
"Kamu yakin Al?" Alvin hanya mengangguk saat Reno dan lainnya berkumpul di ruang keluarga.
Entah dari mana mereka tau berita itu, sehingga cepat sekali menyebar di kalangan Agustama. Sedangkan di keluarga Mahendra tidak terjadi keributan apapun, hanya Sarah yang sering melamun dan mengurung diri di kamar.
"Mas sudah tau dari dulu, kenapa masih tanya sekarang?"
"Itu sudah lama sekali Al, saat kamu masih kuliah, masih ingusan yang iseng jadi anak SMA untuk berkenalan dengan guru itu."
"Dan mas juga pernah bertemu dengannya." Celetuk Alvin, dan mendapat tatapan tajam dari sang kakak.
"Jadi kau sudah tau mas?" kini istri Reno yang bertanya pada Reno.
"Iya." Reno nyengir kuda. "Aku cuma bantu Alvin yang, untuk menilai wanita yang dia suka, itu juga sebelum aku menikah dengan mu." Jawab Reno.
"Sudah kok pake acara sidang segala." jawab Dila istri Reno.
"Sekarang ini bukan hanya masalah Sarah , tapi dia sudah bersuami dan juga memiliki anak, jadi beda cerita jika dia masih singel seperti dulu." jelas Reno.
"Papa sudah menyiapkan jodoh untukmu, kamu ingat itu Al?" tanya tuan Agustama tegas.
"Sudah sering kali pa Alvin menolak, kenapa dipaksa terus." jawab Alvin jegah.
"Cukup kak Reno yang papa jodohkan, Alvin tidak mau."
"Jadi kamu akan tetap menikahi istri orang itu?"
"Nunggu sampai yang laki mati." lalu Alvin meninggal ruangan sidang yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Dasar bocah tengik, bagaimana bisa dia melawanku." keluh pria lansia itu.
"Papa tidak akan bisa memaksa Alvin pa." Ujar Reno.
__ADS_1
"Kenapa tidak?"
"Alvin sudah mandiri sejak SMA, usahanya sudah di beberapa kota, tanpa bantuan Papa dia sudah bisa semaunya, jadi percuma papa melarangnya, hanya buang-buang tenaga."jawab Reno dan ikut meninggalkan ruangan. " Ayo," Reno menarik tangan Dila.
.
.
"Kenapa papa tidak bisa melarang Alvin untuk tidak menikahi wanita itu mas?" tanya Dila tiba-tiba saat mereka sudah berada di kamar. "Papa bisa mengancamnya, seperti yang dilakukan padamu,"
"Alvin berbeda dengan ku, dia mampu mandiri tanpa bantuan sedangkan aku harus menjalankan perusahaan papa."
"Mas mandiri juga dong."
"Kalau aku mandiri mungkin aku tidak akan ada disini sekarang."
"Alah, kira-kira, menurut mas , Papa akan memberi restu atau tidak?"
"Kasian Alvin, Hampir saja dia mendapatkan pujaan hatinya tapi banyak kendala."
"Tapi kenapa bisa Alvin suka ibu-ibu sih mas."
"Panjang ceritanya, kamu enggak akan sanggup dengernya, sudah sana tidur." perintah Reno pada Dila karena dia tidak mau terlalu panjang membahas adiknya itu.
.
.
"Mommy..." teriak Arsa saat melihat Sarah sudah berada di depan gerbang sekolah.
"Hay sayang, gimana sekolah hari ini?"
__ADS_1
"Good." lalu Sarah membawa Arsa masuk mobil. "Daddy?"
"Hay jagoan, Siap kita pergi ke rumah grandma?"
"Grandma? mommy tidak bilang mau pergi?"
"Kita antar Grandma dan uty nenek ya."
"Arsa suka sekolah Daddy, nanti Arsa tidak bisa bertemu dengan teman-teman." keluh Arsa.
"Hanya sebentar sayang, satu Minggu,oke." Walau dengan terpaksa Arsa mengangguk juga. " Gitu dong jagoan daddy." mereka pun pulang ke rumah untuk mengemasi barang yang akan di bawa.
"Jam berapa pesawat kita sayang?" tanya Arvan.
"Sore jam 3"
"Kita ke rumah ibu dulu, baru lanjut kerumah mami."
"Kamu kurang sehat Van, apa sebaiknya tidak perlu kita mengantar."
"Aku ingin jalan-jalan." Sarah tidak tau lagi harus bilang apa, dia hanya mengangguk lemah lalu lanjut menyiapkan barang-barangnya.
.
.
.
Bersambung
happy reading
__ADS_1