Cinta Kinara

Cinta Kinara
Semoga saja


__ADS_3

"Aa sakiiiit". Putri menjerit sambil tangannya sibuk mencakar dan menjambak rambut sang suami.


"aaaaaa...Aa juga sakit sayang". Bian tak kalah keras menjerit kala tangan sang istri meremas kuat lengannya.


Dokter beserta bidan dan beberapa perawat hanya tersenyum geli melihat pasangan yang ada didepan mereka ini.


"Kan bikinnya berdua sakitnya juga harus berdua dong!!". Nada suara Putri sudah meninggi sebab menahan sakit.


"Iya..tapi jangan cakar Aa dong" Pinta Bian memelas.


"Aa diem dong. Ngomong mulu!!" Bentak Putri yang kembali merasa sakit pada perutnya.


"Kan dari tadi dia yang ngajak ngomong, napa gue yang diomelin sih". Gumam Bian membuat dokter yang mendengar hampir melepaskan tawanya. Bagaimana mungkin dokter bedah kebanggaan rumah sakit ini yang terkenal dingin dan jarang tersenyum pada sembarang orang bisa bersikap konyol saat istrinya sedang bertaruh nyawa melahirkan anak mereka. Benar-benar pasangan aneh, pikir sang dokter.


"Huaaaaa...mamaaaaaaaa" Tangis Putri semakin kencang, mama Dini yang ada disamping Putri sejak tadi menggenggam tangan anaknya.


"Bisa-bisa kamu kehabisan tenaga untuk mengejan jika terus berteriak seperti ini sayang. Kamu ini, bikinnya aja kamu diem-diem..giliran mau ngeluarinnya bikin orang sekampung geger". Meski mulutnya mengomel, namun tangan mama terus mengelus perut buncit anak gadisnya itu.


"Huuuaaaaa, maafin aku ma. Maafin aku yang selalu ngeyel sama mama, ternyata mama pertaruhin nyawa mama buat lahirin aku". Putri terisak membuat mama ikut menangis.


"Tenanglah sayang, kamu pasti bisa..berdoa, jangan malah ribut sama suami kamu". Suara mama terdengar kesal diakhir kalimatnya.


"Aaaaaa....." Teriak Putri ketika merasakan perutnya semakin sakit.


"Mules A, aku mules..mau ke kamar mandi". Pinta Putri membuat dokter semakin tersenyum lebar. Sang dokter memberi kode pada bidan untuk melihat apakah si jabang bayi sudah siap lahir.


"Tarik nafas nyonya..ikuti aba-aba dari saya ya". Dokter menginstruksi Putri.


Putri menarik nafas kemudian menghembuskannya.


"Dorong nyonya..ya, begitu..sekali lagi nyonya, tarik nafas lagi..dorong.."


"Aaaaa....." Putri menjerit bersamaan dengan suara tangisan bayi yang langsung membuat tubuh Bian merosot. Lelaki gagah itu tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan bahagianya.


"Selamat nyonya, tuan..bayi anda laki-laki, sehat dan normal tanpa kurang suatu apapun". Jelas dokter membuat air mata Putri semakin deras.


"Aa.." Suara lemah Putri menyadarkan Bian dari segala kebisuannya. Ia berdiri disamping sang istri, menghadiahi ciuman diseluruh wajah istrinya sebagai bentuk terimakasihnya karena sudah berjuang melahirkan buah hati mereka.


"Terimakasih sayang, terima kasih banyak". Bian kembali menghujani wajah istrinya dengan kecupan. Putri hanya mengangguk dan tersenyum, tenaganya benar-benar terkuras habis untuk melahirkan putra mereka.


Sementara diluar ruang persalinan semua orang menunggu dengan tegang. Hingga suara tangis bayi memecah ketegangan diwajah orang-orang itu.


Tak lama Bian keluar dari ruang persalinan, namun ada sesuatu hal yang membuat semua orang ingin meledakkan tawanya.


"Ka..kak?? Kakak baik-baik aja?? Putri gimana?? Keponakan aku gimana??" Tanya Ara beruntun tanpa memberi kesempatan Bian menjawab.


"Dia udah lahir dek, kakak udah jadi ayah sekarang". Bian memeluk erat adiknya, menyalurkan kebahagiaan yang ia rasakan pada sang adik.


Ara menangis bahagia mendengar sahabatnya sudah melahirkan dengan selamat, bayi nya pun sehat tak kurang suatu apapun.


"Alhamdulillah". Semua orang mengucap syukur atas karunia Allah yang begitu besar.


"Selamat ya Bi..kamu sudah menjadi ayah". Mama Anika merentangkan kedua tangannya agar Bian memeluknya, ia sudah menganggap Bian sebagai putranya sendiri.


"Terimakasih tante". Bian balas memeluk mama Anika.

__ADS_1


"Ta..tapi, didalem ada angin topan atau ada badai kak, atau mungkin kakak bertarung dengan seseorang didalam? Preman mungkin?" Tanya Ara menahan tawa. Sementara wajah yang lain semakin memerah menahan tawa mereka.


