Cinta Kinara

Cinta Kinara
debaran yang sama


__ADS_3

"So..sorry". Ucap Sinta ketus dihadapan Alma yang mengerjapkan matanya beberapa kali meliha Sinta mengulurkan tangan padanya.


"Yang bener dong minta maafnya". Sahut Kirei tak kalah ketus.


"Ini juga udah bener!". Sengit Sinta.


"Mana ada orang minta maaf kaya elo". Sindir Kirei membuat Sinta semakin kesal.


Beberapa saat lalu setelah mendengar penjelasan Kirei dan Sinta, serta memanggil siswi yang kebetulan juga berada didalam toilet, para guru sepakat bahwa Sinta harus meminta maaf kepada Alma.


"Masih untung gue minta maaf". Sinis Sinta


"Masih untung kaga gue tenggelemin lo!". Kesabaran Kirei hampir habis menghadapi gadis menyebalkan seperti Sinta.


"Maafin gue. Gue nggak sengaja". Sinta mengulang permintaan maafnya pada Alma. Namun belum Alma menjawab, suara Kirei sudah mendahuluinya.


"Mana ada kaga sengaja bawa-bawa ember. Dasar nggak masuk akal aja alesan lo".


"Lo bisa diem nggak sih! Gue udah nurunin harga diri gue buat minta maaf ama anak yatim kaya ni orang". Bentak Sinta membuat semua diam. Kirei mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengeras mendengar Sinta menghina temannya.


"Sekalipun dia yatim, otaknya masih bisa dibanggain. Lah elo?? Apanya yang dibanggain?". Tanya Kirei meremehkan. Orang seperti Sinta tidak bisa ia lawan dengan fisik, harus dengan ucapan yang tak kalah tajam.


"Lo..!!" Sinta kehabisan kata-kata membalas semua ucapan Kirei.


"Udah Ki.." Alma memegang lengan Kirei yang hendak bersuara lagi.


"Aku udah maafin kak Sinta kok". Alma tersenyum tulus. Gadis itu memang terlalu lurus.


"Kirei..sekarang kamu harus meminta maaf pada Sinta. Bagaimanapun kamu juga memulainya". Suara pak Joko membuat semua menatap Kirei.


"Sorry. Gue kaga sengaja tadi". Ucap Kirei santai yang membuat Sinta dan ibunya langsung protes.


"Apa-apaan ini?!". Pekik Sinta dan mamanya.


"Ulangi permintaan maaf kamu!". Perintah mama Sinta.


"Nggak ada siaran ulang tante". Sahut Kirei cepat. Sebisa mungkin Ara menahan tawanya agar tidak pecah. Gadisnya itu memang benar-benar jelmaannya.


Sinta dan sang mama akhirnya menyerah setelah berkali-kali meminta Kirei mengulang kata maafnya namun hasilnya nihil. Para guru juga tidak bisa memaksa setelah mendengar alasan Kirei.


"Lah..kan saya cuma ngikutin cara ni orang minta maaf pak. Udah impas lah". Begitulah alasan Kirei.


____


"Maafin Alma ya, buna. Gara-gara Alma, buna harus dibuat malu". Ucap Alma merasa bersalah.


"Sama sekali tidak sayang. Bukankah yang seperti itu memang harus diberi pelajaran?". Ara menenangkan Alma.


"Dan kamu..anak nakal. Berhenti membuat masalah dan lelucon tidak penting. Mengerti?". Peringat Ara menghadap putrinya.


"Iya kanjeng ratuku yang paling ayu sejagat". Jawab Kirei membuat Ara menghela nafasnya panjang.


"Yasudah..buna harus pulang dulu. Kalian jangan membuat masalah lagi".


"Abang..jaga adik-adik kamu. Jangan malah diajarin bikin rusuh". Kini Ara berbalik dan menatap putra kakaknya.


"Abang mah udah jagain. Dasarnya aja anak buna yang satu ini kelewat bar-bar". Sahut Arka santai. Ahh..rasanya Ara lelah menasehati anak-anak muda ini. Ada saja jawabannya.


