
Dev dan Raisya sama-sama mematung dengan mata yang masih saling pandang.
Dapat Ara lihat perbedaan arti pandangan keduanya, Raisya dengan air mata yang hampir tumpah, sedangkan Dev menatap Raisya dengan mata memerah seperti menahan amarah dan kekecewaan.
"Abang, kenalin..." Belum sempat Ara menyelesaikan ucapannya. Dev sudah memotongnya.
"Aku duluan ya Ra" Tanpa menunggu Ara menjawab, Dev berlalu begitu saja dari hadapan Ara.
"Dev..tunggu!!" Teriak Raisya.
"Kakak tinggal dulu ya, nanti kakak hubungin. Kakak udah minta nomor kamu dari kak Ray" Ucap Raisya mencium pipi Ara kemudian berlari mengejar Dev.
Ara mengerjapkan matanya beberapa kali melihat pemandangan didepannya. Kemudian ia mengendikkan bahunya dan berjalan menuju kelasnya pagi ini.
"Dev..tunggu Dev. Kita perlu ngomong, aku bisa jelasin semua" Ucap Raisya setelah berhasil mencekal tangan Dev.
Dev menarik tangannya tanpa memandang kearah Raisya. Bahkan untuk sekedar menolehpun tidak.
"Nggak ada yang perlu dijelasin. Gue duluan" Jawab Dev dingin.
Dev berlalu meninggalkan Raisya yang masih mematung dengan lelehan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
"Maafin aku Dev..maafin aku" Lirih Raisya.
***
"Woii..sendiri aja lu, mana ngelamun lagi. Kesurupan tau rasa lu". Digo mengejutkan Ara yang sedang duduk sendiri ditaman kampus.
Saat tadi ketiga sahabatnya mengajaknya makan, Ara menolak dan memilih untuk menyendiri ditaman kampus.
"Kaga bisa apa ya lu biarin gue tenang bentaaaaaar aja" Jawab Ara.
"Ketenangan elu tuh kalo deket-deket gue" Ucap Digo sambil memainkan alisnya.
Ara hanya mendengus dan membiarkan Digo duduk disebelahnya.
"Ra.."
"Hmm"
"Raaaa..."
"Hm"
"Raaaaaaa"
"Lu panggil-panggil gue sekali lagi, terus kaga ngomong, beneran gue tempeleng lu ya!!" Jawab Ara kesal.
Digo tertawa terbahak-bahak mendengar Ara memarahinya. Sesaat kemudian Digo menghentikan tawanya dan memasang wajah serius.
Diraihnya tangan Ara kemudian ia genggam.
Ara mengernyit melihat Digo yang masih dengan wajah seriusnya menggenggam erat kedua tangannya hingga susah untuk ia lepaskan.
"Gue yakin lo tau gimana perasaan gue ke elo yang sebenernya Ra.." Ucap Digo tiba-tiba.
Ara menghela nafas panjang, ini yang selalu Ara hindari. Ara tidak ingin Digo menyatakan perasaan kepadanya, ia tidak ingin menyakiti hati pria yang walaupun selalu membuatnya kesal tapi sebenarnya baik hati.
"Gue sayang ama lo Ra. Gue nggak mau cuma jadi temen buat lo. Lo mau kan Ra jadi pacar gue?"
Ara membuang nafas kasar mendengar pernyataan cinta Digo.
"Lu kan tau gimana perasaan gue ke elu..elu udah gue anggep temen. Kaga lebih" Ara menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Jangan lu rusak pertemanan kita cuma gara-gara lu pengen milikin gue. Yang namanya sayang itu kaga kudu jadi pacar. Gue juga sayang ama elu, tapi lebih sebagai kakak gue. Lu juga selalu ngelindungin ama ngebelain gue..Jadi gue mohon, kita tetep temenan kaya gini" Ara mengakhiri kalimatnya kemudian menepuk pundak Digo dan berlalu meninggalkan lelaki yang masih diam mematung setelah mendapat penolakan dari Ara.
Digo tersadar setelah Ara berjalan menjauh darinya. Ia segera bangkit dan mengejar Ara.
"Ra..kita masih tetep bisa temenan kan?" Tanya Digo setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Ara.
Ara menoleh kemudian mengangguk disertai senyum terbaiknya.
"Iya lah..lu kan temen gue yang paliiiing baik..." Digo tersenyum mendengar pujian Ara.
