
Flasback on
Malam itu dihabiskan Dev untuk menyusuri jalanan kota yang sudah terlihat sepi. Hingga subuh menjelang, tak ada satupun petunjuk yang ia dapatkan tentang keberadaan Ara.
Dev menepikan mobilnya dijalanan yang masih sangat sepi, ia memukul stir mobilnya berkali-kali untuk melampiaskan amarahnya. Dev marah dengan dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa untuk menemukan gadis yang ternyata sudah begitu masuk dan menguasai hati serta pikirannya.
Terdengar suara adzan, menandakan sebentar lagi sang mentari akan menyinari dunia yang kini ia pijak. Dev memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Setidaknya dirinya harus menyegarkan dirinya untuk bisa melanjutkan pencariannya.
Dev memasuki rumah dengan tampang yang sangat kusut. Terlihat jelas bahwa pria tampan itu sangat kekurangan istirahat.
Dev memasuki kamarnya kemudian langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Pagi itu suasana rumah terlihat sangat berbeda. Wajah semua orang terlihat murung, memikirkan bagaimana nasib Ara semalaman yang belum diketahui dimana tepatnya.
"Gimana sayang? Sudah ada kabar tentang Ara nak??" Tanya mama Anika saat melihat anak sulungnya berjalan menuruni tangga.
Dev hanya menggeleng dengan lesu sebagai jawaban dari pertanyaan sang mama.
Dira dan Putri yang sedari tadi hanya mendengarkan kembali menghela nafas panjang. Khawatir akan keadaan sahabat baiknya.
"Kemaren gimana ceritanya dek?" Tanya Dev pada sang adik.
Dira menceritakan semua yang terjadi, dari awal mobilnya dicegat hingga pak Tono yang dipukul dan Ara yang dibius untuk melumpuhkan keduanya.
"Yang mereka incar emang Ara kak. Mereka sama sekali nggak ngedeket ke mobil. Tapi kenapa mereka ngincer Ara??" Ucap Dira bingung.
Dev dan semua yang mendengar hanya menggeleng tak mengerti.
"Ara sudah ketemu ma??" Suara papa Aryo mengejutkan semua orang.
Mama sudah mengabari papa tentang apa yang menimpa Ara. Papa yang kebetulan sedang ada diluar negeri bersama dengan bapak dan Josh sebagai yang mengawalnya, tanpa pikir panjang, papa segera mencari penerbangan pertama untuk bisa kembali ke tanah air setelah mendengar bahwa Ara diculik.
Mama hanya menggeleng lesu, matanya sudah berair mengingat Ara yang sampai saat ini belum ditemukan.
Bapak yang berdiri dibelakang papa tak kalah paniknya. Wajahnya terlihat sangat khawatir, namun bapak tetap mencoba tenang dan berpikir tentang bagaimana cara cepat menemukan Ara.
"Dimana penyerangan itu terjadi nona muda??" Tanya bapak pada Dira.
"Di jalan xxx paman" Jawab Dira cepat
Bapak mengeluarkan ponselnya kemudian mencari sesuatu didalamnya.
"Apa yang kamu cari mat?" Tanya papa Aryo
"Ara adalah gadis cerdas tuan. Dia pasti meninggalkan jejak yang bisa membuat kita cepat mengetahui keberadaannya". Jawab bapak masih sibuk dengan ponselnya.
Bapak mencari posisi Ara melalui ponsel milik anak gadisnya yang memang sudah dipasang alat pelacak oleh bapak.
Setelah mendapatkan lokasi ponsel milik anaknya, bapak langsung menelpon anak buahnya untuk mengecek kesana.
Beberapa saat bapak menunggu, Pram yang bertugas mengecek lokasi ponsel Ara mengabari bahwa ponsel Ara ia temukan di pinggir jalan menuju kawasan luar kota.
Sepertinya para penculik itu sengaja membuang ponsel Ara untuk menghilangkan jejak.
Bapak menghela nafas kemudian berpikir cepat. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya itu.
"Apakah tas Ara dibawa juga oleh mereka nona?" Tanya bapak lagi.
