
"Apa harus dengan cara ini sayang?". Tanya Dev ketika melihat istrinya berganti pakaian yang biasa ia gunakan untuk melatih anak dan dua keponakannya.
"Kalau nggak kaya gini, anakmu itu nggak akan berkembang bang. Dia selalu merasa tidak tega jika sampai menyakitiku". Jawab Ara yang masih sibuk mengganti bajunya.
"Bukankah itu berarti dia begitu menyayangimu? Lalu apa masalahnya sayang?". Tanya Dev heran.
Ara menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya kasar "Kita tidak akan selalu ada untuk terus melindungi Kirei bang. Suatu saat dia harus bisa berdiri diatas kakinya sendiri tanpa kita". Jelas Ara, membuat Dev akhirnya hanya bisa menuruti keinginan istrinya itu.
"Lo udah siap bonyok Ki?". Tanya mulut tak berakhlak milik sepupunya, siapa lagi jika bukan Arka.
"Mulut lo bang, kaga ada saringannya amat sih". Bela Dirga membuat sudut bibir Ara sedikit terangkat.
"Baru tau emangnya lo kalo mulut bang Arka emang kaga ada saringannya. Kalo diibaratin mobil mah, udah kaga ada remnya". Sungut Ara memancing tawa Dirga.
"Mulut gue lo samain rem. Emang sepupu kaga ada akhlaknya lo berdua". Kesal Arka, namun kedua sepupunya hanya mengangkat bahu acuh tanpa menghiraukan kekesalan sepupu mereka.
####
Kini kedua wanita beda usia itu sudah saling berhadapan, lengkap dengan pakaian serba hitam yang mereka pakai, menambah kadar kecantikan keduanya.
Dari ruang keluarga, kedua orang tua Dev dan Dira serta Putri duduk santai menanti pertarungan seru ibu dan anak itu. Sementara Dev, lelaki itu memilih duduk dibangku taman. Melihat dari dekat istri dan anaknya yang akan bertarung hanya demi sebuah ijin.
Sementara Dirga dan Arka, kedua pemuda itu duduk bersila dipinggir taman. Bersiap jika ada salah satu dari kedua wanita itu terluka dan membutuhkan bantuannya. Tak bisa keduanya pungkiri, keahlian bela diri yang dimiliki Kirei berada jauh diatas mereka. Bahkan jika mereka bersatu melawan Kirei, tidak menutup kemungkinan gadis itu bisa menumbangkan mereka.
Ara tersenyum pada putri semata wayangnya yang terlihat jelas masih ada keraguan didalam sorot matanya.
"Kamu bisa mundur sekarang kalo sekiranya udah nggak berminat pergi". Ucap Ara tiba-tiba membuat Ki langsung mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk.
"Kirei akan kalahin buna, hari ini Kirei akan buktiin kalo aku udah bisa ngelindungin diri aku sendiri". Sahut Ki tegas membuat kedua sudut bibir Ara terangkat sempurna.
"Jangan ragu pukul buna, karena buna juga tidak akan ragu untuk memukul kamu". Ara segera memasang kuda-kudanya. Ini yang Ara nantikan sejak lama, melihat putrinya bersungguh-sungguh melawan dirinya ketika bertarung seperti sekarang.
Pertarungan dimulai dengan Ara yang mendominasinya, Kirei hanya akan menghindar dan tidak mambalas serangan ibunya. Rasa sayangnya yang begitu besar pada Ara membuatnya tak sanggup jika harus membalas pukulan ibunya, meski sebenarnya Kirei mampu membalas serangan Ara. Ara yang sudah kesal karena putrinya hanyanterus menghindar dan tidak membalasnya akhirnya memasukkan pukulan, tepat di ulu hati anak semata wayangnya itu.
"Ayo dong..buna belum setua itu untuk melawan kamu sayang". Kesal Ara pada putrinya yang tersungkur diatas rumput.
"Ki nggak bisa bunaaa..jangan yang ini ya syaratnya. Pliis". Kirei menangkupkan kedua tangannya, memohon pada sang ibu ratu untuk mengganti syaratnya. Namun tentu saja Ara tidak akan goyah dengan keputusannya.
"Kalahin buna, atau diem dirumah". Tegas Ara membuat Kirei menghela nafas panjang. Ia bergegas bangkit dan langsung memasang kuda-kuda untuk menyerang Ara. Tidak ada cara lain, dirinya harus bisa menumbangkan sang ibunda jika ingin pergi bersama kedua sepupu koplaknya itu.
