
"livi ngapain kamu disini?"
"aku yang harus nya tanya kenapa ada perempuan itu disini, dan pakaian apa itu" ucap livi saat melihat sarah menggunakan baju arvan.
"sebaiknya kamu pulang liv, kamu ganggu waktu aku dengan calon istri aku" arvan menarik bahu. sarah dalam pelukannya.
"van, itu nggak bener kan, kamu bercanda kan??
"ada apa sih kok ribut sekali" tiba-tiba ada suara wanita lain dari luar kamar "van siapa dia?tanya wanita itu menunjuk sarah.
sarah bingung kenapa ada banyak wanita disini yang awalnya tangan arvan memeluk pundak sarah, kini sarah agak menjaga jarak.
"aduh kalian kenapa sih pada sibuk dengan urusanku? kata arvan dengan kesal
"dia calon istriku kak" kakak??apakah dia ibunya nisa yang pernah dia ceritakan tempo hari sebelum ilang: batin sarah.
"apa dia perempuan yang ini bikin kamu kacau berbulan-bulan, untuk apa datang lagi? cerca andin kakak perempuannya arvan.
"kak kan sudah arvan ceritakan, itu bukan salah sarah, itu kesalahan arvan sehingga sarah pergi"
"tetap saja dia yang bikin kamu hancur, lebih baik suruh perempuan itu pergi sebelum kakak panggil satpam"
"sebaiknya kalian yang pergi, ini apartemen aku" kini nada bicara arvan berubah dingin.
"arvan, kamu !!" ucap andin dengan mengacungkan jari telunjuk pada arvan
"van sebaiknya aku pergi" ucap sarah dengan mengusap lengan arvan tapi arvan tidak membiarkannya, tapi sebaliknya arvan menarik pinggang ramping sarah
"kamu tidak akan kemana-mana, biarkan mereka yang pergi" ucap arvan dingin lalu mengajak sarah duduk di sofa tempat dimana dia duduk sebelum livi datang
melihat adik kesayangannya tidak menghiraukan keberadaanya membuat andin murka.
"ingat ya van ini terahir kali aku melihat perempuan itu disini, jika tidak aku, tidak akan segan membuat hidupnya hancur" ucapan andin mengancam lalu keluar dan membanting pintu.
"van, sebaiknya aku pergi, bukan aku tidak mau berjuang, tapi i i"
"sarah, aku sudah pernah melepas mu satu kali, dan hidupku hancur, apa mungkin aku melepasnya lagi?"
"tapi kehadiran ku tidak membuatmu lebih baik"
"lebih baik atau tidak itu aku yang merasakan, yang aku mau kamu tetap di sisi aku" arvan memeluk sarah dengan beribu rasa bahagia. wanita yang selama ini dia cari, dia cinta ada di pelukan nya.
__ADS_1
"sudah sangat larut van, sebaiknya antar aku pulang, atau carikan aku taksi" pinta sarah
"kamu menginap di sini saja ya?"
"arvan.., itu tidak mungkin, hendra akan mencari aku jika dia pulang aku belum di rumah"
"hendra itu adik kamu atau suami kamu sih" sarah tersenyum geli melihat kekesalan di wajah pria tampan yang ada di depannya itu.
"sudah lah, kita bisa bertemu lain kali van"
"baiklah kali ini aku mengalah lain kali tidak"
"jangan sampai ada lain kali" ucap sarah acuh
"jangan menggodaku sarah, atau aku akan berbuat lebih malam ini" manik mata mereka bertemu dan terkunci, arvan memegang kepala sarah dengan lembut, mendekatkan bibirnya pada bibir merah sarah, arvan meng***m perlahan bibir sarah yang terasa manis, semakin lama semakin dalam, dan bibir itu menginginkan lebih. saat arvan sedang menikmati lum***n itu, sarah mengigit bibir arvan.
"sarah sakit" keluh arvan
"nakal sih, sudah ah antar aku pulang" pinta sarah
"aku masih kangen sarah"
"kalo kangen, ya nyari, bukan ngilang"
"dan soal livi?" tanya sarah
"aku bisa jelaskan, asal kamu nggak kabur lagi atau nanti hari sabtu aku jemput kamu, kita liburan, dan aku akan jelaskan semuanya, gimana, mau kan?"
"aku tanya ibu dulu ya, boleh apa tidak aku pergi"
"ayo lah sarah, kita sudah dewasa, apa perlu seperti itu"
"keluarga kami orang jawa van, sedangkan aku masih tinggal dengan orangtuaku, ya perlu lah" jelas sarah, berbeda memang dengan arvan, yang ayahnya adalah orang bule, jadi tidak mempedulikan hal itu.
"ya sudah, kabari aku kalo di ijinkan, tapi sebelum pulang boleh minta lagi?" arvan memonyongkan bibirnya
pluk , sarah memukul bibir arvan pelan
"kok malah di pukul sih"
"tuh bibir nakal van, jadi minta di pukul, dah yuk antar pulang" sarah sudah siap dengan barang yabg akan di bawa pulang termasuk baju basahnya
__ADS_1
"baju basahnya nggak usah di bawa, biar disini aja" arvan mengambilnya dan meletakan kembali.
*****
"kok baru pulang mbak" tanya ibu fatma yang berada didepan pintu "dan ini, kok bajumu?"
"iya bu, tadi sarah kehujanan, nyari taksi nggak dapet hP sarah juga mati, untung ketemu arvan" jelas sarah
"ya dah masuk dulu" Fatma mempersilahkan masuk
"emm saya langsung Pulang saja bu, sudah malam sekali, lain kali saya kesini lagi" tolak arvan
"gitu ya, ya sudah hati-hati di jalan nak, jalanan licin"
"iya bu, terimakasih saya pamit, sarah aku pulang dulu" arvan pun meninggalkan kediaman sarah
Sarah masuk kedalam rumah dan berencana mandi.
"kamu dah baikan to mbak sama nak arvan"
"iya bu, sudah"
"baguslah, jadi ibu nggak kuatir lagi lihat anak perawan nya suka bengong"
"ih ibu, kok gitu" ucap Sarah kesal dengan ucapan ibunya" tapi bu sarah takut"
"takut kenapa?"
"kakaknya arvan kayaknya nggak suka sama sarah"
"ya dicoba saja dulu pendekatan, siapa tau berhasil"jawab ibu Fatma bijak
"nggak tau lah Bu, sarah masih bingung"
"kalo masih bingung ya sholat minta petunjuk dari Allah nak" Sarah tidak menajwab karena memang dia tidak pernah secara khusu berdoa kepada Tuhan tentang Arvan.
"ya sudah bu, sarah ke kamar, capek" sarah pun meninggalkan ibunya dan membaringkan tubuh di ranjang nya.
.
.
__ADS_1
.
bersambung