
"Aku mau kamu malam ini." Bisik Arvan tiba-tiba saat Sarah sudah berada di pelukan nya. Sarah tidak bergeming karena memang sudah lebih dari tiga bulan Arvan tidak pernah menyentuhnya. Sarah tidak berperan seperti istri seutuhnya. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku berbuat seperti itu terhadapmu." Sambung Arvan di barengi dengan pelukan yang semakin erat.
Kini Arvan membalikan sarah untuk menghadap kepadanya. Dengan amat menyesal kini wanita yang iya cintai selama belasan tahun mengeluarkan air mata yang lagi-lagi karena ulahnya. "Maafkan aku sayang, maafkan aku, aku terlalu egois untuk tidak memikirkan mu, Maafkan aku..." kata maaf berkali-kali keluar dari mulut Arvan, dan di sambut dengan isakan. Sarah hanya mengangguk penuh makna, dia memaafkan keegoisan suaminya, yang pasti dia tau semua itu hanya untuk kebahagiaan Sarah.
Arvan menarik dagu Sarah dan menyatukan bib*r mereka. Malam ini mereka bercinta kembali setelah beberapa bulan tidak melakukannya. Mereka menuntaskan hasrat birahi mereka dengan lembut namun terpu*skan. Setelah pergumulan itu mereka tertidur pulas hingga pagi menjelang.
.
.
"Hoek...Hoek...."
"Kenapa bos?" Tanya Rico saat Arvan muntah-muntah di kantor. "Mau aku panggilkan Devan?" sambungnya.
"Tidak perlu."
"Kamu masih minum obat itu kan bos?"
"Masih." Kini Arvan terkulai lemas di sofa panjang.
"Aku hubungi Bu bos ya?" tawar Rico.
"Dia lagi sibuk dengan tokonya."
"Kan di coba dulu bos."
"Jangan Ric, kasihan dia."
"Ya sudah terserah, aku mau melanjutkan pekerjaan ku." Rico pergi meninggalkanku ruangan bosnya.
__ADS_1
Tok tok tok
" Hem...masuk." Arvan mengijinkan sang pengetuk pintu masuk.
"Surprise." Arsa datang ke kantor Arvan bersama Sarah yang membawa makanan.
"Daddy..." Arsa berlari memeluk Arvan. "are you oke dad?"tanya Arsa saat melihat wajah ayahnya sedikit pucat. mendengar Arsa menanyakan keadaan Daddy nya maka Sarah mendekat dan memegang dahi sang suami.
"Kamu kenapa sayang? Kok pucat gitu wajahnya?"
"Entahlah, aku sedikit mual." jawabnya.
"Ayo kita makan dulu!"
"Hoek...Hoek." Sarah langsung bangkit menepuk-nepuk punggung Arvan.
"Kita ke rumah sakit ya. Atau hubungi dokter Devan?"
"Benarkah?" Kini Sarah sudah duduk di samping Arvan, herannya kini Arvan tidak mual lagi. Sarah mendekatkan makanan nya dan mencoba menyuapinya.
"Mommy Arsa juga lapar," keluh sang jagoan ada Sarah.
"Sini mommy suapin kalian berdua." kini Sarah menyuapi anak, suaminya juga dirinya. Mereka makan bersama dengan penuh tawa.
"Mommy pedeess..."
"Sini minum dulu, maapin mommy ya sayang, enggak sengaja kena sambel." jawab Sarah dengan mengacak rambut Arsa. disambut tawa Arvan.
"Daddy dong berani makan pedes, masak Arsa enggak berani?"
__ADS_1
"Pedes Daddy, nanti kalau Arsa makan nanti sakit perut." jelas Arsa pada daddy-nya
"Anak pinter," kini giliran Arvan yang mengacak rambut Arsa.
"Kenapa Daddy dan mommy suka acak rambut Arsa siiiihh, kata Bella rambut Arsa bagus kalau rapi."
"Eemm bela siapa sayang?"
"Temen Arsa di sekolah mommy."
"Arsa suka main sama Bella?"
"Suka, Bella cantik." kini Arvan dan Sarah yang tergelak mendengar penuturan sang anak.
Setelah selesai makan, kini Sarah berkemas akan meninggalkan kantornya Arvan. "Aku pulang dukuvya, kalo kamu kurang sehat sebaiknya pulang saja yang." Sarah memberi saran. Sarah sudah berada di ambang pintu dan...
"Hoek ..Hoek ." Sarah pun kembali menyusul suaminya ke kamar mandi.
"Sebaiknya pulang saja ya, kalau tidak mau ke dokter?" Arvan mengangguk lemas.
Tiiitt
"Ric aku pulang dulu, tolong handel semua pekerjaan saya " perintah Arvan pada Rico.
"Siap bos.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