
Setelah semalam adanya pesta penyambutan. Sekarang, akan ada acara perkenalan Tian kepada masing-masing divisi.
Satu persatu para pegawai di perkenalkan oleh Dimas ke Tian. Tian menyalami dengan tersenyum ramah, dan Dimas menjelaskan siapa yang dia kenalkan itu serta Tian pun pasti menanyakan beberapa hal kepada masing-masing pegawai.
Sebelumnya atau lebih tepatnya sehari sebelum Tian hadir ke kantor, Dimas sudah menjelaskan siapa-siapa orang yang memegang jabatan di kantor, seperti para Pemegang saham, para Kepala Divisi, tetapi sayang, dia tidak melihat Rara yang ada dalam list orang tersebut padahal dia adalah sekretaris dari sekretaris dari
Pak Bima, Kepala Divisi Keuangan.
Dimas menjelaskan secara detail apa yang terjadi dengan mereka semua, dari orang yang sengaja mau menjatuhkan perusahaan, orang yang bermuka dua, dan lainnya.
Kembali ke perkenalan...
Semua yang telah bersalaman dengan Tian kagum dengan kepribadiannya yang ramah dan tegas, dan wanita-wanita yang bersalaman dengan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Rara yang menunggu giliran berusaha sekuat tenaga mengatur nafasnya, tangannya yang berkeringat sudah membuktikan betapa gugupnya dia saat ini. Kegugupannya semakin tinggi serta jantungnya yang berdetak tidak
karuan seakan orang-orang di sekitarnya dapat mendengar suara detak jantungnya yang sangat kencang berdetak saat Tian yang kini sedang berbicara dengan pegawai HRD yang tepat berada di sebelahnya.
Rara yang memainkan tangannya berusaha menunggu giliran, tanpa di ketahui Rara, Tian melirik Rara yang menunduk sambil memainkan jarinya.
Rara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya saat mendengar kata terakhir dari mereka berdua yang menandakan bahwa dia yang sekarang menjadi gilirannya.
Saat Rara bersiap mengulurkan tangannya untuk berjabat tangannya, seketika...
Apa??? Di lewatin??? Hellow, gue segede ini di lewati? Gue tahu kali kalau tangan gue berkeringetan, tapi ya, ga gitu kali, gerutu kesal Rara.
Rara melongo memandang tangannya yang tak terbalas, tak hanya Rara, Dimas yang berada di belakang Tian pun tak kalah kaget dengan yang dilakukan oleh Tian. Bukan-bukan, bukan hanya Dimas, sepertinya hampir semuanya dapat melihat adegan tak terbalas ini.
Rara tidak menyangka, bukan hanya cintanya yang tak terbalas, tetapi juga uluran tangannya juga tak terbalas oleh
Tian. Dan hal ini pun pasti di sengaja oleh Tian, mana mungkin Rara yang segede ini bisa tidak terlihat oleh Tian.
Berbeda dengan Rara, Tian menganggap tidak terjadi apa-apa malahan sekarang tengah asyik berbicara dengan salah satu pegawai dari divisi Humas yang berada tepat di sebelah Rara.
Saat Tian sudah selesai berbicara dan hendak berjalan ke sebelahnya,” Maaf, Pak. Bapak melewati Ibu Rara,” ucap Dimas yang berusaha mengalihkan perhatian Tian.
Perkataan Dimas yang mau tak mau membuat Tian melirik Rara. Tian menatap Rara dengan penuh kebencian.
“Oh,” ucap acuh Tian. Dan sekali lagi mau tak mau Tia menjawab tangan Rara. Tian meremas tangan Rara sambil menatap Rara dengan Benci. Rara yang tangannya di remas, meringis kesakitan dan berusaha tersenyum seakan tak terjadi apa-apa.
Setelah perkenalan selesai, dengan
emosi Rara keluar dari ruang rapat tanpa pamit kepada yang lain. Hal itu di
perhatian oleh Pak Budi, ayah dari Dimas yang sekaligus manajer dari Hotel AW.
“Papa kamu perhatian juga sama calon menantunya,” sindir Tian ke Dimas. Dimas hanya diam terbengong dengan yang dikatakan Tian.
Dimas menduga kalau Tian dan Rara memiliki sebuah hubungan yang tidak di ketahui Dimas, kalau tidak mana mungkin Tian sangat membenci Rara bahkan sangking bencinya Tian ingin mengeluarkan Rara dari hotel itu tanpa alasan yang jelas.
