
"yang ini gimana sih ra caranya?? Aku pusing ih gak ngerti-ngerti". Sejak tadi Dira terus bertanya tentang soal-soal yang sedang mereka kerjakan saat ini.
"Lu mah kaga dengerin gue sih Dir dari tadi,dijelasin dari A-Z bolak balik ujung-ujungnya nanya lagi. Itu hp taroh dulu napa sih biar pokus". Sepertinya emak Ara belum puas ribut dengan Bapak sore tadi sehingga malam ini dia mengomeli sahabatnya.
"Ini lagi seru ra, liat deh..lucu kan". Dira menunjukkan sebuah video yang menurutnya lucu.
"kaga lucu kalo elu kaga paham-paham ama ini soal. Buruan ih dengerin ini gue jelasin 1x lagi. Kalo masih disambi nontonin hp, gak bakal gue jelasin lagi". Ara berkata tegas, karena sedari tadi sahabatnya terus saja tidak fokus pada belajarnya.
"iya deh..iya. Jangan marah ya.." Dira langsung meletakkan hpnya dan merapat pada sahabatnya.
Ara menjelaskan tentang cara penyelesaian soal yang menjadi pekerjaan rumah untuk mereka hari ini. Karena Dira benar-benar fokus pada penjelasan Ara, kini dirinya sudah paham dengan soal tersebut.
****
Di taman belakang
Sementara didalam kamar Ara sedang sibuk menjelaskan tentang pelajaran yang tidak dimengerti oleh Dira, di taman Dev dan bapak sedang duduk saling berhadapan dengan wajah yang terlihat serius.
Bapak menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya
"sebenernya Ara.." Bapak menjeda ucapannya
"Ara kenapa paman??" Dev yang sudah tidak sabar langsung menyahut.
"tapi saya mohon pada tuan muda, tolong rahasiakan hal yang akan saya katakan ini pada siapapun. Bahkan dari nona Dira sekalipun". Bapak memandang wajah Dev dengan serius.
Dev mengangguk mantap sebagai jawaban.
"hmmmmmmmh". Bapak menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya Ara punya phobia terhadap kembang api tuan muda. Apalagi jika bunyi kembang apinya dalam jangka waktu yang lama. Mungkin Ara bisa pingsan karena akan kesulitan bernafas saking takutnya". Akhirnya bapak menceritakan hal apa yang membuat Ara seperti orang tertekan saat sedang dibioskop tadi.
"kembang api?? Tapi kenapa harus kembang api paman??" Dev bertanya dengan alis yang berkerut dalam, menandakan dirinya benar-benar bingung dengan phobia yang Ara miliki.
"beberapa hari setelah ibunya berpulang, Ara pernah diculik tuan. Saya tidak tahu apa motif penculikan itu. Malam itu malam tahun baru, dan saat tengah malam..saat semua orang merayakan pergantian tahun dengan meriahnya pesta kembang api, saya mendapat kabar dari teman-teman saya dimana posisi Ara. Saat saya kesana ada beberapa orang yang berjaga diluar, semua saya hajar tanpa ampun. Saat saya masuk kedalam bangunan tua itu, Ara saya temukan berada disebuah gudang pengap dalam keadaan yang sangat memprihatinkan tuan. Di tubuhnya banyak luka lebam dan dipipinya ada bekas tamparan yang menyebabkan robekan diujung bibirnya. Saat saya mendekati Ara, anak itu bahkan berteriak histeris sambil terus menutup rapat telinganya. Dan setelah kejadian malam itu, Ara akan histeris jika melihat dan mendengar suara kembang api, sampai umurnya 13tahun..Ara baru bisa mengendalikan dirinya agar tidak berteriak. Namun karena dia menahan rasa takutnya, Ara akan seperti orang yang kesulitan bernafas jika dirinya melihat dan mendengar suara kembang api itu tuan muda". Bapak mengakhiri cerita panjangnya malam itu dengan helaan nafas panjang dengan tatapan menerawang kelangit malam yang gelap.
Dev terpaku mendengar cerita kelam masa kecil gadis yang kini selalu membayangi pikirannya. Sampai suara bapak menyadarkan Dev dari segala pikirannya tentang Ara.
"saya mohon jangan sampai ada yang tahu tuan muda. Apalagi anak itu, bisa-bisa saya dipecat jadi bapaknya cerita begini sama tuan muda". Yaaaah si bapak, tadi abis melow-melow, udah balik ke asal lagi🤦
"Eehh?? Oh iya paman, saya berjanji akan menjaga rahasia ini". Dev sedikit cengo mendengar penuturan bapak tentang dipecat menjadi orang tua. Apakah bisa?? Dev sedikit berpikir.
