
"Mas Dimas?"
"Dek Sa - rah?" ucapan dimas terhenti ketika melihat siapa yang ada di belakang sarah.
"selamat sore Dimas, kamu sudah disini ternyata." sapa Arvan pada Dimas dan menyalaminya.
"Kok bisa pulang bareng mbak?"tanya ibu pada Sarah kemudian mempersilahkan duduk Arvan. "Silahkan duduk nak Arvan."
"Ah ya, terimakasih bu, iya tadi saya sengaja ke sekolahnya dek sarah, kangen bu lama gak ketemu." Dengan santai Arvan menjawab pertanyaan ibu Fatma, sedangkan ibu Fatma memandang Dimas dengan kasihan.
"Sarah ke kamar dulu bu." pamit Sarah pada ibunya tapi tidak dengan kedua pria itu.
"Saya buatkan minuman dulu ya." ibu Fatma pun pamit.
Hanya tinggal ada dua pria dewasa di sana, dan tidak ada obrolan yang berarti diantara mereka.
"Gimana kantor dim setelah saya tinggal?" tanya Arvan pada Dimas dengan santai.
"Baik pak seperti biasa, tapi saya penasaran kenapa bapak memilih saya untuk menggantikan posisi bapak?" tanya Dimas." padahal masih banyak yang lebih berkompeten dari saya." Sambungnya.
"Karena kamu teman saya Dimas, apa lagi?" Jelas Arvan, tapi Dimas tidak percaya dengan ucapan Arvan, mungkin saja dia menunjuk nya agar dia berterimakasih padanya dan merelakan Sarah untuk nya.
"Dan satu lagi, kenapa bapak mundur, bukannya untuk mendapat posisi itu sangat sulit dan lama?"
"Ah kalo itu rahasia...hahahhah" jawaban Arvan membuat dimas semakin kesal.
"Seru sekali ngobrolnya" ibu Fatma datang dengan dua cangkir teh hangat dan sedikit cemilan. keduanya mendongak pada fatma dan berterimakasih atas minumannya.
"Saya panggilkan Sarah dulu ya, jangan lupa diminum." ibu Fatma pun hilang lagi dari hadapan mereka.
"Kita fair saja pak, saya berbicara ini."
"Tentang apa ini"
"Tentang dek sarah"
"Jadi mau kamu gimana?"
"Kita bersaing secara sehat, tidak ada sabotase. dan tidak melewati batas, terserah mana yang akan di pilih oleh dek sarah keputusan ada ditangannya."
"Oke, siapa takut." Arvan setuju dengan Dimas, bersaing secara sehat.
"Anda percaya diri sekali pak Arvan, seolah sudah tau hasilnya." ujar dimas
"Kalo hanya bersaing dengan kamu untuk mendapatkan Sarah, saya tidak perlu takut." Jawab Arvan.
__ADS_1
"Oke..deal" Dimas mengulurkan tangan tanda setuju mereka bersaing dengan sehat.
"Deal" jawab arvan mantap, dari belakang mereka Sarah menyaksikan mereka sambil ketawa.
"Apa bagusnya sih dia sampai ada dua pria keren dan tampan mau dengannya." Gumam Sarah sendiri.
"Deal apa nih, serius amat, aku dapat bagian gak." tak ada jawaban dari mulut mereka.
******
Setelah malam itu keadaan perasaan Sarah jadi aneh. Setiap hari mereka saling bergantian menjemput Sarah pulang kerja dan Sarah bingung harus menolak atau menerima semua perlakuan mereka.
Kadang mereka tanpa sengaja datang bersamaan saat sore menjemput sarah pulang kerja, ada perkelahian kecil selayaknya anak remaja memperebutkan mainan, sarah lebih memilih naik ojol.
Seperti malam minggu lalu mereka datang berdua. jadi sarah memutuskan untuk jalan bertiga, saat di mall semua memandang iri pada sarah yabg di apit dua pria tampan yang penuh perhatian. sarah lebih sering dibuat kesal oleh keduanya. Seperti halnya waktu membeli eskrim keduanya gantian menyuapi, mau digandeng kanan kiri, emang sarah balita? saat sampai di rumah keduanya berharap dapet kecupan. ya tuhan kenapa pria ini begitu menyebalkan.
Malam ini sudah hari ke sebulan Arvan tidak menghubungi Sarah apalagi menjemputnya.
