
Ada rasa yang mengganjal di hati Sarah, kenapa tiba-tiba saja Arvan mengajaknya pergi ke tanah kelahirannya. Setelah sikap yang mengesalkan beberapa bulan yang lalu.
"Kamu yakin pergi?" Sarah menegaskan.
"Kenapa?" Arvan memeluk Sarah dari belakang, karena melihat istrinya gelisah. "aku nggak apa-apa sayang, jangan mencemaskan aku, oke!" Sarah membalik badannya dan tersenyum melihat suaminya.
"Jangan siksa aku Van, aku takut"
"Aku disini, ada banyak orang yang mencintaimu." Sarah tidak tau harus berkata apalagi, dadanya sesak menahan sakit yang bertubi-tubi. "Jaga Arsa baik-baik, aku yakin kamu mampu sayang." ucap Arvan dengan membelai rambut Sarah dan mengecup nya. Seolah kematiannya sudah di rancang dengan benar. Ucapan Arvan bukan membuat Sarah tenang namun sebaliknya. Pelukan mereka semakin erat.
"A-a-aku mencintaimu, bisa kah kita berobat?" Arvan tidak menjawab, dia hanya tersenyum sedih menerawang langit-langit kamar.
"Sebaiknya kita bergegas sayang." Arvan melepas pelukannya. dan Sarah pun kembali ke aktivitas nya dengan menahan air mata.
.
.
Di airport mereka sudah di tunggu dengan beberapa mobil mewah, yang membawa mereka kerumah orang tua Sarah. Mereka akan menginap di sana untuk beberapa hari beserta mami Sinta.
Hendra dan Silvia sudah menyiapkan kamar untuk mereka semua, menyiapkan hidangan atau apapun kebutuhan Sarah dan keluarga. entah kenapa mereka sangat di sibukkan sampai Hendra lupa kalau Silvia sedang hamil sekarang.
"Aduh." Silvia mengasuh karena perutnya yang sudah membuncit membawa barang yang berat.
"Dek." Hendra berlari mendekat mengambil alih bawaan istri nya .
"Kalo ibu tau bisa di sambel aku dek." ucap Hendra gemas.
"Maaf mas, habis nya anggotamu lelet banget beres-beresnya.
"Wes sebaiknya kamu istirahat, biar aku yang lanjutkan dengan Yuda." Silvia pun mengangguk setuju dengan suaminya. dia ke kamar dan beristirahat.
Drrrttt
"Alvin? tumben" gumam Silvia.
"Iya Al, ada apa tumben?" Silvia menjawab telpon dari Alvin.
...........
"Iya nanti sore sampai, kamu mau kerumah?"
.......,.....
"Mas Hendra di depan, enggak pegang handphone, ini ada di kamar handphone nya."
...,...........
__ADS_1
"Kamu gugup ya? hayo ngaku?"
.....….....
"Alah alasan kamu? Kamu sudah di sini atau masih di Jogja?"
..,............
"Oohhh nanti malam nyampe, oke. Nanti aku bilang sama mas Hendra calon iparnya telpon."
...............
"Hahahaha" gelak tawa Silvia mengalihkan perhatian Hendra.
Tut
"Kenapa dek?"
"Si Alvin."
"Kenapa dia."
"Enggak tau, enggak jelas dia, Nyari kamu tadi,"
"Coba mana handphone ku?" Hendra mengambil handphone yang di berikan istri nya. "gila, sampai dua puluh kali panggilan tak terjawab dek, Hahaha."
"Dia penasaran sama mbak Sarah Mas."
"Tapi dia masih di Jogja katanya."
"Dia bilang begitu?"
"Heeemmm."
"Masak iya dek, Alvin nanti jadi mas ku." Hendra membayangkan nya geli sendiri.
"Yo enggak tau mas, kalo takdir mau di apa." jawab Silvia bijak. Hendra pun hanya manggut-manggut.
.
.
"Halo Arsa, tambah cakep aja keponakan Tante ini." Arsa memeluk perut Silvia yang sedang membuncit.
"Ibu...," Silvia menyalami mertuanya bergantian dengan mertua iparnya. sementara Hendra membantu Rico membereskan koper dan membawa masuk kedalam di kamar masing-masing.
"Mbak..." Silvia menyalami kakak iparnya memeluknya.
__ADS_1
"Gimana kamu Sil, sehat?" tanya Sarah sambil memeluk perut gadis itu.
"Alhamdulillah sehat Mbak, mbak gimana?kurusan ya?" Sarah tidak menjawab hanya tersenyum lalu mengajak masuk.
"Arsa, dimana kamu nak." seketika Sarah bingung karena tidak melihat anaknya.
"I'm here moms, dengan om Yuda."
"Oh, okey...., Yuda disini juga dek?"
"Iya mbak, bantuin mas Hendra tadi."
Semua tamu duduk di ruang keluarga, semntara Sarah membantu mbak Iis membuatkan minuman dan makanan ringan.
"Jaga kesehatanmu dek, jangan capek-capek, kasihan dedek bayinya."
"Iya mbak, tapi kadang aku bosen kalau enggak ngapa-ngapain. Apalagi mas Hendra kalau sudah protektif nya kumat. haduuhh" keluh Silvia.
"Itu namanya sayang kamu dek,"
"Emang dulu mas Arvan gitu mbak." Sarah mengangguk .
"Hayo ngomongin aku ya?" tiba-tiba Arvan sudah ada di belakang mereka lalu dia memeluk istrinya dari belakang.
"Ih mas Arvan, bucinnya masih ada aja, nggak ilang-ilang."
"Kayak kamu enggak gitu aja sih Sil sama Hendra."
"Enggak usah buka kartu mas, Silvia malu."
"Kapan kira-kira kamu lahiran Sil?" tanya Arvan .
"Perkiraan Minggu depan sih mas."
"Sudah tau belum jenis kelaminnya?"
"Cewek mas, sesuai pesanan mas Hendra."
" Hahahaha," gelak tawa dari dapur membuat orang yang ada di luar mengalihkan perhatian nya.
"Ada-ada aja kamu."
.
.
Gimana caranya bayi bisa di pesan..hemmm tanya mas Hendra yuk.hehehhe
__ADS_1
Bersambung
Happy reading