Cinta Kinara

Cinta Kinara
cap macan tutul


__ADS_3

Ara mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dalam kornea matanya. Terasa ada benda berat yang menimpa perutnya, terlihat sebuah tangan yang melingkar diperut ratanya. Ara menoleh untuk melihat si pemilik tangan. Senyum tipis tersungging dibibir tipisnya, mengingat malam panas yang ia lalui bersama lelaki yang ia cintai. Lelaki yang masih terbuai dialam mimpinya.


Tangan Ara terulur mengelus rahang Dev, kini dirinya benar-benar sudah menjadi istri Dev seutuhnya..menjadi wanita yang sesungguhnya. Wajahnya tiba-tiba terasa panas saat mengingat bagaimana Dev semalam menguasai tubuhnya. Perlahan, Ara menyingkirkan tangan Dev. Namun Ara terkejut karena Dev tiba-tiba mengeratkan pelukannya, menempelkan tubuhnya yang masih polos pada tubuh istrinya.


"A..abang". Lirih Ara


"Ini masih pagi sayang..kita bisa tidur sampai siang". Dev berkata dengan mata yang masih tertutup.


"Kita pasti udah ditunggu dibawah bang ama yang lain". Ara terus berusaha melepas pelukan Dev, namun lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher sang istri membuat Ara merasa geli.


"Kita bisa pesen makan, kita makan dikamar aja sayang..mereka juga pasti tau". Dev memberi gigitan kecil dileher sang istri, membuat Ara menggigit bibir bawahnya. Ara merasakan benda yang terasa keras dibawah sana, ia menoleh menatap wajah sang suami, mata sayu itu..sama seperti semalam sebelum keduanya melakukan pergulatan panas diatas ranjang.


"Bang..kita har...." Suara Ara terhenti saat bibir Dev kembali m*l*m*t bibir tipisnya. Ara hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya. Menikmati semua sentuhan yang diberikan oleh Dev. Ara kembali dibawa terbang ke nirwana oleh sang suami, mereguk nikmatnya surga dunia. Keduanya adalah pemula yang langsung handal dalam sekali coba.


Puas menikmati tubuh sang istri, Dev menggendong tubuh Ara, membawanya kedalam kamar mandi dan memasukkan tubuh lemas Ara kedalam bathup yang sudah ia isi dengan air hangat beserta aroma therapi mawar. Ia ikut masuk kedalam bathup, duduk dibelakang sang istri dan mulai membersihkan tubuh Ara.


Ara sudah menolaknya, namun Dev tetap memaksa. Alhasil Ara hanya pasrah dengan yang dilakukan oleh suaminya itu. Lelaki yang sejak semalam menguasai tubuhnya. Selesai membersihkan diri, Dev yang hendak menggendong Ara keluar dari kamar mandi segera dicegah Ara.


"Ara bisa jalan sendiri bang" Ucap Ara sambil tersenyum. Ia segera berjalan perlahan keluar, bagian bawahnya masih terasa nyeri setelah semalam sang suami mengulangnya berkali-kali hingga membuatnya kelelahan. Dev mengikutinya dari belakang, saat akan berganti pakaian. Ara membawa baju gantinya kedalam kamar mandi. Namun belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu kamar mandi, tangannya sudah dipegang oleh Dev membuat ia menaikkan sebelah alisnya, menatap bingung sang suami yang tersenyum.


"Kenapa harus ganti dikamar mandi? Abang udah liat semua". Goda Dev sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat wajah Ara seketika memerah menahan malu.


"Abang!! Dasar mesum". Ketus Ara melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar mandi. Dev tertawa terbahak melihat istrinya yang kesal sekaligus malu karena ia goda.


Jam menunjukkan pukul 9 ketika Ara keluar dari dalam kamar mandi, ia menghela nafas panjang menyadari sudah terlalu siang untuknya sarapan.


Dev menggandeng tangan Ara dan keluar dari dalam kamar yang menjadi saksi bahwa Ara sudah menjadi milik seutuhnya seorang Devano. Senyum tak pernah luntur dari wajah Dev, membuat ketampanan suami Ara itu semakin jelas terlihat. Beberapa kali mereka berpapasan dengan perempuan yang selalu memandang kagum pada Dev yang sedang tersenyum.


Awalnya Ara hanya acuh, namun semakin lama ia merasa risih dengan tatapan semua wanita yang ia dan Dev temui. Tatapan mereka seperti seorang kucing yang melihat ikan asin, membuat Ara kesal dan melirik sang suami yang sepertinya tidak sadar dengan keadaab sekitarnya. Dev tidak menyadari jika senyuman yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya membuat banyak gadis terus memperhatikannya.


