Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
epi 60


__ADS_3

"Kita putus" Ucap pria itu.


"Salah ku apa Al" jawab wanita itu.


"Kamu baik Nika, tapi aku belum bisa move-on dari wanita itu, aku takut kamu akan lebih tersakiti jika kita lanjutkan hubungan ini" jawab pria itu sambil mengusap wajahnya yang lelah.


"Aku akan menunggu"


"Jangan buang waktumu untuk pria seperti ku Nika"


"Aku tidak peduli"


"Tapi aku peduli"


"Itu tandanya kamu menyayangi ku Al"


"Tidak, aku tidak bisa melanjutkan ini"


"Kamu sungguh-sungguh keterlaluan Al"


"Maaf kan aku Nika, sebaliknya kamu kembali, aku akan mengantarmu ke Jakarta" ucap pria itu.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri tanpa kamu"


"Kamu datang karena permintaan ku"


"Dan aku sangat kecewa dengan keputusan mu"


"Aku minta maaf "


"Tidak perlu, dan jangan lakukan ini dengan wanita lain" jawab Nika dengan tegas walau hatinya sangat hancur. dia datang dari Jakarta ke Surabaya untuk menemui kekasihnya tapi ternyata kedatangannya adalah akhir dari segala cerita bersama dia, ya dia adalah Alvin Agustama.


Pria yang selama tiga tahun ini menemani Nika, mengisi kekosongan hatinya. Walau jarak memisahkan tapi tidak dengan hati. Namun itu hanya asa ku saja, nyatanya Alvin jarang menghubungi nya, Nika yang selalu saja menghubungi Alvin terlebih dahulu, juga berinisiatif datang menemui nya di kota Surabaya. Tapi ini mungkin kali terakhir Nika datang ke Surabaya. Mungkin Nika terlalu mengejar cintanya, memaksa dia selalu ada walau Nika tau di hati Alvin ada wanita lain dan entah siapa itu. Nika iri pada wanita yang mampu membuatnya bertahan di sana, tidak ada seorangpun yang mampu mengusiknya termasuk dirinya.


Apa kurangnya Nika sehingga Alvin sama sekali tidak bisa melupakan wanita bersuami itu? Hanya Alvin yang tau sehebat apa wanita itu.


Getir sekali hati nya sampai harus bersaing dengan seseorang yang tidak pernah dia tau apalagi dia temui. Konyol rasanya harus bertahan seperti orang bodoh. Batin Nika terus saja bergejolak dengan alasan Alvin yang tidak jelas selalu menyebut wanita itu yang namanya aku tidak pernah tau. Nika menarik nafas dalam-dalam lalu menghilang dari hadapan Alvin.


Di Hospital


"Van, honey"Sarah yang masuk langsung mencoba membangunkan suaminya itu, sedangkan Arsa masih mengekor di belakangnya di dampingi Rico


"Bagaimana keadaannya dr.devan?" tanya Sarah pada Devan yang berada di seberang tempat tidur Arvan.


"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja Sarah"


"Apakah ini kabar buruk?"


"Lebih baik di ruangan saya saja" jelas Devan yang tidak mau membicarakan pasiennya di depan banyak orang.

__ADS_1


Di ruangan dr. Devan


"Mungkin ini kabar baik atau buruk tergantung bagaimana kamu menanggapi nya Sarah" dr. Devan membuka suara dengan nada lesu.


"Maksudnya bagaimana dok"


"Apa kamu ingat waktu dia pingsan mendadak di kantor nya dua tahun lalu?"tanya dr. Devan.


"Iya saya ingat, kenapa dengan itu?"


"Itu adalah pertama kali aku mengetahui ada penyakit yang bersarang di tubuh Arvan"


"Ma-Maksudnya?"


"Iya ini adalah penyakit lama itu, tumor otak stadium akhir"


"Tu-tumor?"


"Benar Sarah, maaf aku menutupi nya dari mu, karena ini permintaan Arvan"


"Apa yang lain tau, atau hanya aku yang tidak tau"


"Hanya aku dan Rico yang tau, dia hanya menjalani obat jalan saja selama ini, dia tidak mau di operasi, karena tidak mau mati di di meja operasi"


"Itu tidak masuk akal sama sekali dokter, dua tahun yang lalu seharunya bisa di obati, tapi dokter malah mendiamkannya.itu...itu.." Sarah tidak mampu berkata apapun.


