Cinta Lama Belum Kelar

Cinta Lama Belum Kelar
epi 87


__ADS_3

Sarah pun tak sadarkan diri saat dokter Devan menyatakan kematian Arvan .


"Sarah....., Sarah bangun lah nak" mami Sinta berusaha membangunkan Sarah dengan berderai air mata. "mami mohon sayang," sambungnya masih dengan menggoyangkan badan Sarah.


"Mommy..." Arsa dan Alvin mendekati tubuh Sarah yang berada di pelukan mertua nya.


"Nak Alvin tolong bawa Sarah ke sofa!"Pinta mami Shinta yang melihat Alvin berada di belakangnya. tanpa menunggu lama Alvin mengangkat Sarah, dia kesulitan karena perut Sarah yang besar. Alvin meletakan Sarah di sofa dan diberikan bantal, mami Shinta mengeluarkan minyak kayu putih di oleh di bawah hidungnya supaya sadar.


"Kami Akan mengurus tubuh Arvan mam, nanti jika siap saya akan kembali lagi." ucap Devan pada mami Sinta. dia sudah terbiasa dengan mami Sinta karena dia mengenalnya sudah cukup lama. "Untuk Sarah nanti akan ada Intani yang merawatnya." sambung dokter Devan.


"Lakukan apa yang seharusnya Dev, mami mengikuti saja." mami shinta sangat frustasi, tidak bisa mengambil tindakan sendiri.


Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa suami tercinta harus pergi untuk selamanya. Pasti akan ada luka dalam batin yang mungkin bisa berdampak pada kehidupan selanjutnya. Mungkin akan sulit bagi Sarah untuk melanjutkan hidupnya, apalagi kini dia sedang mengandung anak ke dua mereka. Pasti sangat berat baginya. tidak masuk akal jika ini adalah akhir dari semuanya.


Setelah tujuh hari kematian Arvan.


Rico mengurus semua apa yang di perlukan, tidak lupa dengan urusan surat wasiat yang di berikan kepadanya untuk Sarah dan anak-anaknya, juga untuk orangtuanya. Semuanya saham miliknya dan apa saja asetnya akan di wariskan kepada Sarah dan Arsa, untuk kantor pusat perusahaan dikembalikan lagi pada pemegang saham terbesar.


Semua urusan tentang waris di ambil alih oleh Rico semua, Sarah tidak mau tau dengan urusan perusahaan, walau tanpa perusahaan dia pun mampu bertahan itu yang dia pikirkan, tapi tidak dengan Andin dia masih banyak menyimpan dendam pada Sarah, dia tidak mau sedikit pun hartanya dimiliki oleh Sarah.


"Stop Rico, saya tidak setuju! semua harta milik Arvan adalah milik perusahaan, jadi semua harus di kembalikan kepada perusahaan!" ucap Andin dengan murka.


"Ini semua adalah hasil kerja tuan Arvan Bu Andin, jadi aset dan saham yang dimiliki tuan Arvan adalah milik Bu Sarah dan Arsa juga calon bayi yang ada didalam kandungan Bu Sarah."Jelas Rico.


"Tidak bisa, dia dulu hampir gila karena dia dan sekarang dia matipun karena dia, jangan pernah berharap untuk mengambil apapun dari Arvan."


"Andin, apa yang kamu katakan, itu sudah milik Arvan kamu tidak bisa mengambil nya begitu saja!" ucap mami Sinta. "Dan kejadian itu tidak perlu kamu ungkit disini, itu masa lalu mereka sebelum mereka menikah, jadi tolong berfikir lah dengan bijak." sambung mami Shinta .

__ADS_1


"Mami lupa bagaimana menderita nya Arvan saat dia pergi?"


"Dan kamu apa lupa betapa bahagianya Arvan di sisa hidupnya?" ucap mami Shinta menatap tajam putrinya yang bisa merelakan harta adiknya.


"Mami..."


"Sudahlah nak, apapun keputusan Arvan kita terima saja, toh ada beberapa aset miliknya yang di berikan kepada mami, Nisa dan juga kamu." lanjut mami Shinta." jangan terlalu serakah dengan harta, tanpa warisan itu kamipun sudah memiliki segalanya."


