Cinta Kinara

Cinta Kinara
Rumit


__ADS_3

"Abang??"


Kini semua orang beralih menatap Ara dengan dahi berkerut dalam, namun tidak dengan lelaki yang sedang membantu Raisya berjalan.


"Ara?!!" Dev tak kalah terkejut dari Ara.


Bunda berjalan mendekati Raisya dan Dev, kemudian mengambil alih lengan putrinya dari Dev.


"Duduk dulu nak" Ucap bunda mempersilahkan Dev.


"Kenapa kamu bisa seperti ini nak?" Tanya bunda pada sang anak.


"Raisya kurang hati-hati bunda. Tapi sudah tidak apa-apa, bunda tidak perlu khawatir" Ucap Raisya menenangkan sang bunda.


"Silahkan duduk nak" Ucap ayah sambil tersenyum.


"Terima kasih om" Jawab Dev sambil mengangguk dan tersenyum pada ayah.


"Kamu disini Ra? Katanya tadi mau pergi sama temen?" Dev beralih pada Ara.


Ara hanya mengangguk. Otaknya masih bekerja keras memikirkan tentang Dev dan Raisya yang bisa pulang bersama.


"Kakak kenapa?? Kok jalannya pincang gitu?" Tanya Ara ketika melihat Raisya berjalan sedikit pincang.


"Iya dek, kaki kamu kenapa?" Rayhan ikut menimpali.


"Waktu aku keluar dari kampus mau cari taksi, aku keserempet motor. Aku yang kurang hati-hati sampai bisa seperti ini" Jelas Raisya.


"Untung ada Dev yang menolong, jadi kakak diantarkan pulang oleh Dev" Imbuhnya dengan senyum malu-malu.


Ara hanya mengangguk mengerti.


"Diminum dulu nak..anggap saja rumah sendiri" Bunda datang dengan segelas jus dan beberapa camilan.


"Terima kasih tante" Jawab Dev sopan.


"Kinar kenal sama Dev??" Pertanyaan Raisya membuat Ara menghentikan aktivitasnya memakan kue.


Ara mengangguk "Bang Dev anak majikan bapak, kak" Jelas Ara santai.


Raisya terdiam sesaat, mendengar panggilan "abang" yang diucapkan Ara, seperti sesuatu yang spesial menurutnya. Apakah gadis yang sudah ia anggap sebagai adik ini juga punya hubungan lebih dengan Dev. Dirinya terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Obrolan berlanjut dengan membahas hal-hal ringan. Hingga tanpa terasa sudah waktunya makan malam.


Dev yang hendak berpamitan ditahan oleh ayah dan bunda.


Bunda meminta semua orang untuk makan. Dev sempat menolak, namun karena Ara memintanya untuk ikut makan, akhirnya Dev mengiyakan.


Ara duduk disebelah kanan Dev dan Raisya duduk disebelah kirinya, sementara bunda dan Rayhan duduk bersebrangan dengan mereka.


"Silahkan nak Dev, jangan sungkan" Ucap Ayah mempersilahkan Dev.


"terima kasih om"


"Mau makan apa bang?" Tanya Ara.


Karena memang sudah sering Ara makan bersama dengan Dev dan orang tuanya, dan setiap makan bersama, Ara lah yang selalu mengambilkan makan untuk Dev.


"Terserah kamu aja Ra" Jawab Dev


Dengan cekatan Ara mengisi piring Dev dengan nasi dan lauk pauk yang menurutnya akan Dev sukai. Setelahnya, Ara memberikan piring yang sudah ia isi kepada Dev.


Raisya hanya bisa tersenyum miris melihat Dev dan Ara yang begitu akrab, bahkan sepertinya hal seperti ini sudah sangat biasa bagi keduanya. Namun tidak dengan Raisya, dadanya terasa sesak melihat lelaki yang masih ia cintai seperti tidak menganggap kehadirannya.

__ADS_1


"Kakak mau apa?? Sekalian aku ambilin ya?" Ara beralih pada Rayhan dan Raisya.


Rayhan mengangguk sambil tersenyum, sementara Raisya menggelengkan kepalanya.


"Kakak ambil sendiri aja dek" Jawab Raisya.


Ara mengangguk, sebenarnya sejak tadi Ara dapat melihat jika Raisya berkali-kali mencuri pandang kearah Dev. Tapi Ara tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan Dev dan Raisya yang memang tidak ia ketahui.