"Aku minta maaf Sarah, lebih baik kalian habiskan waktu bersama lebih banyak, mungkin saja Arvan tidak akan bertahan lama"


"Arvan tidak mengijinkan kami melakukannya"


" Ya Tuhan...cobaan apa lagi ini " rintih Sarah dengan derai air mata.


"Maafkan aku Sarah, harusnya dulu aku tidak mengikuti perkataannya" namun Sarah tidak bergeming sama sekali, lalu keluar ruangan Arvan dengan keadaan bingung .


Apa yang harus ia lakukan sekarang? pura-pura tidak tahu atau harus bagaimana?"Sarah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dari kejauhan Rico memperhatikan istri bosnya juga istri sahabatnya.


"Maafkan aku Sarah, seharusnya aku memberitahu mu waktu itu, agar Arvan dapat diobati " batin Rico bergejolak merasa bersalah melihat pemandangan yang ada di depannya.


Perlahan Sarah menghapus air matanya, membenahi dandannya merapikan bajunya yang kusut dan tersenyum. " ya aku bisa, lebih baik aku pura-pura tidak tahu agar Arvan tidak merasa terbebani " ujar Sarah kemudian melangkah menuju Minimart yang ada di rumah sakit, membawa beberapa air mineral dan juga jajanan kesukaan Arsa.


"Honey, kamu sudah bangun" sapa Sarah dengan ceria dengan tentengan di tangannya. Rico melihat sarah terkejut, bagaimana bisa dia berubah secepat itu, tadi dia menangis terisak-isak di ujung lorong sekarang sudah mengumbar senyum ceria. hebat sekali wanita ini" batin Rico.


"Arsa , nih mommy bawakan jajan kesukaanmu" Sarah menunjukan plastik putih khas Minimart ditangannya. Arsa pun berlari menghampiri mommy nya yang berada di samping ranjang daddy-nya.


"mommy, Arsa mau yang itu"


"Arsa mau jeruk?" tanya sarah, Arsa pun mengangguk.


Sarah mengupas jeruk itu dan menyuapkannya pada Arsa juga pada Arvan.

__ADS_1


"Sayang aku tidak lapar"


"Tapi aku ingin memberikan ini padamu" jawab Sarah ringan seperti biasanya.


"Apa kau sudah bertemu Devan?"


"Emm...sudah" jawab Sarah tenang


"Apa yang dia katakan?"


"Tidak ada, dia bilang cuma kelelahan saja" jawab Sarah dengan sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Arvan tersenyum lega mendengar itu dari istri nya.


"Aku ke toilet dulu" Sarah buru-buru pergi karena air mata sudah bergelayut. Sarah berusaha tidak terisak di sana dia menyalakan kran dengan keras.


Lima menit , sepuluh menit Sarah belum keluar dari kamar mandi.


Tok tok tok


"Sarah, sayang kenapa kamu lama sekali di sana, apa kamu baik-baik saja?


"Ya aku baik-baik saja honey, sebentar aku akan keluar" teriak Sarah dari dalam, tak perlu menunggu lama Sarah sudah keluar dengan senyumannya yang sangat manis, senyuman ini yang dulu di banggakan oleh Dimas, sayang sekali Dimas sudah menikah dengan Siska, jika belum dia mungkin akan menjodohkan istri pada Dimas. batin Arvan.


"Honey, kenapa? Arvan tampak melamun melihat sarah.


"Semakin hari kamu semakin cantik sayang"


"Alah gombal" Sarah berjalan menuju ranjang, namun berhenti karena Arvan memeluknya dari belakang.


"Aku mencintaimu " bisiknya


"Aku juga" jawab Sarah datar.


"Aku sungguh-sungguh "


"Hey kamu pikir aku main-main" jawab Sarah sambil menghadap ke wajah suaminya yang terlihat sedih


"kita akan baik-baik saja, oke" ucap Sarah sambil mengecup sekilas pipi suaminya kemudian menghampiri Arsa yang asik makan jeruk.


"Mommy lama sekali" Rajuk Arsa pada Sarah


"maaf sayang, mommy sakit perut" jawab Sarah sambil mengelus kepala anaknya.


Tok tok tok


Pintu kamar inap itu terbuka.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2