itu makanan". Lanjut Digo yang melihat Ara seperti terburu-buru.
Uhukk...
Digo membuka botol air mineral miliknya yang masih tersisa setengah, kemudian menyodorkannya kehadapan Ara yang sedang tersedak karena makan terburu-buru.
"Makanya kalo dikasih tau ama laki tuh nurut Ra..nurut. Jadi keselek beneran kan lo" Goda Digo sambil menepuk pelan punggung Ara.
Ara menghabiskan air mineral yang tadi masih tersisa setengah itu.
"Enak ya Ra kalo minum bekas calon imam mah, rasanya ada manis-manisnya gitu". Digo semakin menggoda Ara.
Ara melebarkan matanya sambil melihat kearah Digo dan botol yang ia pegang secara bergantian.
"Dasar kadal kampret lu ya!!" Teriak Ara kesal sambil melemparkan botol yang sudah kosong pada Digo.
Digo tertawa terbahak-bahak melihat Ara kesal dan marah-marah padanya. Ada kesenangan tersendiri baginya menggoda dan membuat Ara kesal.
Sementara Salsa hanya tersenyum melihat interaksi antara Digo dan Ara. Sejak melihat Digo pertama kali, Salsa merasakan jantungnya berdetak tidak normal. Salsa mengagumi wajah tampan itu.
Lain ceritanya dengan Dev yang meremas dadanya yang terasa sesak melihat Ara bisa berbicara santai pada Digo.
"Sakit Ra". Gumam Dev pelan sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Kini Ara sedang mengejar Digo yang terus menghindar dari pukulan tangannya. Saat sedang mengejar Digo, Ara menghentikan langkahnya saat melihat Dira dan Putri berjalan menghampiri dirinya.
"Ra.." Panggil Dira dan Putri bersamaan.
"Ada yang bisa saya bantu nona muda??" Tanya Ara sopan dengan menundukkan sedikit kepalanya. Ara benar-benar menunjukkan dimana posisi yang seharusnya.
Melihat respon yang mereka dapat dari Ara membuat keduanya tak mampu lagi menahan air matanya.
Keduanya menghambur memeluk sang sahabat yang sudah beberapa minggu ini terus saja menghindari mereka.
"Jangan gini Ra..Pliiiis. Gue nggak mau lo kaya gini, gue kangen Ara yang dulu". Ucap Dira disela isakannya.
"Balik ke kita kaya dulu Ra. Apa perlu kita celaka dulu baru lo mau kaya dulu" Putri ikut menimpali ucapan Dira.
Tubuh Ara kaku, bibirnya tiba-tiba kelu. Matanya sudah mengembun, sekali berkedip saja sudah dipastikan air mata itu akan jatuh membasahi pipi mulusnya. Ara mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak terjatuh.
Hatinya sakit melihat sahabat yang selalu ia jaga diam-diam selama beberapa minggu ini menumpahkan air mata karenanya. Ara merasa sangat egois sebagai seorang sahabat.
Tak bisa dipungkiri, dirinya pun rindu dengan kedua sahabat yang sudah bersamanya 1tahun lebih itu.
Ara membalas pelukan kedua sahabatnya, membuat Dira dan Putri semakin kencang menangis karena bahagia. Akhirnya sahabatnya sudah kembali lagi bersama mereka.
__ADS_1
Salsa dan Digo yang menyaksikan adegan pelukan itu ikut terharu, bahkan Salsa sampai menitikkan air mata saking terharunya.
"Kenapa masih sakit banget bang" Batin Ara