Dimas bahkan sampai kebingungan harus mencari kesalahan Rara yang bahkan Rara tidak melakukan kesalahan apa pun.
Rara berlari ke wc, di dalam wc, Rara memegang tangan yang baru saja di remas oleh Tian, tanpa disadari air mata Rara menetes di pipinya bukan hanya karena perlakuan Tian tetapi juga rasa sakit yang dirasakan oleh tangannya saat ini.
Tak ingin berlama-lama di wc, akhirnya Rara menuju kantin meminum secangkir es jeruk untuk mereda emosinya.
“Nih,” kata Pak Andi yang menaruh es krim cokelat kesukaan Rara di atas meja. Rara langsung mengambilnya dan
memakannya dengan rakus .
“Sakit ya?” tanya Pak Andi.
“Menurut Bapak?” tanya Rara dengan ketus.
“Ye, Bapak ‘kan cuman nanya, keselnya sama siapa, marahnya sama siapa,” kata Pak Andi.
“Emang kamu punya masalah apa sih sama Pak Tian?” tanya Pak Andi penasaran.
“Bapak tahu kan, cinta pertama Rara?” kata Rara yang mencoba mengingatkan kembali.
“Hmmm...,” Pak Andi yang berusaha mengingat.
“Oh, Christian itu, iya.. iya.. Om inget,” kata Pak Andi sambil memukul meja.
“Eh, maksudnya bapak,” kata Pak Andi mengoreksi.
“Tunggu.. tunggu.. jangan bilang Christian itu sama dengan Pak Christian yang tadi,” kata Pak Budi yang di balas
dengn anggukan kepala oleh Rara.
“Astaga, Ra, sepupumu tahu hal ini?” tanya lagi.
“Belum,” ucap Rara.
“Ya udah, Bapak tinggal ya, nanti ada gosip lagi kalau Bapak pacaran sama anak ABG lagi,” bisik Pak Andi.
“’kan rugi, bapak di gosipin sama ponakan sendiri,” tambahanya lagi.
__ADS_1
“Siapa juga yang mau di gosipin sama om-om,” kata ketus Rara sambil mengapus air matanya.
Setelah puas meminum es jeruk pesanannya dan juga memakan es krim dari Pak Andi, akhirnya Rara kembali keruangannya.
Saat hendak keruangannya, tiba-tiba Dimas menarik tangannya dan mengajak Rara keruangannya. Awalnya Rara menolaknya, tapi Dimas memaksa, takut tangan Rara terjadi memar. Hal ini berani di lakukan oleh Tian karena saat ini Tian tengah berada di ruang Direksi.
Dimas mengompres tangan Rara dengan telaten tanpa mereka sadari, Tian yang berada tak jauh dari mereka
memperhatikan Dimas dan Rara. Tian melihat Dimas yang sangat perhatian pada Rara dan Tian menduga kalau Dimas sangat menyayangi Rara.
“Ehem,” suara deheman Tian membuat Dimas dan Rara menoleh ke sumber suara. Dimas langsung menghentikan
aktifitasnya, sedangkan Rara langsung berdiri dan hendak meninggalkan lokasi.
“Maaf Pak, permisi,” ucap Rara pada Dimas.
“Permisi,” kata Rara pada Tian tanpa melihat wajah Tian. Lalu berlari meninggalkan mereka tanpa menoleh kebelakang.
Tian memperhatikan Rara yang lari terbirit-birit, sedangkan Dimas yang menyaksikan kedua insan ini benar-benar
menduga kalau mereka memiliki sebuah hubungan. Apalagi saat Tian yang tanpa mengedip memperhatian Rara.
Dimas langsung mencari informasi kepada papanya setelah pekerjaannya sudah beres.
Tok.. tok...
“Permisi Pak Andi,” kata Dimas yang masuk keruangan papanya.
“Wah ada apa asisten Pak Tian datang kemari,” kata Pak Andi.
“Begini pak, Bapak tahu hubungan antara Pak Tian dan Rara?”tanyanya penasaran.
“Duduk dulu dong Pak Dimas, Hayo.. mau tahu banget atau mau tahu aja nih?” ledek Pak Andi.
“Pa..pa..,” kata Dimas.
“Huss! Nanti ada yang tahu kalau kamu anak papa,” kata Pak Andi.
“Gini, Dim, kamu tahu ‘kan cowok yang disukai Rara waktu sekolah?” tanya Pak Andi.