"Gausah senyum-senyum! Sengaja ya biar jadi pusat perhatian". Bisik Ara dengan nada kesal.


Dev menoleh pada sang istri, ia mengernyitkan alisnya, bingung dengan maksud ucapan sang istri. Ara menghembuskan nafasnya kasar ketika Dev masih belum peka dengan maksud kata-katanya. Ara melirik sekitarnya membuat Dev ikut meliriknya, ternyata ini yang mambuat istri yang baru dinikahinya kemarin merasa kesal. Bukannya menghilangkan senyuman diwajahnya, justru lengkungan bibirnya semakin sempurna membuat Ara melotot.tak percaya.

__ADS_1


Dev menundukkan kepalanya dan langsung mengecup bibir Ara membuat Ara semakin melotot. Bagaimana mungkin Dev melakukan itu ditempat umum seperti ini.


Para gadis yang sejak tadi memperhatikan wajah tampan Dev memekik tertahan dengan menutup mulut mereka, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi didepan mata mereka.


"Jangan cemburu sayang, mau sebanyak apapun perempuan didepanku, mau sebesar apapun usaha mereka menggodaku. Didalam sini hanya ada kamu, sekarang dan selamanya". Dev meletakkan tangan Ara didadanya. Kemudian memeluk pinggang istrinya dengan erat, seolah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya hanya milik istrinya, begitupun sebaliknya. Sebuah senyum tipis tersungging dibibir Ara, melirik sinis pada gadis-gadis yang sejak tadi berusaha menarik perhatian suaminya.


Keduanya memasuki lift, mereka akan sarapan diresto hotel yang ada dilantai dasar. Dev tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Keluar dari lift, keduanya bertemu dengan mama dan papa yang sepertinya juga baru selesai sarapan. Mama mengerling jahil melihat menantunya membuat Ara jadi salah tingkah. Tanpa mengobrol, hanya menyapa leat bahasa tubuh. Papa dan mama berlalu, masuk kedalam lift menuju lantai dimana kamar mereka berada.


"Anak kamu ganas juga ya pa. Leher Ara udah kaya macan tutul". Mama terkikik mengingat kondisi leher menantunya. Sementara papa mengangguk, merasa bangga pada sang putra.


"Anak siapa dulu dong ma". Ucap papa bangga dan berhasil mendapat cubitan dilengannya.


Sampai diresto hotel, Ara melihat kedua sahabat Dev yang masih duduk disana. Dev mengajak Ara untuk bergabung dan disetujui oleh Ara. Sebelum bergabung dengan Sam dan Kevin, Dev lebih dulu memesan makanan untuk dirinya dan sang istri.


Dev menarik kursi untuk Ara, mempersilahkan sang istri untuk duduk, kemudian mendudukkan dirinya disamping sang istri. Sejak Ara duduk, Sam sudah menahan tawanya. Membuat Ara bingung dengan apa yang ditertawakan Sam. Sementara Kevin hanya tersenyum sambil menggeleng.


"Lo kalo mau bikin cap ditempat yang kaga keliatan bisa kali Dev. Bikin mata gue yang suci ini ternoda". Ledek Sam membuat alis Ara bertaut, tak mengerti dengan maksud Sam. Sementara Dev sendiri hanya acuh dan meminum jus jeruk yang sudah dipesannya tadi.


Beberapa kali Sam melirik Ara kemudian tersenyum penuh arti.


"Aseekk, penganten baru nih. Kok udah bangun sih". Suara Dira membuat Ara mendongak, menatap Dira yang sudah berdiri disampingnya.


Setelahnya Dira mendudukkan diri dihadapan Ara, namun matanya memicing ketika melihat sesuatu yang aneh dileher sahabatnya.


"Ya Allah..leher lo kenapa Ra??!" Tanya Dira panik, membuat Ara segera meraba lehernya. Ia tak merasakan ada sesuatu yang aneh, namun kenapa sahabatnya ini terlihat panik.


"Ke..kenapa leher gue?? Ada apanya?? Lu jangan bikin gue panik". Ara ikut panik mendengar ucapan Dira. Ia terus meraba lehernya, takut jika ada serangga atau ulat menempel pada lehernya. Salsa menyikut Dira, mengisyaratkan untuk tidak meneruskan ucapannya. Namun sepertinya Dira tidak paham dengan kode yang diberikan Salsa.


