Cinta Kinara

Cinta Kinara
kembali


__ADS_3

Hari ini Ara dan ketiga sahabatnya pergi ke pusat perbelanjaan untuk menemani mama Anika dan mama Dini berbelanja.


Sudah sejak 30menit lalu Dira dan Putri mengeluh tentang kondisi kakinya yang seperti mati rasa karena terus berjalan mengikuti sang mama. Sementara Ara dan Salsa hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya terus menggerutu.


"Ma..pulang yuk. Apa enggak makan dulu deh, Dira udah laper ini" Keluh Dira


"Sebentar sayang..Kita ketempat tante Erika dulu. Mama mau mengambil pesanan mama" Jawab mama Anika sambil terus berjalan.


Dira dan Putri menghembuskan nafas kasar.


"Hai jeng Anika, jeng Dini. Lama nggak ketemu" Ucap tante Erika mencium pipi kanan kiri mama Anika dan mama Dini bergantian.


"Iya jeng..pesenan saya sudah jadi jeng?" Tanya mama Anika.


"Oh sudah jeng. Sebentar saya ambilkan dulu"


Tidak lama kemudian, tante Erika kembali dengan membawa kotak kecil berwarna merah ditangannya.


"Ini jeng pesanan anda. Mana yang mau mencobanya?" Tanya tante Erika antusias.


"Ara..sayang. Sini nak" Panggil mama Anika.


"Saya nyonya??" Tanya Ara sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya sayang..Kemarilah" Ucap mama lembut.


Ara mendekati mama Anika yang berdiri didepan pemilik toko perhiasan terkenal itu.


"Waaah..cantik sekali kamu sayang" Puji tante Erika ketika melihat wajah polos Ara yang tetap terlihat cantik.


"Beruntung sekali kamu Anika" Lanjut tantr Erika.


"Ya..aku memang sangat beruntung memiliki Ara" Jawab mama bangga.


"Anika memang sangat beruntung" Ucap mama Dini tak kalah semangatnya.


Ara yang tidak mengerti dengan obrolan ketiga wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu hanya bisa tersenyum canggung ketika ketiga wanita itu memuji dirinya.


"Kemarikan tangan kirimu sayang" Pinta mama Anika


Meskipun bingung, Ara tetap menyodorkan tangan kirinya kedepan mama Anika.


Tante Erika membuka kotak kecil berwarna merah yang ternyata berisi dua cincin couple yang sangat indah.


"Terlihat semakin cantik ketika berada dijari manismu sayang" Puji mama Anika yang baru saja selesai memasangkan cincin di jari manis Ara.


"Aaaa..ternyata benar-benar pas" Heboh tante Erika.


"Kamu benar Erika..sangat cocok untuk Ara" Puji mama Dini.


Ara hanya diam tanpa berani bertanya mengapa dirinya mencoba cincin berlian yang begitu indah itu.


"Waaaah..ini cincin untuk calon istri kak Dev ma??" Tanya Dira heboh.


"Iya sayang..sepertinya calon istri kakakmu seukuran dengan Ara. Makanya mama meminta Ara untuk mencoba cincinnya" Jawab mama.


Jawaban mama Anika mampu membuat tubuh Ara membeku seketika. Hatinya terasa diremas kuat mendengar kenyataan bahwa Dev sudah memiliki calon istri.


*Lalu kenapa kemarin dirinya menyatakan perasaan pada Ara


Apa dia tidak ingat jika memiliki calon istri


Lalu siapa calon istrinya*?


Banyak pertanyaan yang bersarang dikepala Ara.


Itu artinya, Ara harus tahu diri dan menjaga jarak lagi dengan Dev yang beberapa hari lalu baru saja menyatakan perasaannya yang mampu membuat Ara terbang ke angkasa. Namun kini semua mimpinya sirna sudah mendengar ucapan Dira dan mama Anika.


"Ra..Ra!!" Putri menepuk keras bahu Ara karena sejak tadi dipanggil tidak mendapat jawaban.


"Heh..iya apa?!" Jawab Ara tergagap


"Lo kenapa ngelamun gitu sih?" Tanya Salsa.


"Kaga. Gue kaga kenapa-kenapa" Jawab Ara disertai senyum palsu.


****


Selesai dengan urusan cincin, mama Anika serta mama Dini mengajak Ara dan para sahabatnya makan di cafe sebrang pusat perbelanjaan.


"Gue ke toilet dulu ya. Lu pada duluan aja, ntar gue nyusul" Sebelum keluar dari pusat perbelanjaan, tiba-tiba Ara meminta izin untuk ke toilet terlebih dahulu.


