
"Bu Sarah masih punya hutang menjelaskan padaku!" ujar Alvin yang memandang Sarah.
"Hah? apa? Yang mana?" tanya Sarah bingung karena dia tidak pernah sama sekali berjanji ataupun lainnya kepada Alvin.
"Kenapa menghilangkan tanpa kabar?"
"Bukan kah Rico sudah memberi tau?"
"Rico? yang benar saja Bu?" Sarah hanya mengerutkan dahinya. "Rico hanya meminta ku untuk tidak mencari mu dan itu bukan penjelasan, tapi ancaman." keluhnya. "Dan lagi, Hendra juga tidak mau memberitahu." ujarnya sedih. tapi Sarah hanya tersenyum. "kenapa Bu, kenapa Bu Sarah senyum?"
"Kamu lucu."
"Bu Sarah..."
"Hemmm.." senyum Sarah semakin melebar.
"Aku kangen...." lagi-lagi Sarah tidak menjawab. "Bagaimana bisa pria ini begitu menyukainya." batin Sarah.
"Bu Sarah kok bengong, enggak kangen aku?" suara Alvin mulai terdengar merajuk.
"Aku...." kalimat Sarah terhenti saat pramusaji membawakan pesanan mereka.
"Bu Sarah masih ingat makanan kesukaanku?" Tanya Alvin antusias melihat makanan yang ada di depan mereka. Sarah hanya tersenyum melihat tingkah Alvin, dia hanya memesan yang ada di menu, tapi dia tidak mungkin menjawabnya dengan jujur, biarlah kebahagiaan itu tetap ada disana.
"Udah di makan aja." ajak Sarah.
"Aku sudah di Bali beberapa hari untuk sebuah pekerjaan, dan itu sangat melelahkan Bu Sarah." keluh Alvin. "Tapi hari ini semua lelahku langsung hilang." Alvin meraih tangan kiri Sarah. sedangkan Sarah hanya tersenyum, karena Sarah sangat bingung, tidak tau harus bersikap seperti apa pada brondong tampan di depannya ini. jika dulu Arvan yang selalu membimbing, Arvan juga yang membuatnya seperti ratu, Arvan sangat memanjakan Sarah. tapi bagaimana dengan Alvin, dia jauh lebih muda darinya, dan untuk memenuhi keinginan Arvan dia harus menerima Alvin sebagai pengganti nya.
"Makanlah dulu, baru kita bicara!" ucap Sarah yang merupakan perintah pada Alvin. Tidak menunggu lama Alvin pun langsung melahap semua yang di hidangkan di meja dengan cepat.
"Bagaimana Arsa dan arsi Bu?" tanya Alvin , setelah membersihkan tangannya.
"Baik ."
"Mereka ada dimana sekarang?"
"Ada di rumah."
"Boleh aku bertemu dengan mereka?"
"Boleh, kenapa tidak." Ucap Sarah dengan mulut blepotan. melihat hal itu Alvin membersihkan mulut Sarah dengan jarinya, setelah itu memasukan kedalam mulutnya.
"Kalau makan pelan-pelan." Siapapun yang melihat itu pasti akan mleyot, "sweet bangeeeeet" Sarah hanya terdiam mendapat perhatian kecil itu.
__ADS_1
"Hemmm." jawabnya dan melanjutkan makannya.
"Bu Sarah tambah cantik kalo malu kayak gitu." Ucap Alvin menggoda.
"Sudah Al jangan ngegombal, lanjutkan makan mu." Perintahnya untuk mengalihkan perhatian Alvin.
"Jadi bagaimana?"
"Apanya?"
"Kenapa Bu sarah pergi tanpa kabar?"
"O...itu, Hampir sama dengan jawaban Rico, jika banyak yang tau keberadaan kami, aku dan anak-anak maksudnya, akan berbahaya."
"Maksud Bu Sarah?"
"Kamu masih ingatkan kejadian waktu itu?" Alvin mengangguk. "Itu kali dimana kak Andin marah tentang hubungan aku dan kamu. Entah itu yang sebenarnya atau ada alasan lainnya."
"Nisa pernah mengatakannya hal serupa Bu."
"Maksudnya?" lalu Alvin menceritakan pertemuan nya dengan Nisa terakhir kalinya. dan itu membuat Sarah bergidik. "Jadi memang ada tujuan lain selain itu." Gumam Sarah.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita Bu Sarah?" tanya Alvin dengan menyelesaikan makannya dan menatap Sarah lekat-lekat. Sarah masih bingung dengan pertanyaan ini walau sudah sering dia dengar dari mulut Alvin. Bukan sarah ingin menggantikan Arvan dalam hatinya, tapi ini juga keinginan mendiang suaminya itu, Hingga tertulis di surat wasiat.
