Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
Episode 7


__ADS_3

Dengan matanya yang masih tertutup, Rara merasakan kalau tempat tidurnya sangat nyaman berbeda


dengan biasanya. Akhirnya di membuka matanya dan mencoba mengumpulkan kesadarannya. Saat di rasa cukup sadar, Rara melihat sekeliling ruangan dan dia tersadar kalau itu bukanlah kamarnya. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.


Masih ingat dalam ingatan Rara kalau semalam dia masih berada di ruangan Tian. Dia melihat baju dan celana yang belum berubah dari kemarin menandakan kalau tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Tian.


Tak lama kemudian, “Kamu sudah bangun?” tanya Tian yang keluar dari kamar mandi yang hanya terbalut handuk dan menampakkan tubuh yang yang berotot. Bukannya menjawab Rara malah terbengong dengan pemandangan yang ada dilihatnya.


“Aaaahhhh...” teriak Rara sambil menutup matanya dengan selimut.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Aku? Aku habis mandi,”  jawab Tian dengan nada santai.


“Iya tahu, tapi..”


“Hei, apa yang otakmu pikirkan?” balasan teriakan dari Tian.


“Kamu tidak memakai pakaianmu,” gerutu Rara.


“Tapi aku memakai celana,” ucap Tian santai.


Rara mencoba mengintip dengan menurunkan selimut dari wajahnya, dia melihat Tian yang tengah memakai pakaiannya, setelah itu dia benar-benar menurunkan selimutnya saat dia melihat Tian yang sudah berpakaian lengkap.


“Kamu tenang aja! Aku tidak tertarik tubuh denganmu. Kamu tidak seksi dan...” Tian yangdadanya dengan kedua tangannya,”rata” ucap Tian.


“TIAN!!!” Teriak Rara.


“Mandilah setelah itu turunlah ke bawah dan buatkan aku sarapan,” suruh Tian.


Baru kali ini dia memanggil nama gue lagi, ucap Tian dalam hati seraya meninggalkan Rara setelah menutup pintu kamar dengan perlahan.


Rara beranjak dari tempat tidur, lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang tidak jauh dari tempat tidur.


Dia melihat-lihat kamar mandi milik Tian yang terkesan mewah dengan semua alat mandi yang terlalu canggih baginya. Rara yang cukup kesusahan dengan segala kecanggihan peralatan mandi milik bosnya itu. Hal itu lah yang membuat Rara hampir 1 jam berada di kamar mandi.


Setelah dia selesai mandi dan memakai kembali pakaian yang dia kenakan sebelumnya, lalu dia turun ke bawah seperti yang di perintahkan Tian padanya.


“Kamu lama sekali, kamu mau membuatku mati kelaparan!” ucap Tian dengan ketus.


“Sehari tidak sarapan tidak membuatmu mati, lagi pula sepertinya malaikat pencabut nyawa enggan mencabut nyawamu,” gerutu Rara yang ternyata masih saja mengikuti perintah Tian dengan pergi ke arah dapur.


“Apakah ini doamu agar aku panjang umur?” ledek Tian.


Rara yang berada di dapur, terdiam bingung apa yang harus dia buatkan untuk Tian. Dengan pakaian kantornya, dan membuka kulkas milik Tian memperhatikan bahan apa saja yang dapat dia gunakan untuk memasak, tetapi yang dia temukan hanya bir, minuman bersoda, serta buah. Untung saja ada telur dan beberapa lembar daging sapi serta dia melihat roti. Akhirnya dia memutuskan untuk membuatkan sandwich untuk


tian dan juga untuknya.


“Gue rasa ‘nih orang enggak  pernah memakai dapur ini untuk memasak,”


“Tian, bagaimana menggunakan kompor ini?” sebuah teriakan dari Rara mampu menginterupsi Tian


untuk menghampirinya.


“Apakah kamu selama ini masak dengan kayu bakar?” tanya sindir Tian.


“Kompor milikmu berbeda dengan yang ada di rumahku,” ucap polos Rara.


Mendengar kepolosan Rara mampu membuat Tian sedikit tersenyum, setelah membantu Rara, Tian memutuskan untuk duduk di kursi meja makan. Sesekali dia memperhatikan Rara dan sesekali dia memperhatikan ponsel miliknya.


10 menit kemudian...