Makan malam berjalan lancar, hanya terdengar bunyi sendok yang beradu dengan piring.


Selesai makan, Ara membantu bunda membereskan meja makan dan mencuci piring. Bunda sudah melarang namun bukan Ara jika tidak keras kepala.


Raisya hanya tersenyum melihat Ara yang sejak dulu tidak pernah berubah. Ara akan menjadi orang yang dingin dan galak dengan orang yang tidak ia kenal. Tapi akan menjadi gadis manis yang cerewet dan periang kepada orang-orang yang ia kasihi.


Semua orang sudah kembali berkumpul diruang tamu.


"Ara pamit pulang ya Ayah, bunda.." Pamit Ara sambil merapikan tasnya.


"Kamu tidak mau menginap disini?" Tanya bunda.


"Ara udah janji sama bapak pulang abis isya bunda, kalo Ara telat bisa-bisa superman aku itu ngamuk nanti"


"Kamu ini..masih suka meledek bapakmu" Ayah mengacak rambut Ara karena gemas.


"Kakak antar ya" Tawar Rayhan.


"Ara akan pulang bersama saya saja" Sebelum Ara menjawab, suara Dev sudah lebih dulu terdengar.


"Apa tidak merepotkan jika kamu harus mengantar Ara dulu nak Dev??" Tanya bunda


"Sama sekali tidak tante, kami tinggal dirumah yang sama. Jadi sama sekali tidak merepotkan" Jawab Dev tenang.


"Tinggal dirumah yang sama??" Tanya ayah curiga.


"Ara kan udah bilang tadi sama ayah, kalau bang Dev ini anak majikan bapak" Jelas Ara


"Ayah udah kaya bapak ya bund, baru juga dikasih tau udah pikun" Ledek Ara dan berhasil mendapat cubitan dihidung mancungnya.


"Udah berani bilang ayah tua ya??" Tanya ayah pura-pura marah.


"Hehehe..ampun yah. Tua juga masih ganteng kok. Iya kan bund" Jawab Ara sambil nyengir.


"Yasudah kalau begitu nak Dev, saya titip putri bawel saya yang satu ini ya. Hati-hati kadang suka gigit. Galak orangnya" Ayah meledek balik Ara.


"Enak aja ayah mah kalo ngomong. Ara enggak pernah gigit tau" Cebik Ara.


"sudah..sudah, jangan digodain terus anaknya yah. Hati-hati ya sayang" Ucap bunda sambil memeluk Ara.


"Salam untuk bapakmu ya nak" Pesan bunda diangguki oleh Ara.


"Suruh bapakmu juga main kesini sayang, ayah sudah lama sekali tidak bertemu dengannya"


Ara hanya mengangguk sebagai jawaban permintaan ayah.


"Daaa..kak Rayhan, kak Raisya" Ara melambaikan tangannya.


"Ara pulang dulu ya semua. Assalamualaikum" Ara berjalan mendahului Dev setelah tadi mencium punggung tangan ayah dan bunda dan berpamitan dengan Raisya dan Rayhan.


Dev juga berpamitan pada ayah dan bunda, kemudian berjalan menyusul Ara yang sudah lebih dulu keluar.


"Saya permisi om, tante. Terima kasih untuk makan malamnya" Dev menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.


"Hati-hati dijalan nak. Titip Ara ya" Ucap Bunda.

__ADS_1


"Pasti tante" Jawab Dev mantap.


Dev melangkahkan kakinya keluar dari rumah Raisya, saat sudah ada didepan pintu, tangannya ditahan oleh Raisya.


"Kita perlu bicara Dev. Aku bisa jelasin kenapa waktu itu aku tinggalin kamu. Kita bisa perbaiki hubungan kita" Ucap Raisya sendu.


"Nggak ada yang perlu dijelaskan apalagi diperbaiki. Tolong jangan buat perempuan yang gue cintai salah paham sama hubungan kita" Ucap Dev dingin sambil matanya terus menatap Ara yang sudah duduk manis didalam mobil sambil memperhatikan dirinya dan Raisya.


Perlahan Raisya mengikuti arah pandangan Dev. Disana ia melihat Ara yang sedang duduk dengan tenang sambil bermain ponsel. Setelah tertangkap basah oleh Dev, Ara memilih berpura-purs bermain ponsel.


