
Dev merebahkan tubuh Ara yang sudah terlelap diranjang kamar tamu rumah utama. Bapak dengan setia mengikuti Dev yang membawa putrinya itu.
Setelahnya Dev menghadap bapak dengan kepala menunduk.
"Maafkan Dev paman.." Lirih Dev dengan kepala menunduk dalam. Bapak memeluk lelaki yang akan menjadi menantunya kelak kemudian beberapa kali menepuk punggung lelaki muda tampan itu.
"Paman tahu, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk menjaga Ara. Tidak ada yang tahu bahwa akan ada musibah seperti ini Dev". Ucap bapak menenangkan Dev yang terlihat sedih.
"Seandainya Dev tidak mengikuti kemauan Ara untuk datang ke pesta itu, semua ini tidak akan terjadi paman".
"Sekali lagi maafkan Dev paman, Dev tidak berguna. Dev tidak bisa menjaga Ara dengan baik seperti janji Dev pada paman". Perasaan bersalah begitu menguasai hati Dev. Hingga ia hanya terus mengucapkan kata maaf pada bapak.
"Dia akan baik-baik saja Dev. Dia hanya butuh dukungan kita untuk bisa mengalahkan traumanya". Ucap bapak dengan pandangan terfokus pada Ara yang sudah tertidur dengan begitu lelap diatas ranjang kamar itu.
Sementara diruang tamu, semua orang sedang berkumpul. Menunggu bapak dan Dev yang masih ada didalam kamar tempat Ara istirahat.
"Bagaimana ini bisa terjadi Dira?". Tanya papa membuka suara.
"Ya..kenapa Ara bisa sampai seperti itu sayang??". sambung mama Anika
Dira menghela nafas kasar sebelum menggeleng lemah menjawab pertanyaan kedua orang tuanya.
Mama dan papa membagi pandangannya pada semua yang ada diruang tamu, berharap mendapat jawaban tentang apa yang terjadi pada calon menantunya. Namun semua menggeleng lemah sebagai jawabannya.
Hingga pandangan mama Anika terhenti pada sosok yang beberapa bulan lalu hampir membuat acara pertunangan Dev dan Ara gagal.
"Maaf kalau kehadiran saya membuat tante tidak nyaman. Saya hanya ingin memastikan kondisi Kinar tante". Raisya berkata saat menyadari tatapan permusuhan dari mama Anika.
Mama hanya melengos mendengar ucapan Raisya.
"Untung tadi ada Raisya tante. Jadi si Ara kaga kelamaan itu denger kembang api jedar..jeder!! Beuuhh..kalo kaga mah kaga tau gimana tante". Jelas Sam yang membuat semua orang memandang dirinya dengan tatapan bingung.
"Napa pada liatin gue gitu banget sih. Iya tau gue kalo cakep. Tapi kaga gitu juga pada liatin gue". Semua orang mendengus sambil membuang pandangan mereka kearah lain. Sementara Raisya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sam yang dirasanya tidak pernah berubah sejak ia mengenal lelaki itu.
"Paman..bagaimana keadaan Kinar??" Raisya bangkit saat melihat Bapak berjalan kearah semua orang sedang berkumpul diikuti Dev dibelakangnya.
Bapak tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya menandakan bahwa Ara baik-baik saja saat ini.
"Dia baik-baik saja Raisya. Kamu juga ada disana nak?" Tanya bapak lembut.
Raisya mengangguk "Iya paman. Maafkan Raisya paman..seharusnya Raisya bisa lebih cepat menghentikan pesta kembang api itu". Raisya berkata dengan kepala tertunduk.
Masih teringat jelas dalam ingatannya bagaimana histerisnya Ara saat mendengar letusan kembang api.
"Tidak Raisya..ini sama sekali bukan salahmu nak. Paman tahu kamu sudah berusaha semampu dirimu untuk menjaga adikmu itu". Bapak mengelus kepala Raisya yang masih tertunduk.
"Ada apa sebenarnya mat??". Papa bertanya karena sudah sangat penasaran saat semua orang mengaitkan kondisi Ara dengan pesta kembang api.
"Sebenarnya kenapa Ara bisa sampai seperti ini??". Tanya mama tidak sabar.
"Tenang dulu ma..biarkan paman menjelaskan semuanya. Kalau mama dan papa terus bertanya, lalu kapan paman Rahmat akan menjelaskan?". Sengit Dira.
"Iya..iya. Mama kan hanya khawatir pada calon menantu mama". Jawab mama tak kalah sengit
Bapak hanya tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak itu. Ia kemudian menghela nafas sebelum menceritakan semua yang pernah alami hingga menyebabkan Ara menjadi trauma terhadap kembang api.
Mama menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak berteriak. Betapa terkejutnya semua orang mendengar cerita yang meluncur dari mulut bapak.
Hanya Dev dan Raisya saja yang terlihat biasa saja, karena memang keduanya sudah mengetahui trauma yang Ara alami.
"Ka..kamu sudah tahu Dev?" Tanya mama terbata.
Dev mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Ja..jadi pas waktu dulu gue bawa kembang api...". Sam tidak melanjutkan kalimatnya karena Dev sudah mengangguk tanda membenarkan ucapan Sam.
