Cinta Kinara

Cinta Kinara
Bapak


__ADS_3

Setelah magrib kedua kakak beradik itu memutuskan masak bersama untuk makan malam.


Saat sedang asyik memasak terdengar suara motor yang tidak asing ditelinga Ara.


Ara segera berlari kedepan dan membuka pintu.


Wajah cantiknya semakin menawan dengan senyum yang mengembang sempurna melihat siapa yang datang. Bapak datang membawa martabak kesukaan Ara.


Ara segera menghampiri bapak dan mencium punggung tangan bapak tercintanya. Kemudian tanpa basa basi Ara mengambil martabak yang ada ditangan bapak.


Bapak hanya merengut kesal melihat kelakuan anak gadisnya itu, bapak pikir Ara akan memeluknya atau apa, ternyata Ara hanya mengincar martabak yang bapak bawa.


Benar-benar anak tak berakhlak pikir bapak.


"dapet martabak dari mana lu dek??". Sang kakak bertanya saat melihat adiknya tersenyum lebar sambil menenteng plastik martabak.


"dari bapak yang terlupakan kak". Bapak langsung menyahut dengan ketus saat sudah masuk ke dalam rumah.


"bapaknya pulang bukannya dipeluk apa dikasih minum apa gimana, lah adik kamu dateng-dateng yang disambut cuma martabaknya, yang bawain mah ditinggalin diluar kak. Bener-bener adik kamu minim akhlak pisan gustiii". Bapak berkata panjang lebar seperti anak kecil yang mengadu pada orang tuanya.


Ara terkekeh mendengar bapak menggerutu saat membicarakannya.


"uluh..uluh, bayi tuanya aku ngambek cuma ditinggal diluar aja". Ara kembali menggoda bapak yang sudah sewot sedari tadi.


Bapak yang digoda langsung melotot kearah Ara, dan hal itu justru membuat Ara tertawa puas.


"elu mah dek, kaga berubah. Nanti bapak marah darting nya kumat lu, terus pinggangnya sakit gara-gara ngomel mulu. Ntar kalo kaga kuat bangun siapa yang mau gendong kerumah sakit". Bukannya membela bapaknya, Bian justru menambah kesal bapak dengan godaannya.


"dasar kalian ini ya, hobi sekali menistakan bapak kalian yang tampan rupawan ini". Bapak benar-benar dibuat sewot oleh kelakuan kedua anaknya. Namun meski begitu, bapak bahagia bisa berkumpul dengan kedua anaknya setelah lama mereka tidak berkumpul.


"yasudah, bapak mandi dulu gih. Nanti kita makan sama-sama pak". Ara mengakhiri acara menggoda bapak karena melihat wajah lelah bapak.


Bapak berlalu ke kamar kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian.


Malam ini suasana rumah yang biasanya sepi terasa hangat karena bapak dan Fabian ada diumah. Ara merasa senang karena tidak kesepian seperti biasanya.


Selesai makan, ketiganya duduk diruang keluarga sambil menonton tv.


Suasana hening, semua fokus terhadap tayangan bola ditv.


"kamu disini sampai kapan kak??".Suara bapak memecah keheningan.


"3 hari lagi kakak sudah harus kembali ke kampus pak, Bian akan berusaha supaya bisa cepat menyelesaikan skripsi dan bisa cepat menjadi sarjana agar bisa membantu bapak mencari uang". Bian berkata sambil menatap bapak yang juga sedang menatapnya.


Bapak tersenyum hangat kepada putranya sambil menepuk bahu anak lelakinya itu.


"Ara..". Yang dipanggil langsung melihat kearah bapak sambil mengangkat kedua alisnya.


"setelah kakakmu kembali ke kampusnya, kamu ikut bapak kerumah majikan bapak saja. Bapak selalu tidak tenang saat bekerja. Bapak kepikiran kamu terus". Bapak menatap putrinya dengan sendu, sejujurnya bapak merasa bersalah hampir tidak pernah memiliki waktu untuk putrinya.


"bapak sudah meminta ijin kepada majikan bapak, mereka mengijinkannya. Ada paviliun untuk semua pekerja dan keluarganya dirumah majikan bapak". Bapak melanjutkan ucapannya,saat Ara belum sempat menanggapi kata-kata bapak.


"Ara baik-baik saja pak. Ara tidak apa-apa dirumah sendiri". Ara menjawab sambil menggenggam tangan bapak.


