Cinta Kinara

Cinta Kinara
tentang Kirei


__ADS_3

"Aku bener-bener nggak ngerti apa yang kak Sinta omongin".


"Nggak usah muna deh lo!! Jijik gue liat wajah sok polos lo?!!". Sinta mendorong keras tubuh gadis itu hingga terhuyung kebelakang. Namun sebuah tangan menahan tubuhnya sehingga pant*tnya tidak jadi mencium kerasnya tanah dilapang tersebut. Gadis yang tak lain adalah Alma menoleh kebelakang, ingin melihat siapa malaikat baik hati yang menolongnya.


"Kirei.." Lirih Alma dengan mata sudah berembun. Takut sekaligus malu dengan apa yang diperbuat Sinta.


"Ki..Kirei? Ngapain lo bantuin bocah ini Ki. Dia udah ganjen gangguin kakak sepupu lo". Sinta menunjuk wajah Alma yang sudah memerah.


Sementara Kirei tersenyum miring melihat gadis seperti Sinta yang tak ada hentinya membuat masalah dalam kehidupan damainya. Ooh..Kirei merindukan kehidupannya dulu, sebelum semua orang tahu siapa dirinya dan kedua sepupunya.


"Haiiishh..drama apaan lagi ini. Awas aja lo bang". Batin Kirei geram.


"Tapi aku bener-bener nggak gangguin kak Arka, kak. Aku berani sumpah". Alma membela dirinya, menangkat kedua jarinya membentuk huruf v.


"Alaaah..cewe miskin kaya lo pasti nyari cowo kaya buat lo porotin kan?! Apalagi ibuk lo cuma seorang janda". Hina Sinta membuat rahang Kirei mengeras. Sudah beberapa minggu ini, dirinya selalu dibawakan bekal oleh Alma karena bilang bahwa masakan ibunya sangat enak. Alma adalah satu-satunya siswi yang dekat dengannya, bahkan ia sudah menganggap Alma teman baiknya.


"Enggak kak..aku berani sumpah. Aku bener-bener nggak punya niatan kaya gitu ke kak Arka. Aku nggak deketin kak Arka". Alma berkata dengan suara bergetar, kepalanya menggeleng keras dengan air mata yang sudah mengalir deras dikedua pipinya.


"Dia itu cuma parasit Ki. Lo harus jauh-jauh dari cewe kaya gini!". Sarkas Sinta membuat Kirei tertawa mengejek.


"Dia? Parasit?". Kirei melirik Alma yang terlihat semakin pucat mendengar ucapan Kirei.


"Ya!! Apalagi kalo bukan parasit. Ngedeketin cowo kaya buat dikuras hartanya, biar dia bisa hidup enak sama ibunya yang janda itu!". Sengit Sinta dengan nada tinggi. Wajah Kirei berubah dingin, tangannya terkepal kuat dengan rahang semakin mengeras. Jika ia tidak mengingat ini lingkungan sekolah, sudah ia pastikan kepalan tangannya melayang bebas kewajah menyebalkan Sinta.


Mereka bertiga sudah menjadi tontonan siswa lain yang kebetulan memang sedang berada dilapang untuk berolahraga. Alma semakin terisak ketika mendengar bisik-bisik siswa lain yang membicarakan tentang dirinya dan sang ibu.


"Dan lo apa?!". Tanya Kirei santai, berdiri didepan Alma seolah dirinya adalah perisai bagi gadis malang itu.


"Ma..maksud lo?". Tanya Sinta balik dengan gugup. Kirei mendecih, memandang remeh gadis yang berdiri angkuh didepannya itu.


"Kalo lo bilang temen gue ini parasit, terus elo apa heh? Apa ada yang lebih buruk dari sebutan parasit?". Ucapan Kirei membuat mata Sinta melotot.


Alma mendongakkan kepalanya yang tertunduk sejak tadi. Malu rasanya..sangat malu bahkan. Ia melihat Kirei yang tampak tenang membela dirinya, ada rasa haru menyeruak dihatinya melihat ada orang yang dengan tulus membelanya.


"Atau...barusan lo lagi ngomong sambil berkaca?". Imbuhnya membuat Sinta semakin melotot. Tangannya terkepal kuat, jika tidak mengingat siapa gadis yang berdiri dihadapannya itu. Sudah bisa ia pastikan rambut gadis itu akan botak.