"Kalo lagi waras tapi.." Ara menjeda kalimatnya.
"Sayangnya elu jarang waras. Hahahaha" Digo melotot mendengar ledekan Ara, sementara Ara sudah berlari menghindari Digo yang mengejarnya.
__ADS_1
"Awas lo bocah ampe kena ama gue, gue jadiin perkedel lo" Ancam Digo sambil terus berlari mengejar Ara.
Ara berlari sambil sesekali melihat Digo yang masih mengejarnya. Tiba-tiba dirinya menabrak dada bidang seorang pria tinggi. Tubuhnya terhuyung karena kerasnya tabrakan.
"Ara!!!" Teriak Digo yang melihat Ara akan jatuh.
Ara memejamkan matanya bersiap merasakan benturan antara pantatnya dan lantai yang keras. Namun sesaat kemudian ia membuka matanya saat merasakan ada lengan kokoh yang menahan pinggangnya hingga dirinya tidak sampai terjatuh.
"Kalo mau lari-lari itu liatnya ke depan. Bahaya tau." Ucap pria yang masih menahan tubuh Ara.
"Hehehe..makasih kak" Jawab Ara cengengesan.
"Lo gapapa Ra??" Tanya Digo yang sudah ada didekat Ara.
Ara menegakkan badannya dibantu oleh Rayhan.
"Gue gapapa tenang aja" Jawab Ara sambil tersenyum
Ara beralih pada Rayhan yang masih berada disampingnya.
"Kak Ray kok ada disini??"
"Kakak lanjut S2 nya disini Nar, kebetulan ketemu kamu disini. Kamu juga kuliah disini??" Tanya Rayhan balik.
Ara mengangguk "Waaah..jangan bilang kak Raisya juga bakal lanjutin kuliah disini??" Tanya Ara penuh harap.
Rayhan mengangguk sambil mengelus kepala Ara. Digo yang melihat Rayhan mengelus kepala Ara mengepalkan tangan kuat.
"Mau pulang sama kakak? Kita ketemu ayah sama bunda sekalian" Tawar Rayhan.
Ara langsung mengangguk antusias mendengar ajakan lelaki tampan yang ada dihadapannya itu.
Digo melotot melihat Ara yang menerima ajakan dari pria yang baru pertama kali ia lihat. Bahkan Ara terlihat akrab dengan pria itu.
"Lo mau kemana Ra? Lo nggak balik ama gue?" Tanya Digo memegang tangan Ara dengan wajah khawatir.
"Gue balik ama kak Rayhan ya, gue mau ketemu ayah bunda. Lu tenang aja..gue kenal banget ama dia bahkan keluarganya" Jawab Ara menenangkan Digo.
Dengan berat hati, Digo mengangguk dan membiarkan Ara pergi dengan lelaki yang ia ketahui bernama Rayhan.
"Aku telpon anak majikan bapak dulu ya kak. Tadi pagi aku pergi bareng sama dia soalnya" Ara meminta ijin untuk menelpon Dev ketika sampai diparkiran mobil.
Rayhan mengangguk "Kakak tunggu dimobil ya" Lanjut Rayhan.
Ara hanya mengangguk kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dev.
"Assalamualaikum Ra. Kenapa??" Terdengar suara lembut Dev.
"Wa'alaikumsalam bang, hari ini gue pulangnya kaga bareng ama lu ya" Tanya Ara sedikit ragu.
"Kenapa Ra?? Kamu balik lagi ama si sontoloyo??" Tanya Dev dengan nada kesal.
"Hah?? Sontoloyo siapa bang??"
"Digo" Jawab Dev pendek
Ara terkikik mendengar Dev memanggil Digo dengan sebutan sontoloyo.
"Kaga bang..gue balik ama temen. Gapapa kan bang??"
"Yaudah..kamu hati-hati ya. Nanti ngabarin kamu dimana" Pesan Dev.
"Oke siap bang. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Ara mengakhiri panggilan teleponnya dengan Dev, kemudian membuka pintu mobil Rayhan dan masuk.
"Udah teleponnya?? Nggak telpon paman Rahmat sekalian??" Tanya Rayhan setelah Ara duduk dan memakai seatbeltnya.
"Astagfirullah..lupa kak. Hehehe" Ara menepuk dahinya saat teringat bahwa ia belum meminta ijin pada sang ayah.
