Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
epi 29


__ADS_3

setelah mereka melahap semua hidangan yang ada di meja, mereka melanjutkan perjalanannya. kali ini duduk kami berpindah yang tadinya Yuda di belakang dengan Sarah, ganti Silvia pindah di belakang dengan Sarah, Yuda dan Hendra mengendalikan kuda roda empat itu sambil sesekali cerita dan menyusun strategi pemasaran caffe mereka.


Sarah dan Silvia tertidur pulas sepanjang perjalanan,


" hiks hiks hiks...


"ternyata kesempatan yang aku berikan tidak membuatmu meninggalkan luka Van". Sarah sesak menahan tangisnya yang susah payah dia bendung.


"maaf Sarah, ini jalan yang harus aku tempuh, maaf membuatmu terluka"


"kamu jahat, kamu selalu membuatku terbang tapi memotong sayap ku saat terbentang"


"aku tidak bisa berkata apapun kepadamu Sarah. aku pergi" arvan merjalan meninggalkan Sarah yang masih tertegun melihat kekasihnya, bukan, bukan lagi tapi mantan. tanpa sadar air mata yang berusaha iya tahan jatuh perlahan


"mbak mbak, mbak Sarah" Silvia membangunkan Sarah


"ah ...iya"


"mbak Sarah kenapa??mimpi sampe nangis gitu?" tanya Silvia


"emang aku nangis?" Sarah menyeka matanya yang memang basah


"mbak Sarah gak papa"


"mbak Sarah kenapa sil? tanya Hendra yang menoleh kebelakang


"gak papa hen, mbak gak papa kok" jawab Sarah


"ntar lagi kita sampai di penginapan, jangan tidur lagi, ntar susah lagi banguninnya" ucap Hendra untuk Silvia dan Sarah


"siap bos ganteng" ucap Silvia pada Sarah dengan genit pada Hendra.


"ih ganteng"


"kenapa mbak, iri ya gak ada yang muji"


"apaan sih hen, males tau liatnya"


"iri bilang aja mbak"


"kamu gak gelay yud liat mereka tiap hari gitu"


"gak lah mbak, kan tontonan gratis"


plok.... tabokan mendarat di lengan Yuda yang sedang menyetir


"sakit mbak, aku lagi konsen nih" keluh Yuda namun tidak di hiraukan Sarah.


Sarah mengambil benda pipih berwarna birunya nya,


"dimana sih?gerutu sarah


"apa mbak?"


"ini Handphone mbak nyelip di mana ya, kok gak ketemu di tas"


"oh Handphone, ini mbak tadi jatuh Silvi ambil"


"makasih sil " lalu Sarah berkutat dengan handphonenya berharap ada kabar dari yang jauh di sana, tapi ternyata tidak sama sekali, dan itu membuat raut wajah Sarah berubah. dan menarik nafas dalam-dalam


"mbak kenapa sih, habis buka handphone jadi surem" selidik Silvia


"apaan sih sil, kepo DECH ".


"ih mbak Sarah, kesel tau"

__ADS_1


"udah jangan ribut, sampe nih" ucap Hendra mendengar kakak dan kekasih nya adu mulut


"akhirnya sampe juga" Sarah mengeliat meregangkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal semalaman tidur di dalam mobil.


"mbak Sarah ih bau ..."


"enak aja, dah ah yuk turun" Sarah keluar dari mobil dan melihat sekitarnya


"kenapa gak di hotel aja sih hen"


"enak di homestay mbak, selain murah juga pemiliknya ramah seperti rumah sendiri"


"jadi gimana nih kamarnya?"


"mbak sama Silvia dan aku dengan Yuda"


"oke, kita langsung ketemu pemiliknya yuk"


setelah ketemu pemiliknya dan mereka di antar kekamar mereka, kamar Sarah dan Hendra tidak berjarak jauh, dan tepat di depan kamarnya ada taman kecil dan kolam ikan.