"Tasnya tertinggal paman. Aku menyimpannya dikamar Dira" Kali ini Putri yang menjawab.
"Boleh saya minta nona Putri??" Tanya bapak sopan.
Putri mengangguk kemudian bergegas ke kamar Dira untuk mengambil tas Ara yang kemarin ditinggalkan Ara diatas motornya.
Putri menyerahkan tas milik Ara pada Rahmat. Dengan cepat Rahmat membongkar isi tas anak gadisnya itu. Senyuman lega terpatri diwajahnya, membuat semua orang mengerutkan dahinya heran.
"Ada apa Mat?? Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanya papa penasaran.
"Kita akan segera menemukannya tuan". jawab bapak mantap.
"Benarkah paman?? Ayo kita kesana paman" Ucap Dev semangat. Rasa lelah dan kantuknya hilang seketika mendengar bahwa Ara akan segera ditemukan.
"Saya akan pastikan dulu tuan muda. Setelah itu saya akan menjemputnya"
Bapak sibuk dengan ponselnya kemudian tersenyum semakin lebar ketika mendapat titik dimana posisi Ara saat ini.
"dapat!!" Ucap Bapak bahagia.
"Bagaimana bisa kamu mendapatkannya hanya dalam sesaat?" Tanya papa semakin penasaran.
__ADS_1
"Ara gadis cerdas tuan, dia tidak akan pergi tanpa meninggalkan jejak jika itu bukan kemauannya sendiri. Ara memiliki kalung dari mendiang istri saya yang sengaja dipasang alat pelacak olehnya sendiri" Jelas bapak
Semua mengangguk dan tersenyum lega, setidaknya sekarang mereka sudah tau dimana lokasi pasti Ara.
Tanpa membuang waktu, bapak beserta Josh segera pergi menuju lokasi Ara saat ini. Langkah keduanya terhenti oleh suara Dev.
"Saya ikut paman". Ucap Dev yakin.
"Jangan tuan muda. Disana kita tidak tahu seperti apa kondisinya." Tolak bapak halus
"Saya hanya ingin segera menemukan Ara paman. Saya mohon ijinkan saya ikut. Saya tidak akan merepotkan paman dan om Josh". Pinta Dev
Bapak melihat kearah papa dan mama meminta persetujuan. Keduanya mengangguk mantap tanda mengijinkan Rahmat membawa Dev.
Tidak lupa mereka juga menghubungi pihak kepolisian untuk membantu mereka dikondisi yang tidak terduga nantinya.
Berbekal GPS yang ada di ponsel bapak, ketiga lelaki beda usia itu terus mengikuti kemana arah yang ditujukan untuk sampai ketempat Ara.
Setelah hampir 2jam perjalanan, kini mereka bertiga dan petugas kepolisian sampai dirumah tua yang tidak terawat.
Mereka masih memantau dari jauh. Melihat ada beberapa mobil yang ada disekitar rumah itu. Terlihat pula beberapa pria dengan badan kekar berjaga didepan rumah.
Dengan penuh perhitungan, bapak membagi tugas untuk melumpuhkan semua orang yang berjaga didalam bangunan itu dibantu oleh pihak kepolisian.
Mereka tidak bisa gegabah dalam mengambil tindakan, atau nyawa Ara yang mungkin akan menjadi pertaruhannya.
Setelah mampu melumpuhkan semua orang yang berjaga, bapak dan Dev melihat keseluruh penjuru rumah. Ada beberapa ruang disana.
Dev berlari cepat ketika mendengar suara teriakan dari ruangan yang berada diujung.
Tanpa pikir panjang Dev menendang pintu itu hingga terbuka, dan
brakkkk
"D..Dev"
flashback off
"Br*ngs*k!!!" Teriak Dev saat matanya melihat Clara berdiri didepan gadis yang semalaman ia cari dengan memegang sebilah pisau.
Dev berjalan cepat mendekat. Namun langkahnya terhenti saat Clara mengacungkan pisaunya.
"Ini nggak bener Cla. Lepasin Ara!! Jangan sakiti Ara!"