“Iya tahu, lalu?” tanya Dimas.
“Iya.. anak cowok itu adalah anak pemilik dimana Rara saat ini bekerja,” kata Pak Andi
“Padahal tadi, Bapak ingin menyuruh Rara menjadi sekretaris Tian untuk membantu kamu,”ucap Pak Andi.
“Heh! Pak Christian, Dimas sayang,” kata Pak Budi mengoreksi.
“Hmm.. oke, aku sekarang tahu,” ucap Dimas sambil menganggukkan kepalanya.
“Jadi sekarang kamu mendingan jauh-jauhin dia dari Tian deh, kayaknya Pak Tian punya dendam kesumat sama
Rara, ‘kan kamu liat sendiri kalau Tian kayaknya benci banget sama tuh anak,” kata Pak Andi menjelaskan.
“Iya.. iya... aku harus menghindarkan Rara dari Pak Tian kalau enggak Rara bisa di makan hidup-hidup sama dia,” kata Dimas.
“Kalau gitu, saya permisi Pak Andi,” ucap Dimas.
Dimas yang berjalan meninggalkan ruang kerja papanya, memikirkan bahwa semua sangat kebetulan. Dimas cukup kasihan dengan Rara, karena Dimas tahu pasti bagaimana Rara dahulu menyukai anak yang bernama Christian itu dan Dimas teringat Reza kekasih Rara, dia tidak mau kalau Rara kembali menyukai Tian karena pasti kasihan Reza yang sudah susah payah mengambil hati Rara.
***
Pagi ini, Tian memanggil Dimas untuk keruangannya. “Kamu, udah ketemu siapa yang bakalan menjadi sekretaris saya?” Tanya Tian.
“Dari syarat yang bapak minta, ada satu karyawan yang cocok untuk membantu bapak, tetapi sepertinya bapak dan dia memiliki hubungan yang kurang baik,” ujar penjelasan dari Dimas.
“Siapa?” tanyanya.
“Ibu Rara,”ucap Dimas.
“Perempuan itu?” ucap Tian.
“Perempuan itu memiliki nama. Namanya Rara,” kata Dimas. Dimas sedikit kesal dengan sikap kasar Tian yang seperti itu.
“Ya.. ya.. kamu marah saya tidak menyebut namanya,”Kata Tian yang seakan tahu reaksi Dimas.
Tian cukup kesal kenapa harus Rara yang menjadi satu-satunya kandidat sekretarisnya, dan jika kalau Rara yang
menjadi sekretarisnya otomatis Rara dan Dimas akan selalu bersama-sama. Tanpa sadar, Tian yang memikirkan kalau Rara yang akan selalu dekat dengan Dimas membuat dia menjadi kesal.
“Tapi saya belum mengatakan kalau Ibu Rara akan menjadi sekretaris bapak, kemungkinan dia akan pindah ke hotel kita yang ada di Bali,” ucap Dimas.
Mendengar itu, sebenernya Tian sedikit sedih, karena dia merasa kalau dia akan tidak lagi bertemu dengan
sahabat lamanya itu. Walau sebenernya rasa benci Tian pada Rara tidak seperti dahulu, tapi jika melihat Rara seakan dia melihat kejadian di mana Jessica memutuskannya karena Robi, yang tidak lain sahabat Rara.
“Hmm, setelah saya memikirkan, saya menyetujui kalau dia akan menjadi sekretaris saya. Dan katakan pada dia kalau misalkan dia menolak hal itu, saya akan pastikan kalau dia tidak akan di terima di tempat kerja manapun!” ucap tegas Tian.
__ADS_1
Setelah itu, Tian menyuruh Dimas untuk memberitahu ke Rara mengenai keputusannya itu. Dengan berat hati Dimas kelur dari ruangan Tian, rasanya kakinya berat untuk melangkah ke ruangan Rara berada.
Tok..tok..
“Sibuk, Ra,” ucap Dimas.
“Sibuk dari mana?” kata Rara.
“Oh, iya, gimana kapan aku siap jadi pindah tugas di Bali,” ucap Rara.
“Oh, iya, aku ke sini mau kasih tahu kamu, sepertinya kamu tidak bisa pindah ke Bali. Karena Pak Tian minta kamu jadi sekretaris dia,” kata Dimas.
“Gak mau! Kenapa aku? ‘kan ada kakak,” ucap Rara menggerutu.
