
Hanya tinggal menunggu beberapa hari untuk memiliki Ara seutuhnya. Semua persiapan sudah selesai, undangan sudah disebarkan. Seperti perkiraan Dira, akan terjadi kegemparan dikampus ketika mengetahui bahwa salah satu idola kampus mereka akan menikah.
Saat ini Ara ditemani Dev sedang berada dimakam sang ayah, Ara selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam sang ayah setiap 1minggu sekali.
"Assalamualaikum pak, Ara dateng lagi.." Ara mengucap salam.saat sudah berada dimakam sang ayah.
"Bapak..Ara sebentar lagi akan menikah sama abang. Semoga setelahnya bapak tenang disana bersama ibu". Ara mengelus nisan sang ayah dengan mata berkaca-kaca.
Dev mengelus punggung Ara membuat Ara menoleh, Dev menggelengkan kepalanya, mengingatkan gadis itu agar tidak kembali larut dalam kesedihan. Ara tersenyum lembut menenangkan calon suaminya itu.
Cukup lama keduanya bersimpuh disamping makam bapak, membersihkan rumput dan dedaunan yang ada disana.
"Ara pamit pulang dulu ya pak.." Ara bangkit diikuti Dev. Namun sebelum itu, Dev kembali berjongkok disebelah makam bapak dan mengelus nisannya.
"Dev janji akan menjaga dan mencintai Ara seperti bapak menjaga dan mencintainya. Bapak bisa percayakan Ara pada Dev..semoga bapak tenang disana". Ucapan Dev membuat senyum kebahagiaan terbit diwajah cantik Ara. Ia merasa beruntung memiliki Dev didunia ini.
"Kita pulang ya.." Ajak Dev lembut dijawab anggukan kepala oleh Ara Dengan tangan yang saling bertautan, keduanya pergi meninggalkan pemakaman tempat bapak dimakamkan.
*****
"Perut lu kapan gedenya sih. Kaga nambah gede perasaan". Ucap Ara sambil mengelus perut Putri yang kini tengah duduk disebelahnya.
"Ini kan baru trimester pertama Ra, ini juga udah mulai keliatan". Jawab Putri santai.
"Gue nggak sabar nunggu ponakan gue launching".
"Lo kata tas, launching". Putri menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Ara.
"Assalamualaikum.." Terdengar salam dari depan pintu membuat kedua gadis itu saling pandang.
"Wa'alaikumsalam.." Jawab keduanya kompak.
"Gue aja yang buka. Lo diem aja jangan capek capek". Ara mencegah Putri yang hendak bangkit. Putri tersenyum kemudian mengangguk.
Setelah pintu terbuka, nampaklah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tengah tersenyum manis ketika melihat Ara yang membuka pintunya.
"Tante..masuk tan. Putri ada didalam" Ara mempersilahkan wanita yang tak lain adalah ibu mertua kakaknya untuk masuk kedalam.
"Makasih sayang.."
"Mama...kok nggak bilang sih kalo mau kesini". Wajah Putri terlihat berbinar ketika melihat sang mama mengunjunginya.
Ara pergi kedapur dan membuatkan minum untuk mama Dini dan mengambil beberapa kue yang sempat ia buat kemarin.
"Diminum tan.." Ucap Ara sambil meletakkan gelas dan piring berisi kue diatas meja.
"Mama tumben kesini?" Tanya Putri membuat mama Dini mendelik kesal.
"Kamu nggak seneng mama kesini?". Tanya mama Dini kesal. Putri hanya nyengir melihat sang ibu kesal.
"Bukan nggak suka ma, kan biasanya mama ngabarin dulu kalo mau kesini". Ucap Putri tak mau kalah.
"Mama kesini sebenernya disuruh sama tante Anika..bentar lagi bakal ada pegawai salon kesini. Buat perawatan calon pengantin". Goda mama Dini yang berhasil membuat Ara sedikit salah tingkah.