"Tapi mam...."Andin masih kekeh dengan keputusan nya, dia tidak ingin Sarah memiliki harta Arvan .


"Ya sudah Rico, keputusan tetap, sesuai dengan amanat yang di berikan oleh Arvan, jika kedepannya nanti itu menjadi milik orang lain, itu adalah keputusan sepenuhnya dari Sarah sebagai ahli waris yang sah." jelas mami Shinta tanpa membuat Rico dan pengacara kebingungan.


"Aku tidak butuh semua itu mam, aku bisa mencari sendiri semua keperluanku dan Arsa." ucap Sarah karena tidak mau berdebat hanya karena harta, hanya karena harta dapat merusak hubungan baik keduanya,Dengan keadaan seperti mayat hidup. Sarah mengatakan tanpa ekspresi.


"Iya kebutuhan mu akan di tanggung oleh lelaki muda itu kan? alah alasan mu saja kamu tidak mau, tapi kamu memiliki niat yang sangat busuk." Andin mencaci Sarah tanpa henti.


PLAAAK


" Mam..." Sarah mencoba menenangkan mertuanya. tapi tangannya tepis.


"Sudah jelas dalam wasiat itu tidak perlu di usik lagi, lakukan saja apa isinya! bawa kemari kertasnya biar kami tanda tangan!"titah mami pada Rico dan pengacara. "dan selanjutnya biarkan Rico yang mengurus pemegang saham, Andin kamu hanya boleh membantu, tidak untuk membuat keputusan . JELAS!!" ujar mami Shinta dengan tegas.


Sebenarnya Andin masih tidak terima dengan keputusan itu dan juga dia tidak terima dengan tamparan mami Shinta padanya, tapi apa boleh buat jika maminya yang berkata maka itu yang harus dilakukan. dengan kesal dia membantingkan tubuhnya di kursi.


Sarah pun hanya bisa pasrah atas keputusan semua orang, karena dia hanya orang luar diantara semuanya. dan sebenarnya dia tidak peduli dengan hal itu semua, dia hanya ingin suaminya kembali padanya, dia sangat merindukan sosok Arvan yang berkarisma, sosok yang dingin tapi penuh perhatian, sosok yang labil tapi sangat mencintai nya. Sarah menahan tangis saat Andin mengatakan hal yang tidak-tidak tentang nya. sungguh miris baginya


.

__ADS_1


.


"Sarah masih dikamar Bu?" tanya mami Sinta pada Bu Fatma. dijawab anggukan oleh Bu Fatma dengan membawa nampan berisi makanan lengkap .


"Tidak dimakan lagi?" tanya mami Shinta lagi. dan lagi-lagi Bu Fatma hanya mengangguk lalu duduk di meja makan.


"Sebaiknya Sarah saya bawa pulang saja Bu ke surabaya." Ucap Bu Fatma tiba-tiba. "Biar saya lebih mudah merawat nya dan Arsa." sambung Bu Fatma. " Bagaimanapun menurut jeng Sinta?" tanya Bu Fatma.


"Terserah Sarah saja bagaimana maunya Bu, kalau ada Arvan kita....." mami Shinta tidak melanjutkan kalimatnya , tiba-tiba tangisnya pecah dan memeluk tubuhnya sendiri.


"Kita semua kehilangan jeng, kita semua sedih, tapi saya mohon kita harus tetap berusaha tegar di hadapan Sarah! saya merasa kini Sarah seperti mayat hidup." Ucap Bu Fatma dengan pandangan menerawang. dia sangat terpukul menyaksikan anaknya yang masih mengurung di kamar tanpa melakukan apapun, dan tanpa bicara satu katapun.


"Kasihan anakku, kasihan cucuku." Ucap Bu Fatma lirih tapi masih dapat di dengar oleh mami Shinta.


"Oma....." suara Arsa dari atas. kedua neneknya pun langsung menghampiri nya .


"Ada apa nak?" tanya Bu Fatma panik.


"Mommy grandma...." tunjuk Arsa pada kamar Sarah yang terbuka.


"Sarraaaahh..... "teriak kedua wanita separuh baya itu.


.


.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰


jangan lupa mampir di story author lainnya ya. "KETULUSAN CINTA CACA."


__ADS_2