
Rara tidak menyangka kalau selama menjadi sekretarisnya Tian bakal menderita. Begitulah yang rasakan Rara setelah 3 hari menjadi sekretaris Tian.
Rara mencoba sekuat tenaga untuk bertahan dari bosnya itu. Ya walau Tian tidak kasar padanya, tetapi Tian lebih seperti tidak mengganggap Rara ada.
“Pagi, Pak Tian,” Ucap Rara dengan ramah. Ya, walaupun itu seperti angin lalu untuk Tian, karena Tian tidak pernah menjawab salam Rara. Setidaknya dia sebagai karyawan bersikap baik walau tak di anggap.
“Pagi, Ra” kata Dimas seakan menggantikan Tian.
Tian akan meminta bantuan Dimas jika ada yang harus di sampaikan oleh Tian pada Rara, sedangkan kalau Dimas tidak di ruangan, Tian akan menempelkan note di depan pintu untuk Rara baca. Begitulah komunikasi di antara ke duanya.
Rara tidak menyangka kalau dia harus bekerja dengan metode komuniksi seperti ini, kadang dia suka berpikir dalam hati, kenapa dia harus berada di sini?
“Dim, seperti biasanya bilangin sama Pak bos, kalau nanti jam 9 ada rapar direksi,” ucap Rara mengingatkan pada Dimas. Dimas yang harus menjadi perantar mereka berdua hanya tersenyum. Dimas geli dengan tingkah laku mereka berdua.
“Duh, untuk sekarang kamu yang bilang gih ke dalam,” kata Dimas yang tengah berkutik dengan komputernya.
“Ih, kok gitu sih, Dim,” gerutu Rara.
“Rara sayang, ga liat aku lagi sibuk ngetik buat rapat ntar. Udah gapapa say, yang di dalam udah di jinakin kok sama densus 88,” ucap Dimas sambil berbisik.
“Di kira udah di suntik rabies,” kata Rara berbisik.
Tanpa di ketahui mereka, dari dalam ruangan. Tian memperhatikan interaksi mereka berdua.
Karena Dimas yang sedang sibuk, secara terpaksa Rara yang menyampaikan sendiri berita itu.
Tok… tok…
“Pak, sebentar lagi rapat akan di mulai,” kata Rara lalu menutup pintu.
Tian hanya menggangguk. Tak lama dari Rara menutup pintu, Tian keluar membawa beberapa file untuk keperluan rapat.
Tian menyodorkan file itu ke Dimas, “Dan kamu jangan lupa catat hal yang pernyataan penting,” perintah Tian pada Rara, yang membuat Rara sedikit bengong dengan apa yang Tian lakukan.
“Ya ampun Dim, Bos kita ini lagi ngomong sama gue ‘kan? Ini beneran ‘kan? Hal terlangka ini selama gue kerja sama dia,” bisik Rara pada Dimas. Dimas membalasnya dengan menyenggolnya sambil menatap Rara dan hendak memarahinya.
Mendengar obrolan itu membuat Tian menghentikan langkahnya, “Saya denger apa yang kamu katakan. Ngapain kamu masih ngobrol disitu?”
Perintah Tian membuat mereka langsung mengikuti Tian dari belakang.
Dalam ruang rapat semua Kepala Divisi sudah berada di ruangan itu. Dan Dimas segera menyiapkan apa yang Tian perlukan. Dimas membisikan ke Tian bahwa semua nya sudah siap.
Rapat hari ini berjalan lancar dan Rara pun sudah mencatat hal-hal penting yang di minta oleh Tian. Setelah rapat, dia langsung memberikan hasil catatannya itu pada Tian.
Rapat yang selesai pas jam makan siang, membuat Rara yang sudah menahan laparnya langsung meninggalkan mejanya dan langsung menuju kantin kantor.
Saat sampai di kantin, dia sedikit bete dengan meja kantin yang sudah di penuhi oleh semua karyawan. Untung sahabatnya di kantor menyisakan satu kursi untuknya. Melihat Rara yang celinggak-celingguk langsung Inka melambaikan tangan dan memanggil namanya.
Mendengar namanya tersebut, Rara langsung mencari sih sumber suara. Tanpa berfikir panjang dia langsung menuju kesana.
Untung gue punya sahabat baik kayak Inka.. kalau gak gue bisa puasa makan siang ini udah tadi pagi gue ga makan nasi cuman makan lemper sama roti doang,kata Rara dalah hati.
“Nih gue udah pesenin makanan kesukaan lu” kata Inka sambil menyodorkan mie ayam plus bakso dan pangsit.
“Widih tengkyu banget dah… lu emang the best dah,” ucap Rara yang tanpa bsa-basi langsung menyantap makanan.