Dan benar saja, tidak berselang lama terdengar bel rumah berbunyi. Pintu dibuka oleh Ara, menampakkan 3 orang wanita dan 1 orang pria yang lebih terlihat cantik daripada tampan . Ara memiringkan kepalanya sedikit, mengamati penampilan pria kemayu yang ada dihadapannya itu.
Si pria kemayu menjentikkan jarinya didepan wajah Ara, membuat Ara terkesiap dan segera mempersilahkan keempat orang itu masuk kedalam rumah.
"Haii jeng Dini..udah lama nggak ketemu. Nggak pernah ke salon eike lagi". Si pria kemayu langsung cipika cipiki dengan mama Dini membuat Ara sedikit merinding.
"Aku terlalu sibuk untuk sekedar mengurus tubuh dan wajah tua ku ini". Jawab mama Dini merendah.
__ADS_1
"Jeng Dini masih awet muda.."
"Ah sekarang bukan aku yang harus kau manjakan, tapi kedua anakku ini. Terutama Ara..Anika sudah memberitahumu kan?" Tanya mama Dini langsung dijawab anggukan kepala oleh Maia, sang pria kemayu.
"Ini Putri, anakmu itu? Lalu ini siapa?" Tanya Maia sambil menelisik penampilan Ara dari rambut hingga kaki. Saat ini Ara hanya memakai kaos kebesaran yang dipadu dengan celana pendek diatas lutut.
"Dia juga anak gadisku, dia adik dari menantuku". Mama Dini merangkul pundak Ara sambil tersenyum.
"Cantik.." Maia berucap sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ara yang justru mengerjapkan matanya beberapa kali melihat kelakuan Maia.
"Sekarang kamu sama Maia ya sayang..dia akan membuat kulitmu sangat halus, dia ahlinya.." Mama Dini mendorong pelan punggung Ara agar mengikuti Maia.
Sedangkan dibelakang mama, Putri tengah terkikik geli melihat Ara yang seperti takut melihat Maia. Awalnya ia juga sama dengan Ara, takut dan ngeri melihat Maia..namun setelah mengenalnya, Putri menjadi biasa saja.
"Sini cantik..ikut kak Mai, kak Mai bakal bikin semua orang pangling liat kamu". Maia langsung menarik Ara kedalam kamar tamu yang akan mereka gunakan untuk melakukan perawatan pada tubuh dan wajah Ara.
Ketiga wanita yang datang dengan Maia segera mengikuti bosnya, diikuti Putri dibelakang mereka.
Beberapa kali terdengar jeritan Ara dari dalam kamar, mama Dini yang sedang membaca majalah diruang keluarga hanya menggeleng dan tersenyum mendengar jeritan Ara.
####
Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Dev, hari yang sudah ia nantikan selama hampir 3tahun lamanya. Hari ini ia akan memiliki Ara seutuhnya, Ara akan menjadi miliknya.
Rumah Bian sudah dihias sedemikian rupa, terlihat indah walaupun sederhana. Ara meminta untuk acara ijab qabulnya dilaksanakan dirumah Bian. Ia tidak lagi membantah jika kedua mertuanya ingin mengadakan pesta resepsi yang meriah, namun untuk acara ijabnya, Ara ingin dirumah sang kakak dan hanya dihadiri oleh orang-orang terdekatnya saja.
Pagi-pagi sekali Ara sudah dibangunkan oleh Putri. Karena MUA yang dipesan mama Anika sudah menunggu Ara diruang tamu.
"Ra bangun dong, kok lo tumben banget sih susah dibangunin. Itu kang makeup nya udah nunggu". Putri mengguncang tubuh Ara beberapa kali namun Ara hanya melenguh dan bergumam saja.
"Hmm...5menit lagi".
Semalam Ara yang merasa tegang akan segera menyandang gelar sebagai nyonya Dev justru sulit memejamkan matanya. Ia bisa tidur lewat jam 2 dini hari, sehingga saat pagi harusnya ia sudah bangun, justru kini ia masih bergelung manja didalam selimutnya.
"Aku capek A..dibangunin nggak mau bangun Ara nya". Keluh Putri pada sang suami. Bian bangkit dan berjalan menaiki anak tangga.