“Aku asistennya, Ra. Hmm..oh, aku lupa, satu lagi perkataannya dia, kalau kamu menolak, dia bakal buat kamu untuk tidak dapat bekerja di mana aja,” kata Dimas berbisik.
“Jadi, mendingan kamu pikir-pikir,” kata Dimas.
“Maaf, Rara sayang, kalau kali ini kakak enggak bisa bantu,” kata Dimas kembali seakan tahu bahwa Rara akan memohon padanya.
Sepeninggal Dimas, Rara memikirkan kata-kata Dimas. Dia butuh pekerjaan ini, bukan berarti mama dan papanya tidak bisa menafkahinya, tetapi dia butuh karena dia sama sekali tidak punya uang, dia tidak mau membebani orang tuanya.
Akhirnya dia memutuskan untuk ke ruangan Pak Andi, Manager sekaligus orang kepercayaan Pak Adam papanya Christian.
“Apa Pak Andi ada di dalam?” Tanyanya pada Susi sekretaris Pak Andi.
“Ada,” ucapnya. Mendengar itu, Rara langsung mengetuk pintu ruangan Pak Andi.
“Silakan duduk, Ra,” Kata Pak Andi.
“Kalau kamu mau meminta bantuan pada Bapak untuk menolak tawaran dari Pak Tian, bapak nggak bisa bantu kamu. Kecuali kamu sendiri yang bilang sama dia, tetapi ya, ‘kan kamu tahu sendiri resikonya, Ra,” jelas Pak Andi.
“Tetapi, Pak,” Ucapnya.
***
Setelah memikirkan semalaman, akhirnya Rara memutuskan untuk menerima tawaran dari Tian menjadi sekretarisnya. Walau berat hati, setidaknya dia tidak menjadi pengangguran.
Setelah dia sampai di kantor, dia langsung pergi ke ruangan Tian.
Tok..tok..
“Masuk,” kata Tian.
“Permisi,” kata Rara.
“Maaf sebelumnya pak, kenapa bapak memilih saya untuk menjadi sekretaris bapak?” tanya Rara yang sangat terlihat sopan.
“Saya rasa saya tidak cocok menjadi sekretaris bapak. Jadi, kalau bapak mau mengganti saya dengan orang lain saya iklas,” katanya Rara kembali.
“Kenapa aku harus menggantimu? Emang kamu yakin tidak menerima tawaran ini, saya bisa membuat kamu tidak dapat memiliki pekerjaan di negara ini,” kata Tian dengan sinis.
“Bapak mengancam?” kata Rara dengan penuh penekanan.
“Ini bukan mengancam, tapi saya mengajak negosiasi,” kata Tian.
“Aku memilihmu, karena kita sudah saling kenal dan itu menjadi semuanya lebih mudah,” Tian menyunggingkan senyum ramah.
Rara hanya melongo dengan kata-kata Tian. Seingat Rara, Tian sangat benci dengannya. Begitulah akhir cerita persahabatan mereka.
“Baiklah Nona Rara, aku rasa kita sudah sepakat. Besok kamu bisa mulai bekerja di sebagai sekretarisku. Dan satu lagi, saya tidak suka melihat karyawan saya berpacaran di kantor,” jelas Tian.
“Hah?” ,pacaran? Sejak kapan gue punya pacar di kantor?, pikir Rara.
“Huh, baiklah, aku akan mulai bekerja besok,”kata Rara.
“Oh, iya satu lagi, aku minta jangan ada yang tahu kalau kita saling kenal. Karena aku tidak mau,” kata Tian.
“Oke, kalau gitu, kamu bisa keluar,” suruh Tian.
“Baiklah. Permisi Pak,” pamit Rara.
***
Rara yang kembali ke ruanganya, sudah ada Inka sahabatnya yang sudah menunggu sedari tadi.
“Bagaimana?” tanya Inka.
“Bagaimana apanya?” tanya Rara kembali.
“Apa lagi, lu setuju dengan permintaan Pak Tian?” tanya Inka kembali.
“Iya, gue enggak punya pilihan,” kata Rara yang duduk melemas di kursinya.
“Wah, lu beruntung Ra, semua cewek di sini mau mendapatkan posisi jadi sekretarisnya. Siapa sih yang enggak mau menjadi sekretaris cowok yang ganteng, keren, di tambah lagi dia hot,” kata Inka.
“Tapi bagi gue, ini bukan keberuntungan,” kata Rara sambil membereskan barang-barangnya di dalam kardus.
__ADS_1
***