Tak berbeda jauh dari yang lain, Digo pun sama terkejutnya mendengar betapa mengerikan masa kecil yang pernah Ara lalui.
"Gue kaga nyangka dibalik sikap lu yang galak, sifat lu yang dingin ternyata ada luka batin yang belom bisa lu sembuhin Ra. Pantes aja waktu itu lu pake headphone. G*bl*knya gue malah gue copot tu headphone dari kuping elu. Maapin gue Ra". Batin Digo merasa bersalah pada Ara.
Mulai saat ini ia bertekad akan melindungi gadis yang sebenarnya masih sedikit memiliki tempat dihatinya. Namun Digo akan menjaga Ara sebagai seorang kakak yang menjaga adiknya. Ia akan benar-benar membunuh perasaan cintanya pada gadis itu.
Saat sedang fokus dengan pikiran masing-masing, semua orang dikejutkan dengan suara yang berasal dari kamar yang saat ini Ara tempati.
Dev bangkit dan segera berlari kekamar yang ditempati oleh Ara, diikuti oleh semua orang yang nampak panik. Dan saat membuka pintu, Dev melihat Ara yang masih terbaring diatas ranjang dengan mata yang masih tertutup rapat. Namun wajah cantiknya sudah penuh dengan buliran keringat.
"Ara.. Sadar sayang". Dev menepuk pelan pipi Ara.
"Sadar neng. Bangun". Bapak mencoba membangunkan Ara dengan mengguncang lengannya.
Sementara yang lain hanya bisa melihat dari jauh tanpa bisa membantu apapun.
"Ja..jangan. Saya mohon jangan". Ara terus mengigau sambil menggelengkan kepalanya.
"Bangun neng. Buka mata kamu!"
"Jangan...Jangaaaan!!!" Ara berteriak dan bangkit dengan mata memerah dan buliran keringat yang semakin banyak.
"Bapak..." Lirih Ara dengan air mata yang sudah membanjiri pipi mulusnya.
Bapak merengkuh Ara. Dibawanya sang anak kedalam pelukan hangatnya, mencoba memberi ketenangan dan rasa aman untuk putri kecilnya.
"Bapak disini neng. Kamu baik-baik aja". Suara bapak terdengar bergetar menahan sesak didadanya melihat Ara seperti ini.
"Bapaaak". Ara semakin terisak didalam pelukan bapak. Suara tangisannya benar-benar membuat siapapun yang mendengarnya seperti ikut merasakan sakit yang teramat dalam.
Bapak mengeratkan pelukannya pada sang anak.
"Semua akan baik-baik saja neng". Ucap bapak sambil mengelus punggung bergetar sang anak.
Saat ini yang Ara butuhkan adalah kekuatan dari orang-orang terdekatnya, terutama dirinya dan bapak.
Dev mengelus kepala Ara yang masih ada didalam pelukan bapak. Kemudian mengkode semua orang untuk meninggalkan Ara dan bapak berdua.
Meski berat, Dev juga keluar dari kamar itu. Membiarkan Ara menumpahkan segala rasanya pada sang ayah. Dev tahu saat ini Ara sangat membutuhkan ayahnya, ia cukup tahu diri untuk memberi ruang pada Ara dan bapak.
Semua kembali duduk diruang tamu. Saling diam dengan pikirannya masing-masing. Hingga suara pintu yang terbuka kemudian kembali ditutup dengan perlahan membuat mereka menoleh.
"Ara sudah tidur. Maaf tuan, nyonya..apakah boleh malam ini saya menemani Ara dikamarnya? Saya takut dia akan terbangun lagi nanti". Ucap bapak meminta izin pada majikannya.
"Kenapa kamu harus bertanya Mat. Dia putri kita, tentu saja kau bisa menemaninya. Dia sedang membutuhkanmu". Jawab papa sedikit kesal dengan pertanyaan bapak.
"Terima kasih tuan". Ucap bapak sedikit menundukkan kepalanya.
"Bolehkah Dev ikut menemani paman?". Tanya Dev ragu.
Bapak tersenyum dan mengangguk
"Tentu boleh, paman akan berterima kasih kalau kamu mau menemaninya juga".
****
Ara mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Ia lantas mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar saat merasa asing pada ruangan yang kini ia tempati.
Matanya terhenti pada sosok tampan yang sedang tidur meringkuk diatas sofa besar kamar itu.
Ara menarik sudut bibirnya saat melihat Dev yang begitu mengemaskan dengan posisi tidurnya saat ini.
__ADS_1
Namun sesaat kemudian mata Ara melebar sempurna ketika ia menyadari berada dalam sebuah ruangan yang sama dengan lelaki yang belum sah menjadi suaminya.
"Astagfirullah". Ara buru-buru membuang pandangannya dari Dev yang masih bergelung manja dengan alam mimpinya.
Dev yang mendengar suara walaupun hanya samar terdengar akhirnya perlahan membuka mata. Hal pertama yang matanya lihat pagi ini membuat lengkungan bibirnya sempurna. Bagaimana tidak, jika saat pertama ia membuka mata yang ada dihadapannya adalah sosok yang begitu ia cintai. Gadis yang bisa menjungkir balikkan dunianya hanya dalam sekejap.