"seger ya mbak suasana Jogja, gak kayak Surabaya panas"


"heemmm... dah ah mau mandi dulu" Sarah meninggalkan Silvia yang masih berdiri depan kamarnya.


setelah Sarah mandi dan mengeringkan rambutnya, dia berbaring di kasur dan ganti Silvia yang mandi.


tok


tok


tok


"mbak Sarah, Hendra ni" Sarah pun bangun dari posisi nyamannya dan membuka pintu


"udah gak ada lagi??" tanya Sarah dengan kesal karena merasa di gurui adiknya. tapi emang benar akuvtidak boleh lagi mengingat hal yang menyakitkan itu walau aku belum tau kepastiannya seperti apa.


"udah" jawab Hendra dengan kesal. " aku berangkat, jangan berantem"


"Hendra resek banget to kamu iku" teriak Sarah karena dianggap anak kecil oleh adiknya


sepanjang hari Sarah tidur, karena tidak mungkin dia keluar dari sini takut nyasar karena tak tau arah. Silvia pun demikian, mungkin karena badanya benar-benar pegal semuanya.


drrrttt


drrttt


drrttt


handphone Sarah bergetar, ada pesan masuk


"sayang kamu dimana?"


"arvan?? tumben" guman Sarah belum sempat Sarah menjawab handphone nya kembali berdering kali ini panggilan masuk


klik


"Sarah kamu dimana?"


"ada apa"


"ayo lah Sarah jangan beri aku teka teki kali ini"


"maksudnya apa Van?"


"katakan kamu di mana"

__ADS_1


"aku di Jogja"


"untuk?"


"tidak ada hubungannya denganmu"


"aku harus menjelaskan sesuatu padamu"


"tentang?"


"Aku yakin kamu tau"


"tunggu aku pulang"


"aku akan terbang kesana"


"tidak perlu Van, selesaikan saja urusanmu, urusan kita bisa nanti. aku tutup"


tanpa menunggu persetujuan Arvan Sarah menutup benda pipih itu dan mematikannya.


jauh di kota itu Arvan kebingungan dengan berita yang telah beredar di kota itu, berita pernikahan nya dengan Sisilia.


"arrrggggghhhh" suara Arvan didalam kamarnya


"Daddy, Daddy kenapa?" suara bisa dari luar


"Daddy jawab dong, Nisa kwartir nih" namun tetap tidak ada jawaban. nisa tau ini mungkin karena beredarnya berita arvan di media masa dan elektronik beberapa hari ini sangat ramai. dan pasti ininjuga berimbas pada Bu Sarah guru bisa juga kekasih arvan.


"kasihan Daddy" gumam Nisa


"kenapa nis"


"mami, sejak kapan mami datang"


"baru aja, ngapain kamu di kamar Daddy?"


"gak apa-apa mi, tapii...emmm mami....."


"AMM emm AMM eemm ada apa? bicara yang jelas"


"apa Daddy akan baik-baik saja mih, sepertinya Daddy ..."


"dia kenapa?marah, ngamuk?" Nisa mengangguk.


"itu gak akan lama, bentar lagi kali Sisil sudah datang dia akan lupa dengan perempuan kampung itu"


"tapi mih....."


"dah kamu anak kecil gak usah ikut campur" Nisa hanya terdiam, tidak dapat berbuat banyak untung membantu daddy-nya.


"maafin Nisa dad, Nisa gak bisa berbuat apa-apa buat Daddy" gumamnya lagi dan kembali ke kamarnya


hari pun berlalu, sekarang matahari sudah mulai tenggelam, Sarah bangun dan bersiap untuk ikut adiknya meresmikan pembukaan kafe baru.


"sudah siap mbak" teriak Hendra dr luar


"iya udah" Sarah keluar dengan menggunakan dress putih dibawah lutut rambut di urai terlihat anggun dan elegan.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2