"Maafin Ki, kalau nanti sampai bikin buna sakit". Setelah mengucapkannya, Kirei melompat dan menerjang tubuh ibunya. Memberi pukulan dan tendangan kuat yang baru kali ini ia tunjukkan dihadapan ibunya. Dalam diamnya, Ara tersenyum bangga ketika menyadari putri kecilnya telah tumbuh menjadi gadis yang kuat. Bahkan bila boleh berkata jujur, ia merasa kuwalahan menangkis pukulan dan tendangan kuat yang Kirei berikan.
__ADS_1
Sementara Arka dan Dirga hanya melongo melihat kemampuan yang sesungguhnya dari gadis yang sering mereka goda. Dalam hati, keduanya berjanji tidak akan menggoda Kirei lagi. Mereka cukup takut jika harus berhadapan dengan Kirei yang sesungguhnya. Keduanya reflek memegang wajah mereka, kemudian mengelus perutnya ketika melihat Kirei berhasil memukul wajah Ara dan memasukkan tendangan kuatnya tepat diperut sang ibu.
"Gue kaga mau lagi gangguin tu macan betina. Bisa babak belur gue". Bisik Arka yang langsung disetujui oleh Dirga
"Gue juga kaga mau bang. Bisa-bisa kaga punya masa depan kita, kalo nyampe bikin macan kita ngamuk. Hiii..serem bang". Dirga bergidik ngeri melihat Kirei terus menyerang Ara yang bahkan untuk membalas serangannya saja seperti tidak memiliki kesempatan.
"Maafin Ki, buna. Tapi buna nggak kasih Ki pilihan lain". Dalam hatinya, gadis cantik itu terus meminta maaf ketika tangan dan kakinya berhasil memukul Ara.
"Cukup!" Teriak Dev dari pinggir taman. Ia sudah melihat seperti apa kekuatan Kirei yang sesungguhnya.
"Maafin Ki, bunaaa..". Gadis tomboy itu segera menghambur kedalam pelukan Ara. Mengeratkan pelukannya pada sang ibu, ia benar-benar merasa bersalah telah membuat ibunya terluka.
"Buna baik-baik aja sayang. Kamu nggak lihat buna justru jauh lebih baik setelah kamu tunjukin kemampuan kamu yang sebenarnya". Ara menangkup kedua pipi putrinya yang ternyata sudah basah oleh air mata. Bahagianya Ara memiliki putri yang begitu menghormati dan mencintai dirinya.
"Maafin Ki, maaf bunaaa.." Kirei semakin terisak dalam pelukan Ara, melihat wajah memar ibunya akibat pukulan yang ia berikan semakin membuatnya dikuasai rasa bersalah. Inilah kelemahan terbesarnya, walau sekuat apapun dirinya, gadis itu tidak akan sanggup jika harus melihat keluarganya terluka.
"Buna nggak kenapa-kenapa. Harusnya kamu seneng, kamu bisa kalahin buna. Itu artinya kamu bisa pergi sama abang kamu dan adik kamu". Jelas Ara sambil mengelus punggung putrinya yang naik turun. Namun penjelasan Ara justru membuatnya semakin terisak.
"Huaaa..maaf. Nggak seharusnya Ki nyakitin buna cuma demi pergi ke acara sekolah". Akhirnya tangis Kirei pecah, namun itu justru memancing tawa dari orang sekelilingnya.
"Kaga konsisten lo mah semprul". Arka dan Dirga sudah berada didekat Kirei, Arka yang gemas pada gadis yang masih menangis itu mengangkat tubuh langsing Kirei dan memutarkannya.
"Turunin..baaaaaang. Gue kepret lo ntar sumpah". Teriak Kirei kesal.
"Abang! Turuin adeknya!". Teriak Putri dari dalam rumah. Mendengar suara maminya yang sudah marah, Arka menghentikan aksi jahilnya. Arka menurunkan Kirei dari gendongannya. Namun setelahnya, semua orang semakin terpingkal ketika melihat Arka dan Kirei berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Bahkan Kirei yang hendak menggeplak kepala kakak sepupunya itu selalu meleset, membuat tawa semakin membahana dirumah besar itu.
"Lo ama Kirei udah cocok ngelawak bareng komeng ama omas bang". Ucap Dirga disela tawanya. Sementara para orang tua hanya bisa tertawa sambil memegangi perutnya.
"Kampret lo bang. Beneran gue kepret lo". Sengit Kirei sambil memegangi kepalanya yang terasa berputar.
"Gaya lo mau ngepret gue. Bediri aja kaga bisa lo". Ledek Arka yang juga tengah memegangi kepalanya. Niat hati ingin menjahili sepupunya, justru dirinya ikut merasakan pusing.