"Apa masih ada yang ingin tuan muda tanyakan??". Bapak kembali bertanya pada Dev.
"tidak paman, sudah tidak ada lagi. Terima kasih banyak paman". Ucap Dev sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi tuan muda, sepertinya singa betina sudah selesai belajar". Bapak berkata sambil bangkit dari duduknya.
Sementara Dev kembali dibuat bingung dengan ucapan bapak tentang singa betina. Seingatnya dirumah ini tidak ada yang memelihara singa, lalu singa siapa yang dibicarakan bapak?? Dev terus berperang dengan pikiran konyolnya.
"Silahkan paman. Sekali lagi terima kasih". Meskipun sedang dalam kondisi bingung, Dev tetap menjawab ucapan Bapak.
____
"Bapak kamana wae atuh. Eneng teh udah laper nungguin bapak enggak balik-balik". Baru juga memasuki ruang makan di paviliun yang mereka tempati, bapak sudah disambut dengan auman singa betina yang tadi ia bicarakan.
"Ehh..bener kan kata bapak tadi, singa betinanya beneran udah siap nerkam mangsa". Bapak bergumam cukup keras sehingga Ara dan yang lain masih bisa mendengar.
__ADS_1
"Siapa yang dibilang singa betina teh??". Nah loh bapak, ngomong kekencengan kan..itu singa denger pak.
"mati aku". Batin bapak
"eh bukan siapa-siapa neng. Eneng kunaon sih?? Lapar ya makanya sensi sama bapak". Bapak menggoda Ara yang sudah terlihat kesal.
"akang kasih makan petasan renceng ya ini bocah?? Kalo udah ngomong gak pake spasi gak pake tanda baca". Pram yang disebelah Ara berkata pada Bapak.
"Sembarangan si om mah kalo ngomong. Sekalian aja disuapin ama pabrik-pabriknya". Ara bersungut-sungut mendengar ucapan Pram ya menyebalkan.
"Lah kalo bisa ama pabriknya, Bapak lu kaga usah kerja ra..udah kaya dia kalo bisa punya pabrik petasan". Josh ikut menimpali obrolan yang sebentar lagi akan menjadi peperangan untuk bapak dan Ara jika dilanjutkan.
"iiiiihhh..pada nyebelin pisan sih. Aku laper nih, malah diajakin ngobrol terus". Ternyata benar kata bapak, singa betina udah dalam mode lapar berat..pantes makin galak.
"sudah sudah..ayo kita makan. Gak baik ribut didepan makanan..nanti enggak berkah". Ustadz Rahmat mode on.
"Diih..yang mulai ngajak ribut juga siapaaaa??". Ara kembali memancing
"diem dah lu bocah, mau emang lu kalo bapak lu ceramah kaya tadi sore lagi. Bisa bisa kita makannya ntar tengah malem!". Pram yang sudah biasa mendengar perdebatan tak berfaedah bapak dan anak itu langsung menengahi.
"kamu tuh neng.."
"Bapak mau makan sama apa?? Eneng ambilin ya.." Ara langsung memotong ucapan bapak yang sepertinya memang mau mengisi tausyiah lagi malam itu.
"mau sama sayur sop sama ayamnya neng". Ternyata ustadz Rahmat juga laper kebanyakan dakwah hari ini, sehingga dengan mudah Ara mengalihkan pembicaraan dengan menu makan.
Makan malam mereka hening tanpa suara, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring. Karena bapak selalu menekankan peraturan saat makan tidak boleh ada yang berbicara.
"alhamdulillah..kenyang". Ara mengakhiri makan malamnya dengan minum air putih dan mengelap mulutnya dengan tisu.
...__***__...
"kembang api??" Gumam Dev
"kenapa ama kembang api kak?? Mau ada pesta kembang api??". Suara Dira mengejutkan Dev yang sedang asyik dengan pikirannya sendiri.
"Lu ngagetin gue aja sih dek!". Dev berkata dengan nada kesal.
"siapa yang ngagetin sih kak..aku tuh cuma nanya. Kakak aja yang lagi bengong makanya kaget". Dira tidak terima dengan tuduhan Dev.
"dipanggil mama buat makan malam kak, masuk yuk". Dira menyampaikan tujuannya mencari sang kakak.
Dev bangkit kemudian mengangguk seraya berjalan menuju rumah.
Pikiran Dev masih penuh dengan phobia yang dimiliki gadis cantik bermata coklat yang sudah mampu membuat hari-hari Dev seperti dijungkir balikkan.
__________
Hari ini adalah hari minggu, hari dimana semua pengawal bisa bersantai dirumah karena sang majikan sedang menghabiskan waktu bersama keluarganya didalam rumah.
