
tok tok
Sarah mengetuk ruangan pak Hermawan. tanpa menunggu Sarah membuka pintu dan meletakan kopi dan teh di meja.
"silahkan pak" Sarah mempersilahkan dan berdiri beranjak meninggalkan ruangan
"Bu Sarah , disini dulu ngobrol-ngobrol sama tamu saya" Hermawan menghentikan langkah Sarah
"saya masih banyak kerjaan pak, maaf" Sarah melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu
"ngapain juga aku ikutan nimbrung, kurang kerjaan banget aku" gerutu Sarah sambil menuju pantry mengembalikan nampannya.
"aduh Bu Sarah maaf, saya tadi sedang ke toilet" OB yang bernama Lisa muncul dari belakang.
"iya, lain kali jangan kelamaan di toiletnya, kamu tuh orang paling penting" ucap Sarah dengan senyum pada Lisa
"siap Bu dan trimakasih" Sarah berlalu meninggalkan Lisa dan kembali ke mejanya.
"pekerjaan masih numpuk banget kira-kira bisa gak ini ikut Hendra" gerutu Sarah sambil menyeleksi berbagai pekerjaannya mana dulu yang akan di selesaikan
"kayaknya Bu Sarah ini suka ya ngomong sendiri" lagi- lagi suara mengagetkannya, Sarah menoleh pada sumber suara
"ternyata bapak ini selain suka ngintip juga suka ya bikin jantungan" ketus Sarah
"hahahhahah.... Bu Sarah ini lucu juga ya"
"saya Sarah pak bukan Tukul atau Sule"
"hahahhahaha biasa aja Bu Sarah ini"
"Oya Bu Sarah, terimakasih Lo kopinya, enak kalo ada yang buatin"
Sarah tidak menjawab dan kembali melanjutkan pekerjaannya
"dia apa gak ngenalin wajah atau suara aku ya" batin Reno
"saya pamit ya Bu Sarah, sampai ketemu lagi" Reno pun pergi
Sarah hanya memperhatikan punggung pria dewasa itu dengan kesal. "tapi wajahnya kayak gak asing ya, mirip siapa gitu" batin Sarah
*****
jarum jam sudah menunjukan pukul 17.00 berarti waktunya Sarah pulang.
"gini ya, jd jomblo gak ada yang jemput ada yang ngaku pacar juga gak ada kabar, duh bikin kesel kalo ingat-ingat arvan, apa sih tu cowok maunya" ucap Sarah dengan kesal saat menyusuri trotoar keluar dari sekolahnya
"gak ada yang jemput Bu Sarah"
"ah suara yang bikin kesel itu lagi" batin Sarah namun Sarah seolah- tidak mendengar kannya dan benar saja motor NMX itu berhenti tepat didepan Sarah
__ADS_1
Sarah berhenti sejenak, memperhatikan apa maunya pria yang ada di depannya itu
"ayo bareng saya"
"makasih pak, saya jalan saja, nanti saya naik ojol di depan" Sarah menolah secara halus
"ya udah aku antar sampe depan"
"trimakasih pak Reno, trimakasih banyak atas tawarannya, saya jalan kaki saja"
"susah emang ya ngajak kamu kalo diluar sekolah, sok jaim"
"maksudnya apa ya??kita kan gak kenal jadi anda tidak perlu menilai saya seperti apa"
"saya cuma pernah dengar dari seseorang, susah untuk dekatin kamu"
"dan anda bisa Seenaknya saja menilai saya? dan trimakasih" dengan kesal Sarah pergi dengan jalan secepat nya meninggalkan Reno.
Reno hanya geleng-geleng melihat wanita cantik itu,
"dia bukan cewek gampangan, masak cowok kece gini di cuekin, seleramu unik dek" gumam reno
"dia kenapa sih, kenal kagak, teman bukan sok Sokan nilai orang" gerutu Sarah sepanjang jalan tidak lupa dengan sedikit mengumpat UPSs
sesampainya di depan Sarah langsung memesan ojol, dan tak lama berselang sarah pun siap di antar kang ojol sampai rumah dengan selamat.
"duh capeknya" gumam Sarah sambil merebahkan tubuhnya
"iya Bu, tadi Sarah masuk ibu gak ada, ibu dari mana?
"nih baru antar pesanan Bu Erna, katanya mau ada acara nanti malam"
"oh gitu, Hendra belum pulang Bu?
"adek mu kalo pulang kan malam mbak, ya udah mandi sana. biar seger jangan lupa sholat terus makan"
"siap Bu" setelah ibunya keluar dari kamar, Sarah pun kembali merebahkan tubuhnya di sana. belum lama dia berbaring diapun tertidur.
drrtttt drrttt
suara benda pipih di atas nakas mengagetkan Sarah
"siapa sih, ganggu orang aja" gerutu Sarah
"ya hallo...
"Sarah liat link aku kirim sekarang"
"apa sih sis, masih ngantuk nih"
__ADS_1
"gak ada kata ngantuk, kali lihat itu pasti langsung bangun"
"iya iya, aku buka" Sarah menutup telponnya dan membuka apa yang di ucapkan Siska
"berita apa sih sis, sampe heboh banget gitu" gumamnya
"apa...."Sarah dengan jantung seolah berhenti melihat gambar yang ada di benda pipih itu. dan benar saja itu bikin ngantuk Sarah hilang, seolah tak percaya apa yang dilihatnya
drrrttt drrtttt
"kamu gak papa sar" Sarah tidak menjawab, namun matanya sudah berkaca-kaca
"Sarah!!" masih tidak menyahut
"Sarah kamu gak papa kan?" maaf sar bukan maksud apa-apa tapi aku pikir kamu berhak tau" tanpa menjawab Siska, Sarah memutus sambungan jarak jauh itu.
"gimana mas Dim, Sarah gak papa kan ya" ujar Siska pada Dimas karena kuatir
"tapi Siska kamu dapat kabar itu dari mana?"
"dari internet mas"
"apa kamu sudah cek yang sebenarnya?"
"belum"
"lain kali kalo kasih kabar itu yang jelas, kasihan Sarah, dia sudah berharap banyak dengan pak Arvan dan sekarang"
"iya mas, Siska ceroboh"
"ya udah gak papa, besok kalo ketemu cukup minta maaf saja, oke" Dimas mengelus punggung kekasihnya itu. ada rasa kuatir Dimas pada Sarah, karena memang belum sepenuhnya Dimas bisa melupakannya. bagaimana tidak kegiatannya sekarang masih seputar itu-itu saja. masih berada di keliling Sarah. Dimas sedikit menghela napas dan diperhatikan oleh Siska.
"mas Dimas masih sayang sama Sarah?" Dimas kaget dengan pertanyaan itu, dan menatap siska mencoba tersenyum
"kamu jangan mikir yang aneh-aneh dek!" Dimas kali ini mengelus rambut Siska. kenapa Siska tau isi otak ku sih
"ya bukan gitu mas, mas Dimas kan sempat bucin sama Sarah"
"itu sebelum mas punya saingan berat"
"seandainya mas tau saingan mas akan nyakitin Sarah kayak gini? mas mau balikan sama Sarah"
"jangan suka mengandai-andai dek, gak baik nanti bisa sakit sendiri" benar saja, ucapan Siska telah menyakiti hatinya sendiri, lelaki yang sudah berapa bulan menjalin hubungan dengan nya masih menyimpan rasa untuk wanita masa lalunya.
.
.
.
__ADS_1
bersambung
Siska-siska ada-ada aja kamu ini.