
Sudah sebulan Arvan dirawat di rumah sakit, kini sudah di pindah di rawat inap namun peralatan media masih menempel di badannya, belum ada perkembangan yang signifikan untuknya.
Sarah menjaganya dengan telaten, untung saja kehamilan Sarah tidak membuatnya kerepotan.
"Honey, sadarlah, ayo bangun!!" Ucap Sarah lirih di samping Arvan dengan menitikkan air mata. "Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Sambungnya, dia masih memegang tangan arvan.
"Dasar perempuan pembawa sial."
Plak
Seorang wanita datang dan menampar Sarah.
"Kak Andin."
"Sudah dari awal aku sudah ingatkan agar tidak meneruskan niat kalian, tapi lihat sekarang?" tunjuk Andin pada tubuh Arvan yang tidak bergerak. " Dulu Kamu membuatnya seperti orang gila tanpa kewarasan dan sekarang kamu membuatnya seperti mayat hidup!! Apa yang sebenarnya kamu mau hah!"ucap andin dengan menunjuk-nunjuk ke arah Sarah.
"Kamu benar-benar pembawa sial Sarah, lebih baik kamu tidak usah hidup." ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Sarah yang kini telah tergugu disamping Arvan .
Dibalik pintu Alvin melihat kejadian yang menyesakkan, "aku pikir kamu bahagia Bu bersamanya . Ternyata tidak juga, banyak pihak yang menentang hubungan kalian. Bu Sarah aku ingin selalu melindungi mu." batin Alvin merasa sedih menyaksikan hal tersebut.
Drrtt drrttt
Alvin kaget mendengar ponselnya berbunyi.
"Sial, apa sih?"
"Lo yang sial! umpat Bara." dimana lo?"
"Di Rumah sakit."
__ADS_1
"Gila ya Lo, ada pertemuan penting main tinggal aja!" sumpah serapah Bara sudah dilontarkan pada Alvin karena kesal.
"Lo bisa handel semua Bar, percuma gua bayar Lo mahal tapi masih kek gini." kini Alvin yang mulai mengomel mengeluarkan semua isi kebun binatang.
"Dah ah sana Lo kerja jangan makan gaji buta.'
"Gaji buta gundul mu, gue hampir lembur tiap hari dan jadi ekor Lo masih aja di bilang gaji buta. Lo tu yang buta karena cinta, cinta sama istri orang" Omel Bara tambah kesal karena tingkah Alvin yang semakin enggak jelas. sedangkan Alvin hanya terkekeh mendengar keluh sahabatnya itu.
"Oke gue tutup, semangat bekerja BESTie..."
"BESTie gundul mu."
Tuuut ttuut
sambungan telepon di matikan dari seberang.
tok tok tok
"Alvin." Sapa Sarah agak kaget. "Dari tadi?" tanya nya.
"Barusan bu."
"Dari mana?"
"hari ini jadwal aku bertemu Arsa Bu...Bu Sarah lupa kalau jagoan aku itu ngajak ngedate bareng?" Sarah hanya tersenyum. mungkin bualan-bualan Alvin mulai terasa nyaman baginya.
kleekk
"Om Alvin...." sapa Arsa pertama kali pada pemuda berbadan tegap dan tampan itu kemudian berlari memeluk kaki panjangnya.
__ADS_1
"Kok om Alvin dulu? mommy sudah di lupain nih?"
"Mommy..." Arsa berlari dan memeluk mommy nya.
"Arsa mau kemana sampai minta om Alvin nemenin?" tanya Sarah sambil mengusap rambut anaknya.
"Arsa bosen mommy...., enggak ada teman main sejak Daddy tidur disitu nggak bangun-bangun." keluh Arsa dan kini mendekat pada tumbuh Daddy nya. " Daddy ayo bangun, kasihan mommy nggak pulang-pulang kerumah, Arsa enggak ada teman main Daddy...." Arsa mengelus lengan daddy-nya.
"Sayang.., doain Daddy biar cepet bangun dan main lagi sama Arsa ya." ucap Sarah yang tak mampu menahan tetesan air matanya.
"Mommy jangan nangis ya, ada Arsa sama om Alvin mommy." ucap Arsa sambil memegang tangan mommynya. "Iya kan om?" tanya Arsa. sedangkan Alvin hanya mengacungkan jempolnya. "Tuh kan mommy m Alvin mau temenin kita."
"Iya nak, kamu jangan nakal ya sama om Alvin!"
"Siap mommy! Ayo om kita berangkat!"
"Memang kalian mau kemana?"Tanya Sarah.
"Mau main permainan yang banyak."
"Ke mall?" cuma di jawab anggukan oleh Arsa dan Alvin kompak. "Ya sudah, have fun ya..."
Arsa mengacungkan jempolnya "Kami pergi dulu Bu Sarah." di jawab anggukan kepala oleh Sarah kemudian Arsa dan Alvin meninggal kamar rawat Arvan.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