"jangan keras kepala dek, kakak juga akan lebih tenang kalau kamu ada didekat bapak". Fabian ikut meyakinkan Ara agar mau mengikuti kemauan bapak.

__ADS_1


"Lagipula 4hari lagi majikan bapak akan menghadiri acara lelang amal. Kamu harus membantu bapak menjaga majikan bapak serta anak-anaknya neng. Bapak yakin ada yang sedang mengincar keluarganya". Inilah kelemahan Ara. Ara tidak pernah bisa menolak keinginan bapak. Apalagi kalau bapak sudah memasang wajah yang memelas, sangat menyebalkan bagi Ara.


"baiklah. Tapi nanti setelah kakak selesai dengan pendidikannya, bapak berjanji akan mengijinkan aku tinggal dirumah ini lagi". Ara mengajukan persyaratan setelah sedikit berpikir.


"tentu saja, bapak membawamu karna disini kamu sendirian. Bapak tidak tenang..biar bagaimanapun kamu ini perempuan". Bapak menjawab dengan semangat setelah berhasil membujuk bocah keras kepala kebanggaannya itu.


Setelah pembicaraan serius antara bapak dan kedua anaknya itu, mereka membubarkan diri dan masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Ara berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia berulang kali mengambil nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Ia akan meninggalkan kamar kesayangannya ini 3hari lagi.


...******...


Keesokan harinya Ara sudah kembali ke sekolah. Ara diantar oleh Fabian sampai depan gerbang sekolahnya


"belajar yang bener lu yee, jangan bikin ribut mulu apalagi gelut lu ya. Gue kepret bolak balik lu kalo berantem-berantem lagi". Wejangan pagi sudah didapat Ara sebelum ia turun dari motor kakaknya.


"iya kakakku tersayang. Yaudah gue masuk dulu ya kak". Ara mengambil tangan Bian kemudian menciumnya, setelah itu Ara berjalan memasuki sekolahnya sambil melambaikan tangan kepada kakaknya.


Tanpa Ara sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan Ara dan Fabian.


Tangannya terkepal kuat dengan rahang yang mengeras, setelah puas memandang Ara dan laki-laki asing itu akhirnya Dev memutuskan untuk masuk ke dalam kelasnya dengan rasa penasaran tentang hubungan Ara dan laki-laki asing itu.


Setelah memastikan adik cantik tak berakhlaknya masuk kedalam gedung sekolahnya dengan selamat, Fabian memutuskan pergi dari tempat itu untuk bertemu dengan teman lamanya.


Saat Ara sedang berjalan menuju kelasnya, dirinya dikejutkan dengan ulah kedua sahabatnya yang tiba-tiba sudah bergelayut dikedua lengannya.


"selamat pagi Ara". Suara merdu Putri menyambut pagi Ara yang cerah.


"selamat pagi juga Putri". Ara menjawab dengan tak kalah manis.


"dasar kalian berdua benar-benar lebay". Dira menggerutu kesal melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.


Ara dan Putri saling melihat kemudian tertawa puas melihat Dira yang kesal dengan kelakuan keduanya.


Hari ini begitu tenang tanpa gangguan dari manusia jelmaan mak lampir.


****


Tanpa terasa bel yang menandakan waktu pulang berbunyi, semua murid berhambur keluar dengan perasaan bahagia setelah seharian otak mereka diperas memikirkan pelajaran.


Tak terkecuali Ara dan kedua sahabatnya, saat ini ketiganya sedang berjalan menuju gerbang sekolah. Hari ini Ara dijemput oleh Bian, karena selama Bian ada di kota ini, Ara akan diantar dan dijemput oleh Bian.


Saat sudah sampai digerbang, sudah terlihat pria bertubuh tinggi berkulit putih, dia adalah Fabian kakak dari Ara.


Ara segera menghampiri kakaknya diikuti kedua sahabatnya. Untuk sesaat Putri mematung melihat wajah tampan pria yang menjemput sahabatnya itu. Wajahnya tiba-tiba memanas saat pandangan matanya bertemu dengan pemilik mata tajam itu.


"kaga usah tebar pesona deh lu, keren kaga nyebelin iya!". Ara mendorong bahu kakaknya dengan kuat membuat Bian yang sedang bersandar pada motornya hampir terjatuh.