"Dek bangun, lo kaga mau nikah jam segini kaga bangun?". Suara Bian terdengar kesal.
"Hmmm..bentar kak. 5menit". Putri yang berdiri disebelah Bian hanya mendengus kesal mendengar jawaban Ara yang sejak tadi berkata 5menit 5menit setiap dibangunkan.
"Gue mandiin juga lo lama-lama". Karena kesal dan waktu yang tidak banyak, Bian langsung menggendong tubuh Ara yang masih terlelap dibawa masuk kedalam kamar mandi.
"Aa..mau dibawa kemana?". Putri mengikuti langkah kaki sang suami yang semakin dekat dengan kamar mandi.
"Bangunin ni bocah" Jawab Bian kemudian menendang pelan pintu kamar mandi.
Ara bahkan tidak terganggu saat Bian mengangkat tubuh rampingnya. Bian yang sudah sangat kesal melihat kelakuan sang adik meletakkan tubuh adiknya kedalam bathup, kemudian tanpa basa-basi langsung mengguyur adiknya dengan air, membuat Ara gelagapan.
"Kakak..!!!" Teriak Ara setelah melihat siapa yang membuatnya basah.
"Lo mau nikah kaga sih. Gue kirain lo mati bukan tidur." Kesal Bian membuat Ara melotot. Putri yang berdiri didepan pintu tertawa melihat wajah kesal Ara.
"Mandi lo, tu MUA nungguin lo dari subuh. Keburu pada balik kaga jadi kawin lo!" Sinis Bian.
"Nikah!! Kawin mulu pikiran lu. Dasar mesum!" Teriak Ara dari dalam kamar mandi. Ara berdiri dan mengunci pintu kamar mandi, ia mulai menanggalkan pakaiannya dan memulai ritual mandinya. Tak butuh waktu lama untuk Ara membersihkan diri.
Ia keluar dari dalam kamar mandi menggunakan jubah mandi. Saat ia keluar, ia dikejutkan dengan adanya beberapa orang wanita yang ada didalam kamarnya.
Salah satu diantaranya langsung menarik Ara dan mendudukkannya didepan meja rias, mereka memulai pekerjaannya merias wajah pengantin wanita. Mereka harus bekerja cepat, ini semua karena Ara yang terlalu lama dibangunkan. Mereka hanya punya waktu 1jam sebelum acara akad nikah dilaksanakan.
"Jangan tebel-tebel ya mbak". Ara menginterupsi seorang wanita cantik yang akan memulai merias wajahnya.
__ADS_1
"Baik mbak..mbaknya tenang ya. Waktu kita nggak banyak". Jawab MUA itu ramah. Ara menganggukkan kepalanya, dan para perias mulai memoles wajah cantik Ara.
"Sudah selesai belum mba Lani?? Waktunya bentar lagi nih". Putri masuk dengan wajah panik karena ternyata penghulu sudah datang, dan calon mempelai pria sudah ada didepan rumah.
"Mbak Ara kan keluar setelah mas Dev mengucap ijab qabul. Jadi kita masih punya waktu, cuma tinggal pakein kebayanya aja kok". Jawab perias yang bernama Lani santai.
Putri menghembuskan nafas lega mendengar ucapan Lani. Ia memperhatikan Ara yang digiring kedalam sudut ruangan tempat biasa Ara berganti pakaian.
Mata Putri tampak berbinar melihat Ara yang sudah selesai dirias dan kini sudah memakai kebaya putih yang begitu pas dibadannya, terlihat cocok dan cantik.
"Aaaaa...cantik banget!!". Putri dikejutkan dengan suara kedua sahabatnya dari pintu.
"Lo berdua ngapain disini??" Tanya Putri membuat keduanya ingin menoyor kepala Putri, namun mereka urungkan mengingat Putri sedang hamil.
"Kita kesini mau bantu cuci piring". Ketus Dira, dan tanpa menunggu Putri menjawab, ia dan Salsa mendekat pada Ara yang tengah berdiri didepan cermin untuk melihat penampilannya.