"Aku akan menunggu." jawab Alvin riang, walau sebenarnya berat, ini sudah masuk tahun ke sepuluh dia menyimpan rasa untuk mantan gurunya itu. banyak halangan yang iya terima walau akhirnya dia mendapatkan kesempatan itu. semua tidaklah mudah.
.
.
Tung ...suara pesan dari ponsel Alvin.
"Serius amat Lo?" Ucap Bara saat melihat Alvin memperhatikan ponsel nya. "Sudah gila ya Lo?" lanjut Bara karena Alvin tidak menjawab dan malah tersenyum sendiri.
"Hah...apa ? Lo bilang apa Bar? Tanya Alvin lalu meletakkan ponselnya di tempat semula
"Pesan dari siapa sih? serius amat?" Tanya Bara kepo.
"Dari calon istri dong." jawab Alvin dengan percaya diri.
"Bu Sarah?" Tebak Bara, dan Alvin hanya mengangguk dan tersenyum kembali dengan melahap sarapan yang ada di depannya. Walau hanya pesan singkat itu, membuat hari Alvin berbunga-bunga, namun tidak dengan Dinda yang ada di sofa dengan si cantik Dara.
Dinda merasa ada serangan cemburu pada Alvin walau jelas dia sudah memiliki bara dan Dara. ternyata rasa untuk Alvin tidaklah hilang dari hari hati Dinda, namun masih tersimpan rapat di sana. jadi apa tujuan Dinda menikah dengan Bara? Hanya Dinda dan tuhan yang tau. "Lo mau jalan sama Bu Sarah?" sambung Bara. dan lagi-lagi Alvin mengangguk. "Kemana?" kini Alvin hanya menggendikkan bahunya. "Kerjaan kita gimana?"
__ADS_1
"Bawel banget sih Lo Bar? Gue lagi makan Lo ajak bicara Mulu." keluh Alvin sambil meletakkan sendok nya di piring."
"Ya bukan gitu maksud gue." Ucap bara karena merasa bersalah.
"Gue janjian sama Bu Sarah sore Bar, kita kerja dulu kan bisa." Kesal Alvin pada sahabat serta asisten nya itu. "Lagian Lo kan asisten gue, kalo gue enggak bisa Dateng kan ada Lo." cerca Alvin lalu berdiri meninggalkan meja makan.
"Ya-Ya enggak gitu juga maksud gue Al." Ucap Bara merasa bersalah. Diapun tidak bisa berbuat apa-apa jika Alvin sedang kesal, dan lagi dia juga tidak mungkin untuk marah dengan Alvin karena ada Dinda disini. Inilah masalah nya, "kenapa Dinda harus ikut ke Bali segala sih kemarin." umpat Bara dalam hati. Walau sebenarnya dia senang di temani istri nya saat bepergian, tapi kalau ada masalah begini, jadi tidak nyaman semuanya.
"Sudah biarkan saja dulu Alvin, Biasanya juga gitu kan?" Dinda mencoba menenangkan Bara. dan bara hanya mengangguk pasrah, dan lagi-lagi Dinda yang menenangkan nya. dia tidak bisa berkutik saat Dinda sudah memberi perintah.
"Cinta banget gue sama istri gue." batin Bara sambil mengecup kening Dinda.
"Aku keluar dulu, kalau ada apa-apa hubungi saja " pamit Bara pada Dinda, karena setelah sarapan suasana hatinya menjadi buruk.
"Aku enggak di ajak?"
"Hanya sebentar."
.
.
"Gue mau nikah." ucap Alvin tiba-tiba yang baru datang entah darimana pada Bara dan Dinda yang sedang asik main dengan Dara di depan Televisi. Kegiatan mereka pun berhenti dan saling memandang.
"Gue enggak salah dengar?"
"Maksud Lo?"
"Ya Lo mau nikah Al?"
"Hemm."
"Lo hamilin anak orang?"
"Sial Lo," Alvin melempar bantal sofa pada Bara, sambil duduk. "Emangnya Lo?"sindir Alvin.
"sial Lo!" kini berbalik bantal itu pada Alvin, namun Alvin lebih cepat menangkap nya. "Kok bisa dadakan? gimana ceritanya? sambung Bara yang antusias mendengar cerita sahabatnya yang jomblo karatan, kasih enggak kesampaian sampai nangis di pojokan.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1