“Boleh gabung, ga?” kata Rian dan teman-temannya yang tau meja Rara baru saja kosong.
“hmmmm,” angguk Rara, sambil dia menyeruput teh botol.
Setelah makanan selesai, mereka pun menyempatkan mengobrol karena memang waktu jam makan siang
masih lama dan beberapa candaan yang keluar dari mulut Rian yang membuat kedua cewek ini tertawa.
Tian yang ingin hendak makan di kantin, tapi tanpa sengaja dia melihat pemandangan tepat di depan matanya. Olivia dengan lepasnya tertawa bersama dengan karyawan pria. Melihat itu membuat perasaan emosi pada dirinya.
“Kita makan di luar aja,” ajak sekaligus perintah dari Tian pada Dimas.
Melihat Tian yang langsung membalikan badannya dan menjauh dari kantin membuat dia bingung.
“Kenapa nggak jadi? Eh itu ada…” kata Dimas dan juga saat dia melihat serta menunjuk sosok
yang mereka kenal.
“Udah cepetan. Mau gue traktir makan ga?” jawab Tian yang sambil menarik tangannya.
“Iya..iya… kata bos mah ga bisa di elak,” ucap Dimas.
***
Rara melirik jendela ruangan Tian dan tak nampak sang pemilik ruangan tidak ada menandakan kalau Tian belum balik dari makan siangnya, dan tak lama sang pemilik ruangan kembali.
Buset kok gue merinding ya dia dateng, Ucap Rara dalam hati.
“Dim, sih Pak Tian kenapa?” tanya Rara
Dimas hanya menaikkan bahunya menandakan dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Tian.
Cring…Cring….
Suara telepon yang menghentikan keasyikan Rara dan Dimas yang sedang mendiskusikan sebuah acara untuk 17-an.
__ADS_1
“Angkat, Dim,” suruh Rara.
“Suruh sih wanita itu ke ruangan saya,” perintah Tian dari dalam telepon.
“Wanita itu?” tanya Dimas seakan pura-pura tidak tahu.
“Wanita yang ada di lantai ini ada berapa?!” gerutu Tian.
“Ra, di suruh ke dalam tuh,” Ucap Dimas sembari menutup teleponnya.
“Sama??”Rara hanya menjawab dengan gerakan kepalanya ke arah ruangan Tian.
“Mau ngapain?” tanya Rara dengan suara pelan.
Dan lagi-lagi Dimas menjawabnya dengan bahasa tubuh, sedikit perasaan takut dan akhirnya Rara memberanikan diri.
Duh.. mau ngapain sih? Gue berbuat salah ya hari ini sama dia? Kok kalau mau keruangan dia udah kayak mau masuk ke kandang macam sih… perasaan gue takut banget.
Tok…tok…
“Bapak manggil saya?”tanyanya.
“Pergi buatkan saya kopi!” perintahnya.
Perintahnya membuat Dimas yang langsung menuju pantry yang khusus untuknya di lantai ini dan langsung menyedukan kopi instan yang dia temukan di lemari pantry.
Tak lama dia menyelesaikannya dan kembali dengan membawakan kopi panas untuknya.
“Ini kopinya sudah selesai diseduh,” kata Rara
“lama banget buat kopi aja,” jawab sinis Tian sambil meraih kopi panas di dari tangan Rara.
PUUUFF….. Tian langsung menyemburkan kopi yang telah dia minum.
“He! Kamu menyuruh aku minum kopi ini?” Tanya Tian denga tegas.
“Enak kok,” Kata Rara yang mencicip Kopi itu.
“Emang, kamu enggak melihat mesin pembuat kopi disana?” marah Tian.
“Buat kopi saja tidak bisa,tanya Dimas untuk mengajarimu bagaimana cara membuat kopi!” perintah dia dengan marah.
Yang langsung dengan kecepatan kilat Rara keluar dan meminta tolong Dimas untuk membantunya.
Dengan saran Dimas dia sudah mengetahui bahwa Tian tidak suka dengan kopi instan, dia lebih menyukai kopi yang di seduh dari mesin pembuat kopi, yang memang mesin itu sudah ada disana.
***
Mereka tidak menyangka kalau hari ini banyak karyawan yang memilih untuk makan di kantor, apakah mereka memiliki perasaan yang sama dengan Inka dan Rara?, begitulah ungkapan yang mereka katakan saat melihat kantin kantor yang penuh.
Rara dan Inka berbagi tugas, Inka mememesan makanan dan Rara mencari tempat duduk.
“Boleh gabung?” tanya Rara lembut yang di sambut anggukan oleh Feri dan temannya.
