Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
Episode 1


__ADS_3

“Rara!! Bangun !!” teriak Nur.


“Kamu nggak mau sekolah? Ini udah siang!” teriaknya lagi sambil menggedor-gedor pintu kamar.


Teriakan dan gedoran pintu yang bertubi-tubi membuat Rara sih pemilik kamar terbangun dari mimpi indahnya.


“Iya,ma, ini udah bangun kok,” ucap Rara yang berusaha setengah hati untuk bangun.


Dengan setengah sadar, tangan Rara yang berusaha untuk mencari keberadaan ponselnya. Setelah menemukannya dia langsung mengecek beberapa chat di whatsappnya.


“RARA!!! Cepetan jangan main hape terus!” teriak mamanya yang seakan tahu apa yang dilakukan Rara saat ini. Tidak ingin mamanya bertambah emosi, dia takut jika sampai mamanya kembali berteriak bisa-bisa mamanya akan mendobrak pintu kamarnya. Akhirnya dia pergi untuk mandi dan bersiap-siap untuk sekolah.


“Topi upacara bawa enggak?” tanyanya yang melihat Rara.


“Hmm...” kata Rara sambil mencari keberadaan topi upacara di tasnya.


“Ada, nih,” katanya sambil menunjukkan topi yang berada tasnya.


***


Sampai di sekolah, Rara dan Siska buru-buru untuk menaruh tasnya di kelas, setelah itu mereka ke lapangan upacara.


Rara dan Siska memilih untuk berdiri di paling belakang, karena kebetulan tempat itu cukup adem tidak terlalu terkena sinar matahari.


Setelah upacara selesai, Rara berlari membelah keramaian orang, dia berlari terbirit-birit karena sedari tadi dia sudah menahan untuk buang air kecil.


“Akhirnya,” ucap Rara tanda kelegaannya yang sudah dapat menyalurkan hal yang tertahan.


“Rara,” panggil Siska dari depan pintu.


“Parah lu, gue di tinggalin,” kata Siska kembali.


“Sorry,” ucap Rara yang sudah keluar dari WC.


Saat mereka hendak ke kelas, tiba-tiba Siska menyenggol lengan Rara. “Eh, Ra,” bisiknya.


“Hmm,” jawab Rara.


“ Ada cowok ganteng tuh,” kata Siska.


“Mana?” tanya Rara mencoba mencari keberadaan cowok ganteng itu.


“Itu..tuh,”


“Om-om itu??” tanya tak percaya Rara.


“Ish, bukan loh, tadi yang barusan masuk ke ruangan Pak Anto,” jelas Siska.


“Ouw.. enggak liat gue, lu nih kalau cowok ganteng mah cepet aja,” kata Rara.


“Iya dong, masa cowok ganteng guesia-siain dari penglihatan mata gue,” katanya sambil menujukkan mata itu.


“Udah, yuk, nanti sih Pak Bima keburu masuk kelas,” kata Rara yang langsung meninggalkan Siska.


Cukup lama Pak Bima tidak nampak ke hadirannya, mereka menduga kalau sih guru killer itu tidak masuk untuk mengajar. Saat mereka semua sudah cukup bangga dengan menduga kalau Pak Bima tidak masuk,


tiba-tiba Pak Bima sih guru Matematika memasuki kelas dengan di ikuti seorang anak lelaki di belakangnya.


Anak laki-laki itu cukup membuat kelas heboh, entah itu anak perempuan maupun anak lelaki.


“Ra, itu cowok yang gue bilang tadi,” bisik Siska dari belakang.


“Ooh..” kata Rara yang menegok ke arah Siska


“Ganteng, ‘kan?” tanya Siska.


“He, anak-anak diam sebentar,” kata Pak Bima sambil mengetuk-ngetuk meja dengan spidol di tangannya.


“Anak-anak, kita mendapatkan teman baru pindahan dari Bandung, dan namanya Christian,” kata Pak Bima memperkenalkan.


“Nah, Christian, sekarang kamu perkenalkan dirimu,” ucap Pak Bima.


“Hai, teman-teman, perkenalkan namaku Christian, kalian bisa panggil aku Tian,” perkenalan Tian.


“Hai, Tian,” kata Siska dengan lantang dan di balas sorakan dari teman-temannya.


“Akhirnya ada juga anak cowok yang ganteng di kelas ini,” celetuk Siska.