"Ki.." Lirih Alma. Kirei menolehkan kepalanya sedikit kebelakang, tersenyum tulus untuk menenangkan gadis yang terlihat pucat itu. Setelahnya kembali menatap tajam lawan bicaranya yang terlihat menahan kekesalan.


"Berhenti ganggu orang-orang disekeliling gue. Jangan jadi parasit!!". Kirei berbalik dan menarik tangan Alma. Namun baru beberapa langkah ia berhenti dan kembali menatap Sinta.


"Gue nggak peduli sama apa yang lo lakuin buat dapetin bang Arka! Tapi jangan pernah ganggu ketenangan orang-orang terdekat gue. Inget baik-baik!". Jari telunjuknya sudah teracung, memperingatkan Sinta bahwa apa yang ia katakan bukan main-main.


"Makasih.." Ucap Alma pelan, ia melihat pergelangan tangannya yang masih digenggam Kirei yang berjalan tenang didepannya. Sebuah senyuman terbit diwajah sendunya. Merasa beruntung karena Kirei menyelamatkannya dari rasa malu.


Kirei menghentikan langkahnya, melepaskan genggaman tangannya dan berbalik.


"Berhenti jadi orang lemah, angkat kepala lo dan lawan semua yang nindas lo! Cuma itu cara lo berterimakasih ke gue". Ucap Kirei tegas membuat Alma mengerjapkan matanya beberapa kali.


Setelah otaknya bisa mencerna setiap kalimat yang terlontar dari mulut Kirei, Alma tersenyum lembut dan mengangguk. Kirei ikut tersenyum tipis kemudian mengajak Alma kembali ke kelas. Kirei berharap Sinta akan berhenti mengganggu Alma.


"Si Jubedah emang beda bang. Cewe baddas pokoknya mah". Dirga sampai geleng kepala melihat aksi Kirei. Sementara Arka masih diam, apakah ini karena kesalahannya yang selalu bersikap manis pada semua gadis? Hingga gadis-gadis itu merasa mempunyai hak istimewa atas dirinya.


"Woii!!! Bengong ae lo bang". Dirga menepuk keras pundak Arka ketika tidak mendapat respon.

__ADS_1


"Anj**!! Bege lo!! Jantung gue loncat!". Sengit Arka mengelus da**nya.


"Ya elo ngelamun mulu. Kenapa lo?" Tanya Dirga dengan seringai mengejek.


"Si Alma digituin ama Sinta gara-gara gue ya Ga??". Tanya Arka pelan.


Dirga tergelak, ada apa dengan kakaknya ini? Tidak biasanya lelaki itu peduli dengan gadis yang berseteru karena dirinya.


"Si kambing!! Malah ketawa lo. Gue nanya beneran koplak!". Arka menggeplak kepala Dirga pelan.


"Siap-siap aja lo bang dikukus, digoreng, dipanggang bolak balik ama Kirei". Dirga kembali tertawa membuat Arka bingung.


"Maksud lo apaan?". Tanya Arka dengan wajah bingung.


"Kaga liat gimana tadi tu macan betina ngebelain si Alma Alma itu. Mamp*s lo bang..abis ini gue jamin lo diceramahin ampe lusa ama Kirei. Sabar-sabarin ae lo bang. Hahaha". Setelah mengatakannya, Dirga berlalu meninggalkan Arka yang tiba-tiba merasa sulit hanya untuk menelan ludahnya.


"Mamp*s gue". Gumam Arka, lelaki itu kemudian berjalan gontai menuju kelasnya.


#####


Kerutan didahinya tercetak jelas, Kirei sedang menatap jajaran mobil yang ada dihalaman rumahnya. Ia mengenali dua mobil yang jelas milik orang tua Arka dan Dirga. Tapi ada satu mobil yang tidak Kirei kenali. Perlahan ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Dari pintu ia bisa mendengar suara tawa yang memenuhi seisi ruangan.


"Assalamu'alaikum.." Kirei membuka pintu dan masuk mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam". Jawab semua orang didalam rumah.


"Kamu sudah pulang nak?". Tanya Ara membuat Kirei mencebik.