"Buka iketan j*l*ng sialan itu". Perintah Clara pada pria yang lututnya sudah bergetar ketika melihat sudah ada beberapa polisi bersenjata lengkap ada dihadapannya.
"cepat!!!!" Teriak Clara
Pria yang sudah menculik Ara membuka ikatan tangan dan kaki Ara. Setelahnya Clara berjalan kebelakang Ara dan memaksa Ara untuk berdiri.
"Minggir semua!!! Kalo enggak, leher j*l*ng s*alan ini bakalan putus!!" Teriak Clara.
Semua orang terlihat panik saat melihat Clara yang semakin nekat.
"Letakkan senjata anda nona Clara. Hukuman anda akan semakin berat jika anda melakukan ini". Bujuk salah seorang petugas kepolisian.
"Heh..kalo gue nggak bisa dapetin Dev. Berarti j*l*ng s*alan ini juga nggak akan dapetin Dev". Sinis Clara.
Sementara Ara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Clara.
"Lepas Clara!! Ara sama sekali nggak ada hubungannya sama gue yang nggak bisa nerima cinta lo!" Ucap Dev
"Lepaskan putri saya nona. Jangan sampai anda menyesal telah menyentuh putri saya". Peringat bapak mencoba tenang.
"Kau bangga memiliki putri j*l*ng seperti ini? hah?!!!! Kau bangga!!!" Teriak Clara seperti orang gila.
Ara terkekeh hingga membuat amarah Clara semakin memuncak.
"Tutup mulut s*alanmu itu j*l*ng!!!" Teriak Clara sambil menekan pisau yang menempel dileher Ara. Semakin dalam saja luka di leher Ara kini.
Ara mengedipkan matanya pelan sambil menganggukkan kepalanya, memberi tanda pada bapak dan Josh untuk bersiap. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ara memelintir tangan Clara yang memegang pisau hingga pisau itu terlepas.
Polisi bertindak cepat membekuk Clara. Sementara pria suruhan Clara yang mencoba kabur terpaksa dilumpuhkan dengan tembakan.
Tubuh Ara hampir ambruk dilantai jika Dev tidak dengan sigap menangkapnya. Ara yang masih setengah sadar melihat Dev yang memandangnya lekat. Tersungging senyum tipis dibibir Ara.
"Abang.." Gumam Ara pelan sebelum dirinya benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Ra..bangun Ra" Ucap Dev sambil menepuk pelan pipi Ara.
__ADS_1
Tidak mendapat respon dari Ara, Dev segera mengangkat Ara kemudian berjalan keluar diikuti bapak dan Josh yang berjalan dibelakangnya. Sementara para penjahat akan menjadi urusan pihak berwajib.
Dev membawa Ara menuju mobilnya. Merebahkan tubuh lemah Ara dibangku penumpang.
"Paman ikut dengan mobilku saja" Ucap Dev pada bapak.
Bapak hanya mengangguk kemudian masuk dan memangku kepala putri kesayangannya yang tidak berdaya.
Dev melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bapak tidak sedikitpun berkomentar, yang bapak tahu bahwa tuan mudanya kini sedang sangat khawatir pada putri bungsunya itu.
Sampai di IGD rumah sakit terdekat, bapak segera turun dan membopong tubuh lemas Ara. Mulutnya tak henti berteriak memanggil dokter untuk menolong anaknya.
Dev mengikuti bapak dari belakang.
Dokter membawa tubuh Ara kedalam ruang pemeriksaan. Sementara bapak dan Dev diminta menunggu diruang tunggu IGD.
Dev menghubungi kedua orang tuanya untuk mengabari tentang kondisi Ara. Papa dan mama meminta agar Ara dipindahkan ke rumah sakit milik sahabat papa saat kondisinya sudah membaik.
Hampir 1jam bapak, Dev dan Josh menunggu dokter menangani Ara. Pintu ruangan terbuka,Dev dan bapak langsung berdiri dan menghampiri dokter yang memeriksa Ara.