"Kenapa sering banget ghosting sih Van, sebenarnya gimana perasaan mu padaku" Gumam Sarah saat di kamar memandangi Handponenya mengharap sang mantan menghubunginya kembali seperti beberapa bulan kemarin.
Kerjaan Sarah selalu numpuk di sekolah, karena akhir-akhir ini sarah tidak fokus dalam bekerja, sudah mau ujian untuk kenaikan kelas, kerjaan membuat soal dan lainnya.
"Jadi kalian siap ya untuk ujian kenaikan kelas, ingat belajar yang giat jangan sampai tinggal kelas."
"Siap bu..." jawab serempak para siswa yang hadir
"Bu sarah" panggil Nisa.
"Iya Nisa, ada yang bisa ibu bantu"
"Emmmmm" Nisa tidak melanjutkan kalimatnya dan pergi." gak jadi bu".
"Kenapa anak ini?" Sarah pun tidak memperdulikannya.
"Bu sarah" kini panggilan Alvin yang sudah ada di belakang nya.
"eEmm iya Al?".
" Bu sarah mau gak jadi pacar Alvin".
"Hah... " Sarah menjitak kepala Alvin pelan dan meninggalkannya.
"Bu sarah kenapa hatimu sangat dingin". batin Alvin.
Seperi biasa pulang sekolah sarah sudah ada yang menjemput ya dimas, dia yang selalu on time.
__ADS_1
"Dek mau makan dimana?" tanya dimas saat perjalanan pulang.
"Mas Dimas sebenarnya tidak perlu melakukan ini semua ke Sarah mas". keluh Sarah karena merasa tidak nyaman.
"Apa kamu sudah menentukan siapa yang akan kamu pilih?" Dimas bertanya to the point.
"Mas Dimas dan Arvan sama-sama orang baik, Sarah tidak mau menyakiti salah satunya".
"Maksud dek Sarah?"
"Sebaiknya Sarah yang pergi mas, jika nanti kita berjodoh maka kita pasti ketemu, jika tidak Sarah harap mas bahagia dengan yang lain".
"Lalu bagaimana dengan pak arvan?"
"Sama untuk kalian berdua, apalagi Arvan juga tidak pernah menghubungi Sarah, jadi tidak perlu di bahas lagi." jawab Sarah tegas pada Dimas, namun hati Sarah berkata lain, walau hatinya belum sepenuhnya sembuh dari luka lamanya.
"Tapi dek...."
"Maafin Sarah mas." Sarah membuka pintu mobil dan berlari entah dimana. jalanan macet, hujan deras. sarah tidak paham dengan jalanan ini, mau pesan ojol, hpnya mati "tamat sudah riwayatku: batin Sarah.
Jam sudah sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Sarah belum juga mendapat taksi dan dalam keadaan basah kuyup. Sarah kedinginan kemungkinan masuk angin.
"Sarah, kamu ngapain disini?" suara berat yang darah sangat hafal.
"Arvan?" Beo sarah. " Emm aku lagi nunggu taksi tapi gak dapet-dapet." keluhnya.
"Kamu mau ke mana, kok bisa sampek sini?" tanya Arvan penasaran, karena jalan ini tidak jalan ke rumah nya. dan Arvan tidak yakin Sarah tau jalan ini.
"Ya mau pulang, mau kemana lagi?" jawab Sarah ketus.
"Ya udah naik mobil aku dulu?" Arvan menarik tangan Sarah tanpa perlawanan.
"Arvan, ini siapa?" suara perempuan menghampiri Arvan.
"Kamu pulang duluan naik taksi saja liv!" lalu Arvan melanjutkan perjalannya, mengabaikan gadis itu.
"Sebenarnya kamu dari mana dan mau kemana kok sampe nyasar disini?" tanya Arvan sambil melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh sarah yang basah agak sedikit hangat.
"aAku gak tau ini di mana, tadi aku jalan gak tau arah, nyari taksi pun gak ada, Handphone aku pun mati." keluh Sarah dengan kesal bukan hanya kesal dengan dirinya yang tidak tau jalan tapi juga kesal dengan Arvan yang sekali keluar sudah bawa gandengan. sedangkan Sarah? Dimas mendekatinya hampir dua tahun tapi tidak ada rasa sama sekali.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung
Happy reading jangan lupa tinggalin jejak ya🥰