"Terus kalo belom pulang ini siapa buna?". Tanya Kirei balik.


"Ck..tinggal jawab saja apa susahnya sih. Ngeyel mulu kalo sama buna". Cebik Ara.


"Iya baginda ratuku yang paling cantik, anakmu ini sudah kembali pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun". Kirei membungkukkan badannya seolah sedang memberi hormat pada seorang raja.


Pria dan wanita asing yang ada disana tergelak melihat interaksi Ara dan Kirei.


"Kamu tidak akan salim sama temen ayah?". Ucapan Dev menghentikan perdebatan ibu dan anak itu sebelum berlanjut dan tak ada habisnya.


Kirei mencium punggung tangan sepasang suami istri yang menjadi tamu sang ayah.


"Kamu cantik sekali sayang". Wanita yang juga seumuran dengan sang ibu mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Kirei tersenyum sopan kemudian mendaratkan pant*tnya disebelah sang ayah. Bergelayut manja pada lengan ayahnya dan berakhir menjatuhkan kepalanya dipundak lebar ayahnya itu.


"Kenalkan sayang..ini aunty Raisya, kakak buna". Ara memperkenalkan tamu yang ternyata adalah Raisya dan suaminya.


"Dan ini, suami aunty Raisya..namanya uncle.." Belum selesai Ara mengenalkan suami Raisya, lelaki itu sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Uncle Sam..uncle kamu yang paling tampan diantara uncle kamu yang lain". Ucap Sam penuh percaya diri.


Kirei terkikik mendengar Sam memperkenalkan dirinya, dirinya merasa sudah lama mengenal Sam dan Raisya meski ini baru kali pertamanya mereka bertemu.


"Anda narsis sekaliii tuaaan". Canda Kirei meladeni kenarsisan Sam. Ara dan yang lain hanya tertawa melihat Kirei yang langsung akrab dengan Sam.


"Buna..dimana mami dan mamah??". Kirei menanyakan keberadaan kedua tantenya.

__ADS_1


"Kami disini sayang..apakah kamu sudah merindukan kami?". Sahut Dira yang berjalan dari arah dapur dengan membawa nampan berisi minuman, diikuti Putri yang keluar membawa beberapa kue buatan Ara.


"Tidak..sama sekali tidak. Ki pusing kalau mami dan mamah berdebat. Sangat sangat memusingkan". Kirei menggeleng keras membuat Dira dan Putri mencebik kesal. Kirei hanya terkekeh melihat kekesalan dua wanita kesayangannya itu.


"Anakmu memang menyebalkan!". Sungut Putri membuat Ara terkekeh.


"Kamu mau tahu..siapa tadi namamu? Bahkan kamu belum memperkenalkan dirimu pada kami". Tanya Sam yang tidak ingat dengan nama Kirei.


"Ish..uncle mengajakku beebicara sejak tadi tapi tidak tahu namaku". Kesal Kirei


"Namaku Kirei om, Kirei Gayatri Natakusuma".


"Nama yang cantik, persis seperti orangnya..sangat cantik". Puji Sam tulus.


"Kamu ingin tahu cerita ketika ibumu akan melahirkan, Ki??". Tanya Sam memancing. Kirei langsung menganggukkan kepalanya antusias.


"Apakah uncle tahu??". Tanya Kirei semakin penasaran.


Sam mengangguk cepat "Tentu saja uncle tahu, bahkan uncle menjadi korban ibumu sebelum kamu lahir kedunia". Ada sedikit nada kesal ketika Sam mengingat perjuangannya ketika Ara akan melahirkan. Sam menceritakan semua yang dialaminya ketika Ara mengalami kontraksi. Kirei tertawa hingga memegangi perutnya.


"Jadi..kamu harus patuh pada uncle. Karena uncle juga ikut berjuang seperti ibumu". Sam mengakhiri ceritanya dengan nada dibuat seserius mungkin.


"Baiklah paduka raja..hamba akan patuh dengan titah yang mulia". Kirei berdiri kemudian membungkukkan badannya, membuat semua orang tertawa melihat tingkah kedua orang berbeda usia itu.