"Itu...itu kok kaya macan tutul gitu leher lo sih Ra. Nggak sakit itu?? Lo abis makan apa sih kaya alergi gitu tau.." Mulut Dira terus nerocos membuat Sam tergelak, suara tawanya membuat beberapa orang memperhatikan meja mereka. Kevin menyumpal mulut Sam dengan makanan agar tawanya berhenti.


"Abang..leher aku ada apanya??" Ara memperlihatkan lehernya pada Dev, namun Dev menggeleng.


"Nggak ada apa-apanya sayang. Dira aja yang lebay". jawab Dev santai.

__ADS_1


Dira merogoh tas yang ia bawa, mengeluarkan benda kecil dan menyerahkannya pada Ara. Ara menerima cermin kecil yang diberikan oleh Dira, mengamati lehernya dicermin yang baru saja ia terima dari Dira.


Matanya melotot ketika mendapati banyak tanda kissmark yang dibuat oleh Dev semalam ditambah pagi ini. Ara merutuki kebodohannya yang tidak memperhatikan penampilannya waktu ia bercermin tadi. Wajah paniknya berganti dengan wajah memerah, antara kesal dan juga malu. Kesal karena sang suami tidak memberitahunya, dan malu karena mungkin saja kedua mertuanya pun tadi melihat bekas kissmark dilehernya.


Ara melirik tajam suaminya yang nampak santai menikmati sarapan yang sudah tersaji. Ara mengembalikan cermin milik Dira, kepalanya terus menunduk tidak berani menatap orang-orang yang berada satu meja dengannya. Ia hanya bisa berusaha menutupi bekas kissmark itu dengan rambut panjangnya.


Sam sampai terbatuk karena menahan tawanya agar tidak meledak dan membuat Ara semakin malu. Ia tak menyangka jika sahabatnya bisa sebrutal itu diatas ranjang dan meninggalkan cukup banyak tanda dileher istrinya.


"Lo beneran gapapa Ra?? Perlu kita periksain engga? Jangan-jangan itu DB?". Dira masih belum mengerti keadaan, berbeda dengan Salsa yang menepuk dahinya berulang kali. Meskipun ia belum pernah melakukannya, tapi ia paham, tanda apa yang ada dileher Ara.


"Gapapa..bekas digigit nyamuk". Jawab Ara ketus.


"Gila..dikamar lo ada nyamuk. Wah ni hotel, bintangnya aja banyak. Masa iya dikamarnya banyak nyamuk nyampe leher lo kaya macan tutul gitu". Jawaban Dira membuat Sam sudah tak sanggup menahan tawanya.


"Bukannya lo setrum Ra, biar mati tu nyamuk". Imbuh Dira, dan berhasil membuat Dev tersedak.


"Ntar kalo ada lagi bakal gue setrum. Biar kaku tu nyamuk". Jawab Ara melirik sinis suaminya yang semakin terbatuk mendengar jawaban Ara .


Sam semakin terbahak mendengar ucapan Dira dan jawaban Ara, benar-benar menghibur batin Sam.


"Setrum aja lah Ra, setrum nyampe kaku. hahahaha" Sam ikut mengompori diikuti tawanya yang sudah menggelegar.


"Apanya yang lucu sih, kak Sam dari tadi ketawa mulu. Kasian tau, Ara digigit nyamuk nyampe kaya gini. Kalo gue liat tu nyamuk, pasti udah gue setrum nyampe mati". Dira terlihat mengepalkan tangannya, membuat Sam tak bisa menghentikan tawanya.


"Leher lo jadi kaya sarung cap macan tutul Ra". Ucapan Dira membuat Dev melotot kesal pada adiknya yang sedari tadi terus mengoceh.


"Berisik!". Ucap Dev memasukkan sepotong kue kedalam mulut adiknya.


"Gue duluan ya. Udah kelar". Ara berdiri dan langsung berjalan meninggalkan Dev yang gelagapan melihat tatapan tajam sang istri.


"Sayang.." Dev segera bangkit dan mensejajarkan langkahnya dengan Ara.


"Sayang..jangan marah. Abang tadi beneran nggak liat". Dev menggenggam tangan istrinya.

__ADS_1


"Dasar abang nyebelin!". ketus Ara melepaskan genggaman tangannya dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Dev yang menghela nafas panjang.


"Nggak dapet jatah dong". Keluh Dev lesu.


__ADS_2