"Kamu cantik banget Ra.." Puji Salsa tulus yang langsung disetujui oleh Dira.
"Iya..calon kakak ipar gue cantik banget gustiii". Sahut Dira lebay.
"Lu panggil-panggil gue kakak ipar mulu, geli gue dengernya". Cebik Ara membuat semua tertawa.
Pintu terbuka, menampakkan wajah cantik seorang wanita yang juga Ara sayangi.
"Bunda..." Lirih Ara.
"Kamu cantik sekali sayang..persis seperti ibumu". Puji bunda Sekar dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk tubuh ramping Ara, menyalurkan semua rasa bahagianya. Akhirnya, anak sahabatnya akan menikah.
Mata Ara sudah berkaca-kaca ketika tatapannya bertemu dengan netra bunda Sekar. Bunda menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan Ara untuk jangan menangis.
Sementara disisi lain, Dev merasakan tangannya berkeringat. Bukan hanya tangannya, namun pelipisnya pun sudah berkeringat. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ada kegugupan dalam dirinya.
Saat ini ia sudah duduk dihadapan penghulu dan Bian sebagai wali dari mempelai perempuan.
"Sudah siap mas Dev?" Tanya penghulu memecah keheningan. Dev mengangguk mantap "Siap pak". Jawabnya lantang.
Bian mengulurkan tangannya, menjabat tangan dingin Dev. Tersungging senyum tipis ketika telapak tangannya bersentuhan dengan tangan Dev. Ia tahu pasti seperti apa kegugupan yang melanda calon suami adiknya itu. Karena ia pun pernah mengalami berada diposisi Dev saat ini.
Berkali-kali Dev menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya secara perlahan untuk mengurangi rasa gugupnya.
Bian menggenggam erat tangan Dev dan menatap mata Dev, setelah menenangkan dirinya, Dev mengangkat kepalanya dan membalas genggaman tangan Bian.
"Devano Praja Natakusuma, aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan adik kandungku Kinara Maheswari Dinata dengan maskawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan dibayar TUNAI!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Kinara Maheswari Dinata dengan maskawin tersebut diatas dibayar TUNAI!"
"Bagaimana para saksi? Sah???"
"Saaaaahh!!" Suara itu bergema diseluruh penjuru rumah milik Bian, terdengar hingga kamar yang ditempati oleh Ara. Menandakan bahwa gadis itu sudah resmi menjadi istri dari seorang pria bernama Dev.
Ara tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, air matanya tumpah tak bisa ditahan lagi. Ketiga sahabatnya memeluk Ara, ikut merasakan kebahagiaan yang akhirnya didapat oleh Ara.
Penghulu membaca doa, dan mempersilahkan mempelai wanita untuk keluar. Ara keluar didampingi Putri dan Bunda Sekar, sementara dibelakangnya Dira dan Salsa berjalan mengikutinya.
Semua mata tertuju pada gadis cantik berbalut kebaya putih. Dev bahkan tidak mengedipkan matanya memandangi gadis yang sudah sah menjadi istrinya. Ara terlihat berbeda dengan makeup dan kebaya yang melekat indah ditubuhnya.
Ara didudukkan disebelah Dev, gadis itu masih menundukkan kepalanya. Malu rasanya untuk bertatap muka dengan Dev. Lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya.
"Silahkan mempelai wanita mencium tangan suami, supaya berkah. Nanti biar mas nya bisa cepet cium kening istrinya. Keliatannya masnya sudah nggak sabar mau cium itu".Goda sang penghulu membuat wajah Ara semakin memerah.
Dengan ragu Ara mengambil tangan Dev dan menciumnya. Bergantian dengan Dev yang kemudian mencium kening Ara,.perasaannya menghangat. Akhirnya setelah sekian lama, ia memiliki gadis yang sudah menguasai seluruh ruang didalam hatinya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah mau menjadi istriku". Bisik Dev setelah melepaskan ciumannya.