“Emang, gue enggak ganteng apa?!” sebuah protes Edwin yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


“Lu ganteng kok Win, tapi gantengan Tian lebih banyak sih,” kata Siska.


Ucapan Siska membuat teman-temannya tertawa sehingga kelas semakin gaduh.


“Sudah-sudah, nah, Christian, sekarang kamu duduk di sebelah Rara, ya,” suruh Pak Bima, yang kebetulan hanya di sebelah Rara saja bangku kosong.


Sambil bertopang dagu, Rara menatap Tian dengan sangaat fokus bahkan sampai matanya pun mengikuti pergerakan Tian yang berjalandan kini duduk di sebelahnya.


“Hai, Tian,” kata Siska sambil melambaikan tangannya.


“Edwin,” kata Edwin sambil menyodorkan tangannya yang dibalas dengan Tian yang menjabat tangannya dengan gaya sok coolnya.


Rara yang sedari tadi memperhatian Tian, akhirnya dia baru menyadari kalau cowok yang ada disebelahnya ini memiliki wajah yang tampan layaknya aktor Steven William. Tanpa dia sadari ternyata dia belum berkenalan.


“Rara”


“Tian”


“Karena kebetulan kita kedatangan teman baru, jadi kita tunda ulangan kita,” kata Pak Bima.


“Thanks Ian, lu penyelamat,” bisik Edwin. Di balas dengan senyuman dari Tian.


2 jam pelajaran Matematika berlangsung dan lonceng istirahat berbunyi,” akhirnya jam yang gue tunggu-tunggu datang juga,” ucap Siska.


“Ayok kita ke kantin,” ucap Siska dengan semangat.


Tian ikut bersama Rara,Siska dan Edwin ke kantin sekolah. Mereka berempat dan khususnya Tian yang menjadi daya tarik bagi orang-orang yang berada di kantin. Mereka saling berbisik satu sama lain membicarakan sosok cowok yang terlihat baru di sekolah itu.


Memang, semenjak kedatangan Tian bersama Ayahnya membuat dia menjadi pusat perhatian bagi semua siswa dan siswi Sekolah Bina Nusa.


Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian? Dia yang keturunan Indonesia-Belanda, dengan postur tubuh yang tinggi, kulit putih serta wajah yang tampan mampu menghinoptis semua kaum hawa yang melihatnya.


“Baru kali ini kita di liatin gitu,” ucap Rara.


“Pada pesen apa?” tanya Edwin.


“Gue, mie ayam plus bakso ya dan jangan lupa es teh manisnya , Win,” kata Rara.


“Gue... gue pesen Indomi sama telur aja deh, terus sama es jeruk ya,” kata Siska.


“Hmm, gue nasi goreng,” kata Tian yang hendak duduk bersama Rara dan Siska.


“Hei.. lu ikut gue pesen,” kata Edwin menarik tangan Tian.


Tak berapa lama, Tian dan Edwin membawa makanan dan minuman.


***


Semakin lama persahabatan antara Rara dan Tian semakin erat dan mereka seakan tak terpisahkan, bahkan ada yang mengatakan di mana ada Rara disitu ada Tian dan begitu sebaliknya. Seperti sandal kiri dan sandal kanan yang tak pernah berpisah.


Sangat kebetulan, Tian yang rumahnya tak terlalu jauh dengan Rara membuat Tian dan Rara sering berangkat dan pulang sekolah bersama.


***


Sekarang pemilihan ketua Osis untuk menggantikan siswa yang bernama Feri karena saat ini dia sudah selesai masa jabatannya. Terdapat 3 kandidat terkuat untuk menggantikan Feri. Ada Tian, Bram dan Benny. Dan sudah sesuai prediksi semuanya, Tianlah yang menjadi pemenangnya.


Tian yang kini menjabat sebagai ketua Osis, seperti menjadikan Tian seperti baknya pangeran di sekolah Bina Nusa.


Saat penerimaan siswa dan siswi baru, Tianlah yang selalu menjadi objek utama para kaum hawa untuk memberikan surat cinta atau cokelat. Bahkan sangking banyaknya cokelat yang di terima oleh Tian, Rara yang selalu menjadi imbasnya. Bagaimana tidak, semua cokelat yang di berikan ke Tian, Tian akan berikan semuanya kepada Rara. Sangking banyaknya, Rara sampai sakit gigi karena setiap hari makan cokelat.