Rayhan menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan Ara
"Cepet hubungin paman. Nanti beliau khawatir" Rayhan mengingatkan.
Ara segera mencari nomor sang ayah dan meneleponnya. Tak butuh waktu lama, bapak sudah mengangkat telepon darinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum neng"
"Wa'alaikumsalam pak"
"Bapak, aku ikut kak Rayhan kerumahnya ya..Ara mau ketemu sama ayah sama bunda" Ara meminta ijin dari sang ayah.
"Iya sok neng, tapi jangan ngerepotin Rayhan sama keluarganya ya. Jangan pulang malem-malem" Peringat bapak pada anak gadisnya.
Ara tersenyum bahagia mendapat ijin dari sang ayah.
"Iya pak..nanti abis isya Ara udah pulang deh. Makasih bapak. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Setelahnya Ara memutus sambungan telepon dengan bapak.
Perjalanan kerumah Rayhan dipenuhi dengan canda tawa dan cerita Ara selama hidup di kota J mengikuti bapak yang bekerja, hingga tanpa terasa keduanya sampai dikediaman keluarga Rayhan.
Ara disambut senyum hangat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik diusianya yang hampir setengah abad.
Wanita paruh baya yang dipanggil Ara dengan sebutan bunda itu merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan gadis cantik yang sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri.
"Bundaaa.." Teriak Ara
Ara memeluk erat wanita cantik nan anggun itu.
"Aku kangen banget sama bunda" Ucap Ara manja.
"Bunda juga kangen banget sama anak bunda yang cantik ini" Ucapnya sambil merenggangkan pelukan.
"Jadi yang dikangenin cuma bunda aja ini??" Tiba-tiba terdengar suara berat seorang lelaki yang sudah berdiri dibelakang bunda.
"Ayah.." Mata Ara semakin berbinar ketika melihat lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan diusianya kini.
Lelaki itu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan gadis yang memang sudah seperti putri bungsu keluarganya itu.
"Aku kangen juga dong sama ayah.."
"Ayo kita masuk dulu, kita ngobrol didalam saja ayah" Bunda menginterupsi acara peluk memeluk suaminya dengan Ara.
Mereka masuk kedalam rumah besar yang terlihat asri dengan berbagai tanaman yang menghiasi halaman rumah itu.
"Ini anak udah gede masih manja aja sih, hmm.." Goda ayah sambil menoel hidung mancung Ara.
Ara mengerucutkan bibirnya berpura-pura kesal pada ayah.
"Udah..anak bunda jangan manyun gitu ah, jadi jelek. Bunda bikinin kue kesukaan kamu sayang..dimakan mumpung masih hangat" Bunda datang membawa bolu coklat favorit Ara.
"Bunda ter the best. Ara sayang banget sama bunda" Ucap Ara sambil mencium pipi bunda kemudian mengambi sepotong kue yang terlihat menggiurkan.
"Jadi bunda aja yang the best? Ayah enggak ini??" Ayah pura-pura merajuk.
"Ayah juga the best dong..Ara sayang sama semuanya pokoknya mah" Ara memeluk lengan ayah yang duduk disebelahnya.
Rayhan yang melihat pemandangan menyejukkan matanya hanya tersenyum manis sambil matanya terus mengamati wajah cantik Ara yang kini terlihat semakin cantik.
"Cantik" Gumamnya pelan.
Namun sang bunda yang duduk tepat disebelahnya mendengar gumaman putra sulungnya tersenyum kecil.
"Dia memang cantik Ray" Bisik bunda pada putranya.
Rayhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung. Malu rasanya ketahuan memperhatikan Ara.
Sore itu rumah keluarga Rayhan benar-benar meriah dengan kehadiran Ara yang tidak ada hentinya bercerita.
Semua orang sedang duduk diruang tamu sambil mengobrol, hingga sebuah suara membuat semua orang mengalihkan perhatiannya.
"Assalamualaikum" Sebuah suara lembut menyapa indera pendengaran semua orang.
"Wa'alaikumsalam" Jawab semua orang serempak.
Raisya masuk dengan sedikit pincang, dibantu oleh seorang pria tampan yang membantu menopang tubuhnya.
Mata Ara membulat sempurna melihat lelaki yang sedang membantu gadis yang ia anggap sebagai kakak itu.
"Abang??"
__ADS_1