"bener-bener lu ye, jadi adek kaga ada manis-manisnya banget. Dijemput kakak ganteng kaya gini bukannya makasih malah ngajak gelut". Bian bersungut-sungut karena kelakuan adiknya.


Sementara Dira dan Putri saling pandang kemudian terkikik geli melihat kelakuan Ara dan pria yang belum mereka tau namanya itu.


Ara menoleh kepada kedua sahabatnya


"oh iya, kenalin ini kakak gue". Ara memperkenalkan Bian kepada kedua temannya.

__ADS_1


"Bian". ucapnya sambil menyodorkan tangannya kedepan Putri.


"Putri". Sambil menerima uluran tangan Bian, Putri memperkenalkan dirinya sambil menahan debaran jantungnya yang tak bisa dikontrol.


"kaga usah lama-lama megang tangan temen gue lu, modus aja lu dasar kadal". Ucapan Ara sukses membuat Bian melotot kesal kepada adiknya.


Sementara Ara hanya cuek saja melihat kakaknya sewot karena ucapannya.


Kemudian beralih pada Dira.


"Bian".


"Dira".


Setelah perkenalan singkat kakak dan kedua sahabatnya, Ara pamit pulang kepada kedua temannya.


Ara naik keatas motor sang kakak sambil melambaikan tangan kepada dua temannya yang sudah dijemput oleh supir keluarganya.


Hari itu begitu tenang untuk Ara dan teman-temannya.


...******...


Hari yang dibicarakan Ara dan bapak akhirnya tiba. Sepulang sekolah tadi Ara sudah ditunggu bapak dirumah. Malam ini Ara akan membantu pekerjaan bapak untuk mengawal keluarga majikan bapak.


Bian sudah kembali sejak siang tadi. Saat ini bapak sedang menunggu Ara mengemasi baju dan barang-barangnya untuk sekolah.


Setelah semua siap, bapak memasukkan koper berisi pakaian Ara kedalam mobil majikannya yang sengaja ia pinjam untuk menjemput Ara. Namun yang dijemput justru lebih memilih naik motor kesayangannya.


Bapak hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ara yang tidak berubah sejak dulu.


1jam kemudian Ara dan bapak sudah sampai didepan gerbang tinggi megah yang bahkan lebih megah dari rumah Putri. Ara memandang takjub pada bangunan dihadapannya ini.


"kamu rapikan baju dan barang-barangmu dulu, setelah itu bersihkan badanmu dan bersiap-siaplah. Malam ini kita akan mengawal majikan bapak. Bapak akan melapor kepada majikan bapak dulu". Bapak memberi perintah kepada anak gadisnya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Ara.


Sedangkan didalam rumah, setelah meninggalkan Ara yang sedang merapikan pakaian dan barang-barangnya, bapak pergi menghadap majikannya untuk melaporkan bahwa ia sudah membawa putri yang kemarin sempat ia bicarakan.


"anak saya sedang bersiap nyonya, tuan. Malam ini saya akan membawa anak saya untuk membantu saya menjaga anda dan tuan muda serta nona muda". Bapak menundukkan kepala sedikit memberi laporan kepada majikannya.


Majikan bapak hanya mengangguk dan tersenyum.


Sesaat kemudian, bapak pamit undur diri untuk menjemput anaknya dari kamar, bapak takut nanti Ara salah masuk ruangan.


"kamu sudah siap nak??". Bapak bertanya saat melihat Ara sudah rapi dengan penampilan serba hitamnya, celana jeans hitam ketat dengan kaos dibalut dengan jaket kulit hitam membuat penampilan Ara benar-benar seperti jagoan wanita masa kini.


"sudah pak, ayo kita kesana". Ara menjawab bapak dengan semangat, Ara memang paling semangat dengan hal yang berbau menantang.


Keduanya berjalan menuju keruang tamu rumah megah itu, Ara berdiri dibelakang bapak. Saat ini keduanya sudah ada dihadapan majikan bapak.


Ara masih menundukkan kepalanya, sampai sebuah suara yang ia kenali masuk kedalam indera pendengarannya. Ara menegakkan kepalanya dan saat itu matanya membulat sempurna melihat sosok yang ada ditengah tangga.


hallo para readers..


jangan lupa kasih like, komen sama vote nya yaaa..


maafkan tulisan aku yang masih acak-acakan..aku juga masih dalam masa belajar menulis yang baik dan menarik🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2