“Tumben lu makan ddi kantor?” tanya Feri.
“Iya, di luar panas banget,” kata Rara.
Feri memang menjadi teman Rara semenjak mereka berdua sama-sama bertemu di saat mereka berdua melamar menjadi karyawan di Hotel AW, tetapi mereka harus berpisah saat Feri dan Rara harus pisah tugas kerja, Rara di Jakarta Barat sedangkan Feri di Jakarta Pusat.
Sama dengan Rara, Tian memilih untuk makan di kantin kantor ketimbang di luar. Saat Tian dan Dimas masuk ke kantin kantor. Dimas melihat-lihat bangku yang kosong untuk dia duduk bersama bosnya, tetapi di tempat yang sama, mata Tian tertuju pada seorang perempuan, dia mengamati perempuan itu dengan sangat intens. Dia adalah
Rara yang kini sedang makan bersama dengan Feri dan ke dua sahabat Feri.
“Kita makan di luar aja,” kata Tian sambil menepuk pundak Dimas.
“Tapi di sana kayaknya kosong, pak, di sebelah...,” kata Dima yang terhenti saat dia juga menemukan Rara dengan para lelaki.
“Udah ayok, mau di traktir enggak?” kata Tian yang sudah berbalik meninggalkan Dimas.
“Eh, mau..” kata Dimas yang mengejar Tian.
Ehmm..kayaknya gue tahu nih yang buat moodnya Tian berubah.. tuh anak juga kenapa makan bareng
cowok-cowok sih??, ungkap Dimas dalam hati.
Inka yang baru kembali dengan membawa es campur buatannya, kembali bergabung dengan Rara dan Feri.
***
Rara melirik ruangan Tian dari kaca ruangan Tian. Dia melihat sang pemilik ruangan belum juga kembali dari makan siangnya.
“Si,” kata Rara yang terhenti.
“Siang,” Jawab seorang wanita.
“Maaf, siang, ibu...”
“Dina, panggil aja Dina.”
“Hmm.. Tian belum balik ke kantor ya?” tanya Dina.
__ADS_1
“Oh, saya sudah ada janji dengannya..” Dina mendekati Rara “..Pribadi.” bisik Dina lalu meninggalkan Rara masuk ke ruangan Tian.
Rara hanya tersenyum sinis sambil memperhatikan wanita yang meninggalkannya. Dia menduga kalau di rumah wanita itu tidak memiliki pakaian yang pas dengan tubuhnya, karena wanita itu memakai pakaian yang cukup seksi yang dapat membuat mata para pria tidak akan berkedip di buatnya.
Tak lama, Tian dan Dimas kembali dari makan siangnya. “Pak, ada..” kata Rara sambil menengokkan kepalanya ke ruangan Tian yang juga di ikuti oleh Tian dan Dimas.
Tian hanya mengangukkan kepalanya lalu masuk keruangannya. Melihat tingkah laku Tian rasanya Rara.
Rara mencuri-curi pandang melihat apa yang mereka lakukan dari kaca ruangan Tian. Tanpa di duga mata Tian dan Rara saling bertatapan, dengan senyum sinis penuh makna lalu Tian menutup kaca ruangannya dengan Roller Blind yang tergerak otomatis. Seketika Rara menjadi gelisah, karena kedua orang yang berada di satu ruangan itu terlihat sangat akrab, timbul niatan dalam diri Rara untuk menguping apa yang di bicarakan mereka berdua.
Rara melangkahkan kakinya sampai di depan pintu ruangan Tian lalu menempelkan kupingnya di pintu ruangan, Rara berusaha semaksimal mungkin untuk melihat semua yang di lakukan mereka berdua.
Rasa penasaran Rara semakin menjadi setelah dia mendengar suara mereka yang cekikikan dan mata Rara membulat saat tidak sengaja dia mendengar suara desahan. Rara berusaha mengintip apa yang mereka lakukan dari sela-sela pintu ruangan Tian. Tiba-tiba keadaan hening meliputi seisi ruangan, Rara terdiam memikirkan
apa yang terjadi di antara mereka dan saat Rara berusaha mencari cela untuk melihat apa yang terjadi di dalam, tiba-tiba pintu itu terbuka.
“Eh, copot,” Rara yang kaget karena pintu yang tiba-tiba terbuka.
“Ngapain kamu?” tanya Tian dengan keheranan.
“Apanya yang copot?” tanya Tian lagi dengan nada penekanan.
“Aaa..aanuuu… lagi lap-lap, Pak,” kata Rara seadanya sambil mengelap pintu dengan lengan bajunya.
Tian membuka pintu karena ingin mengantar Dina sampai di pintu lift.