"Bagimana keadaan Ara dok?" Tanya Dev cepat
"Kondisi nona Kinara sudah stabil, hanya saja butuh waktu untuk menunggunya sadar. Nona Kinara mengalami dehidrasi, sepertinya sejak kemarin tidak ada cairan atau makanan apapun yang masuk dalam tubuhnya. Itu sebabnya butuh waktu lebih lama untuk bisa mengembalikan kesadarannya. Namun dari hasil pemeriksaan keseluruhan, keadaannya bagus, dari yang saya lihat nona Kinara juga tidak memiliki trauma pada kejadian ini. Hanya butuh istirahat dan makan yang cukup dan menyembuhkan luka memar ditubuhnya". Jelas dokter panjang.
"Terima kasih banyak dokter" Ucap bapak.
Dokter mengangguk dan tersenyum ramah.
"Pasien akan kami pindahkan ke kamar rawat tuan. Anda bisa menemui pasien disana". Kata dokter menjelaskan.
Dev dan bapak hanya mengangguk paham.
Josh pamit undur diri. Dirinya harus segera kembali untuk memberi keterangan pada pihak kepolisian sebelum Ara benar-benar bisa dimintai keterangan.
Didalam kamar rawat Ara, kini hanya ada bapak dan Dev yang menungguinya sadar.
Dev terus duduk disamping Ara sambil menggenggam tangan Ara.
Bapak menepuk bahu Dev membuatnya mendongak menatap bapak.
"Anda bisa istirahat tuan muda. Saya akan menjaga Ara" Ucap bapak pada Dev
"Aku yang akan menjaganya paman. Paman harus beristirahat, paman pasti lelah setelah perjalanan kesini" Jawab Dev
Bapak menghela nafas sambil tersenyum tipis melihat anak majikannya yang begitu perhatian pada Ara.
Akhirnya bapak mengalah dan kembali duduk disofa. Namun karena rasa lelah setelah perjalanan jauh, mata bapak terpejam hingga akhirnya tertidur pulas.
Dev terus memperhatikan wajah Ara yang penuh luka dan lebam. Masih terlihat dengan jelas bekas tamparan dikedua pipi Ara. Hatinya sakit melihat Ara dalam keadaan seperti ini.
Namun tiba-tiba Dev tersenyum tipis saat mengingat bagaimana Ara memanggilnya abang sebelum pingsan, rasanya Dev benar-benar bahagia mendengar panggilan itu setelah hampir 2bulan lamanya tak pernah ia dengar.
"Bangun ya Ra, nanti kita pindah ke rumah sakit yang lebih bagus kalo kamu udah stabil" Ucap Dev sambil mengelus rambut Ara.
Dev meringis saat tangannya membelai wajah cantik Ara yang terlihat tenang dalam tidurnya. Dirinya seperti ikut merasakan sakit yang dialami Ara. Gadis ini benar-benar gadis kuat, bahkan disisa tenaga terakhirnya pun ia masih bisa melumpuhkan lawannya
Jemari Ara yang masih ada dalam genggaman Dev bergerak membuat Dev yang tanpa sadar ikut tertidur langsung terbangun dan mengelus sayang rambut lurus Ara.
Saat mata Ara terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Dev yang sedang tersenyum sambil mengelus rambutnya. Sementara tangan yang satu masih menggenggam tangan Ara erat.
"Abang" Suara Ara terdengar sangat pelan. Namun Dev masih bisa mendengarnya
Dev mengangguk dan tersenyum
"Aku disini Ra. Kamu udah baik-baik aja sekarang" Ucap Dev dengan mata berkaca-kaca.
"Aku panggilin dokter dulu ya". Dev keluar ruangan Ara untuk memanggil dokter.
Sepertinya bapak benar-benar lelah. Hingga dokter selesai memeriksa keadaan Ara, bapak masih terlelap.
Ara memiringkan kepalanya dan mendapati bapak yang sedang tertidur pulas di sofa ruang rawatnya.
"bapak" Lirih Ara
Ara tersenyum tipis melihat bapak, seandainya bapak tidak datang tepat waktu, mungkin saat ini dirinya sudah tewas disiksa oleh Clara.
"Nanti sore kita pindah rumah sakit ya". Ucapan Dev membuyarkan lamunan Ara.
"Pindah??"
__ADS_1