Rara mengantarkan dua piring sandwich untuknya dan untuk Tian terutama. “Di makan , pak,” kata Rara sambil menyodorkan piring ke arah Tian.


Tian menaruh ponselnya di meja, dan menyantap makanan buatan Rara.


“Hanya ini?” tanya Tian.


“Bapak pikir, apa yang saya dapat masak jika hanya telur dan beberapa daging sapi? Tanpa adanya nasi hanya roti,” gerutu Rara.


“Oh,” jawab Tian dengan menganggukkan kepalanya.


“Enak?” tanya Rara.


“Hmm... menurutmu rasanya seperti apa?” jawab Tian.


Seketika sebuah kenangan dalam pikiran Tian muncul, sewaktu sekolah dimana Rara sering membuatkan makanan untuknya. Dan dia baru teringat kalau Rara sangat pandai memasak.


“Tinggalkan semuanya di situ, pengurus kediaman ini yang akan membereskannya nanti. Ayok kita berangkat,” kata Tian.


Setelah menghabisi makanannya, Rara mengambil tas miliknya dan pergi mengikuti Tian yang berada di depannya.


***


Bukannya langsung ke hotel, Tian mengajak Rara ke mall yang berada di satu gedung dengan hotel tempat dia bekerja. Memang hotel ini berada tepat di atas mall yang bernama sama dengan hotel tersebut.


Tian mengajak ke sebuah toko pakaian,” mau ngapain,pak?” ucap Rara yang tanpas adar menarik tangan Tian.


“Apa kamu mau memakai pakaian yang sama dengan kemarin?” kata Tian yang mampu menyadarkan diri Rara yang menyadari bagaimana kata orang jika dia datang ke kantor dengan bosnya dan memakai pakaian yang sama dengan kemarin. Rara tidak mau menimbulkan gosip di seluruh gedung ini, apalagi gosip dirinya dengan pria yang sangat menyebalkan di sebelahnya ini.


“Ayok,” kata Tian setelah melihat Rara berganti pakaiannya.


“Apa kamu tidak membayarnya?”

__ADS_1


“Apa aku harus membayar apa yang aku inginkan di tempat milikku?” kata Tian yang di anggukan kepala oleh Rara tanda menyetujui perkataan Tian.


“Sombong,” ucap Rara dengan pelan.


***


“Selesaikan tugasmu,” kata Tian yang mampu menghentikan langkah Rara yang akan menuju mejanya.


Dimas yang melihat Tian dan Rara datang bersama menduga kalau mereka bersama-sama  membuat Dimas membenarkan dugaannya kalau Rara bersama dengan Tian dari kemarin.


Rara yang membalikkan badannya da menatap Dimas dengan muka cemberut, Dimas hanya tersenyum dan mengepalkan kedua tangannya, ”semangat,” kata Dimas walau tidak terdengar suaranya tetapi dengan memperhatikan mulut Dimas, itulah kata yang di ucapkan Dimas pada Rara.


Di ruangan Tian, Rara menarik nafas panjang dan mengembuskannya saat meliht kertas-kertas yang


masih berserakan.


Rara melakukan kembali tugas yang belum selesai.


“Terima kasih, Pak,” kata Rara.


“Apa?” tanya Tian seakan meminta Rara mengulang kembali.


Kayaknya suara gue enggak pelan deh,gerutu Rara.


“Terima kasih, Pak,” kata Rara kembali dengan suara lantang.


“Enggak usah teriak, saya enggak tuli,” gerutu Tian.


“Di kira bapak budek,” kata sindir Rara.


“Apa kata kamu?!”


“Oh, iya , kenapa bapak kemarin tidak membawa saya pulang ke rumah, ‘kan bapak tahu rumah saya?”


“Kamu pikir, apa aku tidak akan mengganggu orang rumahmu jika aku mengantarkan kamu ke rumahmu, ‘toh aku sudah meminta pacarmu untuk mengabari om dan tante,” kata Tian.


Hmm...  Pacar????, kata Rara dalam hati dengan bingung apa yang di maksud bosnya itu.


“Oh,iya, sebagai imbalan terima kasihmu. Aku mau kamu membuatkanku sarapan setiap hari untukku,” kata Tian.


“APA?”


“Apa aku harus mengulang perkataanku?”


“Tapi...”


“Tidak ada tapi-tapian..”


