
Pintu ruang operasi terbuka, menampakkan Bian dengan wajah yang terlihat murung, kesedihan terpancar jelas dari wajah tampannya.
"Bagaimana keadaannya Bi??" Tanya papa Aryo ketika melihat Bian berjalan lunglai keluar ruang operasi.
Bian menggeleng lemah dengan genangan air mata yang siap meluncur membasahi pipinya.
"Dia baik-baik saja kan Bi?? Jawab tante Bi!" Mama Anika menggoyangkan bahu Bian meminta penjelasan.
"Bian sudah melakukan yang terbaik. Tapi ternyata Allah lebih menyayanginya". Lirih Bian terisak.
Mama Anika menutup mulutnya, kepalanya menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja Bian sampaikan.
"Enggak..enggak mungkin. Kakak boong kan?!" Suara Ara mengalihkan pandangan semua orang.
Ara berdiri mematung tak jauh dari sang kakak, kepalanya menggeleng kuat dengan lelehan air mata diwajah ayunya.
Ara mendekat, memegang lengan sang kakak dan menggoyangkannya dengan keras meminta penjelasan pada sang kakak.
"Kakak!! Jawab Ara..bapak nggak papa kan? Bapak baik-baik aja kan?!" Tanya Ara dengan air mata yang terus mengaliri pipinya.
Bian menggeleng lemah, kemudian memeluk sang adik dengan erat.
"Maafin kakak, dek. Kakak udah lakuin yang terbaik buat bapak. Tapi Allah lebih menyayangi bapak". Ucap Bian mempererat pelukannya pada sang adik yang semakin kencang menangis.
"Jangan boong kak!!! Ini bukan waktunya bercanda!!" Ara memberontak dalam pelukan Bian, mencoba melepaskan pelukan sang kakak. Namun tenaganya belum sepenuhnya kembali.
"Bilang kalo ini nggak bener kak. Bilang kalo bapak baik-baik aja. Ara mohon kak..." Suara Ara terdengar lirih.
Suara tangisan Ara semakin terasa menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Semua hanya bisa memandang gadis cantik yang kini terlihat rapuh dalam pelukan kakaknya itu.
Mama Anika dan mama Dini tak kuasa menahan air mata melihat bagaimana hancurnya Ara kehilangan cinta pertamanya didunia ini.
"Kenapa kak..kenapa bapak tega ninggalin Ara. Ara masih butuh bapak kak". Suara Ara terdengar bergetar hebat, pandangan matanya kosong menatap pintu ruang operasi.
Pintu ruang operasi terbuka, dua orang perawat terlihat mendorong brangkar yang diatasnya terbaring tubuh kaku dari lelaki yang menjadi cinta pertama untuk Ara didalam dunia ini. Lelaki yang selalu berusaha membuat putrinya tersenyum. Kini dirinya sudah tenang dalam tidur panjangnya, meninggalkan sang putri yang hancur karena kepergiannya.
Ara melepas pelukan kakaknya, menghadang jalan para perawat yang membawa jenazah sang ayah.
Dengan tangan bergetar Ara membuka selimut yang menutupi bapak. Kini dihadapan gadis cantik itu sudah terlihat wajah lelaki yang begitu ia cintai, namun wajah itu tidak secerah seperti biasanya..hanya wajah pucat namun senyum menghiasi wajah itu.
"Bapaaaak!!!" Ara berteriak, tubuhnya luruh disebelah brangkar tempat ayahnya terbaring.
"Kenapa pak..kenapa? Bapak janji akan jagain Ara, kenapa bapak bohongin Ara.?!" Lirih Ara dengan tangan mencengkeram selimut yang digunakan untuk menutupi jenazah bapak.
"KENAPA BAPAK BOHONG!! KENAPA!!! AAARRRGGHH!!" Teriak Ara frustasi.
"Kenapa bapak harus lindungin Ara tadi". Lirih Ara semakin terisak.
Dev tak kuasa menyaksikan Ara, ia memalingkan wajahnya, tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan sekuat mungkin. Namun melihat Ara yang begitu hancur ditinggal sang ayah membuatnya tak mampu untuk tak menangis.
Bian memegang kedua bahu adiknya, membawanya bangkit. Dipeluknya erat sang adik yang terus menangis. Bian mengangguk pada dua perawat yang mendorong brangkar bapak, memberi isyarat agar keduanya meneruskan pekerjaan mereka membawa bapak ketempat pemandian jenazah.
"Bapak mau dibawa kemana kak? Jangan bawa bapak kak..Ara masih mau sama bapak kak. Bilang sama mereka supaya berhenti kak". Ara terus berontak dalam pelukan Bian, namun Bian memeluknya erat.
"Ikhlasin bapak dek..kasian bapak. Kamu punya kakak, kakak yakin kamu bisa dek..kita harus ikhlasin bapak dek. Jangan kaya gini". Lirih Bian disela pelukannya.
"Ara nggak mau yang lain kak..Ara cuma mau bapak".
"Sayang..." Suara mama Anika membuat Ara melepas pelukan sang kakak dan beralih pada calon mertuanya.