"Angin topan? Badai?? tarung?? Preman apaan lagi dah lo. Ya jelas kaga ada lah. Ya kali dirumah sakit ada badai apalagi preman. Dasar aneh-aneh lo mah". Semprot Bian pada sang adik, dia sudah kembali pada mode siap tempur dengan sang adik yang seperti tengah meledek dirinya.


Ara sudah tak sanggup meneruskan pertanyaannya karena sudah tertawa melihat penampilan kakaknya yang berantakan. Kancing baju yang sudah terlepas beberapa, bekas cakaran diwajah dan sepanjang lengannya, serta jangan lupakan rambut yang sudah seperti singa si raja hutan yang baru bangun dari tidurnya. Ara mendorong Bian agar melihat penampilannya pada kaca jendela ruangan bersalin istrinya.


"Astagfirullah.." Bian sendiri pun terlonjak kaget melihat penampilannya yang sudah sangat berantakan. Tawa semua orang pecah melihat ekspresi Bian yang kaget, tak terkecuali Ara. Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malu dengan penampilannya yang sudah awut-awutan.


Dev tersenyum lega melihat tawa istrinya, sudah cukup lama ia tidak melihat tawa lepas Ara. Selama ini Ara tertawa hanya untuk membuatnya tenang, tapi hari ini..ia benar-benar melihat Ara tertawa dengan lepas tanpa beban.


Bian kembali masuk kedalam ruang persalinan, kemudian pergi mengikuti perawat yang membawa buah hatinya yang sudah dibersihkan untuk ia adzani. Sementara Putri dipindahkan ke kamar rawatnya setelah selesai dibersihkan.


"Ya Allah..keponakan aunty ganteng banget sih". Ara menoel lembut pipi gembul keponakan pertamanya.


"Boleh gendong ngga??" Tanya Ara pada kakak dan kakak iparnya.


"Ya boleh lah, masa nggak boleh". Bian segera menjawab membuat binar kebahagiaan dimata sang adik jelas terlihat.


"Kamu ganteng banget sih.." Ara mengelus pipi bayi tampan itu dan membuatnya menggeliat didalam gendongannya.


"Namanya siapa kak?" Tanya Ara, membuat Bian dan Putri saling pandang kemudian mengangguk.


"Lo nggak pengen kasih nama buat keponakan lo?" Tanya Putri membuat Ara mengangkat wajahnya yang sejak tadi terlalu fokus pada bayi tampan dalam gendongannya.


"Gue?? Kenapa gue?" Ara balik bertanya pada kakak iparnya. Putri tahu sulitnya Ara bangkit setelah kehilangan calon anaknya, maka dari itu..Putri dan Bian sepakat bahwa mereka akan membiarkan Ara memberi nama pada anak mereka.


"Kakak sama Putri mau kalo yang kasih nama anak pertama kita itu kamu". Bian mengelus pucuk kepala adiknya, membuat Ara mendongak menatap netra teduh sang kakak. Ia tahu Bian dan Putri sengaja melakukan ini untuk membuat hatinya bahagia.


Ara terdiam, memikirkan nama yang bagus untuk keponakan tampannya. Ara menatap keponakan tampannya yang masih terlelap tanpa terganggu dengan suara gaduh orang orang.


"cocok untuk cucu oma yang tampan ini.." Suara mama Dini memecah keheningan. Semua orang bisa melihat bagaimana Ara begitu menyayangi bayi mungil itu. Bahkan beberapa kali Ara menghadiahkan kecupan-kecupan lembut membuat bayi tampan itu menggeliat karena merasa terganggu dengan kelakuan Ara.


"Udah jangan diciumin mulu. Ntar pesek kaya lo idung anak gue". Suara Bian membuat Ara mencebik, kemudian matanya beralih pada bayi mungil yang ia beri nama Arkana itu.


"Seenaknya aja lu bilang, idung mancung kaya gini dibilang pesek". Sengit Ara


"Hmmm..aunty panggilnya Arka atau Rafa aja ya?" Tanya Ara pada bayi mungil yang terlelap dalam dekapannya.


"Mama rasa lebih cocok kita panggil Arka.." Usul mama Dini dan mama Anika bersamaan, kemudian keduanya tertawa terbahak karena pemikiran mereka selalu sama.


Semua ikut tertawa mendengar kekompakan dua wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan modis diusia mereka yang tak lagi muda itu.


####


Enam bulan berlalu tanpa terasa, bayi tampan bernama Arka itupun kini semakin terlihat menggemaskan dengan tubuh yang semakin berisi.


Ara pun sering mendatangi kediaman sang kakak hanya sekedar melepas rindunya pada keponakan tertampannya itu. Sudah banyak hal yang berubah dalam kurun waktu enam bulan itu, sang suami sudah menamatkan kuliahnya. Dan kini ia sedang menempuh pendidikan s2 nya. Dev pun kini juga disibukkan dengan pekerjaan dikantor sang ayah.