"Buna pulang dulu. Assalamualaikum".


"Wa'alaikumsalam". Jawab keempatnya kompak. Ara meninggalkan keempat anak muda yang menatapnya hingga tak terlihat lagi.


"Dasar fans abang gila. Gue jadi basah gini. Abang bawa jaket ga?". Tanya Kirei memperhatikan bajunya yang sedikit menerawang karena terkena air.


"Gue bawa mobil neneng".


"Ya kali bawa mobil juga sedia jaket kan. Lo Ga??". Kini Kirei beralih pada Dirga.


"Sama".


"Sama apanya junedi?!". Kesal Kirei membuat Alma dan yang lain tergelak.


"Mana ada Junedi ganteng kaya gue Ki?". Sungut Dirga.


Keempatnya tertawa, seolah tidak pernah mengalami sesuatu yang membuatnya kesal.

__ADS_1


######


"Sekarang gue kemana lagi?". Kirei bermonolog ada dirinya sendiri. Dirinya tengah berada disebuah pusat perbelanjaan seorang diri.


Alma sedang berziarah kemakam kedua orang tuanya, sementara kedua sepupunya sedang berlatih basket bersama. Akhirnya dirinya yang merasa bosan dirumah pergi seorang diri ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari rumah kedua orang tuanya.


"Haish..tau gini gue tidur dirumah aja tadi". Gumam Kirei.


"Dia pacar gue". Kirei tersentak kaget saat sebuah tangan melingkar dipundaknya. Ia menoleh, menatap pria yang mengakui dirinya sebagai kekasih.


Matanya melebar sempurna melihat pria yang tidak asing baginya.


"Aku udah nungguin kamu dari tadi sayang". Ucap pria itu membuat Kirei bergidik mendengar dirinya dipanggil sayang.


Otaknya masih belum bekerja sempurna untuk mencerna kejadian yang sedang ia alami.


"Nggak..aku nggak percaya. Kamu pasti boong Dan". Seru gadis yang berdiri didepan Kirei.


"Dia emang cewe gue. Apa yang nggak mungkin? Iya kan sayang?". Lelaki yang tak lain adalah Daniel mengedipkan mata, mengisyaratkan Kirei untuk mengikuti permainannya.


"Kekasih gundulmu". Batin Kirei.


"Plis bantuin gue". Bisik Daniel tepat ditelinga Kirei membuatnya merinding disko berdekatan dengan seorang pria.


Menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan, Kirei mengangguk. Menuruti permintaan Daniel.


"Nggak mungkin". Gadis dihadapan Kirei menggeleng tegas. Dirinya tak percaya jika lelaki yang beberapa bulan lalu menjadi kekasihnya sudah berpindah hati.


Mata Kirei melotot kala sebuah benda kenyal menempel tepat dipipinya. Ingin rasanya Kirei menghadiahi pukulan keras pada wajah Daniel yang sudah berani menciumnya.


"See..lo udah percaya kan kalo ini cewe gue?".


"Mati lo abis ini". Batin Kirei menatap Daniel kesal.


"Aku bakal aduin sama tante Risa". Gadis itu berbalik dan berlari meninggalkan Daniel yang bernafas lega melihat gadis itu pergi. Namun kelegaannya hanya bertahan beberapa detik karena kakinya diinjak keras oleh Kirei.


"Dasar mesum!!". Desis Kirei kemudian berjalan meninggalkan Daniel yang merintih kesakitan.


"Ki..tunggu Ki!!". Teriak Daniel, namun tidak digubris oleh Kirei.


"Ki..sorry. Gue bener-bener kepaksa". Ucap Daniel penuh penyesalan ketika ia berhasil meraih pergelangan tangan Kirei.


"Lepas".


"Oke..tapi gue bener-bener kepaksa ngelakuin itu". Daniel masih belum melepaskan tangan Kirei.