Saat Ara menoleh kembali untuk melihat Dev, mata keduanya bertemu. Dev bangkit dan berjalan mendekat. Ara segera bangkit dan bersandar pada kepala ranjang saat melihat pergerakan Dev.
"Kamu sudah bangun?? Apa yang sekarang kamu rasakan?". Tanya Dev sambil duduk disisi ranjang.
"A..abang ke..kenapa ada disini?". Bukannya menjawab, Ara malah balik bertanya pada Dev.
"Kamu sudah bangun neng?? Apa yang kamu rasain sekarang neng? Semalem kamu tidur apa pingsan sih neng. Udah tidurnya ngorok, nyalangap lagi itu mulut. Ish..ish, malu-maluin pisan". Bapak yang baru saja keluar dari kamar mandi bertanya sekaligus mengejek saat melihat putrinya sudah bangun.
"Ba..bapak?? Kok bapak juga ada disini?" Tanya Ara bingung.
Pletakk
Bapak menyentil pelan dahi anaknya karena gemas pertanyaannya dibalas sebuah pertanyaan juga.
"Kalo orang nanya itu dijawab dulu atuh neng, bukannya malah balik nanya lagi". Omel bapak
"Emang Ara kenapa. Ara baik-baik aja pak. Ara juga enggak pernah ngorok. Bapak mah suka ngadi ngadi kalo ngomong". Jawab Ara bersungut-sungut.
"Hiliiih..udah enakan aja ngomong nggak papa nggak papa. Tadi malam siapa yang teriak-teriak panggil-panggil bapak hm?? Terus emang kamu tahu kalo kamu enggak ngorok? Kan bapak yang denger. Kamu mah tidur udah kaya almarhum nggak sadar". Tanya bapak sengit.
"Astagfirullah ini aki satu kalo ngomong ya, suka nggak pake filter. Emangnya kapan Ara panggil-panggil bapak? Itu mah modus bapak aja mau deket sama anaknya". Ara melirik bapak kesal.
"Bapak kenapa sih buka aib aku didepan abang..malu atuh ih". Ara seolah memberitahu sang ayah lewat tatapan matanya.
Dev tersenyum melihat perdebatan antara Ara dan bapak. Ia sudah benar-benar seperti Ara yang Dev kenal.
"Nggak mau ngaku. Tanya sama Dev kalo enggak percaya sama bapak mah neng". Tantang bapak
"Sama itu, mata nggak usah melotot-melotot gitu neng. Serem..nanti Dev takut sama kamu" Lanjut bapak.
Sebenarnya Ara ingat saat dirinya terbangun dari mimpi buruknya semalam. Namun ia malu mengakuinya, apalagi saat ini ada Dev disampingnya.
"Iiiish. Bapak mah emang ngga pernah mau ngalah sama anak juga. Udah ah, Ara mau kekamar Ara aja. Mau mandi terus kekampus!". Sungut Ara
"Kamu mau ke kampus ngapain neng?? Mau nyapu?" Ledek bapak membuat gerakan Ara yang hendak membuka selimut terhenti.
"Ya mau belajar. Kalo cuma nyapu mah eneng udah khatam". Jawab Ara sambil melotot
"Ya bapak pikir kamu ada ekstra nyapu dikampus kalo hari minggu gini". Bapak semakin senang meledek sang anak yang sepertinya lupa bahwa hari ini adalah hari minggu.
Ara menundukkan sedikit kepalanya lalu menepuk dahinya beberapa kali. Ia benar-benar lupa bahwa hari ini adalah hari minggu. Hari dimana dirinya libur ke kampus.
Bapak tersenyum penuh kemenangan melihat kebungkaman anaknya.
"Payah..umur aja yang muda. Pikunnya sih ngelebih-lebihin bapak". Ucap bapak sambil melirik Ara, ingin melihat reaksi sang anak.
Ara melotot sambil mengerucutkan bibirnya, merasa kalah berdebat dengan sang ayah.
"Dasar..aki-aki nyebelin". Gumam Ara yang masih terdengar oleh Dev. Sementara bapak hanya mendengar Ara bergumam.
"Kamu lagi ngatain bapak ya neng". Tebak bapak tepat sasaran.
"Diih..males banget Ara ngatain bapak. Mubadzir suara". Ucap Ara sambil melengos.
Inilah cara bapak membuat sang anak cepat melupakan hal mengerikan yang sempat ia alami semalam. Bukan perhatian yang berlebihan namun justru mengajak sang anak berdebat.
"Kamu mau kemana hm??" Tanya Dev saat melihat Ara hendak turun dari kasur.
__ADS_1
"balik ke kamar bang. Mau mandi gue bang..gerah banget ini pake gaun beginian semalem" Jawab Ara.
"Sementara kamu disini dulu sampai bener-bener pulih ya..baju ganti kamu udah diambilin sama bi Inah". Ucap Dev sambil ekor matanya melirik baju Ara yang sudah disiapkan oleh bi Inah semalam.