
Benar saja, Hendra benar-benar datang sama Silvia dan Yuda, Seperi biasa Silvia heboh karena diajak hendra keluar dan rencana menginap di tempat sarah mengadakan acara.
"Kok Ini rombongan sirkus pada dateng sih"celetuk Sarah karena Hendra tidak menepati janjinya untuk tidak membawa serta Yuda, karena Sarah tau Yuda selain ember bocor juga sering jail, entah itu kejailan seorang adek ke kakaknya atau cowok ke cewek ..tapi ya sudah lah si kan absurd Yuda bikin Sarah ingin jaga jarak dengannya.
"Kok rombongan sirkus sih mbak, Yuda kangen lo sama mbak Sarah"
"Kamu yud, tiap ketemu cewek kok di bilang kangen"ketus Sarah.
"Kangen sama mbak Sarah tu beda lo"
"Wes terserah kamu yud, jadi beneran kalian malam ini mau menginap?besok gak kesiangan ke kafe?takutnya mbak malah bikin kamu repot Hen"
"Enggak papa mbak, mbak aman ada hendra disini"
"ada Yuda ju ga mbak Sarah" Sarah hanya tersenyum melihat ketulusan adek dan sahabat nya itu.
"Ya udah mbak tinggal dulu, gak enak sama yang lain, acara belum selesai"
"Semangat mbak Sarah" ucap Silvia yang antusias.
"Kenapa Hendra kesini SAR" tanya Siska saat Sarah memasuki raungan acara.
"Kangen sama mbaknya" hehehhe
"Dasar" tangan Siska gatel kalo gak nyubit si Sarah yang kadang kelewat bawel.
"Dia tau ya ada Dika?" Sarah melihat Siska yang tau persis ketakutan Sarah "he'em" jawab Sarah singkat.
"Baek banget si Hendra, coba aja aku juga punya adek begitu"
"Bikin adek aja sis"
"Dasar gemblung" Siska menabok lengan Sarah dan mengaduh
"Ya ada yang ditanyakan bu Sarah, bu Siska"
salah satu guru panitia menegur kegaduhan kami
sreggg....suara kursi digeser kearah Sarah.
"Hendra kenapa kemari?" deg suara itu yang selalu membuat sarah takut.
Ya Dika permana "lagi lagi dia" batin Sarah, Sarah tidak bergeming mendengar pertanyaan Dika
(kenapa sih dia muncul lagi, kalo tau gini kan aku gak ikut: batin sarah)
__ADS_1
"Sarah ingat ya, sebelum aku mendapat apa yang aku mau, aku gak akan berhenti, dan setelah kamu mempermalukan aku di depan umum" bisik Dika tajam di telinga Sarah membuatnya merinding, jantung terasa meledak, keringat dingin mulai keluar
"Pak Dika bisa minggir sedikit," usir Siska kalem, dan Dika pun menjauh daru Sarah.
"Makasih bu Siska" wajah terimakasih sarah sangat terlihat dia tidak nyaman dengan kehadiran Dika.
"Kenapa sih dia masih nempel aja sama kamu sar"
"gak tau"
Dan mereka menyimak acara yabg sedang berlangsung. jam 9 malam mereka selesai acara, sarah dan siska berjalan ke ruang makan bersama, karena setelah acara ada makan malam bersama.
sarah dan siska mengambil makanan yang sudah disediakan. antusias sekali mereka berdua, karena Meraka lapar. mereka berdua mencari meja yang kosong tapi tidak ada, karena mereka terlambat datang. "ssttt disana yuk" ajak siska menunjuk kursi yang ada orangnya tapi kosong 2 kursi.
"Permisi pak guru, bisa kami duduk di sisi, yang lain penuh"ijin siska pada dua pria yang ada di depannya. kami satu yayasan tapi tidak saling mengenal
"Oh silahkan bu"jawab salah satu pria itu.
setelah Siska dan Sarah duduk kedua pria itu mengajak kenalan, mereka adakah pak rudi dan pak hasan. terlihat sekali dari tatapan mata pak rudi memperhatikan siska secara intens.