"Gue bilang..lepas". Ucap Kirei penuh penekanan. Akhirnya Daniel mengalah dan melepaskan cengkeramannya pada Kirei. Ia mengikuti gadis itu berjalan.


"Lo ngapain masih ngintilin gue?". Tanya Kirei menatap tajam Daniel.


"Gue traktir makan ya. Anggep aja ucapan terimakasih gue".


"Nggak!".


"Lo udah dua kali nolongin gue. Sekarang kita makan..gue yang bayarin". Daniel kembali menarik tangan Kirei. Membawa tubuh langsing Kirei mengikutinya menuju basement.


"****". Umpat Daniel ketika melihat segerombolan pemuda yang ia tahu tujuannya ada disana.


Baru saja keduanya keluar dari lift yang mengantar mereka menuju basement, tubuh Kirei tersentak ketika Daniel menariknya sambil berlari.


"Sinting lo!!". Kirei menyentakkan tangannya hingga terlepas. Nafasnya tersengal karena lari mengikuti Daniel.


Kirei seolah lupa caranya bernafas ketika tubuh Daniel merapat tanpa jarak dengan tubuhnya. Tubuhnya menempel pada sebuah pilar penyangga yang besar, sementara Daniel tepat berada didepannya. Wajah keduanya begitu dekat, bahkan Kirei tidak berani mengangkat wajahnya.


"Gue yakin tadi liat itu br*ngs*k lari ke arah sini". Kirei dapat mendengar suara seseorang menggema dibasement.


"Cari nyampe dapet. Kita harus kasih pelajaran ama b***ngan itu!!". Seru suara lain yang semakin membuat alis Kirei berkerut.


"Lo minggir atau masa depan lo gue ancurin". Ancam Kirei membuat Daniel membekap mulut Kirei dan menunduk, tatapan keduanya bertemu. Kirei segera mengalihkan pandangannya kesamping.


"Jangan kenceng-kenceng atau kita bisa babak belur". Bisik Daniel membuat Kirei semakin tak nyaman. Bagaimanapun mereka sudah bisa dikatakan dewasa. Posisi seperti ini membuat Kirei benar-benar merasa tak nyaman.


"Dasar m*sum!!". Kirei mendorong keras tubuh Daniel hingga hampir terjungkal.


"Disana!!". Teriakan itu membuat Daniel bangkit dan menyambar tangan Kirei lagi, namun sayang, sebelum keduanya berhasil meloloskan diri, pemuda berjumlah lima orang itu sudah mengepung mereka.

__ADS_1


"Akhirnya ketemu juga lo b***ngan!!". Ucap seorang pemuda dengan senyum smirknya.


Kirei masih memantau dan hanya menjadi pendengar perdebatan para pemuda itu dengan Daniel.


"Cewe lo boleh juga".


"Jangan mau ama b***ngan ini". pemuda yang lain mulai memprovokasi.


"Gue udh nggak ada urusan ama lo semua. Minggir". Desis Daniel masih menggenggam erat tangan Kirei.


Para pemuda itu tertawa mengejek menatap Daniel dan Kirei bergantian.


"Hajar!!". Seru seorang pemuda membuat yang lain melompat menerjang tubuh Daniel dan Kirei.


Kirei mundur, menjauh dari Daniel dan penyerangnya. Tidak ada niatan Kirei membantu, dirinya hanya menjadi penonton saja. Sementara Daniel yang tidak tahu bahwa gadis yang sedari tadi ingin dilindunginya tengah memperhatikan segala gerakannya.


"Lama". Gumam Kirei memperhatikan jam tangan yang melingkar ditangan kirinya.


Daniel mundur beberapa langkah setelah mendapat pukulan dan tendangan beruntun dari musuhnya.


"Lari dari sini kalo lo liat ada kesempatan. Gue nggak bisa terus lindungin elo". Nafas Daniel putus-putus karena hampir kehabisan tenaga.