"Ma...bapak ma". Ara kembali menumpahkan air matanya dipelukan wanita yang akan menjadi ibu mertuanya itu.
"Sabar sayang..kamu harus ikhlas sayang. Biarkan bapakmu tenang disana ya..ada mama disini, ada papa. Semua orang ada untuk kamu nak". Mama mengelus punggung Ara yang terus bergetar.
__ADS_1
Papa Aryo mengusap air mata yang sudah mengaliri kedua pipinya. Ia tak kalah sedihnya dari semua orang, papa sudah menganggap bapak seperti saudara kandungnya, dan kini ia harus mengikhlaskan orang yang selalu setia mendampinginya.
Mama Anika melonggarkan pelukannya setelah Ara sedikit tenang. Mama menghapus sisa air mata diwajah Ara.
Dev berjalan mendekat pada dua wanita yang ia cintai, ia memegang pundak Ara..membuat Ara mendongak. Air matanya kembali luruh melihat Dev ada dihadapannya.
"Abang.." Lirih Ara. Dev membawa Ara kedalam pelukannya. Dipeluknya erat gadis pujaan hatinya itu. Ia dapat merasakan betapa hancurnya Ara kehilangan sosok ayah.
"Kamu harus ikhlas sayang..abang ada disini buat kamu. Kita semua ada buat kamu". Dev mengelus punggung Ara.
"Kita tunggu petugas selesai memandikan jenazah bapak ya.." Ucap Dev lembut, dijawab anggukan kepala oleh Ara.
Dev menopang tubuh lemah Ara, membantunya berjalan menuju tempat pemandian jenazah.
"Jangan biarkan ada yang bisa lepas dari hukuman Bram. Beri mereka hukuman yang setimpal". Geram papa Aryo.
Kemarahannya kembali memuncak mengingat kejadian beberapa jam lalu.
flasback on
DOR!!!
DOR!!!
DOR!!!
Suara tembakan itu membuat suasana tiba-tiba sunyi.
Ara membalikkan tubuhnya, dan alangkah terkejutnya ia melihat tubuh sang ayah sudah bersimbah darah berdiri dihadapannya. Ayah tercintanya menghadang peluru yang seharusnya merajam tubunya.
"Bapaaaak!!" Ara berlari menyongsong tubuh sang ayah yang sudah limbung.
Ara memangku kepala bapak, wajah yang biasanya dipenuhi dengan senyum itu kini terlihat memucat.
Diletakkannya kepala bapak perlahan, ia bangkit dan langsung menerjang Clara yang terkejut dengan serangan Ara.
Ara memukul Clara dan menamparnya beberapa kali, tangannya menekan leher Clara kedinding membuat wajah Clara memerah karena kesulitan bernafas.
"Gue bakal bunuh lu!!". Ucap Ara penuh amarah. Tak sedikitpun ia melonggarkan cekikannya pada leher Clara.
Dev memegang tangan Ara kemudian menggelengkan kepalanya.
"Jangan sayang..kita pikirin bapak dulu. Kita akan urus mereka nanti". Bujuk Dev. Ara melepaskan tangannya dengan kasar dari leher Clara lalu mendorong gadis yang menjadi penyebab sang ayah terluka hingga tersungkur kelantai. Clara terbatuk karena cekikan Ara.
Ara kembali ketempat bapak terbaring, ia duduk disebelah bapak. Luka bapak ditekan oleh Bian agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Bapak.." Ara memegang tangan sang ayah yang mulai terasa dingin.
Bapak tersenyum pada anak bungsunya, mengangkat perlahan tangannya dan mengelus wajah cantik Ara yang sudah dibanjiri air mata.
"Kamu sudah besar neng..bapak bahagia punya anak seperti kamu. Ibumu pasti bahagia diatas sana memiliki malaikat cantik sepertimu. Bapak akan menceritakan tentangmu nanti saat bapak bertemu dengan ibumu". Ucap bapak pelan disertai senyum dan sesekali meringis merasakan sakit pasa tubuhnya.
Kemudian bapak beralih pada Dev yang duduk disebelah Ara, diraihnya tangan Dev kemudian disatukan dengan tangan putrinya.
"Ber..berjanjilah Dev. Jaga putri bapak, cintai dia seperti bapak mencintainya. Jaga dia seperti bapak menjaganya". Nafas bapak mulai tersengal.
Ara menggeleng kuat mendengar ucapan sang ayah.
"Bapak nggak akan kenapa-napa. Kakak pasti bisa sembuhin bapak. Sekarang bapak jangan banyak ngomong.." Ara menggenggam erat tangan sang ayah.
Bapak kembali tersenyum dan melirik pulang sulungnya. Tangannya memegang tangan Bian yang tengah menekan lukanya. Terlihat jelas kekhawatiran dari sorot mata putra sulungnya itu.
"Tugasmu sekarang bertambah kak..jaga istri dan adikmu baik-baik. Jangan kecewakan bapak dan ibu". Suara bapak semakin terdengar pelan.