"Assalamualaikum keponakan tampannya aunty". Ara memberi salam ketika melihat kakak iparnya tengah menggendong Arka.


"Wa'alaikumsalam aunty cantik aku". Putri menjawab dengan suara menirukan anak kecil membuat Ara tersenyum dan langsung mengambil alih tubuh gembul keponakannya dari gendongan ibunya.


"Kamu kangen tante nggak??" Ara sudah mencium seluruh wajah bocah tampan yang sudah tertawa karena geli.


"Kamu tambah ganteng aja sih, kok kamu gantengnya kaya uncle Dev. Nggak kaya papi kamu". Goda Ara membuat mata Putri melotot seram.

__ADS_1


"Seenak udel lo bilang mirip ama laki lo, anak laki gue tuh. Laki gue denger bisa dipepes lo". Kesal Putri membuat Ara terbahak.


"Ihh..emak kamu galak banget ama aunty. Kamu jangan ikut-ikutan ya ganteng". Ara kembali menciumi pipi tembem Arka, membuat Arka semakin terkikik geli.


"Mau minum apa Ra?" Tanya Putri


"Apa aja. Asal jangan sianida". Gurau Ara membuat kakak iparnya mendengus kesal.


"Lah, anak gue udah merem aja. Lo apain Ra?" Tanya Putri heran melihat putranya tertidur dalam dekapan tantenya.


"Tau dia kalo auntynya capek, makanya di puk puk bentar langsung merem dia". Putri mendecih mendengar kesongongan adik iparnya itu.


"Kamu mah ya, sama mami sama papi susah kalo disuruh tidur. Giliran ama aunty, kamu langsung tidur tanpa harus dikasih asi" Putri menggeleng heran. Mengapa anaknya begitu dekat dengan adik iparnya ini, bahkan Ara tak perlu bersusah menidurkan anak tampan itu. Putri tahu bagaimana sayangnya Ara pada putranya, jadi bukan hal yang aneh jika anaknya itu begitu nyaman jika dekat dengan tantenya itu.


Ara kembali keruang keluarga setelah menidurkan Arka dikamarnya. Ia melihat Putri sedang menonton tv.


"Kita nonton yuk". Ajak Ara membuat mata Putri hampir melompat keluar. Terbentur apa kepala adiknya ini hingga mengajak dirinya menonton drama. Selama ini, sekeras apapun ia dan Dira memaksa Ara untuk menonton drama, Ara hanya akan mengatakan "Nggak masuk akal. Nggak suka". Dan apa ini??? Dirinya mengajak Putri menonton drama???


"Lo kaga kesambet apa-apa kan pas kesini?" Putri meletakkan punggung tangannya didahi Ara.


"Kesurupan maksud lu??" Tanya Ara melotot dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Dira.


"Kesurupan udelmu". Ketus Ara membuat Putri terkikik. Seperti inilah mereka, hanya status mereka saja yang berubah, namun tidak dengan persahabatan dan kelakuan tidak jelas saja yang masih bersemayam dalam diri keduanya.


"Laki lu masih lama kaga pulangnya?" Tanya Ara membuat Putri menoleh, sementara Ara, dirinya fokus pada tayangan pada layar datar didepannya.


"Bentar lagi sih udah kelar jam prakteknya". Putri melirik jam yang ada didinding sebelum menjawab Ara.


Ara mengeluarkan ponselnya, mencari kontak dengan nama sang kakak dan kemudian menelponnya.


"Halo.." Terdengar suara sang kakak dari seberang sana.


"Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakaatuh". Salam Ara seperti menyindir sang kakak.


"wa'alaikumsalam, adeknya kakak yang paling manis, yang paling cantik, paling pinter dan paling sholeha, cuma sayang rada sableng. Ada apa??"


"Muji tapi ngehina, dasar sableng". Gerutu Ara membuat Putri menggeleng dengan senyum kecil.


"Kakaaaak..."


"Mau apa?? Kaga usah sok imut. Mau huek gue". Sengit Bian membuat Ara mencebik.


"Mau dibeliin martabak, ketan kismis ya. Kaga pake lama". Pinta Ara penuh harap.


Putri menautkan kedua alisnya, bingung dengan permintaan adik iparnya yang semakin aneh. Ini seperti bukan Ara yang ia kenal.


"Kaga salah pesenan lu?" Suara Bian terdengar keheranan.


"Salah? Apanya yang salah". Ara balik bertanya


"Sejak kapan lo doyan martabak ketan?".


"Beliin ya. Pengen gue..ya ya ya??". Melihat Ara yang seperti itu membuat Putri semakin heran. Dulu dirinya pernah membeli martabak ketan, dan dengan jelas Ara bilang bahwa dirinya paling tidak menyukai martabak dengan toping ketan. Katanya aneh, dan apa ini?? Batin Putri bingung.


"Jangan-jangan..." Batin Putri sambil matanya terus mengamati adik iparnya yang sudah kembali fokus pada layar televisi.

__ADS_1


"Semoga saja.."


__ADS_2