
"Mas dimas sebaiknya kita keluar dulu yuk." ajak siska menarik tangan Dimas, dengan berat Dimas keluar dari kamar itu hanya meninggalkan sarah dan arvan
"Maaf Van, bikin baju kamu basah" Sarah berusaha membersihkan dada Arvan.
"Enggak papa biarin aja" Arvan menghentikan gerakan tangan Sarah dan pandangan mereka bertemu dan terkunci, tak ada satu pun mampu bergerak dalam keadaan ini, jantung keduanya berlalu kencang di atas normal, Arvan mendekatkan wajahnya pada Sarah semakin dekat dan ..... ah... sarah memalingkan wajah terlebih dahulu
"Maaf Van, aku gak mau jadi jadi orang ketiga" Arvan langsung memberi tatapan aneh pada Sarah.
"Maksudnya" tanya arvan dengan tatapan bingung.
"Iya, aku gak mau merusak keluargamu, karena aku juga wanita, pasti akan sakit jika prianya mendua."
"Sakit??mendua? Sarah jelas kan maksud semua itu?"
"Mammy Nisa Arvan, dia akan kecewa jika daddy-nya bersama wanita lain atau bahkan mendua." seketika gelak tawa Arvan pecah tak tertahankan. dan sekarang ganti Sarah yang bingung, apa ada yang salah?batin Sarah.
"Van, kok malah ketawa? aku serius."karena kesal Sarah berdiri dan hendak meninggalkan Arvan yang sudah gila menurut Sarah, namun tangan itu menarik sarah kembali dalam pelukannya dalam posisi berdiri saat ini
"Jadi itu yang bikin kamu kuatir selama ini??" Sarah mengangguk, Arvan membelai rambut sarah sangat lembut dan membawanya kedalam pelukan.
"Kamu tidak perlu kuatir tentang Nisa dan mommy nya."
"Maksudnya? kalian dah cerai? wajah Sarah mendongak menghadap Arvan yang masih dalam pelukan Arvan. lalu mendudukkan Sarah dalam posisi arvan jongkok dilantai menggenggam tangan Sarah.
"Aku pikir kamu pinter, tapi gak sepintar itu ya?" Goda Arvan sambil mencolek hidung mungil Sarah.
"Sarah kita berpisah baru delapan tahun, apa iya aku punya anak segede nisa, coba pikir?"
"Ya bisa aja kamu nikah sama janda kaya." bukanya kesal tapi Arvan malah tertawa dengan terpingkal-pingkal menahan perutnya yang kini sakit karena ucapan Sarah yang semakin nyleneh.
"Apa aku kurang kaya sampai harus cari janda?" tanya Arvan .
" Iya juga ya." batin Sarah.
Sarah pun terdiam melihat Arvan yang mulai serius.
"Tau gak, kamu tuh gemes banget." Arvan menarik kedua pipi Sarah. " Sarah dengar ya, Nisa bukan anak aku atau anak tiri aku dari janda, tapi Nisa itu keponakan aku." Jelas Arvan dan membuat Sarah melongo.
"Aku gak tau kamu punya kakak." Kilahnya.
"Kamu belum pernah ketemu sama dia, dia tinggal di luar negri bersama ayah, sedangkan aku bersama mami, kamu masih ingat mami kan?" Sarah mengangguk.
"Jadi aku belum berkeluarga, dan belum punya anak dari janda, aku masih menunggu kamu."
__ADS_1
" Alah gombal." Sarah melepas tangan arvan dengan kasar.
"Hey jangan marah dulu, biar aku jelaskan lagi"Sarah menoleh.
"Disini kamu masih menjadi pemiliknya" Arvan meraih tangan Sarah dan meletakkan di dadanya.
"Van lepas, jangan bikin aku baper deh."
"Sarah aku tidak sedang membual, aku beneran, bisa kan kita balik seperti dulu?" saat itu bersamaan Dimas membuka pintu dan ... "damn" gerutu Arvan.
Melihat adegan romantis itu rahang Dimas menegang, bagaimana tidak wanita yang selama satu tahun ini mengisi hatinya beradu kasih dengan bosnya.