"Kirei benar-benar seperti Ara ya, pa". Ucap mama tiba-tiba, membuat papa Aryo dan Putri serta Dira yang berada disampingnya menoleh dengan kening berkerut.
"Ya iya lah mama..kan Ki anaknya Ara sama kak Dev". Sahut Dira membuat mama menggeleng.
"Ish..bukan mukanya. Tapi sifatnya!" Kesal mama membuat Dira terkekeh.
"Sabar ma..sabar. Inget umur". Ledek Dira yang langsung mendapat geplakan dilengannya.
"Kirei sama lembutnya seperti Ara, darah Rahmat masih mengalir deras dalam diri cucu kita ma". Ucap papa sendu. Ia kembali mengingat almarhum besannya yang juga seperti saudara untuk dirinya.
__ADS_1
"Ya..sekuat apapun anak itu. Dia sama seperti Ara yang tidak akan bisa melihat saudara dan orang terkasihnya terluka". Sahut mama mengelus pundak suaminya yang tiba-tiba saja menjadi sedih.
Dev memeluk tubuh putrinya, dirinya benar-benar bangga dan bahagia melihat pertumbuhan putri semata wayangnya itu. Kelembutan hatinya benar-benar membuat Dev teringat dengan Ara muda.
"Ayah bangga sama kamu". Dev mengecup pucuk kepala putri kecilnya yang telah tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik.
"Berarti Ki boleh ikut acara sekolah kan yah? Buna?" Tanya Kirei semangat dan langsung dijawab anggukan kepala oleh ibunya.
"Yess!!" Teriaknya girang membuat Dev tersenyum.
"Kapan acaranya sayang?". Tanya mama Anika
"Lusa oma.." Kirei menghambur kedalam pelukan hangat sang oma. Sementara mama Anika hanya mengangguk dan mengelus rambut Kirei penuh kasih sayang.
"Manja!". Cibir kedua sepupunya, namun Kirei tetaplah Kirei. Dirinya hanya cuek dan menikmati sentuhan lembut sang nenek.
Sore itu seluruh keluarga berkumpul, Kevin dan Bian yang sudah pulang dari pekerjaan mereka ikut bergabung.
"Kakak geser kenapa sih. Itu tempat masih luas!". Sengit Ara ketika Bian duduk diantara dirinya dan Putri. Setelah makan malam, mereka bersantai diruang keluarga.
"Badan kamu aja yang lebar. Aku kan mau duduk sebelahan sama istri aku!". Balas Bian tak kalah sengit.
"Sebelah sananya masih kosong. Kenapa harus disini sih". Ara mendorong tubuh Bian agar menyingkir. Namun usahanya sia-sia, karena tenaga Bian lebih besar darinya.
"Pantes aja anak-anaknya ribut mulu. Emak bapaknya kalo ketemu kaya tom jerry gitu". Cibir Dira membuat perdebatan kakak beradik itu berhenti, keduanya melirik kearah anak-abak mereka yang duduk lesehan diatas karpet tebal diruangan itu. Dan benar saja, ketiga anak remaja itu tengah menatap mereka berdua dengan tatapan mengejek sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara yang lain hanya memertawakan kelakuan orang yang sudah berumur namun masih berlaku seperti bocah SMA.
"Gara-gara lo sih!". Bian menyenggol lengan adiknya yang langsung dibalas oleh Ara.
"Dih..bisa-bisanya! Gue dari tadi disini, kakak yang main nyempil-nyempil disini. Berasa langsing aja!". Jawab Ara sambil melotot.
"Lo gue nya udah keluar, kayanya bakal kelar besok pagi. Gue mah mau tidur aja". Kirei banglit dari duduknya, meninggalkan dua orang dewasa yang masih asyik nerdebat hanya karena masalah sepele.
"Kita tidur aja bang. Udah susah buna sama papi kalo ribut gitu. Ngabisin tenaga kalo kita tungguin nyampe kelar". Kelakar Dirga sambil berlalu meninggalkan ruang keluarga.
"Emang ya, kalo buah jatohnya kaga jauh-jauh dari pohonnya. Susah pokoknya". Ucap Arka meninggalkan Ara dan Bian yang kini terdiam setelah mendengar ucapan Arka. Keduanya menoleh dan mendapati anak-anaknya sudah pergi. Bahkan disana hanya tinggal mereka berdua.
"Lo sih kak. Jadi gue ditinggal ama laki gue kan!". Ketus Ara kemudian meninggalkan Bian seorang diri diruangan itu.
####
__ADS_1
Maaf beberapa komen belum dibalas. Kesibukan dunia nyata membuat dunia haluku sedikit terabaikan😁
Hanya bisa mengusahakan up tiap hari aja..maaf readers semua🙏🙏