__ADS_1
Bian mengangguk menjawab ucapan bapak. Air matanya sudah meluncur melihat kondisi sang ayah.
Pintu terbuka menampakkan papa Aryo dan beberapa polisi serta petugas medis. Sebelum pergi papa Aryo memang menghubungi kepolisian dan membawa ambulance.
Papa berdiri mematung melihat kondisi bapak yang berlumuran darah diseluruh tubuhnya.
"Mat..." Suara papa terdengar bergetar ketika memanggil nama bapak.
Tubuh bapak diangkat untuk dibawa ke ambulance yang sudah siaga didepan rumah.
Saat melewati papa Aryo, bapak memegang tangan papa, membuat semua orang terdiam.
"Sa...saya ti..titip Ara tu..tuan. Sa..saya mohon sa..sayangi di..a seperti a..nak ka..kandung anda sen..diri" Nafas bapak semakin tersengal ketika berbicara pada papa.
Papa mengangguk mantap
"Sejak dulu dia sudah aku anggap anakku sendiri Mat. Pikirkan saja kesehatanmu..anakmu aman bersama kami". Papa menggenggam tangan bapak membuat senyum bapak merekah sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
Semua bergegas membawa tubuh bapak yang sudah tak sadarkan diri. Bian sudah menelpon rumah sakit tempatnya bekerja untuk menyiapkan ruang operasi.
Ara mengikuti langkah kaki petugas yang membawa tubuh bapak, namun ketika sampai didepan pintu, ia membalikkan badannya. Menatap tajam Clara dan kedua orang tuanya yang sudah diborgol oleh petugas kepolisian.
"Kalo bapak sampe kenapa-kenapa. Gue bakal hancurin kalian semua". Ucap Ara dengan tatapan penuh amarah. Setelahnya ia melanjutkan langkahnya diikuti Dev dibelakangnya.
Tubuh yang lelah dan mendapat penyiksaan selama beberapa waktu membuat Ara limbung, untung saja Dev dengan sigap menangkap tubuh Ara yang ternyata sudah tak sadarkan diri.
Semua bergegas menuju rumah sakit, kini kekhawatiran Dev menjadi berlipat ganda. Memikirkan kondisi calon mertuanya dan juga calon istrinya yang tak sadarkan diri.
Papa Aryo sudah menghubungi sang istri, dan juga Bram serta istrinya.
Sampai dirumah sakit, Ara dibawa keruang Igd. Sedangkan bapak langsung dibawa keruang operasi. Bian sendiri yang akan melakukan operasi pada sang ayah.
Namun sayang, luka yang bapak alami cukup serius. Bapak terlalu banyak mengeluarkan darah, sehingga nyawanya tak dapat diselamatkan.
Lama Bian terdiam disamping jenazah sang ayah sebelum akhirnya keluar untuk memberitahu kondisi bapak pada semua orang.
flashback off
Sepanjang perjalanan Ara hanya diam, tak sedikitpun ia berbicara. Hanya air mata yang bisa menjelaskan bagaimana hancurnya gadis itu saat ini.
"Apa sekarang bapak bahagia?" Tanya Ara pada jenazah sang ayah.
Dev dan Bian yang mendampingi Ara didalam ambulance hanya diam mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh gadis itu.
"Apa bapak bahagia jauh dari Ara? Apa bapak bahagia bisa secepatnya bertemu ibu??"
"Lalu kenapa bapak tidak membawa Ara? Kenapa bapak tinggalin Ara?". Gadis yang biasanya galak itu terlihat begitu rapuh saat ini. Air matanya terus saja mengalir meski tangannya tak henti mengusap pipinya.
Dev memeluk bahu Ara dan hanya mengelus lengannya saja tanpa mengatakan apapun. Ia membiarkan Ara menumpahkan segala kesedihannya.
"Apa Ara terlalu nakal kak?? Sampai bapak lelah menasehati Ara dan kemudian lebih memilih meninggalkan Ara??" Tanya Ara pada sang kakak.
Bian menggeleng, dirinya sungguh tak sanggup melihat adiknya yang begitu hancur ditinggalkan oleh ayah mereka untuk selama-lamanya.
"Kamu nggak boleh kaya gini Ra. Kasian bapak..ikhlasin ya sayang". Ucap Dev lembut membawa kepala Ara agar besandar pada dadanya.
"Tapi sakit bang..ini sakit. Kenapa bukan aku, kenapa harus bapak..."
"Lo kuat dek..kakak yakin lo kuat. Kita harus kuat buat bapak. Kita doain yang terbaik buat bapak". Ucap Bian menggenggam tangan adiknya.
"Ara sayang sama bapak.." Lirih Ara kemudian memejamkan matanya, sepertinya ia terlalu lelah menangis.
Dev mengelus kepala Ara dengan penuh kasih sayang, kemudian memandang jenazah bapak yang ada didepannya. Air matanya mengalir, ia harus menerima kenyataan kehilangan calon mertua yang sudah cukup dekat dengannya sejak kecil.
__ADS_1
"Kamu kuat sayang.." Bisik Dev kemudian mengecup pucuk kepala Ara.