Perlahan Dev melepaskan genggaman tangan Raisya. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu, Dev kembali berkata


"Gue udah bahagia nemuin dia. Lo juga harus lanjutin hidup lo" Setelah mengatakannya, Dev benar-benar meninggalkan Raisya.


"Kenapa harus Kinar, Dev" Lirih Raisya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


Ara sebenarnya sejak tadi melihat apa yang terjadi antara Dev dan Raisya, akan tetapi ia tidak tahu apa yang dibahas oleh keduanya.


Ara memang memegang ponselnya, namun matanya sejak tadi terus mengawasi apa yang Dev dan Raisya lakukan.


Kini Ara benar-benar penasaran, ada hubungan apa sebenarnya antara Dev dan Raisya.


"Maaf ya lama nunggunya" Ucap Dev pada Ara.


"Gapapa bang, nyantai aja" Jawab Ara disertai senyum manis yang mampu menghilangkan segala perasaan marah dan kecewa yang Dev rasakan kembali setelah bertemu dengan Raisya.


Dev melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Raisya. Sebelum benar-benar menghilang, Ara melambaikan tangannya pada Raisya yang masih diam didepan pintu rumahnya.


"Kamu udah lama kenal keluarga tadi Ra??" Tanya Dev memecah keheningan.


"Ehm..lama banget bang kayanya. hehe"


"Ayah sama bunda tu temen bapak sama ibu, terus karena bisnis, ayah ngajak keluarganya pindah ke kota ini. Tapi beberapa tahun lalu sempat tinggal diluar negeri" Jelas Ara panjang lebar


"Kak Raisya juga jadi model deh bang kayanya disana. Kan dari dulu kak Raisya emang udah pengen banget jadi model. Mukanya cantik, badannya bagus, tinggi..oke lah pokoknya kalo jadi model" Imbuh Ara dengan wajah berbinar membicarakan gadis yang sudah membuat Dev merasakan sakit hati.


"Kamu juga cantik. Cantik banget malah" Puji Dev tulus


"Cantik kak Raisya dong bang. Kaya abang cocok kalo..." Belum sempat Ara meneruskan kalimatnya, Dev menghentikan mobilnya dan menatap Ara tajam.


"Berhenti ngomongin dia Ra!" Bentak Dev sambil menatap tajam Ara.


"I..iya bang. Sorry kalo gue salah" Jawab Ara sambil membuang pandangannya keluar jendela. Dirinya tak sanggup jika harus beradu tatap dengan mata tajam milik Dev yang memiliki begitu banyak pesona.


Ara tersentak kaget ketika tubuhnya dibawa kedalam pelukan hangat Dev. Matanya mengerjap beberapa kali karena terkejut dengan apa yang Dev lakukan.


"Maafin aku Ra. Aku nggak bermaksud bentak kamu. Aku nggak suka kamu bahas perempuan lain didepan aku. Buat aku cuma kamu, dan bakalan selalu kamu" Ucap Dev lembut kemudian merenggangkan pelukannya dan mencium kening Ara.


"b..bang" Ucap Ara gugup. Jantungnya sudah berdetak tak beraturan mendapat perlakuan manis dari Dev. Padahal Ara sama sekali tidak mempermasalahkan Dev yang membentaknya.


"Kita pulang ya.."


Dev kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membiarkan Ara berperang dengan pikirannya sendiri.


"Lu kaga boleh kaya gini Ra. Mulai besok, lu kudu dan wajib ngehindarin bang Dev lagi. Inget Ra, bang Dev udah punya calon bini. Dosa lu udah banyak banget, jangan lu tambah lagi Ra" Ara terus membatin dan meyakinkan dirinya bahwa perasaan yang ia miliki untuk Dev adalah salah.


"Kaga boleh..kaga boleh kaya gini. Gue pasti bisa..kudu bisa" Ara terus menyemangati dirinya.


Tanpa sadar, Ara menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dev mengernyitkan dahinya, namun sesaat kemudian tersenyum melihat tingkah Ara.


"Dia cuma masa lalu Dev. Masa depan lo udah ada didepan mata. Lo nggak boleh bikin masa depan lo berantakan cuma karena masa lalu" Dev bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Gue cinta ama Ara. Yah..gue cinta ama Ara" Dev terus meyakinkan diri atas perasaannya

__ADS_1


Sepanjang perjalanan keduanya hanya dipenuhi keheningan. Kedua orang itu hanyut dengan pikirannya masing-masing.


__ADS_2