Tidak hanya di SMP, saat SMA pun, Tian pun mendapatkan perlakuan yang sama dari semua siswi di sekolah yang sama.


Tian yang mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Tian sudah terbiasa, bahkan bisa di bilang Tian bosan dan risih dengan semua itu.


Banyak cewek-cewek yang iri dengan Rara sang sahabat setianya sih “Pangeran Bina Nusa”. bagaimana tidak Rara selalu ada di sebelah Tian dan Rara sebagai sahabat yang baik, dia sering menunggu Tian yang tengah berlatih basket atau Tian tengah rapat Osis.


Semakin mereka berdua beranjak remaja. Rara yang bermula biasa saja dengan sikap cewek-cewek yang caper dan ganjen pada Tian. Kini Rara sedikit emosi dengan semua anak perempuan di sekolahnya ini. Emosi ini sedikit berbeda dari biasanya, Rara selalu saja menggerutu jika ada cewek yang dekat-dekat denganya.


“Napa Ra?” tanya Siska.


“Nggak papa,” ucap Rara. Begitulah setiap Siska merasa mood Rara itu memburuk jika Rara melihat Tian.


Siska yang menyadari perubahan sikap Rara pada Tian, membuat Siska menduga kalau Rara menyukai sahabatnya itu.


Iya, memang awalnya Rara menduga ini karena dia kesal dengan tatapan para cewek-cewek agresif ini, tetapi semakin lama Rara menyadari kalau Rara benar-benar menyukai sahabatnya itu.


Itu terlihat dari perhatian Rara yang lebih daripada biasanya, bahkan Rara rela selalu menunggu Tian yang sibuk dengan urusan Osis dan Basket. Walau biasanya Rara memang menemani jika Tian meminta, tetapi saat ini Rara akan setia menunggu tanpa Tian meminta. Bahkan Rara sering membawakan bekal untuk Tian.


Rara yang benar-benar menyadari kalau saat ini dia meyukai Tian lebih dari sahabat. Membuat Rara berada di titik dilema. Rara harus menyimpan rasa cintanya pada Tian rapat-rapat.  Dan mungkin hanya Siska yang menyadarinya, ketimbang Tian.

__ADS_1


Rara lebih memilih untuk menyimpan,karena itu adalah pilihan yang tepat. Dia tidak mau jika persahabatannya ini hancur kalau Rara mengungkapkan rasa cintanya pada Tian. Dia menduga kalau nanti Tian malah menjauh dari Rara. Biarlah seperti ini, setidaknya Rara bisa bersama-sama dengan Tian.


***


“Ra,” panggil Tian.


“Hmm.”


“Ikh, Ra, nengok dong,” gerutu Tian.


“Apa Tian?” ucap Rara.


“I LOVE YOU,” ucap Tian pelan,tetapi terdengar jelas oleh Rara.


Mendengar itu Rara langsung tersedak. Jantung Rara rasanya berdetak sangat kencang, mungkin saja jika terjadi keheningan di restaurant tempat mereka makan, detak jantung Rara bisa terdengar jelas oleh Tian.


“Ha?” kata Rara.


“I LOVE YOU,” ucap Tian kembali.


Rara yang membuka mulutnya hendak menjawab,“Astaga Rara, kenapa gue enggak bisa ngomong itu depan dia?” ucap Tian.


“Dia? Maksudnya?” tanya Rara yang seperti tersentak dengan ucapan Tian barusan.


“Iya, nih gue jujur ya sama lu, kayaknya gue suka deh sama Jessica,” kata Tian.


Kata-kata yang di ucapkan Tian seperti sebuah pukulan untuk Rara. Dia mendengar orang yang dia cintai, mencintai orang lain.


“Pokoknya, lu harus bantuin gue untuk buat gue nembak dia ya,” pinta Tian.


Rara mematung sejenak. Dia tidak bisa menjawab apa-apa tentang permintaan sahabatnya itu.


“Ra.. kok bengong sih.”


“Ah, iya, nanti gue bantu,” kata Rara seadanya.


Walau ucapan seadanya itu, tetap saja Rara membantu Tian dengan sangat baik.