Rara melihat jelas kalau Tian tersenyum manis kepada wanita yang bernama Dina itu. Rara berpendapat dalam hati kalau Tian hanya berperilaku buruk padanya saja. Dan benar saja, setelah Tian hendak kembali ke ruangannya, Tian yang tadinya tersenyum setelah melihat Rara, senyum yang ada di wajahnya tadi menghilang bergantikan dengan tatapan tajam.
Nih orang punya kedua pribadian apa ya???,
gerutu Rara dalam hati.
***
Sama seperti kemarin, sebelum makan siang Dina berkunjung kembali ke kantor Tian. Rara yang melihat hanya tersenyum sinis, sesekali dia merometkan mulutnya dan itu terlihat oleh Tian yang berada di ruangannya. Tian yang melihat kejadian itu hanya tersenyum.
Seperti biasa di jam makan siang Rara sudah kabur duluan untuk pergi untuk makan siang dan kebetulan hari ini Rara dan Inka akan pergi makan siang ke Mekdi .
Rara memesan makanan kesukannya dari ayam, nasi dan tentu ice cream yang tidak bakal di lewatkan olehnya.
“Ka, lu tau ga sih, bos kita itu kayaknya punya kepribadian ganda deh,” curhatnya,
“Ah, yang bener, lu”jawab Inka kaget tak percaya.
“Iya.. masa tadi ada cewek yang mukanya udah kayak kena debu abu vulkanik gitu, terus tuh bos senyum ma dia eh, pas dia ngeliat gue langsung tuh mukadi tekuk terus tatapannya itu loh.. ikh.. udah kayak mau ngebunuh gue gitu, merinding gue,” jelasnya.
“Perasaan lu aja kali, buktinya dia ama gue en yang lain biasa aja tuh,bahkan bagi gue dia itu bos yang super manis en hot loh, ” belamya.
“hmmm, mungkin cuman ama gue aja kali ya.”
Selama makan siang Rara dan Inka bercerita banyak dan saat sampai di kantor tak sengaja dia melihat sosok yang dia kenal di lobi kantor.
“Kak Reza? Kok, Kakak bisa kesini?” kata olivia.
“emang, aku ga boleh main ke kantor kamu,” gerutu Kak Reza.
“Bukan gitu,” ucap Rara.
“Nih, aku bawain ice kopi buat kamu sama Mas Dimas,” ucap Reza sambil menyodorkan ice kopi yang dia bawa.
“Wah, tahu aja, kalau abis makan pasti ngantuk,” kata Rara.
Tian yang tak sengaja melihat percakapan yang sangat akrab antara Rara dan seorang pria membuat Tian menduga kalau Rara sekarang banyak kekasih dan dia juga menduga kalau jangan-jangan Rara berselingkuh dari Dimas.
Tian melirik mereka dengan tatapan sinis, sedangkan Rara yang tak sengaja melihat Tian yang berlalu hendak naik lift, membuat dia menyudahi perbincangan dirinya dengan Reza.
“Kak, aku duluan ya, soalnya bosku udah masuk,”ucap Rara.
“Tunggu-tunggu,” kata Rara melihat pintu lift yang mau tertutup.
Ternyata di dalam lift ternyata orang yang lift adalah Tian seorang. Hanya keheningan yang terjadi saat mereka di dalam lift.
“Aku tidak menyangka kalau kamu adalah wanita yang seperti itu,” sindir Tian.
“Ha? Maksudnya?”
Hmmm tadi dia ngomong apa sih? Dasar cowok aneh!,Rara yang mengungkapkan kebingungannya dalam hati.
Karena melihat Rara dengan pria lain membuat dia bad mood. Setiap karyawan yang menyapanya, tidak di balas sapaannya dan Tian berubah menjadi pria yang seperti punya aura gelap menakutkan. Melihat itu membuat semua
karyawan heran dengan bosnya yang berbeda dari biasanya.
Rara merasa kalau Tian selama ini salah menduga hubungan dirinya dengan Dimas. Rasanya ingin dia jelaskan semuanya, tetapi dia teringat pesan Omnya Pak Andi yang meminta dia tidak menceritakan pada siapapun tentang hubungan antara dirinya dengan Rara. Karena Pak Andi takut kalau nanti di sangka Rara dapat bekerja di Hotel itu karena adanya ‘Orang dalam’.
Rara menaruh Kopi pemberian Reza pada Dimas,”Nih,” sambil menyodorkan segelas ice kopi.
“Wih, tumben beliin gue, makasih ya,” kata Dimas sambil tersenyum.
“Dari Kak Reza,” ucap Rara sambil berbisik.
***
__ADS_1