"Jadi bu Siska dan bu Sarah ini di satu sekolah ya, pantesan akrab" pertanyaan ringan dari pak rudi.
"Hh iya pak, kamu satu sekolah, kalo bapak berdua?" Siska menjawab sambil makan.
"akami beda sekolah bu, tapi kami kenal lama"jawab rudi dan obrolan ringan terjadi diantara kami.
"Ah maap bapak-bapak saya duluan" Sarah pamit dan di ikuti oleh siska.
"Apa sih maunya tu pak dika" gerutu Siska.
"Aku mau ke kamar Hendra bu siska, ikut gak"ajak Sarah.
"Boleh deh, kali aja seru ngobrol sama brondong.. hehehhe " candaan siska yang selalu garing.
"Gimana mbak acaranya, seru?" tanya Silvia saat baru masuk kamar mereka.
"Biasa aja, ngantuk, cuma wejangan aja dari ketua yayasan agar kami bisa akrab"jawab sarah sambil merebahkan tubuhnya di kasur hendra.
"Bagus kamu kesini Hen, tu si Dika mepet mbak mu terus" siska emang kompor ya mulutnya sama kayak yuda: batin Sarah.
"iya mbak tadi mas dika gangguin mbak sarah?"
tanya hendra serius, tapi tidak di tanggapi oleh sarah
"Mbak...malah diem aja di tanya" hendra kembali bicara.
__ADS_1
"enggak hen, siska aja kamu percaya" jawab sarah
"emang gitu mbak, apa perlu aku turun tangan??
"Walah opo seh hen, biarin saja toh mbak gak kenapa-napa" jelas Sarah pada adik lelakinya agar tidak kuatir.
"Tapi mbak, besok aku gak bisa kesini, kalo mbak di gangguin bilang dari sekarang"
"Iya, nanti kalo mbak kenapa- napa pasti lapor kamu, oke"
.
.
.
Sudah hari kedua berarti nanti malam bertepatan dengan malam minggu, HP sarah sengaja di matikan agar tidak ada yang menghubunginya, apalagi dimas, sarah sangat berusaha menghindar dari pria itu. karena tidak ingin menyakiti hatinya.
Acara berlangsung sangat seru hari ini, karena kegiatan hari ini di bagi kelompok untuk menyelesaikan game yang entah apa namanya, kami di bagi menjadi beberapa kelompok, bertepatan aku dan Siska juga pria yang makan bersama kami kemarin malam, rudi dan hasan. kami menikmati hari dengan keseruan tapi di tempat lain ada yang sedang uring-uringan yaitu Arvan. karena sudah dua hari tidak bertemu sarah, dan dirumahnya tidak ada yang mau memberi tau.
Dimas pun terlihat sama, dia bolak balik mengecek hp berusaha menghubungi sarah, tapi tidak tersambungkan.
Sarah kamu kenapa sih dek sulit menerima aku dalam hidup kamu: batin dimas, apa dia harus mundur dan melepasnya agar dia bahagia, tapi aku sangat mencintaimu dek. monolog dimas frustasi hari ini. dikantornya sangat sepi, karena memang hari ini bank tutup, cuma dimas dan Arvan sedang lembur.
"Dimas, kamu tau dimana sarah"?
"Tidak pak" jawab dimas jujur karena memang dia tidak mengetahuinya.
"Kemana dia sebenarnya, kenapa Hendra dan ibu nya juga tidak mau memberi tau" batin Arvan. lebih baik aku ke kafe menemui Hendra, siapa tau ada info yang tak terduga.
melihat Arvan keluar dari kantor, Dimas mengikutinya dan ikut masuk dalam mobil Arvan.
"Kamu ngapain masuk mobil saya"?
"Saya ikut bapak"
"Mau ngapain ikut saya"
"Saya tau bapak mau cari dek sarah, jadi saya ikut"
"Dimasssss" kesal rasanya Arvan pada Dimas , tapi tak apalah lagian biar ada teman, kalo memang harus bersaing untuk mendapatkan sarah maka harus sportif. dan Arvanpun melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
.
.
__ADS_1
.
bersambung