Semua mengangguk menyetujui. Para mama dan Dira serta Putri juga Salsa berjalan menyeberang jalan, karena letak cafe berada tepat didepan pusat perbelanjaan, mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja dan meninggalkan mobilnya.

__ADS_1


Selesai dengan urusan belakangnya, Ara keluar dari pusat perbelanjaan seorang diri.


Seseorang dari dalam mobil menyeringai melihat Ara yang berjalan seorang diri hendak menyeberang jalan.


Ara menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan jalanan benar-benar aman untuk dirinya menyeberang.


Namun saat menyeberang jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil hitam tanpa plat nomor melaju kencang hendak menabrak tubuh Ara.


Sebelum mobil itu sempat menyentuh tubuh Ara, tubuhnya dipeluk seseorang dan membawanya melompat ketepian jalan. Keduanya terjatuh dan berguling beberapa meter.


"Lo gapapa kan??" Tanya sang penolong


Ara mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pria yang sudah menolong nyawanya.


"Kinar?? Kinara kan??"


Ara memiringkan kepalanya dengan menyipitkan matanya, mencoba mengingat siapa lelaki yang memanggilnya dengan nama Kinar.


Mata Ara membulat sempurna dengan senyum lebar terpatri diwajah cantiknya ketika mengingat sosok lelaki yang menolongnya barusan adalah lelaki yang sama yang pernah ia idolakan dulu.


"Kak Rayhan??!" Pekik Ara


Pria bernama Reyhan itu hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


"Kamu beneran gapapa Kinar?? Ucap Rayhan memastikan sambil membantu Ara untuk berdiri.


"Sepertinya mobil tadi sengaja ingin menabrak dirimu" Lanjut Rayhan


"Mungkin cuma ketidaksengajaan kak" Jawab Ara tenang. Namun dirinya juga yakin bahwa mobil yang hampir menabraknya memang sengaja ingin mencelakai dirinya.


"Kak Rayhan kapan pulang??" Tanya Ara mengalihkan pembicaraan.


"Baru sebulan disini Nar. Raisya juga ikut pindah kesini" Jawab Adrian.


"Beneran?? Kak Raisya balik kesini juga??Waaah..nggak sabar buat ketemu kak Raisya"


Rayhan hanya mengangguk mengiyakan.


"Yaah..tapi sayang banget kak Bian nya udah keburu keluar buat lanjutin kuliahnya" Terang Ara dengan wajah cemberut.


"Aku udah ketemu Bian disana kemaren sebelum pulang kesini Ra" Jelas Rayhan masih dengan senyum manisnya.


Adik dari sahabat baiknya Fabian yang cukup mampu mengusik hatinya selama beberapa tahun itu, kini ada dihadapannya.


Ara menggelengkan kepalanya.


"Aku sama majikan bapak sama anak-anaknya kak" Jawab Ara.


"Raisya nanyain kamu terus, udah kangen katanya sama adik bawelnya ini" Ucap Rayhan sambil mencubit gemas hidung Ara.


"Aku juga udah kangen banget sama kak Raisya" Jawab Ara antusias.


Kinar adalah panggilan kesayangan yang diberikan Rayhan dan adiknya Raisya untuk Kinara.


Saat sedang asyik mengobrol, Ara mendengar suara sahabatnya yang terdengar panik.


"Ra..lo gapapa??" Putri berkata sambil berjalan mendekati Ara.


"Sayang..kamu nggak kenapa-kenapa kan??" Tanya mama Anika khawatir.


Mama Anika memutari tubuh Ara untuk memastikan bahwa Ara baik-baik saja.


"Saya tidak apa-apa nyonya" Jawab Ara sopan.


Pandangan mama Anika beralih pada lelaki yang tadi menyelamatkan Ara


"Terima kasih sudah menyelamatkan Ara" Ucap mama tulus.


"Sama-sama tante. Saya sudah menganggap Kinar seperti keluarga saya sendiri" Jawab Rayhan sambil mengelus kepala Ara dengan penuh kasih sayang.


Ara tersenyum manis pada Rayhan. Semua orang saling pandang melihat interaksi antara Ara dan Rayhan.


"Kamu kenal dengannya sayang?" Tanya mama Anika.


"Oh iya nyonya..saya lupa memperkenalkannya. Dia adalah sahabat baik dari kak Bian" Jelas Ara menjawab kebingungan semua orang.


"Perkenalkan..nama saya Rayhan tante" Ucap Rayhan sambil mengulurkan tangannya.


"Terima kasih Rayhan" Jawab mama sambil membalas uluran tangan Rayhan.