"Dimas kamu ngapain, damn." pukulan melayang di wajah tampan Arvan. saat Arvan akan membalas di cegah oleh Sarah.
"Arvan aku mohon, hentikan"Sarah memeluk tubuh atletis Arvan, membuat Dimas semakin memanas.
Karena kesal Dimas keluar dari kamar VVIP itu dan membanting pintu.
Sarah melepas pelukannya pada Arvan dan hendak mengejar Dimas, Sarah tau itu salahnya telah menggantung perasaan pria itu selama setahun, tapi Sarah tidak bisa menerimanya karena pengisi hatinya tidak beranjak pergi.
Namun Arvan mencegahnya. Arvan tidak rela wanita yang di cintai bersama pria lain, apalagi mengejarnya.
"Aku mohon Sarah, tetap seperti ini!" Arvan kembali menarik Sarah dalam pelukannya.
*****
"Nak Dimas kok gak pernah main mbak?" tanya ibu Fatma.
"Gak tau bu, sibuk mungkin."
"Kamu bertengkar sama nak Dimas"
"Ya gak to bu, kenapa Sarah harus bertengkar kayak pacaran saja" mendengar jawaban sarah ibunya hanya menggeleng kan kepala.
"Mbak Sarah gak bertengkar bu sama mas Dimas, tapi mbak Sarah sudah nemuin yang ilang." tiba-tiba Hendra masuk kamar sarah dengan tersenyum jail.
"Apa lagi kamu Hen, sok tau"
"Maksudnya nemuin yang hilang apa hen? mbakmu balikan sama arvan? apa iya mbak?"
"Ibu apa sih, ikut-ikutan hendra saja"
"Jadi bener mbak"
__ADS_1
"Enggak ibu, sarah belum balikan sama arvan, Sarah belum berani berharap lebih" ucapnya sambil. menundukkan kepala. karena takut penghianatan akan terulang walau itu belum jelas adanya, karena masih trauma dengan kejadian tempo hari untuk kedua kalinya masih banyak hal yang membuat sarah berfikir ulang tentang semuanya. apalagi sarah bukan anak ABG yang masih mencari jati diri.
"Ya yang sabar mbak, semoga jodoh yang terbaik buat mbak." ucap ibu Fatma sambil mengelus rambut anak gadisnya.
"Hendra gak di tanya bu? kapan Hendra nikah?"mendengar pertanyaan dari putranya ibu Fatma melempar tumpukan baju yang belum di lipat di depannya.
"Kerja yang bener, sekolah dulu, baru mikir nikah"
"Inggih kanjeng mami, inggih" goda hendra pada ibunya seperti lawakan di tv.
"Bocah edan" hendra terkekeh meninggalkan Sarah dan ibunya.
*****
" Bu Sarah tolong cek data siswa baru yang akan masuk di kelas ibu hari ini!" kata pak Hery selaku kesiswaan di sekolah Sarah mengajar dan menyerahkan data .
"Siap pak" Sarah memeriksa data dengan seksama. "Alvin agustama, asal kota Jogja, usia 21, tinggi 175 wah tinggi sekali, tapi kenapa usianya sudah dewasa." batin Sarah.
Tepat bel berbunyi sarah masuk kelas tidak lama siswa baru itu masuk dan memperkenalkan diri.
"Silahkan Alvin duduk di sebelah Nisa, yang lain mohon bantuan jika Alvin ada kesulitan, dan selamat belajar" Sarah pun meninggalkan kelas.
"Siapa nama guru cantik itu" tanya Alvin pada Nisa.
"Oh itu bu Sarah, guru idola para cowok tuh" jawab Nisa.
"Iya nama lo Nisa kan, kenalin gue Alvin"
"Udah tau" jawab Nisa mengabaikan tangan Alvin (baru kali ini ada cewek cuek sama tangan kekar gue: batin Alvin)
Jam istirahat pun tiba, kebanyakan siswa pada sibuk ke kantin atau hanya sekedar bermain di lapangan dan di taman.
"Kamu gak ke kantin" tanya Nisa pada Alvin
"Gue? emang kita sedekat apa gitu manggil aku kamu?" celetuk Alvin kesal karena tadi sudah di abaikan.
"What ever" Nisa meninggalkan Alvin bersama sahabatnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