"Lalu dimana anak uncle dan aunty sekarang?". Pertanyaan Kirei membuat semua orang terdiam. Raisya sudah menceritakan kepahitan hidup yang ia alami bersama Sam. Dirinya tidak bisa memiliki anak setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, kala itu dirinya tengah hamil muda. Benturan keras pada perutnya membuat janin yang tumbuh didalam rahimnya tidak bisa diselamatkan. Bukan hanya itu, ada kenyataan pahit lain yang harus mereka terima. Rahim Raisya rusak dan terpaksa harus diangkat untuk menghindari komplikasi. Sudah berkali-kali Raisya meminta Sam untuk menikah lagi dan menceraikannya agar bisa memiliki keturunan. Namun Sam menolak dengan tegas ide gila Raisya. Baginya kehiduoan bahagia tidak melulu soal anak, banyak pasangan yang berbahagia tanpa hadirnya seorang anak.


"Apa pertanyaanku menyinggung aunty dan uncle?". Tanya Kirei pelan ketika melihat wajah uncle dan aunty barunya berubah sendu.


"Tidak sayang..aunty kurang beruntung sayang. Allah tidak mempercayakan keturunan pada aunty". Jawab Raisya dengan senyuman hangat, namun mataya sudah berembun.


Kirei menutup mulutnya yang menganga lebar. Dirinya telah melakukan kesalahan dengan bertanya sesuatu yang menyakiti orang lain.


"Maafkan aku aunty..aku benar-benae tidak bermaksud membuat aunty dan uncle Sam sedih".


"Tidak masalah Ki..aunty dan uncle sudah bisa menerimanya. Walaupun kadang aunty merasa iri pada wanita yang bisa mengandung dan melahirkan anaknya. Aunty tidak seberuntung mereka". Suara Raisya terdengar bergetar menahan tangis.


"Kaaak..." Lirih Ara mengelus lengan Raisya lembut. Kirei bangkit, duduk diantara Ara dan Raisya. Ia menggenggam tangan Raisya yag terasa dingin, ia tahu wanita itu tengah sakit mengingat kehidupannya.


"Bukankah aunty adalah kakak buna??". Tanya Kirei membuat Raisya mengangguk dan membalas genggaman tangan Kirei.


"Bukankah kakak buna juga ibuku?". Tanya Kirei lagi membuat Raisya menatap gadis cantik yang duduk disampingnya.


"Apakah aku bukan anak aunty Raisya dan uncle Sam?". Kirei kembali bertanya, setitik cairan bening lolos begitu saja membasahi pipi Raisya. Perlahan ia menganggukkan kepalanya didepan gadis yang masih tersenyum lembut padanya.


"Kalau begitu, sekarang aunty dan uncle sudah memiliki anak bukan? Jadi tidak ada alasan bagi aunty untuk menangis. Mulai sekarang teesenyum dan berbahagialah". Kirei menghapus air mata Raisya yang semakin mengalir mendengar ucapan tulus gadis berusia 17tahun itu.


"Terimakasih sayang untuk kebahagiaan ini". Raisya memeluk erat tubuh Kirei dan langsung dibalas tak kalah erat oleh Kirei.


"Aku sudah memiliki buna dan ayah, pun papi dan mami. Bahkan papah dan mamah..jadi aku sekarang juga memiliki daddy and mommy". Ucap Kirei sumringah membuat Sam tersenyum bahagia melihat senyum kebahagiaan Raisya yang hilang bersamaan dengan hilangnya harapan mereka memiliki anak.


Raisya kembali membawa Kirei dalam pelukannya "Terimakasih Kinar, terimakasih kamu sudah melahirkan malaikat sepertinya. Darahmu benar-benar mengalir deras dalam tubuhnya. Dia gadis yang mencintai keluarganya. Semoga kamu selalu bahagia nak". Batin Raisya.


Ara tersenyum bangga melihat kedewasaan putri semata wayangnya itu. Ia memandang sang suami dengan tatapan teduh, begitupun Dev yang memandang Ara penuh cinta.

__ADS_1


Ara tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan sebahagia ini, dipenuhi cinta yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Cinta yang besar dari suaminya, kasih sayang dari kedua mertua dan saudara iparnya. Dan kini, hidupnya lengkap sudah dengan putri cantik yang begitu istimewa.


__ADS_2