Kirei tidak menjawab, namun kaki kanannya tiba-tiba terangkat tinggi menghalau salah satu dari musuh Daniel menghantam punggung pemuda tampan itu.


"Lo..lo..lo semua, laki atauuuu...." Kirei menggantungkan kalimatnya, menatap penuh selidik tepat dibawah pusar para pemuda itu dengan sebelah alis terangkat.


"S*alan!!". Tak menunggu lama, seorang diantaranya maju, berpikir akan mudah menakhlukkan gadis manis itu. Namun sesaat kemudian, mereka hanya melongo melihat Kirei yang begitu gesit menghindar dan segera membalas serangan.


Daniel mengerjapkan matanya beberapa kali, Kirei meliriknya dengan tatapan geli melihat reaksi Daniel.


Kirei mengacungkan telunjuknya, dan menantang lima pemuda itu maju bersama. Dirinya sudah terlalu lama menunggu mereka bemain-main.


"Jangan ngadi-ngadi lo Ki. Elo bisa bonyok". Peringat Daniel berdiri disamping Kirei. Namun gadis itu diam dan tetap fokus pada pemuda yang berdiri didepannya.


__&&&__


"Sejak kapan lo bisa bela diri?". Tanya Daniel penasaran. Keduanya tengah duduk disebuah restoran cepat saji setelah membuat lima pemuda yang mengganggunya babak belur.


"Dari dalem perut". Jawab Kirei ngawur dan melanjutkan makannya.


"Gue serius Ki.."


Kirei meletakkan potongan ayamnya, meminum sodanya kemudian menatap Daniel yang juga tengah menatapnya. Bahkan makanan pemuda itu belum berkurang secuilpun.


"Gue lebih serius!". Kirei mengambil potongan ayam milik Daniel kemudian memakannya.


Kirei mencuci tangannya, perutnya terasa kenyang setelah memakan dua porsi ayam goreng dan juga kentang.


Sejak tadi Daniel terus berbicara membuat Kirei pusing. Sejak kapan dirinya sedekat ini dengan manusia bernama Daniel?


"Lo lama-lama kaya tetangga emak gue ya. Berisik tau". Kirei berlalu meninggalkan Daniel yang langsung mengejarnya.


"Tapi lo tadi beneran keren sih Ki. Sumpah..makin keliatan cantik juga". Puji Daniel tulus.


"Gue udah cantik dari orok". Sombong Kirei membuat Daniel terkekeh. Ternyata gadis yang terkenal galak ini begitu manis jika sudah mengenal.


"Iya..gue percaya". Jawab Daniel jujur. Karena memang sejak bertemu Kirei, Daniel.memang sudah mengakui kecantikan Kirei, bahkan saat Kirei tidak tersenyum.


"Lo ngapain ngintilin gue?". Tanya Kirei melihat Daniel terus mengikutinya.


"Mau ikut lo pulang. Mau ngelamar lo ke orang tua lo".


Kirei tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban Daniel. Ternyata ada manusia lenih sableng daripada kakak sepupunya.


"G*la!!". Desis Kirei mempercepat langkahnya.


Daniel tersenyum gemas melihat wajah Kirei memerah. Wajahnya semakin terlihat cantik dengan semburat merah diwajah putihnya.


"Kaga sopan lo. Biasa aja kali..lo kaga gue ajak marathon". Batin Kirei sambil menepuk pelan dadanya merasakan debaran jantungnya semakin tidak terkontrol.


"Ki..tunggu!". Teriak Daniel membuat Kirei semakin mempercepat langkah kakinya.


Senyum diwajah Daniel semakin jelas terlihat kala melihat Kirei beberapa kali memukul pelan dadanya.


Daniel juga merasakannya, debaran jantungnya sama cepat dan kerasnya seperti Kirei. Dirinya tidak ingin jatuh cinta lagi, namun bertemu dengan Kirei membuatnya tak bisa memungkiri bahwa jantungnya kembali berdebar kencang setiap kali berdekatan dengan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2