"Saingan kak Dev berat semua ya Dir. Digo belom kelar, ini udah nambah lagi cowo ganteng. Keliatan banget kalo sayang ama Ara lebih dari sekedar adek" Bisik Putri pada Dira


Dira mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Iya..si Ara banyak yang suka. Kalo enggak cepet dijamin ditikung si kakak" Balas Dira dengan berbisik juga.


"Kalian pada ngomongin apaan sih bisik-bisik semua" Tanya Salsa yang sudah penasaran melihat kedua sahabatnya saling berbisik.


"Ntar kita kasih tau" Jawab Putri


"Kakak mau gabung sama kita makan??" Tawar


Ara.


"Enggak Nar, lain kali aja ya kita makan bareng. Sekarang kakak buru-buru harus jemput ayah sama bunda dulu di bandara" Jawab Rayhan


"Ayah sama bunda juga pulang??" Tanya Ara dengan mata berbinar.


"Hm..mereka bilang udah kangen sama kamu" Jawab Rayhan sambil mengacak rambut Ara.


"Kakak pergi dulu ya, oh iya..ini masukin nomor kamu. Nanti kakak hubungin kalo kamu mau ketemu ayah bunda" Ucap Rayhan sambil menyodorkan ponselnya.


Dengan cepat Ara menerima ponsel Rayhan dan memasukkan nomor ponselnya.


"Udah kak"


"Yaudah..kakak pergi dulu ya"


"Mari semua..Assalamualaikum" Pamit Rayhan


"Wa'alaikumsalam" Jawab semua orang kompak.


Ara masih terus memperhatikan Rayhan hingga menghilang dari pandangannya.


"Ayo sayang kita masuk..kita masuk. Mungkin makanannya sudah siap" Ajak mama


Ara mengangguk kemudian semua orang memasuki cafe untuk melanjutkan acara makan mereka yang belum sempat dimulai.


****


Kini Ara sedang duduk bersama bapak dan Josh serta Pram.


"Ara tadi ketemu sama kak Rayhan pak" Ara bercerita tentang pertemuannya dengan Rayhan sewaktu siang tadi.


"Ketemu dimana neng?" Tanya bapak sambil tangannya terus sibuk memindahkan pion catur.


"Di deket pusat perbelanjaan jalan K pak. Ayah sama bunda juga pulang loh pak" Ucap Ara antusias.


Bapak menghentikan aktivitasnya bermain catur mendengar orang tua dari sahabat anak sulungnya pulang.


"Wah udah lama bapak enggak ketemu sama ayah bunda nya Rayhan. Raisya juga ikut??" Tanya bapak tak kalah semangat.


Ara mengangguk sebagai jawaban.


****


Hari ini Ara pergi bersama dengan Dev ke kampus. Saat turun dari mobil, ada suara yang begitu ia rindukan menyapa indera pendengarannya.


"Kinar??"


Merasa namanya dipanggil, Ara membalikkan badannya. Melihat siapa yang memanggilnya, mata Ara berbinar penuh kebahagiaan.


"Kak Raisya?!" Pekik Ara kemudian menghambur kepelukan gadis cantik nan anggun yang sudah merentangkan kedua tangannya siap menyambut dirinya.


"Aku kangen banget sama kakak" Ucap Ara manja.


"Kakak juga kangen sama kamu Nar, kangen banget malah" Jawab gadis yang tak lain adalah Raisya, adik dari Rayhan.


Raisya merenggangkan pelukannya untuk melihat wajah gadis cantik yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Ayah sama bunda pesen, nanti pulang kuliah kamu harus ikut sama aku kerumah. Nggak pake nolak" Ucap Raisya menoel hidung mancung Ara.


"Adek kakak tambah cantik banget sih" Raisya yang merasa gemas mencubit pipi Ara.


"Aw..kakak mah ih. Hobi banget nyubit pipi ak dari dulu" Ucap Ara dengan bibir mengerucut lucu.


"Ini lagi bibir dimanyun-manyunin gini. Gemes kakak tuh" Imbuh Raisya.


Dev yang sejak tadi masih sibuk dengan ponselnya didalam mobil tidak menyadari bahwa Ara sudah lebih dulu keluar dari mobil. Ia mengernyitkan alisnya melihat Ara mengobrol dengan seseorang diluar mobil.


Dev turun dari mobil untuk melihat dengan siapa Ara sedang berbicara.


"Ra..."


Ara dan Raisya menoleh kesumber suara bersamaan. Mata Raisya membulat sempurna melihat siapa lelaki yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Dev.." Lirih Raisya

__ADS_1


__ADS_2