Siang itu setelah makan siang, Ara bersama beberapa pengawal dan pembantu dirumah itu berkumpul ditaman belakang.
Disana sudah ada Ara, Josh, Pram, Tono serta Bi Inah dan bi Susi yang sedang makan rujak bersama.
Ara yang bosan karena tidak ada kegiatan tiba-tiba bangkit kemudian meninggalkan semua orang yang masih menikmati rujak yang dibuat bi Inah dan bi Susi tadi.
"si eneng mau kemana itu Pram??". Bi Inah bertanya pada Pram dan hanya dijawab Pram dengan mengangkat bahu.
__ADS_1
"tadi minta dibikinin rujak, sekarang malah kabur itu anak". Bi Susi ikut berkomentar.
Sesaat kemudian, Ara sudah kembali bergabung dengan membawa sebuah kartu dan bedak tabur.
"buat apa ra??". Josh bertanya dengan mulut yang terus mengunyah buah.
"jorok!! Telen dulu baru ngomong napa sih om!!". Mode ustadzahnya lagi on.
"iya lu Josh, sukurin lu diomelin ama anak ustadz!". Ucap Pram disertai senyum mengejek.
Josh hanya mendengus mendengar ucapan Pram.
"Itu kartu mau buat apaan neng??" Bi Sus sudah kepo sejak tadi.
"Kita main game yuk, nanti yang kalah kita coretin pake bedak mukanya". Ara memandang semua orang yang ada di hadapannya dengan tatapan memohon.
"hayu neng". Pak Tono langsung menyahut
"hayu lah sapa takut, jangan nangis tapi lu kalo entar kalah mulu ya". Ucap Josh mengejek kearah Ara.
"kalo om yang kalah jangan guling-guling kalo kaya kalah main catur ama bapak". Ara memandang remeh pada anak buah bapaknya itu.
"udah hayu mulai..ribut terus kalian ini". Bi Inah langsung menengahi sebelum perdebatan semakin lama.
**
Sudah satu jam mereka bermain kartu, dan wajah semua pemain sudah seperti tepung terigu. Semua sudah pernah terkena hukuman..tawa tak pernah surut dari wajah mereka.
"Astagfirullah..siang-siang gini ada jurig??". Bapak berucap spontan sambil mengelus dada karena terkejut melihat wajah semua orang sudah putih, penuh dengan bedak.
Sesaat kemudian bapak menyipitkan matanya memperhatikan wajah orang-orang yang membuatnya terkejut.
Beberapa detik kemudian bapak sudah tertawa terpingkal-pingkal, bahkan bapak sampai memegang perutnya karena terasa kaku untuk tertawa.
"ya Allah neng..bapak kira kalian teh jurig. Bapak lagi mikir, naha ya aya jurig berang-berang kieu" Bapak berkata masih dengan tawanya.
( ya Allah neng, bapak kira kalian hantu. Bapak lagi mikir, kenapa ya ada hantu siang-siang begini )
"bapak daripada ngetawain gitu, hayu sini berani ikut main engga??". Tantang Ara
"nyepelein bapak kamu mah neng, bapak mah jagonya kalo cuma main kaya beginian, nanti jangan nangis kalo kalah terus kalian ya". Bapak berkata pongah.
Namun belum 15menit bapak ikut bermain, wajah bapak sudah lebih putih daripada Ara. Jelas saja kondisi bapak menjadi bahan ejekan Ara dan kedua anak buah bapak.
"yang katanya gak bakal kalah mah beda om, mukanya langsung paling putih". Ara berkata sambil tertawa mengejek kearah bapak.
"hooh neng..bapak lu mah kaga pernah kalah pas berantem. Main ginian kaga pernah menang". Pram ikut menertawakan bapak.
Akhirnya semua orang tertawa melihat kondisi wajah lawan bermain mereka yang sudah penuh dengan bedak tabur.
*****
Didalam rumah, tuan Aryo dan nyonya Anika yang menyaksikan keseruan Ara dan yang lainnya ikut tersenyum.
Melihat bagaimana cerianya gadis cantik itu membuat semua orang ikut tersenyum bahagia.
"dia benar-benar bikin suasana ceria ya pa, semua orang jadi bahagia kalo deket sama Ara". Nyonya Anika menyandarkan kepalanya dibahu sang suami.
__ADS_1
"Iya ma..Rahmat hebat, bisa mendidik anaknya menjadi anak sehebat dan pemberani seperti Ara. Bahkan anak itu sangat cerdas". Tuan Aryo ikut memuji segala hal yang Ara miliki.
Keduanya terus memperhatikan Ara dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajah keduanya.