Rara menemani Tian membeli cokelat,boneka untuk di berikan oleh Jessica. Dan setelah semua persiapan yang di butuhkan siap, Tian mengatakan cintanya pada Jessica dan ternyata Jessica pun menerimanya.


Jessica sekretaris Osis, anak kelas 2 B. Walau anak kelas sebelah, seringnya Tian bertemu dengan Jessica membuat Tian menyukai Jessica. Memangsih Jessica lebih dari segalanya ketimbang Rara. Membuat Jessica sangat pantas jika bersanding oleh Tian.


Rara yang pulang ke rumah setelah pulang sekolah, dia langsung masuk ke kamarnya. Di kamar, dia yang berusaha untuk menenangkan hatinya selama ini akhirnya menangis sejadi-jadinya. Entah sudah berapa banyak tisu yang berhamburan di lantai untuk menghapus air matanya.


Siska yang mengetahui berita itu, langsung buru-buru ke rumah sahabatnya dan mencoba menghiburnya.


“Astaga, Ra,” ucap Siska sambil geleng-geleng kepala melihat kamar Rara yang penuh dengan tisu.


“Udah dong Ra, jangan nangis terus. Nih buat lu,” kata Siska sambil memberikan es krim cokelat kesukaan Rara.


Belum juga rasa sakit hatinya sembuh, rasa sakit Rara semakin terasa saat Tian yang selalu menyertakan Jessica di antara mereka semua.


Adanya Jessica membuat posisi Rara yang selalu menemai Tian tergantikan. Kini Jessica lah yang selalu menemani Tian untuk latian basket, bahkan sekarang Rara yang dahulu sangat giat dan semangatnya untuk mendukung Tian. Kini sudah tidak terlihat lagi di angku penonton dikala Tian tanding basket. Saat Tian menanyai alasan kepada Rara, Rara selalu memikirkan sejuta alasan untuk dia berikan pada Tian.


***


Rasa cinta Rara pada Tian susah untuk Rara lupakan. Rara berusaha untuk melupakan Tian sebelum mereka lulus SMA, begitulah tekat Rara saat kini naik kelas 3 SMA.


Rara mencoba untuk menjauh dari Tian, Rara berusaha untuk tidak ikut kemanapun Tian mengajak. Walau hanya sekedar ke kantin.


Rara akan dekat dengan Tian, jika mereka ada tugas kelompok dari guru. Selain itu, Rara akan menolak dengan sekuat tenaga.


Saat ini, kehidupan Rara seperti dahulu tanpa adanya Tian. Hanya ada Siska dan Edwin.


Persahabatan antara Rara dan Tian semakin memburuk saat Tian putus dengan Jessica.


Awalnya Rara sedikit senang mendengar kabar putus dari mereka, tetapi sesuatu hal yang tidak terduga terjadi pada Rara.


Dahulu, Rara memang mengindarin Tian dengan segala caranya. Sekarang sepertinya Tian pun menghindari Rara. Dan lebih anehnya lagi, Rara memperhatikan Tian yang seakan Tian membenci Rara, itu terlihat dari Tian yang menatapnya dengan tatapan kebencian.


Persahabatan yang berubah menjadi permusuhan antara Tian dan Rara terjadi sampai mereka berdua lulus sekolah. Rara awalnya tidak berniat untuk menanyakan apa yang terjadi pada Tian, tetapi perasaan aneh yang ada di dalam hatinya membuat semuanya terganggu.


Akhirnya, Rara berniat untuk menanyakan langsung pada Tian. Rara pergi kerumah Tian hendak meminta sebuah penjelasan pada Tian, memang sih Rara yang memulai itu terlebih dahulu, tetapi Rara tidak menyangka kalau ternyata hal itu menjadi semakin buruk.


Saat Rara sampai di rumahnya dan menanyakan kepada Tian. Rara yang di sambut oleh bibik sih pengurus


rumah itu, memberitahu kalau Tian dan kedua orang tuanya pindah ke Belanda.


Mendengar itu, Rara syok dan terdiam. Dia sama sekali tidak mengetahui kepindahan Tian ke Belanda. Ya, mau bagaimana bisa tahu kalau dia saja sudah tidak dekat lagi dengan Tian.

__ADS_1


Kepergian Tian ke Belanda seperti menandakan seperti menjelaskan hubungaan persahabatan antara Tian dan Rara benar-benar berakhir.


***


__ADS_2