“Bukankah kamu bilang sendiri apa yang aku makan sampai di kulkasku tidak ada apa-apa. Maka dari itu, aku meminta kamu membuatkanku sarapanku setiap hari. Bukankah kamu dulu sering membuatkan aku makanan,” ucap Tian.


“Ekh, pokoknya aku mau kamu buatkan aku sarapan setiap hari titik,” kata Tian.


Untung saja, Tian rapat setelah makan siang. Jadi, semua catatan ayng di perlukan Tian mampu


dia selesaikan.


Jam setengah satu, Rara baru menyelesaikan semuanya. Setelah semua selesai, dengan mendapatkan ijin Tian, Rara pergi untuk makan siang bersama Inka.


“RARA,” teriak Inka.


“Bisa enggak,enggak pake teriak, malu tahu,” ucap Rara.


“Ayok, gue udah laper nungguin lu, bisa-bisa gue mati kelaperan nungguin lu,” kata Inka.


“Hari ini mendengar dua orang yang hampir mengucapkan kata yang sama,” gerutu Rara.


“Apa?” tanya Inka.


“Enggak, ayok kita makan,” kata Rara langsung mengganti topik.


***


Beruntung rapat berjalan dengan baik tanpa ada gangguan dan kendala sedikit pun. Sehingga hari ini Rara bisa pulang sama seperti dengan karyawan yang lainnya.


Tok..tok...  ketukan pintu dari Rara di depan ruangan Tian, entahapayang di pikirkan Rara membuat dirinya berniat untuk pamit pada bosnya itu.


“Masuk,” suruh Tian dari dalam ruangan.


“Pak, saya mau...” belum sempat Rara menyelesaikan kalimatnya, langsung Tian memotong perkataannya.


“Pulang aja, biasanya juga pulang langsung pulang,” kata Tian yag fokus pada laptopnya.


“Buset nih orang punya indra ke enam kali ya..” ucap Rara pelan.


“Hmm.. iya juga sih, tapi aku juga mau bilang terimakasih sekali lagi untuk tempat menginapnya,” kata Rara.


“Nasi goreng,” ucap Tian.


“Maksudnya?”


“Aku mau kamu besok memasakkan saya nasi goreng,” kata Tian.


“Iya, kalau gitu, saya permisi,” kata Rara.

__ADS_1


Tian melirik ke arah Rara sampai lawan bicaranya ini menutup pintu ruangannya.


***


Samai di rumahnya, Rara membersihkan dirinya. Sambil merendam dirinya di bathup dan tak lupa di menaruh minyak-minyak aroma terapi di dalamnya.


“Ah.. nikmatnya,” katanya sambil relakskan tubuhnya di dalam rendaman air.


Besok buatkan aku sarapan,sebuah kata ucapan Tian yang tiba-tiba muncul di dalam pikirannya.


“Akh,” Rara yang mengepak air tanda kekesalan.


Dulu kamu sering membuatkan aku makanan,sebuah kata Tian yang kembali membuat Rara tersenyum-senyum malu seorang diri.


“baiklah aku akan membuatkan dia nasi goreng,” kata Rara dengan tersenyum.


Akhirnya Rara pun keluar dari bathup dan mulai membersihkah dirinya, setelah itu dia membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Walau tidak seenak kasur milik Tian setidaknya ini kasur yang menemaninya bertahun-tahun lamanya.


***


Pagi ini, Rara bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah seluruh jiwanya mengumpul di raganya, Rara keluar kamar dan menuju ke dapur. Dia melihat-lihat bahan-bahan untuk membuatkan Tian nasi goreng. Untung saja, ada stok bumbu nasi goreng instan yang mempermudah semuanya. Tentu Rara tidak masak hanya untuk Tian, tetapi juga untuk kedua orang tuanya, kakak dan tentu juga dia.


Setelah jadi, Rara terlebih dahulu menyendokkan nasi goreng ke piring orang tuanya dan di akhiri dengan menaruh dikotak makan untuk Tian.


“Tumben, tuan putri masak,” sindir Rendi yang meilhat Rara sudah sibuk menaruh piring nasi ke meja makan.


“Emang aku enggak pernah masak,” balas Rara.


“Tumben anak mama masak,” kata mamanya yang d tambah anggukan kepala dari papanya menyetujui perkataan istrinya itu.


“Ih, kayak baru pertama kali liat Rara masak ‘loh,” gerutu Rara.


***


Sampai di ruangannya, dia mengeluarkan bekal makanan untuk Tian sebelum memberikan pada Tian, dia menuliskan sebuah note untuk Tian.


“Nih, Pak Tian nasi gorengnya, Jangan lupa di habiskan.. ttd Rara yang cantik” begitulah kata-kata yang Rara tuliskan di note untuk Tian. Setelah selesai menulis, dia menempelkan note itu di tutup bekal nasinya. Lalu Rara masuk ke ruangan Tian dan menaruhnya di meja Tian.


Tak lama kemudian setelah Rara kembali dari ruangan Tian, pemilik ruangan tersebut datang.


“Pagi, Pak Tian,” kata yang selalu di ucapkan Rara selama menjadi sekretarisnya, dan selama itu pula Dimas yang menjawabnya, sedangkan orang yang di tuju hanya menganggukkan kepalanya,


“Suruh wanita itu keruanganku,” kata Tian melalu telepon yang baru saja berdering.


“Ra, di panggil,” kata Dimas.


Tahu yang di maksud Dimas, Rara langsung mengetuk pintu ruangan Tian.


“Apa kamu tidak bisa mengangkat telepon?” sebuah omelan Tian.


“Sudahlah enggak usah di bahas. Kamu yang memberikan sekotak nasi goreng ini?” tanya Tian.


Nih orang terkena amnesia apa?


“’Kan, bapak yang minta kemarin,” jawab Rara.


“Hmm iya, tapi kamu menyuruh saya makan dengan apa? Mana sendoknya?” kata protes Tian.


“Aakh iya, bentar pak, saya ambil dulu di pantry,” ucap Rara yang langsung berlari,” enggak usah lari,” ucap Tian yang mampu membuat langkah Rara melambat.


Rara yang terburu-buru langsung mengambil sendok dan garpu milik Tian, lalu kembali lagi ke ruangan Tian.


“Ini, pak,” kata Rara sambil menyodorkan sendok garpu.


“Sekarang, pergi buatkan saya kopi,” suruh Tian.


“Baik,Pak,” kata Rara pelan.


Setelah Rara keluar, Tian tersenyum lalu menikmati makanan buatan Rara,” ‘Kok rasanya sedikit berbeda dari yang dulu,” walaupun begitu, nasi goreng itu habis tanpa meninggalkan sebutir nasi sedikit pun.


Setelah selesai, Rara kembali lagi di panggil oleh Tian. Dan itu membuat Rara jengkel di buatnya, kalau dia menduga hari ini Tian sangat menjengkelkan mungkin dia sudah menaruh racun tikus pada makanan Tian.


“Apa lagi, pak?” gerutu Rara saat sudah berhadapan dengan Tian.


“Ini,” kata Tian sambil menyodorkan kotak makan milik Rara.


“Sekarang kamu boleh keluar,” suruh Tian.


“Oh, iya terima kasih,” kata Tian.


“Apa pak?” kata Rara tidak percaya kalau bosnya ini bisa juga terima kasih padanya.


“Kamu tuli,” gerutu Tian. Yang di balas senyuman oleh Rara,” sama-sama, pak,” jawab Rara.


***


Setelah pulang kerja, Tian berinisiatif pergi ke sebuah supermarket di dalam mall. Dia membeli beberapa potong dada ayam tanpa tulang, beberapa bumbu dapur, dan beberapa bahan yang lain untuk di penuhi di kulkas di lemari di dapurnya.


Satu troli penuh dengan bahan-bahan yng di anggap perlu bagi Tian. Dengan senyuman penuh arti sambil melihat troli belanjaan yang sudah penuh. Akhirnya Tian membayar dan pulang ke rumahnya. Tak luput dia pun membeli magiccomuntuk menanak nasi.


Tiba di rumah, dia memasukkan semua yang layak di masukkan ke kulkas, selebihnya di masukkan ke lemari, bahkan beras pun di masukkan ke dalam lemari. Dan untuk magiccom dia hanya melepaskannya dari dusnya.


Setelah semuanya selesai, Tian pergi ke kamarnya. Dia membersihkan dirinya setelah itu dia membaringkan tubuh di kasurnya dengan sebuah rencana diotaknyayang akan dia lakukan besok.

__ADS_1


****


__ADS_2